
Terusnya waktu yang bergulir terkadang membuat manusia seakan menyadari bagaimana cepatnya waktu juga turut menghadirkan berbagai peristiwa dalam hidup manusia. Pun demikian dengan Kanaya dan Bisma saat ini. Keduanya telah sampai pada satu hari, di mana sebuah janji suci akan diucapkan. Janji yang bukan hanya sekadar janji. Akan tetapi, sebuah janji yang akan menyatukan dua insan anak manusia itu adalah sebuah pernikahan yang sah dan juga sakral. Sebuah janji yang mempersatukan dua insan yang berbeda latar belakang menjadi satu menuju sebuah bahtera yang bernama pernikahan.
Bertempat di sebuah hotel bintang lima di pusat Ibukota, sebuah dekorasi yang mengusung konsep bergaya vintage. Tidak ada alasan khusus sebenarnya, tetapi ternyata Bisma dan Kanaya pun sepakat mengusung tema tersebut saat mendatangi Wedding Planner.
Dekorasi di tempat akad sekaligus pelaminan didominasi dengan bunga Mawar Putih, bunga yang dipilih Bisma sendiri untuk mengungkapkan bahwa perasaannya tulus dan suci, simbol cinta abadi untuk seorang Kanaya. Pun untuk menambahkan kesan vintage, Wedding Planner juga mempersiapkan foto booth untuk para tamu undangan yang hadir dengan sebuah stand foto yang berhiaskan mesin ketik, telepon kuno, dan berbagai barang-barang vintage di sana. Membuat pernikahan terkesan begitu classy.
Di depan pelaminan, sebuah meja dan kursi berwarna putih bersih disusun sedemikian rupa. Tampak di sana Bisma tengah duduk, mengenakan sebuah Beskap berwarna putih dan sebuah blangkon (penutup kepala khas Jawa) bertengger dengan indah di atas kepalanya. Pria itu duduk dengan tenang, sekalipun hatinya berdegup dengan kencang seolah detakannya melebihi detak setiap sekon jarum jam yang berlalu. Di depannya sudah ada penghulu dan juga Papa Jaya yang sudah bersiap.
Degupan jantung pria itu seakan semakin menjadi-jadi, saat matanya menangkap pada sosok Kanaya yang berhias sedemikian rupa dalam balutan kebaya putih yang begitu sempurna dikenakannya. Paes khas pengantin Jogjakarta tergambar dengan indah di keningnya, juga reroncean bunga Mawar dan Melati yang menjuntai indah di sisi kepalanya sebagai hiasan kepala yang tampak begitu indah. Gadis itu berjalan perlahan dengan didampingi oleh Mama Sasmita dan Bunda Hesti.
Menyongsong mempelai pria yang sudah duduk dengan harap-harap cemas di depan sana. Akan tetapi, saat kedua netra mereka sesaat bertemu, Bisma tak tahan untuk melemparkan senyumannya kepada Kanaya. Inilah momen yang sangat dinantikan oleh seorang Bisma. Dengan perlahan, Kanaya pun kini duduk di samping Bisma. Wanita itu hanya menundukkan kepalanya, berdoa di dalam hati semoga ikatan suci pernikahan yang kedua baginya ini akan menjadi akad kedua sekaligus terakhir baginya. Tidak akan ada lagi, perpisahan. Jikalau memang berpisah, Kanaya berdoa hanya maut saja yang akan memisahkan mereka berdua.
Hingga detik-detik yang mendebarkan pun tiba, saat Bisma menjabat tangan Papa Jaya.
"Saya nikahkah dan saya kawinkan, engkau Bisma Adi Pradana dengan Kanaya Salsabilla dengan emas kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
__ADS_1
Perlahan Bisma menarik napas dalam-dalam, kemudian dia pun menjawab, "saya terima nikahnya dan kawinnya Kanaya Salsabilla dengan emas kawin tersebut dan alat sholat dibayar tunai." mengucapkan kalimat pamungkas itu dalam satu tarikan napas.
Sah!
Sebuah ungkapan yang menggambarkan bagaimana kedua pengantin seolah menghela napas panjang. Mendengar kata sah layaknya sebuah legitimasi yang paling mereka nanti. Tanda bahwa mereka berdua telah bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Sebuah ucapan yang menyatakan bahwa keduanya kini sudah sama-sama berada dalamsatu bahtera yang bernama pernikahan.
Tak kuasa Kanaya meneteskan air matanya. Bayang-bayang menikah benar-benar tanpa orang tuanya, bahkan sosok yang menikahkannya pun bukanlah Ayahnya. Perasaan yang mengharu biru bagi Kanaya. hatinya berdesir dengan hebat, bayang-bayang pernikahan terdahulu yang memilukan seakan kembali berputar dalam pikirannya. Seolah de javu, karena memori akad ini benar-benar berjalan seperti pernikahannya yang terdahulu. Dalam uraian air matanya yang berderai, Kanaya berusaha menahan isakannya dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Perlahan, Kanaya melirik Bisma, besar harapannya bahwa Bisma benar-benar pria yang baik. Mengingat Bisma dan semua kebaikan pria itu, perlahan Kanaya merasa tenang dan dia yakin bahwa pria yang duduk di sampingnya itu akan menjadi pendamping hidup yang sepadan untuknya. Pendamping hidup yang menerima segala kekurangan dan kelebihannya.
Usai Ijab Qobul telah sah, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan juga penandatanganan buku nikah. Kemudian dilanjutkan dengan penyematan cincin nikah di jari masing-masing pengantin. Kanaya menyematkan cincin di jari manis Bisma, kemudian mencium punggung tangannya sebagai bentuk bahwa seorang istri akan tunduk kepada suaminya. Dilanjutkan dengan Bisma yang menyematkan cincin di jari manis Kanaya, kemudian pria itu mencium kening dari Kanaya sebagai bentuk bahwa suami akan senantiasa mengasihi istrinya.
Di sela-sela waktu saat mereka duduk di pelaminan, Bisma menautkan jari jemarinya ke dalam jari-jari tangan Kanaya. Pria itu tersenyum saat berhasil menggenggam tangan Kanaya, "mimpiku terwujud. Makasih ya sudah mau menerima pinanganku."
Menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, Kanaya pun tersenyum dan memberikan satu anggukan kepada Bisma, “terima kasih juga sudah meminangku.”
“Kamu sangat cantik, Naya …” Bisma membisikkan pujian itu secara lirih di telinga Kanaya.
__ADS_1
Sebuah pujian yang membuat Kanaya tertunduk malu. Dipuji oleh Bisma, benar-benar membuat Kanaya tersipu malu hingga blush on yang saat ini mewarnai kedua pipinya bisa-bisa bertambah kian terang warnanya.
Keduanya kemudian sama-sama berdiri menyalami tamu undangan yang mulai berbaris dan ingin menyamaikan selamat secara langsung kepada kedua mempelai.
“Selamat berbahagia Bu Kanaya dan Pak Bisma.”
“Selamat menempuh hidup baru.”
“Semoga langgeng.”
"Selamat Bu Naya dan Pak Dokter."
“Turut berbahagia ….”
Berbagai ucapan bahagia mereka terima dengan raut wajah penuh kebahagiaan. Keduanya menyadari bahwa setiap ucapan yang diberikan oleh para tamu undangan adalah doa, karena itu keduanya menerima setiap ucapan berbahagia yang disampaikan oleh para tamu undangan. Sekalipun pernikahan keduanya berniat tidak mengundang banyak orang, ternyata justru hampir seluruh staf Jaya Corp datang di hari bahagia itu, rekan-rekan sesama Dokter pun juga turut hadir dan turut berbahagia dalam pernikahan Bisma dan juga Kanaya.
__ADS_1
Berdiri sekian waktu lamanya, bersalaman, berfoto, dan tidak lupa menyunggingkan senyuman dilakukan keduanya dengan tulus dan tidak ada paksaan sama sekali. Bahkan para tamu yang turut hadir pun bisa menilai dengan jelas bahwa kedua pengantin benar-benar berbahagia dan saling mencintai satu sama lain.