
Malam ini menjadi malam pertama bagi Kanaya dan Bisma menempati rumah barunya. Jika sebelumnya mereka tinggal di apartemen, di lantai yang tinggi dengan pemandangan Ibukota yang hingar bingar. Di dalam perumahan ini terlihat lebih tenang. Dari lantai dua pun hanya terlihat perumahan lainnya. Tidak ada pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi dengan lampunya yang berkerlap-kerlip.
“Kenapa kok lesu? Capek ya tinggal di rumah sebesar ini?” tanya Bisma menghampiri Kanaya yang tengah berdiri di balkon yang berada di kamar mereka.
Kanaya menggelengkan kepalanya, “Enggak, aku cuma kehilangan tempat favoritku di sudut apartemen itu,” jawabnya dengan sembari menolehkan kepalanya guna melihat wajah suaminya.
“Aku tahu, pasti sofa yang berada di ruang tengah yang menghadap ke panorama ibukota itu kan?” tanya Bisma.
Sebagai seorang suami, dia tahu pasti bahwa kaca jendela besar di apartemennya yang menghadap ke panorama Ibukota itu adalah spot favorit Istrinya. Hampir setiap sore, Kanaya memilih duduk di sofa itu dengan menatap kemilau senja yang menghiasi ruangan apartemennya.
Kanaya tersenyum dan mengangguk, “Iya … itu tempat favoritku di apartemenmu. Aku bisa melihat indahnya rona senja di sana. Setiap sore nyaris apartemen itu berhiaskan pesona senja,” ucapnya sembari membayangkan apartemennya.
“Jadi kamu menyesal tinggal di sini karena tidak bisa melihat keindahan senja itu?” tanya Bisma perlahan.
Dengan cepat Kanaya menggelengkan kepalanya, wanita itu beranjak dari tempatnya dan dia justru bergerak untuk memeluk Bisma dari belakang. Sama seperti pria itu yang begitu suka mendekapnya dari belakang, sekarang Kanaya pun melakukan hal yang sama. Memeluk suaminya itu dari belakang, kedua tangannya melingkar dengan indah di pinggang suaminya, dan dia menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.
“Aku tidak menyesal, aku hanya sebatas merindukannya. Lagipula, sebenarnya kamulah rumahku. Tempat untukku pulang, melepas semua penatku, tempat yang mau menaungiku dan juga tempat di mana semua rasa dramatis dan romantis berpadu menjadi satu,” jawabnya dengan masih bersandar di punggung suaminya.
Perlahan tangan Bisma pun bergerak dan menumpu pada kedua tangan istrinya yang tengah melingkari pinggangnya, pria itu lantas menggerakkan kepalanya ke belakang guna melihat wajah istrinya, sayangnya tinggi istrinya yang hanya sebahunya tidak terlihat. Pria itu lantas tersenyum, “Makasih sudah menjadikanku sebagai rumahmu,” jawab Bisma dengan tersenyum.
Hatinya seolah bersorak penuh kebahagiaan saat Kanaya mengatakan bahwa rumahnya yang sesungguhnya adalah dirinya. Sudah pasti, dia akan menjadi sosok yang memberikan naungan, memberi cinta, rasa aman dan nyaman untuk Kanaya dan juga tentu Aksara.
Kanaya pun mengangguk, “Sekali pun, aku tidak melihat senja itu lagi. Akan tetapi, kamu adalah senja bagiku. Hal terindah dan terbaik yang selalu kulihat adalah kamu,” ucapnya lagi. Rasanya wanita itu tengah diselimuti kebahagiaan tiada terperi, sehingga Kanaya lebih banyak mengucapkan kata-kata manis kepada suaminya itu.
“Kamu pun sama, jika Perikardium (jaringan yang bentuknya seperti katup) untuk melindung jantung. Peritonium (lapisan dalam perut) untuk melindungi abdomen, dan Perikondrium (jaringan ikat) untuk melindungi tulang rawan, maka aku diciptakan Allah untuk melindungi kamu,” ucap Bisma dengan serius.
Mendengar ucapan Bisma yang begitu serius, Kanaya justru tertawa. “Kamu ini Mas, kalau sudah mulai keluar bahasa kedokterannya, aku enggak tau,” akunya dengan serius.
“Enggak apa-apa, yang penting kamu tahu kalau aku akan selalu melindungimu, itu aja. Intinya di itu,” jawab Bisma dengan cepat.
__ADS_1
“Jelasin dulu dong,” pinta Kanaya yang seolah merajuk supaya suaminya itu mau menjelaskan terlebih dahulu maksud ucapannya itu.
Bisma pun mengakhirnya mengangguk, “Perikardium itu jaringan yang bentuknya seperti katup fungsinya untuk melindungi jantung. Terus Peritonium itu lapisan dari perut fungsinya melindungi abdomen, terus yang terakhir itu Perikondrium adalah jaringan ikat untuk melindungi tulang rawan. Ketiganya adalah jaringan pelindung, sama kayak aku yang adalah pelindung bagi kamu,” jawabnya menjelaskan dengan detail kepada Kanaya.
Kanaya pun mengangguk, mendengarkan penjelasan dari suaminya itu. Perlahan Kanaya pun kembali berbicara, “Sama kayak obat yang ada hak patennya, kamu juga dipatenkan cuma buat aku ya Mas,” sahutnya.
Bisma kemudian tertawa, “Kamu bisa aja sih, siapa yang ngajarin coba?” tanyanya.
“Kamu, siapa lagi kalau bukan Dokter Cakep yang romantis ini,” sahutnya dengan makin mendekap erat tubuh suaminya itu.
“Mau masuk ke dalam Sayang? Anginnya kenceng nih, takut masuk angin,” ajaknya untuk membawa istrinya masuk ke dalam.
“Ya sudah yuk, takut nanti Aksara kebangun juga.” jawab Kanaya yang akhirnya mengurai pelukannya di pinggang Bisma dan dia memasuki kamarnya terlebih dahulu.
***
Kanaya bangun lebih dulu. Pagi hari menjadi salah satu waktu tersibuknya karena dia akan mulai menyiapkan MPASI untuk Aksara, pumping, dan memandikan Aksara. Selain itu, Kanaya juga berinisiatif untuk membuatkan sarapan untuk suaminya. Sekalipun hanya sekadar Nasi Goreng dan Omelette, agaknya cukup untuk mengisi perutnya di pagi hari itu.
Setelah berjibaku di dapur, Kanaya segera kembali ke dalam kamarnya. Rupanya di dalam kamar, Bisma telah menjemur Aksara di balkon mereka. Sekalipun usia Aksara kian bertambah, nyaris 7 bulan, tetapi setiap pagi setidaknya sepuluh hingga lima belas menit, Bisma selalu menjemur bayinya itu supaya lebih sehat.
“Wah, putranya Bunda sudah bangun yah?” tanya Kanaya sembari menghampiri putranya itu.
“Sudah dong Bunda, waktu Bunda di dapur, Aksara sudah bangun. Aksara bangun pagi biar rajin, Bunda,” jawab Bisma yang seolah dirinya adalah penyambung lidah bagi Aksara.
Kanaya pun tertawa, “Pinter ya putranya Bunda, habis ini mandi ya Sayang … Bunda sudah bikinkan MPASI buat kamu,” ucapnya sembari mencium pipi Aksara.
Kurang lebih setelah setengah jam berlalu, keluarga kecil itu sudah bersih dan rapi. Sekalipun itu adalah hari libur, tetapi mereka semua memiliki kebiasaan mandi pagi. Entah libur atau tidak libur, mereka selalu mandi di pagi hari.
“Sarapan dulu yuk Mas,” ajak Kanaya kepada suaminya.
__ADS_1
Bisma pun mengangguk, “Kamu bikin sarapan?” tanyanya kepada Kanaya.
“Iya, cuma Nasi Goreng sih, sebentar ya … aku hangatkan dulu. Sarapan perdana di rumah baru. Maaf cuma bisa bikin ini,” ucap Kanaya yang merasa memang tidak piawai memasak.
“Enggak apa-apa, kamu sudah mau berusaha, bersusah payah untuk membuat semua ini saja, aku sudah bahagia. Makasih ya Sayang,” ucapnya sembari mengecup kening istrinya itu.
“Biasanya suami bakalan senang kalau istrinya bisa masak, tetapi kemampuan memasakku hanya ala kadarnya. Maaf ya Mas,” ucapnya karena merasa tidak enak dengan suaminya.
Namun, Bisma segera menggelengkan kepalanya, “Tidak masalah kamu tidak pinter masak, yang penting kamu setia sama aku dan tulus mendampingiku. Perkara masak itu hanya masalah perut Sayang … masalah hati jauh lebih penting. Kita cari ART yang masak di sini kamu mau enggak?” tanya Bisma yang menawarkan kepada istrinya itu untuk mencari ART yang bertugas untuk memasak di rumah itu.
Perlahan Kanaya pun mengangguk, “Iya … gak apa-apa. Aku mau kok,” sahutnya.
Kanaya setuju mencari ART yang akan bertanggung jawab untuk dapurnya karena dia pun merasa tidak handal memasak, selain itu dirinya juga seorang wanita karir, maka dari itu Kanaya pun menyetujui ide dari suaminya itu untuk mencari seorang ART yang akan bisa menghidupkan dapurnya dengan berbagai masakan lezat.
...🍃🍃🍃...
Dear All My Bestie,
Mampir juga ke novel temenku ya. Jadikan Aku Kekasih Halalmu karya Syitahfadilah.
DIA BERTEMU SESEORANG PRIA YANG MENURUTNYA SOK ALIM. DAN PRIA ITU MALAH TERTARIK UNTUK MERUBAH KEBIASAAN YANG KURANG BAIK DARI WANITA ITU.
Nirmala, gadis berusia 20 tahun seorang mahasiswi. Pertengkaran kedua orangtuanya yang hampir setiap hari dia saksikan, membuatnya merasa sendiri dan kehilangan kasih sayang. Karena itu, dia melampiaskan semua nya lewat club malam untuk menghibur diri. Di kampusnya, tak jarang Nirmala mendapatkan teguran dari dosennya karena keseringan bolos kuliah dan tidak mengerjakan tugas. Pada suatu hari, ia bertemu seseorang Pria yang tidak sengaja menabraknya di sebuah cafe. Pria itu bernama Evan sanjaya pengusaha muda berusia 25 tahun. Sejak kecil, Evan sudah menanamkan kebiasaan hidup yang berpanutan pada agama, hingga di usianya yang ke 25 tahun dia sama sekali tidak mempunyai teman wanita maupun kekasih, karena menurutnya berpacaran itu tidak boleh. Jadi, jika suatu hari nanti dia menemukan gadis yang dia sukai, maka dia akan langsung melamarnya.
Bagaimanakah kisah selanjutnya Nirmala dan Evan?
Akankah dua karakter yang berbeda itu, bersatu?
__ADS_1