
"Ada aku …" ucap Bisma dengan penuh kesungguhan dan juga rangkulannya di bahu istrinya yang mengisyaratkan bahwa dirinya benar-benar ada untuk Kanaya.
Bahkan pengakuan dari Bisma itu justru membuat hati Kanaya bergetar, itu sebuah ungkapan yang sangat sungguh-sungguh. Sekalipun hanya sebuah dua kata yang sederhana, nyatanya tidak mudah untuk membuktikan diri untuk selalu ada menyertai orang yang kita sayangi.
Kanaya pun mengangguk, wanita itu lantas menggerakkan tangannya dan meraih satu tangan suaminya. Mengisi setiap celah di dalam ruas jari suaminya itu dengan jari-jarinya sendiri. Kemudian dia menoleh guna melihat wajah suaminya itu dari samping.
"Rasanya Tuhan begitu baik padaku. Bisa aku katakan bahwa kamu adalah pelangi terindah yang datang setelah hujan badai dalam hidupku." Kanaya mengatakan perasaannya yang terdalam.
Tidak dipungkiri dulu, asam dan pahitnya kehidupan sudah dialami. Mulai dari dikucilkan, dirundung, dan juga merasa sendirian setelah ditinggal orang tuanya. Sekarang, rasanya hujan badai itu perlahan reda dan yang ada adalah busur ajaib berwarna-warni yang hadir dalam hidupnya dalam wujud suaminya itu. Jika dahulu Kanaya berpikir hanya menginginkan tiga warna dari hidupnya yaitu merah, kuning, dan hijau. Bersama Bisma, semua warna bisa dia rasakan dalam hidupnya. Warna yang indah dan mempesona.
Mendengar pengakuan istrinya, Bisma pun tersenyum. "Kamu berlebihan Sayang … aku hanya berusaha menjagamu sebisaku. Membahagiakanmu dengan hidupku, dan juga memberi rasa aman dan nyaman sepanjang hidupmu bersamaku." balasnya dengan sungguh-sungguh.
Dengan cepat Kanaya pun menggelengkan kepalanya, "Tidak … aku berkata sungguh-sungguh. Jika tidak bertemu denganmu, hidupku bagai berada di gurun pasir. Tandus dan kering. Nyatanya, Tuhan menganugerahkan sosok yang begitu baik sepertimu. Pria yang dari awal bertemu tidak mempermasalahkan penampilan fisikku. Padahal aku tahu, di luar sana sudah pasti banyak para gadis yang mengantri untuk mendapatkanmu." ucapnya dengan menatap wajah suaminya itu.
__ADS_1
Bisma pun tersenyum, "Karena aku sudah menambatkan hatiku padamu. Lagipula, yang aku nikahi kan juga gadis. Statusnya saja yang janda." ucapnya sembari mencubit hidung istrinya itu.
Kanaya hanya menggelengkan kepalanya, mendengar ucapan suaminya itu. "Kan itu fakta, statusku adalah janda … lagipula tidak mudah kan untuk menikahi seorang janda, beruntung karena kamu justru mau menerima janda ini. Maka dari itu, kamu benar-benar pelangi terindah setelah hujan badai di hidupku." ucapnya dengan sungguh-sungguh. Bahkan saat mengatakannya, mata Kanaya berbinar. Kedua bola mata itu terasa penuh dengan isyarat cinta yang dia tunjukkan kepada pria terhebat dalam hidupnya itu.
Bisma pun mengusapi lengan istrinya itu dan keduanya kini sama-sama diam saat pesona jingga di langit sana mulai tampak. Cahaya penuh rona jingga itu masuk dalam menghiasi setiap sudut dari apartemen mereka berdua. Seolah-olah dari tempatnya duduk sekarang memang adalah spot terbaik untuk menikmati senja.
Perlahan Bisma menoleh menatap wajah istrinya, "Jika aku adalah pelangi terindah di hidupmu, maka kamu adalah rinai hujan yang menghujaniku dengan cinta. Rinai hujan yang menetes perlahan-lahan dan menyentuh diriku dengan sepenuh perasaan. Terima kasih Sayang."
Kanaya tertawa, "Kamu sweet banget sih, Mas … bisa dapat kata-kata puitis gitu dari mana sih?"
Setelah bekerja di Jaya Corp, praktis Kanaya memang tidak lagi menulis novel. Waktunya benar-benar dia habiskan untuk bekerja dan juga menjadi istri dari Bisma. Terkadang memang ada rasa untuk bisa menerbitkan novel lagi, tetapi Kanaya merasa bahwa sekarang dirinya belum memiliki banyak waktu.
“Sebenarnya, aku pengen sih Mas … sayangnya, aku belum punya waktu. Ditambah sekarang aku sedang hamil, rasanya aku pengen menikmati momen ini. Soalnya, kalau aku mulai menulis novel, itu akan aku kerjakan di malam hari. Bagaimana jika aku terlalu sibuk dan justru mengabaikanmu? Kamu rela?” tanya Kanaya saat ini kepada suaminya itu.
__ADS_1
Bisma pun menggelengkan kepalanya, “Jangan dong … masak, suaminya diabaikan begitu saja.”
“Tuh … gitu nyuruh aku membuat novel lagi. Nanti, kalau sudah ada waktu dan aku punya kerangka cerita yang matang, aku akan menulis lagi Mas. Untuk saat ini, biarkan aku menikmati masa-masa menjadi istri kamu dan menikmati proses kehamilan ini setiap bulannya. Aku enggak mau waktu ini berlalu begitu saja. Sayang untuk dilewatkan.” ucap Kanaya kepada suaminya itu.
“Iya … aku tunggu karya terbarumu. Sekarang tidak perlu tergesa-gesa, yang penting kamu melakukan apa yang kamu sukai saja. Selain itu, kamu juga selalu jangan menghiraukan buah hati kita. Dia menjadi prioritas utama kita sekarang, Sayang.” tegas Bisma yang meminta istrinya untuk melakukan apa yang dia sukai.
***
Keesokan harinya, Bisma bangun lebih pagi karena ada panggilan dari nomor Rumah Sakit ke handphonenya. Maka, pria itu pun segera bergegas ke Rumah Sakit. Padahal hari ini adalah hari Sabtu, hari di mana seharusnya dia bisa libur dari aktivitasnya sebagai Dokter. Namun, karena ada panggilan dari Rumah Sakit, maka Bisma pun harus segera bergegas ke sana.
“Sayang, aku ke Rumah Sakit dulu ya. Ada perlu tindakan NICU (Neonatal Intensif Care Unit) karena ada bayi yang baru saja lahir prematur. Kamu enggak apa-apa kan aku tinggal di apartemen dulu? Nanti kalau sudah selesai, aku akan langsung pulang, Sayang. Maaf ya, karena itu cukup mendesak.” ucapnya sembari bergegas mengambil kunci mobilnya di nakas dan kemudian sedikit berlari keluar dari kamarnya.
Kanaya pun mengangguk, “Iya, hati-hati di jalan Mas …” sahutnya sedikit berteriak karena suaminya yang tampak tergesa-gesa.
__ADS_1
Setelah suaminya itu pergi, Kanaya mengelus perutnya di mana ada buah hatinya di sana …
“Ayah kamu adalah pria yang baik dan berhati hangat, Nak … semoga saat kamu besar nanti, kamu akan memiliki kepribadian seperti Ayah yang baik dan tulus. Ayahnya adalah pelangi terindah yang hadir setelah hujan badai di dalam hidup Bunda. Sama halnya kamu yang adalah pelangi terindah dalam hidup Bunda. Ada dua busur penuh warna yang menghiasi hati Bunda, dan itu adalah kamu dan Ayahmu. Bunda sayang kamu, Nak …”