
Semenjak persidangan perceraian regan dan seva di lakukan kini regan memilih mengurung dirinya di dalam kamar.
Bahkan dirinya sama sekali tidak mau keluar hanya untuk makan.
Regan benar-benar kehilangan semangat hidupnya.
Terpaksa kini yang menggantikan regan ke kantor adalah siti.
Terkadang ia datang ke kantor bersama hendro untuk mengajarinya beberapa pekerjaan.
Untung saja siti cepat paham dan di bantu assisten dan karyawan juga tentunya.
"Pak regan kita sarapan dulu ya?"ucap pembantu baru bernama rahma.
Regan hanya menggelengkan kepalanya sama sekali tak melirik ke arah nampan yang berisi makanan yang di bawa rahma ke dalam kamarnya.
"Biar saya suapi bapak?"ucap rahma berusaha membujuk regan.
Namun hening tak ada jawaban apapun dari regan.
Terpaksa rahma meletakkan makanan itu di atas nakas.
"Bagaimana rahma apa regan mau makan?"tanya siti sedang sarapan bersama suaminya.
"Maafkan saya nyonya,pak regan tidak mau makan.
Saya sudah berusaha membujuknya tapi pak regan tetap diam"jawab rahma.
"Baiklah biar saya sendiri yang bujuk regan makan"putus siti.
"Pah,aku tinggal ke kamar regan dulu?"ucap siti sebelum meninggalkan ruang makan.
Hendro mengangguk lalu melanjutkan sarapannya.
Tok tok tok
"Regan ini mamah?"ucap siti seraya membuka pintu kamar regan yang tidak terkunci.
Nampak sang putra sedang duduk menatap ke arah jendela.
"Regan,jangan terus seperti ini nak.
Sudah beberapa hari kamu hanya diam dan tidak keluar kamar"ucap siti lirih sambil mengusap bahu putranya.
Regan meneteskan air matanya lalu memeluk sang ibu.
"Aku sangat kehilangan mereka mah, untuk apa lagi aku hidup tanpa mereka.
Hidupku terasa sangat hampa"ucap regan sesenggukan.
Siti melepaskan pelukan regan lalu menatap mata regan yang terlihat sayu karena kurang tidur.
"Ini semua sudah terjadi regan,kamu harus memulai kehidupan baru.
Kamu tetap bisa menemui putrimu walaupun kamu sudah bercerai dari seva"ujar siti lembut.
"Mamah benar aku tidak bisa membawa putriku untuk tinggal denganku mah.
Padahal aku sangat merindukanmu mereka".
"Sabar ya regan,kamu harus kuat menjalani kehidupan baru.
Ada papah dan mamah yang akan selalu mendukung kamu".
__ADS_1
Regan memejamkan matanya sejenak dan tersenyum.
"Masa depan kamu masih panjang regan,kamu masih ada kewajiban untuk menafkahi kedua putrimu"ucap siti mengingatkan regan.
"Lebih baik kamu istirahat dulu ya,jangan lupa kamu makan.
Mamah gak mau kamu sakit.
Mamah berangkat ke kantor dulu".
Siti bangkit dari duduknya mengambilkan nampan makanan itu dan meletakkan di atas pangkuan regan.
Regan hanya menatap makanan itu hatinya sedikit lega mendengar ucapan dari sang ibu.
Pria itu sangat menyayangi kedua putrinya jadi ia akan berusaha membuat mereka mempunyai kehidupan yang layak walaupun tak bisa tinggal bersama lagi.
"Ayo makanlah dulu nak, mamah sengaja masak ini untuk kamu?"pinta siti.
Regan mengangguk mulai mengambil sendok dan memakan sarapannya.
Siti tersenyum melihat putranya ada sedikit perubahan.
Ia juga merasa sedih melihat putra satu-satunya itu terlihat murung dan kehilangan semangat.
"Mamah ke kantor dulu ya regan,mamah harap besok kamu ikut ke kantor".
Setelah siti pergi hendro menjalankan kursi roda dengan kedua tangannya untuk melihat keadaan regan.
Hendro tersenyum tipis melihat regan makan cukup lahap.
"Ehemm".
Hendro berdehem lantas membuat regan menoleh ke arahnya.
"Papah"sahut regan.
Hendro sendiri merasa sangat terpukul melihat keadaan putranya.
Mungkin ini salah satu karma yang ia dapat karena dulu ia menyakiti banyak wanita.
Beberapa menit kemudian regan selesai makan dan meletakkan kembali nampan itu di atas meja.
"Regan boleh papah duduk di sini?"tanya hendro.
Regan mengangguk dan sedikit menggeser tubuhnya memberikan tempat untuk sang ayah duduk.
Walaupun hendro lumpuh tapi ia masih bisa berdiri sebentar untuk berpindah ke sofa.
Hendro memang rutin melakukan terapi sehingga dirinya sudah banyak perubahan.
Namun kerusakan di kakinya membuat dirinya lumpuh selamanya.
"Regan maafkan papah, karena kesalahan papah dulu memperkenalkan kamu dengan rena?"ucap hendro menundukkan kepalanya.
"Ini bukan salah papah,regan sendiri yang bodoh begitu mudahnya aku tergoda dengan wanita lain.
Padahal aku mempunyai istri yang sangat baik dan sempurna seperti seva.
Malah aku membuat hatinya terluka"ucap regan sendu.
"Kamu sabar ya regan,papah yakin kamu akan menemukan kebahagiaan kamu sendiri.
Papah juga menyesal tidak akan mengulangi kesalahanku yang dulu aku buat.
__ADS_1
Untung saja ibumu masih mau memaafkan semua kesalahan papah dan merawat papah sampai sekarang.
Padahal papah sudah menjadi pria tak berguna hanya menyusahkan saja".
Hendro memilih menceritakan semuanya pada regan.
Mereka pun saling bertukar cerita dan berusaha memperbaiki kesalahannya.
**Sementara hari ini adalah jadwal pemeriksaan kehamilan ocha.
Seperti biasa adrian tak pernah absen untuk menemani sang istri pergi ke dokter kandungan.
Pria itu sangat berantusias dengan kehamilan istrinya.
Bahkan sangat posesif kepada ocha.
Hampir setiap hari saat adrian di rumah selalu menyuapi istrinya untuk makan.
Kini usia kehamilan ocha sudah memasuki trimester kedua.
Mual dan muntah sudah tak di rasakan lagi oleh ocha.
Namun ia sering merasa kelelahan dan juga terkadang pusing.
"Sayang kita berangkat sekarang?"tanya adrian setelah selesai memakai pakaiannya.
"Ayo mas,aku juga udah siap berangkat?"jawab ocha.
"Mas bukankah hari ini ada meeting dengan perusahaan pak karto.
Mas adrian beneran mau temenin aku ke dokter.
Aku bisa ke dokter sama bunda"tutur ocha.
"Sudah aku undur jadwal bertemu dengan beliau.
Karena aku ingin melihat perkembangan bayi kita di dalam sini"ucap adrian sembari mengusap perut istrinya yang sudah terlihat membuncit.
"Bunda beberapa hari yang lalu tanya sama aku mas,kok perut aku udah cukup besar padahal kan aku baru masuk trimester kedua.
Apa kita beritahu mereka kalau aku hamil anak kembar?"tanya ocha.
"Tidak perlu sayang,biar ini menjadi kejutan untuk mereka"timpal adrian.
"Baiklah aku setuju mas".
Adrian lalu menggandeng ocha untuk berjalan ke dalam mobil.
Seminggu yang lalu ocha dan adrian sudah kembali tinggal di rumah mereka sendiri.
Dan menuruti permintaan kedua orang tuanya untuk pindah di kamar lantai satu saja.
Adrian masih setia menggenggam tangan istrinya sampai di dalam ruangan dokter kandungan.
Mereka tak menunggu lama karena sudah melakukan konfirmasi terlebih dulu.
Bahkan dokter kandungan ocha adalah teman kuliah ocha dulu hanya beda jurusan saja.
"Selamat pagi cha?"sapa dokter bernama daniel.
"Selamat pagi juga dokter".
"Wah bumil satu ini auranya cerah sekali"puji daniel.
__ADS_1
"Eheemm bisa kita mulai pemeriksaan sekarang?"sambar adrian menatap tajam ke arah sang dokter yang sedang duduk di hadapan mereka berdua.
Sejujurnya adrian sedikit keberatan jika dokter kandungan istrinya itu seorang pria namun karena sang istri merasa nyaman dan daniel cukup profesional jadi ia tak begitu mempermasalahkan.