
Setiap rumah tangga memiliki ceritanya masing-masing, begitu juga dengan rumah tangga Kanaya dan Bisma yang masih terbilang sangat baru. Berpacaran dengan jarak jauh hanya dalam waktu enam bulan, lantas keduanya memutuskan untuk menikah. Keduanya bisa dikatakan belum terlalu mengenal satu sama lain. Kendati demikian, selama menjalani rumah tangga berdua, mereka selalu berusaha menjalani peran masing-masing dan juga berusaha secepat mungkin menyelesaikan konflik yang tengah terjadi.
“Untuk apa pun jangan hanya mengedepankan perasaanmu ya, kamu tahu kan aku bukan pria diktator yang akan selalu mengekang kamu. Aku pun tidak membatasi ruang gerakmu, karena aku sangat percaya padamu.” ucap Bisma kali ini dengan menatap Kanaya.
Wanita itu pun lantas mengangguk, “Maaf ya Mas … seharian ini dan tempo hari aku bersalah banget sama kamu.” ucapnya dengan merasa bersalah.
Bisma pun menggerakkan satu alis matanya dan kembali bersuara, “Jujur walau terlambat itu juga enggak benar loh Sayang … kalau jujur ya jujur aja, gak perlu telat. Aku kan ngerasanya kamu jadi bohongin aku.” tutur pria itu dengan menatap wajah istrinya.
“Iya Maaf, Mas … maaf. Lain kali kalau jujur aku akan langsung jujur.” sahut Kanaya yang memang menyadari dalam posisi sekarang ini dirinya yang bersalah.
Setelahnya Kanaya menatap wajah suaminya, “Kamu enggak laper Mas? Enggak makan malam? Padahal dari sehabis pulang kerja, aku udah siapkan semuanya buat kamu.”
Memang begitulah Kanaya, sekalipun seharian dia bekerja sebagai Direktur Keuangan Jaya Corp, tetapi hampir setiap sore dia menyiapkan makan malam untuknya dan suaminya. Menjadi wanita karier bukan berarti lepas tangan terhadap urusan rumah tangga. Akan tetapi, sebisa dan semampunya Kanaya berusaha untuk melakukan perannya sebagai seorang istri.
Bisma pun tersenyum, dan menggandeng tangan istrinya itu, “Ayo …” ucap pria itu dengan tulus.
Begitu sudah sampai di depan meja makan, berbagai sayur yang disiapkan Kanaya sebelumnya pun sudah dingin. Oleh karena itu, Kanaya berniat untuk menghangatkan sayurnya supaya lebih enak saat disantap dengan nasi putih. “Aku panaskan dulu ya Mas …”
__ADS_1
Akan tetapi, dengan cepat Bisma mencegahnya, “Tidak perlu … sayur dingin pun tidak masalah. Lagipula, sayuran terlalu sering dipanaskan juga menghilangkan semua kandungan mineral, vitamin, dan zat besi dalam sayuran ini. Jadi, langsung dimakan aja.” ucapnya.
Kanaya mengangguk, dia percaya bahwa suaminya yang berprofesi sebagai Dokter itu sudah pasti tahu bahwa sayuran pun tidak boleh berkali-kali dipanaskan. Karena itulah, Kanaya pun mengikuti ucapan suaminya itu. Kemudian, Kanaya segera mengisi piring kosong milik suaminya terlebih dahulu, mengisinya dengan nasi putih, sayuran berupa Cap Tjay sayuran dan udang, serta Ayam Goreng Bawang yang sudah dia masak sebelumnya.
Dengan senang hati pun, Bisma menerimanya. Pria itu kemudian menunggu, hingga piring Kanaya terisi. Menjadi suami, rupanya Bisma memiliki kebiasaan unik lainnya yaitu suapan pertama pasti akan dia suapkan untuk istrinya itu.
“Yuk Sayang, aaak … dulu.” ucap pria itu sembari membawa satu sendok berisi nasi, sayuran, dan ayam goreng bawang. Lantas menyuapkannya terlebih dahulu ke dalam mulut istrinya itu.
Sementara Kanaya sendiri merasa bahwa suaminya memperlakukannya dengan sangat baik. Beberapa bulan menikah, perlahan kebiasaan apa saja yang dimiliki satu sama lain pun terungkap. Sejauh ini, Kanaya juga tidak komplain dengan kebiasaan suaminya itu, yang ada dia justru merasa senang dengan perlakuan dan sikap manis suaminya.
Menerima suapan pertama dari suaminya, Kanaya mengunyahnya sembari tersenyum, “Kenapa kalau disuapin kamu rasanya lebih enak ya?” tanya Kanaya sembari bola matanya beberapa kali menatap suaminya itu.
Akan tetapi, justru Kanaya menggelengkan kepalanya, “Enggak kok Mas … aku makan sendiri aja kok. Malu aku kalau kamu suapin, justru aku seperti anak kecil enggak sih?” tanyanya sembari tertawa dan menggerakkan bahunya.
“Enggak juga kok … aku sih seneng-seneng aja, dan sama sekali enggak merasa keberatan.” ucapnya yang memastikan bahwa dia tidak keberatan dengan perilaku istrinya itu.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, bagi pasangan yang sama-sama bekerja, pagi hari tentu menjadi waktu paling hectic bagi keduanya. Bisma harus bergegas ke Rumah Sakit, sementara Kanaya harus bergegas untuk ke perusahaan Jaya Corp. Dari seluruh waktu di sepanjang hari, pagi selalu menjadi waktu yang serba terburu-buru. Kendati demikian Kanaya selalu berusaha menyiapkan sarapan, dan juga menyiapkan pakaian yang dikenakan suaminya pada hari itu.
“Sayang, boleh minta tolong ambilkan kaos kaki ya … aku buru-buru.” ucap Bisma yang sedang mengancingkan kemejanya.
Kanaya pun tersenyum dan mulai menuju walk in closet untuk mengambil kaos kaki yang diminta suaminya itu. “Ini Mas …” ucapnya sembari menyerahkan sepasang kaos kaki berwarna hitam kepada suaminya itu.
Belum lima menit waktu berlalu, pria itu kembali bertanya kepada istrinya itu, “Sayang, dompetku di mana ya?”
Dengan cepat, Kanaya menarik laci nakas dan menyerahkan dompet suaminya di sana. Kemudian Kanaya mempercepat make up-nya, saat Kanaya hendak memoleskan lipstik di bibirnya, kembalilah suaminya itu menanyakan sesuatu. “Pinjem bolpoint dong Sayang … aku lupa naruhnya.” ucap pria itu dengan tanpa ada rasa bersalah.
Sedikit merasa jengah, Kanaya lantas memberikan bolpoint dari dalam tas kerjanya. “Ya ampun Mas, lain kali apa-apa itu ditaruh yang benar. Semuanya kok lupa, semuanya kok tahu. Emang harus aku yang tahu semuanya di rumah ini?” tanya Kanaya yang menghela napasnya.
Bisma pun tertawa, “Sorry Sayang … maaf ya. Ini justru bukti kalau aku bergantung sama kamu. Sampai hal-hal kayak gini aku tanya semua ke kamu. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak akan kulupa kok yaitu rasa cintaku kepadamu. Itu tidak akan pernah kulupakan.” ucap pria itu tanpa merasa bersalah dan mendekap tubuh istrinya itu dari belakang.
Namun, lantaran sebal Kanaya pun hanya diam, “Dokter kok apa-apa tanya Istrinya, untung aja kamu gak lupa aturan resep obat-obatan untuk pasien, kalau sampai kamu lupa, masak ya kamu mau telepon aku dulu sebelum meresepkan obat.”
Tertawa, Bisma pun mengusap rambutnya perlahan, “Enggak juga kok Sayang … kamu dan menghafal resep obat itu satu frekuensi. Tidak akan pernah kulupakan waktu sedetik pun. Melupakan dua hal itu bisa berakibat fatal. Salah memberikan resep, pasien yang dirugikan dan jika melupakan kamu, aku yang akan gila.” jawab Pria itu sembari terus memeluk istrinya itu dari belakang.
__ADS_1
Sejatinya begitulah warna-warni rumah tangga. Ada kalanya rumah tangga diisi berbagai momen romantis, tetapi terkadang para pria di rumah pun berkata bahwa para istri adalah orang yang serba tahu di rumah.