
Usai sama-sama telah siap, kemudian Bisma dan Kanaya untuk segera berangkat ke tempat kerja mereka. Sebagai suami siaga, Bisma akan terlebih dahulu mengantar Kanaya ke Jaya Corp, barulah dia akan menuju ke Rumah Sakit tempatnya bekerja. Seperti itulah rutinitas mereka setiap paginya di hari Senin - Jumat.
"Aku selalu seneng, bisa berangkat kerja bareng sama kamu kayak gini." ucap Kanaya tiba-tiba.
Kembali wanita itu bergumam, "Bunda berangkat kerja tiap pagi dianter Ayah ya Sayang. Pasti lucu besok kalau Bunda bekerja dan kamu sudah sekolah, Ayah yang akan antar kita berdua." Rupanya Kanaya mengajak berbicara buah hatinya itu sembari mengelus perutnya.
Bisma pun turut menggerakkan tangannya sebelah kiri demi bisa mengelus perut istrinya yang kian membuncit itu. "Iya … nanti kalau kamu sudah sekolah, Ayah yang akan anterin kamu. Kalau perlu, Ayah akan temenin kamu di sekolah." sahutnya sembari tertawa.
Kanaya pun turut tertawa semua bayangan yang saat ini dia bayangkan begitu indah. Semoga saja Tuhan memang mengizinkannya untuk menikmati dan menjalani semua masa-masa itu.
Hingga tanpa mereka sadari, mobil yang dikendarai Bisma sudah tiba di lobby Jaya Corp. Bisma pun turun terlebih dahulu guna membukakan pintu bagi istrinya itu, "Silakan Nyonya …" guraunya kepada sang istri.
Kanaya pun tertawa, "Makasih Boss." jawabnya sembari menundukkan wajahnya, ada rona bersemu merah yang hadir di kedua pipinya.
"Hei, Kalkun plastik." Tiba-tiba saja ada seruan dari seorang wanita yang menyebut Kanaya sebagai kalkun plastik.
Hilang sudah tawa dan rona bahagia di wajah Kanaya. Kini yang ada adalah rasa kesal. Moodnya yang sebelumnya bagus, kini harus segera berganti dengan rasa kesal.
Kanaya pun menoleh pada sumber suara tersebut, dari suaranya pun sebenarnya Kanaya sudah tahu siapa yang memanggilnya demikian.
"Sandra …" gumamnya lirih. "Mas, kamu segera kembali ke Rumah Sakit saja, Mas." pinta Kanaya kepada suaminya itu. Kanaya hanya bermaksud supaya tidak ada keributan pagi itu.
Akan tetapi, Bisma justru menggenggam tangan Kanaya, pria itu diam, tetapi memberikan anggukan kepada Kanaya. "Kita hadapi bersama-sama." ucapnya dengan lirih.
Kanaya pun mengangguk, kemudian dia berjalan hendak menuju lobby. Berniat menghiraukan Sandra di sana.
Akan tetapi, saat Kanaya berniat untuk memasuki pintu utama Jaya Corp, tampak Sandra yang menghadangnya seolah tidak membiarkan Kanaya untuk memasuki kantornya.
"Tunggu aku." ucap Sandra.
__ADS_1
Mau tidak mau, Kanaya pun berhenti. Wanita itu memasang wajah acuh tak acuh kepada Sandra.
"Ada apa? Aku rasa, aku tidak ingin terlibat urusan denganmu lagi." ucap Kanaya.
"Apa kamu yang sudah menyebarkan fitnah bahwa aku selingkuh dari Darren? Gara-gara kamu, karir modellingku hancur." ucap Sandra.
Lagi-lagi untuk sesuatu yang tidak pernah Kanaya perbuat, wanita itu justru selalu menyalahkan Kanaya untuk semua yang terjadi pada dirinya.
Kanaya pun sedikit tertawa culas, "Kamu pikir, aku punya kekuatan sebesar itu untuk menghancurkan karir modellingmu? Lagipula, jika karirmu itu hancur sudah pasti itu karena kamu sendiri." sahut Kanaya.
"Tutup mulutmu itu." ucap Sandra yang terlihat begitu geram. Menurutnya, Kanaya tetaplah pihak yang bersalah dan semua ini terjadi karena Kanaya.
Melihat Sandra yang mulai mengancam istrinya, Bisma pun maju satu langkah, membawa Kanaya untuk berdiri tepat di belakangnya. "Sudah cukup mempersalahkan seseorang atas sebuah tindakan yang tidak pernah dia lakukan. Lagipula, sekuat apa Istriku hingga bisa menghancurkan karirnya. Lagipula, orang yang menabur akan menuai bukan?"
Kali ini giliran Bisma lah yang berbicara kepada Sandra. Memperingatkan wanita itu bahwa Kanaya tidak ada sangkut pautnya dengannya.
Mendengar ucapan Bisma, Sandra justru berdecih. "Ckck … aku yakin, kamu mau sama Kalkun Jelek itu juga setelah dia bertransformasi seperti seperti. Melihat bentuk tubuhnya yang dulu, sudah pasti kamu akan ilfeel." sahut Sandra yang tentu tidak terima.
Rupanya percekcokan di depan Jaya Crop terlihat juga oleh Papa Jaya yang saat itu baru saja datang dan turun di lobby perusahaannya. Melihat ada perselisihan di depan perusahaannya, Papa Jaya langsung datang dan bergabung dengan Bisma dan Kanaya.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan suara tegas, auranya sebagai seorang CEO begitu terasa dari wibawanya.
"Dia datang mengancam Kanaya, Pa." jawab Bisma dengan cepat. "Menuduh Kanaya yang telah menghancurkan karir modellingnya." sambung Bisma kemudian.
Mendengar penuturan Bisma, Papa Jaya justru menatap Sandra dengan tatapan tajam yang membuat wanita itu ciut nyalinya.
"Ah … jadi sekarang sudah terasa kan bagaimana karirmu hancur dalam hitungan singkat? Jangan coba-coba mengusik orang-orang terdekatku, jika kamu ingin hidup tenang. Aku peringatkan sekali lagi, jika kamu mengganggu Kanaya, maka kamu akan berurusan denganku." gertak Papa Jaya.
Bahkan pria paruh baya terlihat begitu emosi saat menatap Sandra dan juga menggertaknya dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Jjj … jadi Anda?" tanya Sandra dengan bibirnya yang terasa bergetar dan lidahnya terasa melu.
Papa Jaya justru kian tajam menatap wanita yang dulu membuat anaknya tergila-gila itu, "Ya … aku yang menghancurkan karirmu. Anggap ini sebagai pelajaran. Jika kamu berani untuk mengusik hidup Naya, kupastikan hidupmu tidak akan tenang." Lagi-lagi Papa Jaya menggertak Sandra.
Mendengar gertakan Papa Jaya, seketika air mata Sandra pun luruh. "Memangnya siapa dia, Om? Sampai-sampai Om Jaya harus selalu membelanya. Akan tetapi, siapa yang membela Darren di dalam sana? Tidak ada. Ya, orang tuanya pun tidak ada yang membelanya." sahut Sandra yang seolah tidak terlihat takut dengan gertakan Papa Jaya tersebut.
Seolah tidak terpengaruh dengan air mata Sandra, Papa Jaya justru menatap Sandra dengan sorot matanya yang tajam, "Membela bukan berarti membiarkan seorang anak bebas melakukan tindakan bersalah dan menyalahi hukum. Membela bukan berarti menjadikan Darren yang bersalah menjadi tidak bersalah. Sayangnya, konsep membela bukan seperti itu. Lagipula, jika Darren bisa melalukan penggelembungan dana itu semua karena kamu juga. Untuk mengalirkan rupiah ke rekening kamu." ucap Papa Jaya dengan begitu tegas.
Usai mengatakan itu, Papa Jaya menoleh kepada Kanaya dan Bisma. "Ayo, kalian ikuti Papa untuk masuk ke dalam. Tidak perlu meladeninya."
Lantas ketiganya memasuki Jaya Corp, sementara Sandra rasanya benar-benar marah dan malu di saat yang bersamaan. Marah karena Papa Jaya justru membela Kanaya, malu karena Papa Jaya juga tahu bahwa Darren sampai terjerat kasus tersebut karena dia yang meminta sejumlah uang kepada Darren.
...🍃🍃🍃...
Dear My Bestiee,
Teman-teman boleh juga loh mampir ke karya berikut ini ya.
Menikahi Surrogate Mother Tanteku dari Devi21. ☝🏻
Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil dari Senja_90.☝🏻
Putri Yakuza di Sarang Mafia dari Santi Suki.
__ADS_1
Cerita ringan tidak menguras emosi dan ada unsur komedi juga kak. Cerita romantis Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda dari Syasyi. ☝🏻