Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Kunjungan Sandra ke Rumah Tahanan


__ADS_3

Di saat Kanaya sedang menikmati momen indah bersama keluarga mertuanya. Merasakan kasih sayang dari sebuah keluarga yang utuh. Di satu sisi, Sandra rupanya masih berusaha mencari cara setidaknya dia bisa sedikit bertahandari himpitan ekonominya sekarang ini dan yang dia tuju sekarang adalah Darren. Seolah membuang rasa malu yang ada, hari ini Sandra justru bersikukuh untuk menemui Darren di Rumah Tahanan.


Menjelang siang, perempuan itu tampak sudah tiba di salah satu Rumah Tahanan di Ibukota. Segeralah dia mengatakan untuk menemui Darren Jaya Wardhana. "Selamat siang, saya ingin bertemu dengan Pak Darren." sapanya kepada petugas yang berada di Rumah Tahanan itu.Sembari menunggu, petugas rumah tahanan pun mempersilakan Sandra untuk mengisi buku tamu terlebih dahulu. Nama, alamat, dan tanda tangan. Selain itu, petugas rumah tahanan akan mengecek terlebih dahulu Kartu Tanda Penduduk milik tamu.


Sembari menunggu, akhirnya tidak berselang lama. Darren pun datang dan menemui Sandra.


Kesan pertama yang ditimbulkan oleh Darren adalah pria itu bersikap dingin dan seolah enggan untuk menemui Sandra. Namun, bukan Sandra namanya jika tidak berusaha dan menggunakan pesonanya untuk meluluhkan Darren.


"Lama tidak bertemu, Darren ... kamu sehat?" tanya Sandra kepada Darren.


Ini juga pertemuan pertama mereka setelah sekian bulan berlalu. Sejak Darren mendekam di rumah tahanan, baru kali ini dirinya menemui Darren.


Jika Sandra bersikap seperti biasa dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, lain halnya dengan Darren.Beberapa menit berjalan, pria itu memilih diam dan mengalihkan pandangannya kepada hal yang lain. Menatap wajah Sandra pun rasanya begitu enggan.


"Darren, jangan hanya diam saja. Aku datang kemari untuk menunjukkan padamu ini." ucap Sandra.


Mulailah dia menunjukkan beberapa foto yang berada di handphonenya. Sudah tentu itu adalah foto Kanaya dan Bisma. Pasangan suami istri yang saling mencintai satu sama lain itu, tertangkap bidikan kamera Sandra saat dirinya menemui Kanaya di Jaya Corp tempo hari.

__ADS_1


Satu pembicaraan itu pun akhirnya, Darren mulai melihat beberapa foto yang berada di handphone Sandra. Hati pria itu berdenyut nyeri melihat Kanaya yang tersenyum dengan begitu manisnya kepada Bisma. Beberapa kali keduanya juga berjalan bergandengan tangan dan pandangan penuh cinta pun tercetak jelas di wajah keduanya.


"Kamu tidak cemburu melihat semuanya ini? Kamu yakin ingin berusaha mendapatkan Kanaya sembari setelah melihat semuanya ini?" tanya Sandra sembari menaruh handphonenya tepat di hadapan Darren.


Secara pribadi Darren tampak menahan amarahnya, rahangnya terlihat mengeras, tetapi pria itu enggan menunjukkan betapa sakit hatinya saat ini.


Merasa bahwa Darren seolah tidak bereaksi, mulailah Sandra mengucapkan kata-kata yang sekiranya bisa menarik perhatian Darren.


"Kamu yakin akan berjuang setelah melihat semua ini? Jika aku boleh berkata, lepaskan dia, Darren ... Lagipula, aku juga datang untuk meminta maaf kepadamu. Maaf, kalau dulu aku bersikap tidak setia padamu." kali ini Sandra berbicara dengan sepenuh hati. Seolah-olah dia memang begitu menyesali perbuatannya di masa lalu.


Wanita itu lantas menggerakkan tangannya dan menyentuh tangan Darren yang berada di atas meja kayu itu, "Aku benar-benar minta maaf untuk kesalahanku di masa lalu, Darren. Aku sudah banyak bersalah kepadamu. Aku mau berubah menjadi wanita yang baik, di kemudian hari siapa tahu hatimu yang saat ini masih mengeras akhirnya akan melembut. Aku akan menunggu saat itu tiba." ucapnya.


Menguatkan hatinya sendiri, Sandra sudah berjalan beberapa langkah. Namun, saat dia hendak kembali mengambil langkah, terdengar Darren yang mengeluarkan suaranya.


"Bagaimana kabar Kanaya?"


Itulah kalimat pertama yang diucapkan Darren. Seolah dia tidak menghiraukan berpuluh-puluh kalimat yang diucapkan Sandra dan sekarang dia justru menanyakan kabar Kanaya.

__ADS_1


Kaki Sandra pun sontak terdiam, dirinya nyaris mematung mendengar suara Darren. Hingga perlahan, wanita itu membalikkan badannya guna menatap Darren. Mengambil langkah dengan sepenuh hati, hingga kini Sandra memilih kembali duduk di hadapan Darren.


"Kanaya baik, sekarang dia tengah mengandung. Ya, buah cintanya dengan Bisma." jawab Sandra dengan jujur mengatakan bahwa Kanaya tengah hamil.


Di satu sisi Darren tampak menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin wanita yang dicintainya itu hamil dalam waktu yang begitu singkat. Ada rasa kalut dalam hatinya. Mungkinkah dia harus benar-benar melepaskan Kanaya bahkan di saat bunga-bunga di hatinya belum sempat bermekaran.


"Aku tidak bohong, Darren. Aku bahkan tempo hari bertemu dengan Kanaya dan suaminya, mereka akan segera menjadi orang tua." imbuh Sandra lagi.


"Bagaimana mungkin?" sahut Darren dengan nada penuh kekecewaan dalam suaranya.


"Itu mungkin karena mereka suami istri, Darr. Karena itu, lepaskan dia. Jika bisa, terimalah aku kembali. Karena aku akan membuktikan diriku untuk layak mendampingimu. Aku akan menunggu sampai saat kamu keluar dari rumah tahanan ini." Sandra berkata dengan sungguh-sungguh kepada Darren.


Akan tetapi, lagi-lagi Darren tampak diam dan kembali tidak menanggapi ucapan Sandra. Hatinya berselimut dengan rasa getir sekarang ini, kendati demikian dia tidak bisa berbuat banyak karena sekarang dia berada di rumah tahanan.


Pria itu tampak menghela napasnya, dan tercetuslah ide dari Darren. Dia berpikir akan menuliskan surat untuk Kanaya dan menitipkannya kepada Sandra.


"Apa kamu mau membantuku?" tanya Darren, yang kali ini menatap wajah Sandra.

__ADS_1


Dengan cepat Sandra pun mengangguk, "Tentu, aku akan membantumu."


"Aku akan menulis surat untuk Naya, bisakah kamu menolongku untuk memberikannya kepadanya?" tanya Darren begitu ide dalam otaknya itu tercetus.


__ADS_2