Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Penyakit Baru


__ADS_3

Seminggu kemudian waktu sidang perceraian pertama regan dan seva kini di lakukan di pengadilan agama jakarta.


Seva datang bersama seorang pengacara baru sampai di depan kantor pengadilan.


Bukti chat dan foto dan beberapa video sudah berhasil seva kumpulkan untuk di tunjukkan kepada hakim.


"Apa kamu benar-benar yakin ingin berpisah dengan suamimu seva?"tanya sang pengacara.


"Sudah lebih dari lima kali kamu menanyakan hal itu reza, keputusanku sudah bulat"jawab seva mantap.


"Bagaimana dengan kedua putrimu, apalagi kamu sedang mengandung?".


"Aku bisa hidup sendiri bersama orang tuaku, hatiku lebih tenang za?"tutur seva.


Reza mengangguk tindakan perselingkuhan regan memang tidak bisa di maafkan begitu saja.


Reza sempat di minta menjadi pengacara oleh regan.


Namun ia menolak karena seva sudah lebih dulu meminta bantuan dirinya untuk mengurus perceraiannya.


Seva yang baru turun dari mobil reza menghentikan langkahnya melihat kedatangan mobil regan.


"Ayo kita masuk, sebentar lagi persidangan akan di mulai"ajak reza.


Seva mengangguk dan berjalan mengikuti langkah sang pengacara.


"Seva tunggu dulu?"panggil regan segera menyusul langkah istrinya


.


Sang istri tak bergeming sampai regan menarik sedikit tangannya.


Seva lantas berbalik badan dan menyuruh reza pergi ke ruang sidang terlebih dulu.


"Ada apa mas?"tanya seva dengan wajah datar.


"Bisa kita bicara sebentar?"pinta regan.


"Mau bicara apa lagi mas,aku sudah muak mendengar kamu terus memohon untuk kembali.


Keputusanku sudah bulat, biarkan anak-anak tinggal bersamaku.


Kamu boleh menemui mereka di bandung"terang seva.


"Aku mohon maafkan aku seva,aku benar-benar menyesal"ujar regan menundukkan kepalanya.


"Penyesalan memang tempatnya di belakang mas,kalau di depan itu namanya pendaftaran.


Aku sudah memaafkan kamu tapi untuk kembali bersama aku tidak bisa"jelas seva lalu berjalan lebih dulu meninggalkan regan yang diam memperhatikan kepergian sang istri.


Regan terlihat sangat bersedih sampai di tak kuasa menopang kedua kakinya hingga ia merosot ke lantai.


"Bapak tidak apa-apa?"tanya seorang pengacara paruh baya yang ia sewa bernama hadi mengulurkan tangannya membantu regan untuk berdiri.


"Saya baik pak, terima kasih telah membantu saya"jawab regan perlahan bangkit dan berjalan menuju ruang persidangan.

__ADS_1


Regan dan seva duduk di depan bersiap mendengarkan pembicaraan hakim.


"Baiklah persidangan bisa kita mulai sekarang?"tanya ketua hakim.


"Berdasarkan dari hasil bukti yang di berikan oleh pihak penggugat yaitu saudari seva bahwa suaminya bernama regan melakukan tindakan perselingkuhan selama dua kali tanpa sepengetahuan dirinya.


Yang membuat sang istri sakit hati dan menuntut perpisahan".


Setelah hakim membaca semua tuntutan,seva dan regan di minta melakukan mediasi terlebih dahulu karena ada anak mereka dan seva yang sedang hamil.


Hakim memperbolehkan perceraian walaupun sang istri sedang hamil karena sang suami berselingkuh.


"Mohon maaf pak hakim, keputusan saya sudah bulat jadi tidak perlu adanya mediasi lagi.


Kami berdua sudah sepakat berpisah bukan begitu mas regan?"tanya seva melirik ke arah suaminya yang duduk tak jauh darinya.


Regan terpaksa mengangguk karena seratus persen memang kesalahannya walaupun berusaha meminta seva untuk rujuk kembali tidak mungkin berhasil.


"Baiklah dengan bukti dan keputusan kedua belah pihak saudara regan dan seva resmi berpisah.


Sementara hak asuh anak jatuh pada sang ibu.


Namun demikian sang ayah tetap melakukan kewajiban menafkahi ketiga anaknya kelak.


Karena yang semua ketahui hubungan ayah dan anak tidak ada kata putus.


Saudari regan tetap bisa menemui ketiga anaknya dengan ijin ibunya seva.


Demikian sidang kami tutup".


Palu hakim sudah di ketuk sebagai tanda telah selesai perceraian mereka.


Regan tak kuasa meneteskan air matanya.


Ingin sekali rasanya ia memeluk sang istri sebelum berpisah dengan waktu yang lama.


Namun kenyataannya itu hanyalah sebuah angan-angan saja.


Dirinya dan seva sudah tidak ada lagi hubungan apa-apa lagi.


Hanya sebatas mantan istri dan mantan suami saja.


Tapi ia merasa cukup lega karena bisa bertemu kapan saja dengan anak-anaknya.


Ia rela menempuh perjalanan jauh demi menemui putri-putrinya.


**Malam hari aulia sudah bersiap untuk berangkat bekerja di tempat bu eva.


Pagi hari ia bekerja di kantor regan sementara untuk malam ia bekerja di sebuah bar sebagai pemandu lagu.


Aulia sudah biasa memakai pakai minim dan sexy jadi ia tak masalah menggunakan pakaian itu sewaktu di bar.


"Aduh perutku sakit sekali"rintih aulia memegang bawah perutnya.


"Apa penyakitku kambuh lagi"gumam aulia mencoba mencari obat yang lama tak ia minum di laci.

__ADS_1


"Kok gak ada,apa obatnya sudah habis?.


Aulia masih tak menemukan obatnya setelah mencari di tas dan laci kamarnya.


Ia duduk sebentar di lantai untuk menetralkan rasa sakit yang di rasakan.


Begitu di rasa tidak sakit lagi,ia duduk di meja rias memoles wajahnya agar terlihat menarik.


Bukan hal yang sulit bagi aulia memakai make up berbeda dengan ocha yang jarang sekali berdandan.


Apalagi ketika ocha hamil sama sekali ia tak menyentuh make up nya.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam,aulia keluar menunggu taksi di depan rumah kontrakannya.


"Gue heran tuh aulia kerjanya apa ya kok malam-malam begini berangkat terus pulangnya sebelum subuh"ucap tetangga sebelah rumahnya.


"Katanya dia bekerja di sebuah bar, mungkin aja dia jual diri di sana pantas aja berhasil membeli rumah itu dan melunasi semua hutang pinjol yang menunggak banyak".


"Biar kena azab tuh si aulia,kena penyakit menular baru tau rasa.


Dunia malam kan serem".


"Hih nauzubillah jangan sampai kita kena azab kayak aulia".


Di dalam taksi aulia semakin tak tahan dengan sakit yang ia rasakan sejak tadi.


"Apa aku ke rumah sakit dulu ya?"gumam aulia merintih kesakitan.


"Anda baik-baik saja mbak?"tanya sopir taksi melihat aulia terlihat gelisah.


"Perut saya sakit pak, tolong ke rumah sakit sebentar ya?"pinta aulia.


Sang sopir taksi mengangguk dan segera membawa aulia ke rumah sakit.


Sesampainya di depan rumah sakit supir taksi yang baik hati itu mau membantunya aulia untuk masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.


"Pak terima kasih telah bantu saya,ini ongkos taksinya"ucap aulia sebelum masuk ke dalam ruangan dokter.


"Terima kasih mbak, semoga mbak segera sembuh"jawab sopir taksi lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


Aulia membuka pintu perlahan ada seorang dokter wanita paruh baya di dalam ruangan itu


"Dokter tolong saya,perut saya sakit sekali?"rintih aulia merasa kesakitan.


"Baik silahkan tidur di sini biar saya periksa dulu"ucap dokter membantu membaringkan aulia di brankar pasien.


"Melihat gejala yang di alami oleh anda, seperti ini masalah dari organ reproduksi anda.


Saya akan melakukan pemeriksaan dari dalam untuk memastikan penyakit itu berbahaya atau tidak".


Aulia mengangguk,dokter memberikan obat penahan nyeri untuk sementara waktu sambil menunggu hasil pemeriksaan selesai.


"Untuk sementara anda di rawat di sini dulu ya bu aulia"pinta sang dokter.


"Iya dokter, tolong sembuhkan saya.

__ADS_1


Saya gak kuat harus menahan sakit seperti ini terus menerus".


__ADS_2