
Waktu sepuluh hari yang mereka habiskan untuk jalan-jalan menikmati bulan madu akhirnya berakhir juga. Hari ini, keduanya sama-sama akan mengepak kembali barang-barang bawaan mereka untuk kembali ke Jakarta. Rasanya baru kemarin mereka berangkat dari Jakarta dengan transit sejenak di Dubai, dan sekarang Kanaya dan Bisma harus kembali menikmati perjalanan udara yang begitu panjang untuk kembali ke Jakarta.
“Waktu sepuluh hari cepet banget ya Sayang … perasaan baru kemarin tiba di Istanbul, sekarang kita sudah dalam perjalanan lagi menuju Jakarta.” ucap Bisma yang saat itu menggenggam tangan Kanaya selama berada di pesawat dari Dubai menuju Jakarta.
Seolah setuju dengan suaminya itu, Kanaya pun mengangguk, “Iya … tapi untungnya kita sudah mengunjungi tempat-tempat bagus dan romantis di Turki dari Selat Bosporus yang bagus dengan Menara Galata-nya, Blue Mosque, Hagia Sophia, dan Cappacodia. It’s my dream.” ucapnya sembari tertawa.
“Jadi dalam sepuluh hari ini kamu senang?” tanya Bisma kepada Kanaya.
“Seneng banget. Makasih ya Mas … semoga di lain waktu, kita bisa jalan-jalan lagi berdua seperti ini.” jawabnya dengan wajah yang bersemu merah dan juga dia ingin bisa menikmati jalan-jalan lagi bersama suaminya itu.
Bisma pun tersenyum, “Lega rasanya … kalau kamu bahagia, aku juga bahagia. Iya, kapan-kapan kita bisa jalan-jalan lagi. Sapa tau nanti Baby Moon kita bisa ke negara yang lain ya.” ucap pria itu dengan lirih.
Sementara Kanaya menunduk saat suaminya itu mengucapkan tentang Baby Moon, mereka baru saja menikah, dan memiliki peluang untuk hamil pun belum tahu kapan. Kendati demikian, Kanaya tetap mengangguk, “Iya, Amin. Kamu pengen segera punya baby ya Mas?” tanyanya perlahan kepada Bisma.
Pria itu pun mengangguk, “Iya … kamu tahu enggak Sayang, alasanku mengambil spesialisasi anak?”
__ADS_1
Kanaya pun menggelengkan kepalanya, “Enggak … kenapa Mas?” Kanaya sungguh-sungguh tidak tahu dari semua jurusan spesialisasi kedokteran kenapa suaminya itu memilih spesialisasi anak.
“Karena aku suka anak-anak. Rasanya kasihan aja melihat anak-anak yang menangis kesakitan saat mereka sakit. Melihat mata mereka yang bening dan berbinar menunjukkan wajahnya yang polos, senyuman yang indah, sapaan hangat mereka, membuatku memutuskan untuk mengambil spesialisasi anak. Bunda Hesti dulu itu berpesan, kita tenaga kesehatan akan melayani masyarakat. Dalam pelayanan itu, lakukan dengan senang hati, dengan sukacita karena apa yang dilakukan dengan hati rasanya akan sampai ke hati orang yang kita layani juga. Jadi, karena hatiku suka dengan anak-anak, maka aku ambil spesialisasi anak. Aneh kan ya?” cerita pria kepada istrinya. Cerita mengapa dia mengambil spesialisasi anak.
“Kenapa kamu selalu keren sih Mas? Aku tuh selalu kagum sama kamu. Kamu itu baik orangnya dan juga baik hatinya. Alasan kamu itu juga bukan hal yang aneh, tetapi justru menurutku karena kamu tahu apa yang hatimu mau, kamu melakukannya dari hati. Sebab tidak banyak orang yang akan melakukan apa yang dikehendaki oleh hatinya, sementara kamu keren, kamu bisa melakukan semuanya dengan hatimu yang tulus itu.” balas Kanaya.
Tidak dipungkiri bahwa menurutnya apa yang menjadi alasan suaminya itu sangat keren di matanya. Di samping tenaga kesehatan memang sangat dibutuhkan, tetapi jika ada tenaga kesehatan yang melayani dengan hati, bagi Kanaya itu adalah satu nilai positif.
Bisma pun tersenyum, “Kamu mujinya berlebihan Sayang. Aku enggak sebaik itu juga, tetap saja aku banyak kekurangannya.” akunya dengan mengeratkan genggamannya di tangan istrinya.
Bisma pun menenglengkan kepalanya hingga kepalanya bisa bersentuhan dengan puncak kepala Kanaya di bahunya, “Makasih Sayang … aku akan selalu bersikap baik kepadamu. Berusaha menjadi suami yang terbaik buat kamu.” ucapnya dengan begitu sungguh-sungguh.
“Sama Mas, aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik buat kamu. Di balik semua kelemahan dan kekuranganku, aku berharap aku layak mendampingimu.” ucapnya yang juga berharap bahwa dirinya layak mendampingi pria baik yang kini benar-benar menjadi sandaran bagi hidupnya itu.
Tidak terasa, pesawat yang mereka tumpangi segera melakukan pendaratan di Bandara Internasional Soekarno - Hata, Kanaya yang semula tidur pun langsung dibangunkan oleh Bisma, “Sayang … bangun dulu yuk, kita sudah mau landing.” ucapnya sembari mengelus puncak kepala istrinya.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, Kanaya pun mengerjap, kelopak matanya membuka perlahan-lahan dan dia menyandarkan dirinya ke tempat duduknya. “Sudah mau landing ini Mas?” tanyanya kepada suaminya itu.
“Iya … kalau enggak mau landing, aku enggak akan bangunin kamu. Bangun dulu ya, nanti di rumah bisa tidur lagi.” sahut pria itu dengan lembut.
Kanaya pun mengangguk dan mulai melihat pemandangan ibukota dari kaca jendela pesawatnya, di bawah sana keliatan lautan baru dan pesisir ibukota dari udara. “Gak terasa ya, sudah di Jakarta.” ucapnya sembari mengamati pemandangan dari ketinggian itu.
Setelahnya, Kanaya menatap pada suaminya, “Kita ini mau pulang ke mana Mas? Ke rumah Bunda dan Ayah atau gimana?”
Bisma lantas tersenyum, “Kita nginap satu malam di hotel aja ya Sayang. Pasti kamu masih jetlag, biar kamu bisa tidur dulu. Setelah enakan badannya dan sudah enggak jetlag, besok kita baru kembali ke rumah. Lagian cuma semalam kan enggak apa-apa, kita masih ada akhir pekan untuk istirahat, sebelum hari Senin kembali bekerja.” ucapnya yang lebih memprioritas istrinya.
Kanaya pun lantas tersenyum, “Makasih ya Mas, perhatian banget sih sama istri. Jujur saja, aku malu kalau di rumah kamu malahan cuma tidur seharian. Nanti bisa-bisa mertua aku ngiranya menantunya cuma di dalam kamar terus, menantunya malas banget kerjaannya cuma tidur. Kalau bisa istirahat dulu, aku lega.” jawabnya dengan jujur.
Tidak dipungkiri memang terkadang hubungan mertua dan menantu tidak selalu baik. Ada saat di mana mertua merasa menantunya hanya seharian di dalam kamar, tidak merapikan rumah, tidak memasak dan sebagainya. Sementara Kanaya sendiri sungkan dan takut jika mertuanya akan menganggapnya demikian.
Bisma pun tertawa, “Enggak Sayang … Ayah dan Bunda itu baik. Lagian mereka sayang banget sama kamu. Menganggap kamu seperti anaknya sendiri, bukan sebagai menantu. Pasti Ayah dan Bunda tahu kalau kita jetlag. Namun, aku memikirkan supaya kamu istirahat dulu saja. 22 Jam lebih di pesawatnya sangat melelahkan. Aku pun juga kecapean. Jadi kita stay semalam ya, besok kita akan kembali pulang ke rumah Bunda.”
__ADS_1
Kanaya pun lantas menganggukkan kepalanya, “Iya Mas … yang penting sih aku selalu ngikutin kamu aja.” ucapnya sembari tersenyum kepada suaminya itu.