Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Kabar Seorang Darren


__ADS_3

Sementara itu di Rumah Tahanan, seorang pria itu tengah duduk dengan wajah yang tertunduk lesu. Seragam tahanan berwarna oranye menjadi pakaian yang digunakan pria itu sehari-harinya. Wajah pria yang dulu begitu arogan dan suka merendahkan orang berdasarkan fisik atau penampilannya, kini harus menjalani hari-harinya dari dalam jeruji besi, tidak bisa merasakan indahnya dunia luar. Hidup benar-benar dalam keterbatasan, dan tidak bisa menikmati fasilitas mewah yang semula dia miliki.


Ya, pria itu adalah Darren. Tidak terasa hampir 3 bulan sudah dirinya mendekam di dalam tahanan. Selama tiga bulan itu pula, pria itu merasa hidupnya sangat kosong, siang dan malam hanya berlalu begitu saja. Aktivitasnya diisi dengan membersihkan rumah tahanan sesuai dengan jadwal piketnya, beribadah, dan juga hanya bisa melihat perkembangan dunia sana melalui televisi yang berukuran 14 inci yang berada di salah sudut rumah tahanan itu.


Sedangkan, hampir dua pekan sekali Mama Sasmita akan mengunjungi Darren. Wanita paruh baya itu selalu datang dengan membawa buah tangan berupa makanan dan juga buah-buahan untuk putranya itu. Kasih sayang seorang ibu sepanjang zaman, itulah yang terjadi saat ini. Di satu sisi, Darren memang telah bersalah, tetapi seorang ibu tidak bisa mengabaikan anaknya begitu saja. Kasihnya tetap ada untuk sang putra.


“Bagaimana kabarmu, Darren?” tanya Mama Sasmita yang kali ini menjenguk putranya itu.


Mengunjungi Darren di rumah tahanan selalu membangkitkan sisi emosional Mama Sasmita sebagai seorang ibu. Kedua bola mata wanita itu selalu berkaca-kaca menatap putranya yang sekarang selalu dia lihat dengan mengenakan seragam berwarna orange itu. Akan tetapi, Mama Sasmita selalu menguatkan dirinya sendiri bahwa dia tidak boleh menangis di hadapan Darren. Dia harus tetap kuat.


“Baik Ma … Mama, Papa, dan Gisell apa kabar?” tanya pria itu yang juga menanyakan kabar Papa dan adiknya semata wayang, Gisell.


“Mereka baik Darren, Papamu sedang menerima banyak proyek kali ini. Sementara Gisell masih di Singapura, menyelesaikan sekolahnya. Sambil dimakan, ini Sushi kesukaan kamu, Mama sengaja membawakannya untukmu.” ucap Mama Sasmita sembari menyodorkan kotak makanan yang berisi beragam jenis Sushi kepada Darren.


Darren pun tersenyum dan segera menyuapkan Sushi itu ke dalam mulutnya. Dulu, Darren bisa membeli makanan kesukaannya itu kapan pun dia mau, tetapi setelah berada di dalam penjara, dia harus beradaptasi dengan makanan di penjara. Nasi putih yang keras dan susah ditelan dengan sayur dan lauk seadanya. Pria itu tampak berkaca-kaca saat menyuapkan Sushi itu satu per satu ke dalam mulutnya.

__ADS_1


“Habiskan Darren … kapan-kapan Mama akan membawakanmu makanan yang lainnya. Apalagi yang ingin kamu makan? Saat Mama mengunjungimu nanti, Mama akan bawakan semua yang kamu inginkan.” tanya Mama Sasmita.


Sebagai seorang ibu, hatinya berdesir hebat melihat anaknya yang begitu lahap memakan Sushi yang dia bawakan. Namun apa daya, dia tidak bisa berbuat banyak. Hanya saja, sebagai seorang ibu, Mama Sasmita berharap agar Darren bisa menjadi pribadi yang lebih baik, bahkan berkelakuan baik sehingga dia mendapatkan pengurangan masa tahanan.


Saat tengah mengunyah Sushi di dalam mulutnya, Darren lantas menaruh sumpit di atas kotak makan dan menatap Mamanya, “Ma, bagaimana kabar Naya, Ma?” tanya pria itu yang tiba-tiba menanyakan kabar Kanaya.


Mendapat pertanyaan dari Darren tentang Kanaya, jujur saja membuat hati Mama Sasmita merasa tidak tenang, “O … Naya, dia baik. Kenapa Darren?” tanya lagi kepada Darren.


“Kapan-kapan jika mengunjungi Darren, ajaklah Naya, Ma … Darren harus meminta maaf kepada Naya. Darren benar-benar menyesal karena dulu telah menyakitinya.” ucap pria itu yang memang menunjukkan penyesalan di wajahnya.


Satu pengakuan yang akhirnya diucapkan Darren kepada mamanya. Pengakuan yang membuat Mama Sasmita tersenyum getir, tidak menyangka bahwa Darren akan mengungkapkan perasaannya kepada Mamanya itu. Akan tetapi, semua telah terlambat. Sebab, wanita yang dulu pernah dia lukai, wanita itu telah menikah dengan pria lain. 


Perlahan Mama Sasmita menatap Darren dengan mata yang tampak berkaca-kaca, “Lupakan Naya, Darren … dia sudah bahagia sekarang bersama suaminya.” ucap Mama Sasmita dengan lirih.


Sumpit yang semula berada dalam pegangan Darren luruh seketika, jatuh ke lantai, pria itu pun tidak menyangka dengan kabar yang saat ini dia dengar. Pria itu kemudian tampak menggelengkan kepalanya, “Tidak … tidak mungkin Ma. Mana bisa Kanaya menikah lagi, sementara Darren masih ada di sini. Jika pun dia menikah lagi, harusnya dengan Darren, Ma.” ucap pria itu dengan seolah tak percaya dengan ucapan Mamanya.

__ADS_1


“Inilah kenyataannya Darren, Kanaya sudah bahagia sekarang bersama seorang pria yang benar-benar mencintai dan menerimanya apa adanya. Lupakan Kanaya, Darren. Biarkan dia berbahagia bersama pria yang dia cintai. Selama ini hidupnya sudah sangat sulit dan seolah berada di lembah air mata. Lupakan Naya, dan berusahalah memulai hidup barumu saat kamu berhasil keluar dari sini.” nasihat Mama Sasmita kepada Darren.


Semua sudah terlambat, dahulu saat orang tuanya menjodohkan dengan Kanaya, Darren sendirilah yang menolak Kanaya hingga akhirnya Kanaya memilih menggugat cerai. Ya, berpisah dari Darren menjadi jalan yang Kanaya pilih. Sekarang, saat Kanaya baru saja memulai hidupnya yang baru bersama suaminya, justru Darren mengatakan bahwa dia menyukai Kanaya. Betapa kecewanya Darren, mendengar wanita yang kini justru dia cintai setelah sebelumnya dia sakiti justru sudah memulai kehidupan baru dengan orang lain. Sebuah kebenaran yang tidak akan Darren terima.


“Tidak Ma … Tidak. Darren akui bahwa Darren pernah begitu bersalah kepada Kanaya, Darren ingin memulai lembaran baru bersama Kanaya, Ma … harusnya Mama dan Papa mencegahnya saat dia ingin menikah, Kanaya hanya buat Darren, Ma.” ucap pria itu dengan penuh emosi. Beberapa kali Darren menggelengkan kepalanya, seolah tidak terima dengan keputusan Kanaya yang telah menikah kembali.


Mama Sasmita pun memegang tangan anaknya itu, “Sabar Darren … sabar. Kanaya sudah memilih jalannya dan dia sudah bahagia. Anak sebatang kara itu, kini sudah menemukan seorang pria yang benar-benar mencintainya. Lagipula kesempatan dan waktu tidak akan terulang dua kali, Darren. Bukannya Mama memojokkan kamu, tetapi dulu saat kalian bersama kamu hanya memberikan luka bagi Naya. Saat dia memilih melepaskanmu dan kini dia memulai hidupnya yang baru, justru kamu mengakui mencintainya. Sayangnya nasi sudah menjadi bubur, Darren … semuanya sudah terlambat.” ucap Mama Sasmita dengan air mata yang membasahi pipinya. Tak kuasa melihat penderitaan yang dialami Darren, dan dia menguatkan Darren untuk melepaskan Kanaya. 


“Bolehkah Darren meminta permintaan Ma?” tanya Darren kepada Mamanya.


“Apa?” sahut Mama Sasmita dengan cepat.


“Ajaklah Kanaya sesekali ke mari Ma, Darren ingin meminta maaf kepada Kanaya. Sekali saja Ma, ajaklah Kanaya untuk menjenguk Darren di sini. Mungkin saja dengan melihat keadaan Darren sekarang, dia akan memaafkan Darren.” ucap pria itu dengan nada yang terdengar memohon dan berharap Mamanya akan mengabulkan permohonannya itu. 


Sapa tahu dengan permintaannya kali ini, Darren benar-benar bisa kembali bertemu Kanaya. Walaupun untuk sekali, rasanya dia ingin sekali bertemu dengan Kanaya.

__ADS_1


__ADS_2