
Setelah kemarin berjalan-jalan bersama Aksara melihat aneka satwa di Singapore Zoo. Untunglah hari ini masih hari Minggu, sehingga hari ini Bisma dan Kanaya bisa isitirahat. Tidak dipungkiri bahwa kaki mereka berdua begitu pegal karena kemarin keduanya berjalan kaki mengelilingi Singapore Zoo bersama Aksara. Akan tetapi, pegalnya kaki sebanding dengan kebahagiaan yang mereka dapatkan dengan mengajak Aksara jalan-jalan. Melihat Aksara yang begitu bahagia, tentu saja Kanaya dan Bisma turut berbahagia.
“Kakiku capek, Mas …,” keluh Kanaya sekarang ini. Itu memang karena Kanaya merasa betisnya begitu kencang dan capek efek berjalan-jalan seharian di Singapore Zoo.
“Sama Sayang … kemarin jalan kaki seharian,” jawab Bisma. “Mau berendam di air hangat kakinya?” tawar Bisma kepada Kanaya.
Wanita itu menganggukkan kepalanya, Bisma segera mengisi sebuah wadah cukup besar dan memberikan air hangat, “Sini direndam biar pegalnya hilang,” ucap Bisma.
Kanaya pun tersenyum karena suaminya itu benar-benar sosok yang perhatian. Hingga setelah lima belas menit, Kanaya pun merasa kakinya tidak begitu pegal. Kemudian Kanaya memilih untuk segera bangun dan membangunkan Aksara.
"Aksara, bangun dulu yuk... sudah hampir siang, Nak. Sudah jam 08.00, sekarang bangun dulu yuk Aksara," ucap Kanaya yang mencoba membangunkan Aksara.
Putranya itu perlahan mengerjap. Mungkin karena seharian kemarin berjalan-jalan di Singapore Zoo membuat Aksara pun kecapekan. Hingga pagi ini Aksara pun bangun lebih siang dari biasanya. Padahal biasanya, Aksara bangun lebih pagi dan sering membantu Bundanya di dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Bunda," ucap Aksara dengan lirih dan suara orang khas bangun tidur.
Aksara langsung bangun dan duduk bersandar di head board ranjangnya.
"Aksara bangun kesiangan ya Bunda?" tanya Aksara kepada Kanaya.
"Tidak apa-apa Aksara ... pasti kamu juga kecapekan setelah kemarin jalan-jalan kan?" tanya Kanaya. Memang tidak dipungkiri, berjalan-jalan sepanjang hari membuat kaki terasa begitu pegal.
"Iya Bunda ... kakinya Aksara terasa pegal," sahutnya.
"Ya sudah, Aksara mandi dulu ... biar capeknya hilang yah. Mandi pakai air hangat saja Aksara. Mau Bunda buatin sarapan apa?" tanya Kanaya kepada putranya itu.
"Roti Bakar selai stroberi saja Bunda," pinta Aksara.
__ADS_1
Kanaya pun segera menuju dapur membuatkan sarapan untuk putranya itu. Sementara Aksara segera mandi seperti permintaan Bundanya. Sedangkan Bisma sendiri sedang membaca materi dengan tablet miliknya.
Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit, Kanaya telah selesai membuat roti bakar dengan isian selai stroberi, dan membuat Teh hangat untuk mereka bertiga.
"Pagi Ayah," sapa Aksara begitu keluar dari kamarnya dan duduk di samping Ayahnya itu.
"Pagi Nak, gimana bobok kamu nyenyak?" tanya Bisma.
"Iya Ayah, nyenyak ... hanya saja Aksara kakinya kecapekan," keluhnya kali ini.
Bisma pun tersenyum rupanya keluhan istrinya dan Aksara sama, yaitu kakinya yang sama-sama pegal.
Kemudian Bisma dan Aksara menuju ke meja makan dan bergabung dengan Kanaya. Mereka menikmati menu sarapan itu dengan saling bercerita satu sama lain.
"Ayah, Ayah itu Dokter apa?" tanya Aksara kini.
"Wah, Ayah keren yah ... dulu waktu kecil katanya Bu Lisa, Aksara hanya nunjuk-nunjuk gambar Dokter saja kalau ditanya pekerjaan Ayahnya apa," ceritanya kini.
Kanaya dan Bisma pun tertawa, rupanya sekalipun masih kecil, Aksara ingat jika profesi Ayahnya adalah seorang Dokter. Responsnya juga sama seperti Kanaya dulu bahwa Dokter adalah profesi yang keren.
"Nanti kamu ingin jadi apa Aksara?" tanya sang Bunda kepada putranya itu.
Tampak Aksara mulai berpikir. Berbicara cita-cita sebenarnya belum ada keinginannya yang spesifik, tetapi nyatanya Aksara pun menjawab pertanyaan Bundanya.
"Ingin jadi Dosen seperti Ibu Khaira, Ma ... Bu Khaira itu keren sekali masih muda sudah jadi Dosen. Bahkan Syilla pernah bilang kalau Ibu Khaira lulusan universitas di luar negeri," cerita Aksara kini.
"Kalau ingin menjadi dosen, sekolah yang pandai dan rajin, Aksara. Menjadi Dosen itu juga adalah profesi yang mulia. Semua profesi itu mulia kok. Yang penting Aksara menjadi orang yang berguna," jawab Kanaya kini.
__ADS_1
Ya, semua profesi adalah mulia. Sebab semua orang bekerja untuk menghidupi keluarga mereka. Memenuhi kebutuhan hidup yang seakan tiada habisnya. Oleh karena itulah, bahwa semua profesi pekerjaan adalah mulia.
Aksara mendengarkan apa yang diucapkan Bundanya. Memang dirinya terlalu kecil untuk memikirkan cita-cita, tetapi di matanya orang tuanya adalah orang-orang yang memiliki profesi yang membanggakan.
“Aksara, kalau mau sekolah sampai ke luar negeri juga boleh kok. Ayah dan Bunda akan menyekolahkan Aksara sampai tinggi. Jadilah orang yang berguna dan membanggakan orang tua dan keluargamu, Nak,” nasihat Ayah Bisma kini.
“Iya Ayah … Aksara akan sekolah yang rajin dan pandai. Semoga saja, Aksara bisa menjadi orang yang berhasil dan berguna di kemudian hari,” jawabnya.
“Kalau Ayah Radit profesinya apa Nak?” tanya Ayah Bisma lagi.
“Seingat Aksara, Syilla pernah cerita kalau Ayahnya adalah seorang Auditor, Yah … memeriksa keuangan gitu,” balas Aksara.
Berbicara tentang auditor, Kanaya lantas teringat dengan seorang auditor yang masih muda, auditor yang pernah membongkar kasus Darren Jaya Wardhana. Kanaya lantas teringat bahwa auditor itu juga bernama Radit. Mungkinkah Ayah Radit yang dimaksud Aksara adalah Radit yang sama dengan auditor yang pernah bekerja di Jaya Corp beberapa tahun yang lalu.
“Bunda kenapa Bunda?” tanya Aksara yang memperhatikan bahwa Bundanya tampak tengah berpikir.
“Tidak Nak … Bunda hanya teringat, dulu di tempat Bunda bekerja ada seorang auditor juga namanya Radit. Mungkinkah dia adalah Ayahnya Arsyilla. Keduanya sama-sama bernama Radit dan sama-sama seorang auditor,” jelas Bunda Kanaya.
“Kalau benar, kita bisa main ke rumah Arsyilla dong Bunda … kan pasti kantornya Bunda punya alamatnya,” sahut Aksara dengan tiba-tiba.
“Coba nanti kalau kita sudah sampai di Jakarta, Bunda akan mencari tahu lagi ya Aksara. Semoga saja keduanya adalah orang yang sama. Bunda dan Ayah ingin berterima kasih karena keluarganya Arsyilla begitu baik kepadamu,” balas Bunda Kanaya,
Aksara pun mendengarkan apa yang diucapkan Bundanya itu, kemudian Aksara pun kembali berbicara.
“Ibu Khaira pernah berkata, jika tidak bisa lagi bertemu. Saling mendoakan adalah bentuk kasih sayang terjauh dan terbaik. Kita nanti doakan Ibu Khaira, Ayah Radit, dan Syilla ya Bunda,” ucap Aksara yang mengingat pesan dari Ibu Khaira.
Kanaya dan Bisma berpikir dan menganggap bahwa keluarga Radit adalah orang-orang yang baik. Pun dengan pemikiran mereka bahwa doa memang sebuah koneksi yang terbaik yang bisa menghubungkan orang-orang. Mendengar ucapan Aksara, sudah tentu mereka akan selalu mendoakan untuk keluarga Radit yang selama ini sudah begitu menyayangi Aksara.
__ADS_1