
Rasanya tujuan Bisma untuk datang ke Rumah Tahanan hanya ada satu hal yaitu dia perlu menegaskan bahwa selamanya dia akan menjaga dan melindungi Kanaya. Dia tidak akan membiarkan pria manapun yang akan merenggut Kanaya dari sisinya. Lagipula, dalam cinta ada rasa memiliki dan melindungi. Itulah yang hendak Bisma lakukan. Sekuat tenaga dan sepenuh hatinya dia akan berusaha melindungi Kanaya.
Setelah tujuannya terlaksana, Bisma pun keluar dari rumah tahanan dengan rasa lega. Sebab dia adalah pria yang berani menghadapi masalah yang ada saat ini, tidak mengabaikan menunggu sekian waktu hingga niatan Darren menjadi kenyataan. Akan tetapi, Bisma menyatakan dengan tindakannya secara langsung bahwa dia akan selalu melindungi Kanaya, istrinya.
Di lain pihak, Darren justru terlihat geram dengan sosok Bisma yang dengan tegas dan berani memintanya untuk melupakan rencana konyolnya begitu dia bebas dari penjara. Jiwa kompetisi Darren bagai tersulut setelah mendengar setiap perkataan Bisma.
“Pria berengsek! Sialan! Berani-beraninya mengancamku. Suatu saat akan kurebut istrimu itu dari sisimu bagaimana pun caranya. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kamu tidak akan bisa memiliki Naya.” geram Darren sembari memukulkan kepala tangannya ke tembok.
Emosinya begitu tersulut dan dia justru ingin segera bebas dan bisa melancarkan aksinya guna mendapatkan Kanaya kembali. Setelah sekian lama hilang, jiwa arogansinya kembali keluar dan ingin memiliki sesuatu yang dalam kacamatanya adalah haknya.
Sementara Bisma sekalipun dirinya merasa lega, tetapi dia tidak boleh lengah. Bahaya bisa datang kapan saja. Mungkin selama Darren menghuni di balik jeruji besi, dirinya bisa merasa lega. Akan tetapi, ketika Darren sudah bebas, maka dia harus lebih memproteksi istri dan anaknya nanti.
...🍃🍃🍃...
Sore hari, Bisma kembali menjemput Kanaya di Jaya Corp. Kali ini pria itu lebih memilih menunggu di dalam mobilnya. Dirinya enggan untuk memasuki lobby Jaya Corp dengan perasaan yang terombang-ambing. Kanaya pun merasa ada sesuatu yang berbeda saat suaminya itu tidak terlihat di lobby. Biasanya pria itu akan setia menunggu di dalam lobby, bahkan pria itu segera memberikan senyuman begitu Kanaya keluar dari lift. Hingga akhirnya, Kanaya memilih berjalan ke luar dari lobby. Pikirnya sapa tau di luar sana ada mobil suaminya yang terparkir.
Dua bola mata Kanaya mengedar, guna mencari-cari mobil suaminya. Hingga perlahan, dia pun menemukan mobil putih yang biasa dikendarai suaminya itu. Kanaya pun memilih berjalan dan segera menghampiri suaminya.
Wanita itu segera mengetuk kaca mobil sebanyak dua kali dan meminta tolong supaya suaminya membukakan pintu untuknya. Bisma yang tengah berpikir dan seakan kurang fokus sampai tidak menyadari bahwa istrinya tengah mengetuk-etuk kaca mobilnya.
__ADS_1
“Maaf Sayang … aku baru banyak pikiran.” ucap pria itu begitu membukakan pintu bagi Kanaya.
Mengambil duduk di sebelah kursi kemudi, menaruh hand bagnya di kursi belakangnya, kemudian Kanaya menatap wajah suaminya. Ada rasa cemas, khawatir, bahkan marah yang bercampur menjadi satu. Perlahan tangan Kanaya bergerak untuk mengusapi lengan suaminya itu.
“Ada apa Mas? Kalau banyak pikiran, jangan menyetir. Bisa berbahaya. Biar aku saja yang nyetir ya.” pinta Kanaya kepada suaminya.
Sebab benar, berkendara sebaiknya fokus dan tidak terlalu berpikiran dengan banyak hal yang justru memecah konsentrasi dan bisa mengakibatkan kejadian yang tidak diinginkan. Untuk itulah, Kanaya menawarkan diri untuk menyetir, dia bisa mengemudikan mobil itu.
Akan tetapi, Bisma dengan cepat menggeleng, “Jangan … kamu hamil. Sebaiknya jangan menyetir dulu. Biar aku saja yang menyetir.” ucapnya.
Saat Bisma hendak menginjak gas, Kanaya justru menahan suaminya itu. “Kita duduk sebentar di taman itu yuk, Mas … sapa tau ada yang mau cerita.” ucapnya dengan melepas sitbelt yang sudah dia kenakan dan membuka pintu mobilnya, dengan satu tangan yang seolah menarik tangan suaminya untuk mengikutinya.
“Sore-sore gini jalan-jalan enggak panas kan Mas? Teduh kan.” ucapnya sembari tersenyum. Berharap ucapan dan senyumannya bisa mencairkan suasana hati suaminya itu.
“Iya …” Bisma menjawab dengan singkat.
Kemudian Kanaya terus berjalan dan kini, wanita hamil itu memilih duduk di kursi taman sembari menikmati semilir angin yang berhembus sepoi-sepoi. Perlahan Kanaya menolehkan lehernya guna bisa sedikit melihat wajah suaminya.
“Ada sesuatu yang terjadi ya? Mau cerita? Rasanya selain sebagai Suami dan Istri, kita bisa menjadi sahabat yang menjadi tempat curhat, mau gibah juga boleh.” Kanaya berbicara dan mulai menggerakkan satu alisnya, berusaha membuat suaminya itu mau bercerita.
__ADS_1
Kanaya benar-benar sabar menghadapi suaminya, sekian menit berlalu dan suaminya itu masih diam. Sebab bagi Kanaya, semua orang memiliki waktunya sendiri-sendiri untuk menyampaikan isi hatinya, dan tugas Kanaya adalah menunggu.
Wanita itu lantas tersenyum, saat mendengar suaminya yang mulai membuka mulutnya dan mulai bercerita. Rasanya tidak sia-sia dia memilih sabar dan menunggu hingga suaminya itu berbicara.
“Tadi aku ke Rumah Tahanan, menemui Darren.” satu kalimat pembuka yang disampaikan oleh Bisma.
Mendengar semua itu, Kanaya justru kaget dan bertanya-tanya kenapa suaminya itu datang ke Rumah Tahanan untuk mengunjungi Darren. Apakah semua itu ada sangkut pautnya dengan surat yang dia tunjukkan kepada Bisma kemarin?
“Aku mau menghadapi pria itu dan menegaskan bahwa aku akan selalu menjagamu dan melindungimu dengan sepenuh hatiku bahwa dengan mempertaruhkan nyawaku.” ucap Bisma dengan sungguh-sungguh. “Bagiku adalah hal konyol mengejar mantan Istri yang dulu dirundungnya dan ditolaknya mati-matian, dan kemudian ada niatan mengejar kembali. Nasi sudah menjadi bubur, semuanya sia-sia. Lagipula, kamu adalah milikku.”
Mendengar perkataan suaminya, hati Kanaya justru bergetar. Tidak menyangka akan dicintai seorang pria dengan cinta sebesar ini. Dari setiap ucapan yang dikeluarkan oleh Bisma pun, Kanaya sangat tahu bahwa Bisma sedang berbicara dengan sungguh-sungguh.
“Aku tidak mau mengabaikan niatan Darren kemarin, aku menghadapinya. Sekaligus aku harus berjaga-jaga, mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin saja akan terjadi di kemudian hari.” ucap Bisma lagi disertai dengan helaan napas yang panjang.
Tangan Kanaya pun bergerak, dan menggenggam tangan suaminya. Sungguh, hatinya justru menghangat dan dia merasa dilindungi oleh suaminya. “Makasih Mas …” ucap Kanaya yang berterima kasih kepada Bisma.
Perlahan Bisma pun menoleh, guna bisa menatap wajah Kanaya. “Kenapa berterima kasih? Hmm.” tanyanya.
“Terima kasih karena kamu adalah pria paling keren yang pernah kutemui. Terima kasih sudah mencintaiku dengan begitu besarnya, ada rasa memiliki yang besar, aku merasa benar-benar dicintai dan dilindungi. Aku juga senang karena kamu mau mengambil risiko untuk menghadapi masalah ini dan memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Doaku kita bisa selalu bersama sampai tua nanti. Tak peduli aral rintangan di depan kita, tetapi kita akan selalu bersama. Aku cinta kamu, Mas. Sungguh.” pengakuan Kanaya dengan sungguh-sungguh kepada suaminya.
__ADS_1
Dengan saling bergandengan tangan, seberat apa pun aral rintangan yang ada di depan, mereka akan saling bersama. Keyakinan dan keteguhan cinta mereka tidak bisa dipisahkan. Sebab, cinta yang dimiliki keduanya adalah perasaan yang tulus dan murni untuk satu sama lain.