
Didalam apartment, Jenny dan Nino sedang asyik bermanja-manja dikamar. Saling memeluk dan bercerita tentang keadaan dikantor hari ini. Jenny sangat mencintai bosnya itu, tidak perduli pria tersebut sudah menikah dan memiliki istri. Ia menerima begitu saja ketika Nino mendekatinya, tidak berusaha menolak sedikitpun saat pria tampan yang memberinya gaji itu menggoda dengan tatapan dan senyum manisnya.
Nino juga menyukai Jenny. Meski tidak mencintainya seperti Franda, Ia menyukai Jenny yang setiap saat mau mendengar segala keluh kesahnya. Tidak ada sedikitpun yang ditutupinya dari Jenny, termasuk tentang keadaannya yang susah memiliki anak. Nino sangat menyukai ketika Jenny selalu menguatkan dan menghiburnya ketika Ia merasa bersalah pada Franda, istrinya. Wanita itu mampu mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang membuatnya khawatir tanpa menyadari istrinya sudah mengetahui hubungannya dengan sang sekretaris.
Nino melihat jam dinding yang sudah menunjukkan angka 7 lewat 15 menit. Ia segera turun dari ranjang, membersihkan diri di kamar mandi, dan memakai pakaiannya kembali. Setelah selesai, Nino berjalan keluar kamar diikuti oleh Jenny yang hanya mengenakan gaun tidur seksinya, tanpa memakai pakaian dalamnya. Hal yang biasa ia lakukan saat bersama Nino.
Nino membuka pintu dan keluar, lalu berbalik menatap kearah Jenny, mencium kening sekretarisnya itu. Nino dan Jenny tidak sadar ada sepasang mata merah yang menatap mereka, tidak tahu sampai Franda berjalan mendekat dengan tangan mengepal menggenggam erat tas yang dibawanya.
Merasa Nino dan Jenny belum menyadari kehadirannya, Franda bersuara.
"Wah, sepertinya aku mengganggu kesenangan kalian, ya?" kata Franda tiba-tiba mengagetkan Nino dan Jenny.
Nino mendorong Jenny ketika mengenali suara istrinya, melihat dan membulatkan mata melihat Franda berdiri tidak jauh dari mereka.
"Sa... Sayang..." Kata Nino dengan terbata-bata.
"Tutup mulutmu!" kata Franda dengan tatapan mengiris yang ditujukan kepada suaminya.
"Hai, Jen! Boleh aku masuk? Ah, aku lupa kalau suamiku yang membeli ini, kan? Aku pikir tidak memerlukan ijin siapapun untuk masuk." lanjutnya lagi, lalu melangkah masuk meninggalkan Nino dan Jenny yang masih mematung didepan pintu.
Franda duduk di sofa sambil melihat-lihat sekeliling, dari tempat duduknya Ia bisa melihat beberapa benda yang ada disana. Ada meja kecil didepannya dengan 2 pot bunga palsu, dan 4 buku yang menurutnya sedang dibaca Jenny akhir-akhir ini, ada TV yang tergantung, lemari kaca dengan beberapa barang didalamnya, ada juga foto Jenny dengan kedua orangtuanya menggantung di dinding, dan beberapa fotonya sendiri. Apartment itu memang tidak terlalu besar, tapi terlihat sangat nyaman dengan perpaduan dinding berwarna putih dan furnitur yang didominasi oleh warna hitam. Franda sedikit kagum melihat ruangan itu, Jenny bisa membuatnya terlihat luas dengan menaruh furnitur pada posisi yang sangat baik.
__ADS_1
Franda mengalihkan pandangannya melihat Nino mendekat dan Jenny mengikuti dibelakang. Ia menatap tajam dengan sudut bibir terangkat sedikit, tersenyum sinis melihat pemandangan di depannya. Franda melipat kedua tangannya didada dan menaikkan kakinya kanannya keatas kaki kiri sambil menggoyangkannya. Jenny memandangnya dengan sedikit heran. Awalnya Jenny mengira Franda akan berteriak, mengamuk, lalu memukulnya saat tahu hubungannya dengan Nino. Namun Ia lega saat melihat itu tidak akan terjadi sepertinya.
"Sayang,..." Nino membuka mulut, namun menutup kembali saat Franda menyuruhnya diam.
"Jangan katakan apapun sebelum tidak menyuruhmu!" kata Franda dengan nada sedingin es, membuat Nino ngilu mendengarnya. Ia tahu istrinya sedang menahan diri saat ini.
"Jenny, sepertinya kau lupa apa yang ku katakan saat aku berbicara denganmu dikantor suamiku terakhir kali. Aku akan mengingatkanmu sekarang..." kata Franda sambil menatap Jenny. Ia tersenyum sebelum melanjutkan.
"Aku ingat waktu itu aku memintamu untuk menghubungiku jika kau melihat atau mendengar sesuatu tentang suamiku, terutama masalah perempuan. Bukan begitu, Jen?" lanjut Franda lalu berdiri. Berjalan mendekati Jenny dan menepuk punggung wanita itu.
Jenny yang terkejut menjawab dengan suara pelan yang tertahan.
"Benar, Bu." kata Jenny.
"Bagus kalau kau ingat. Aku tahu kau juga tidak mungkin menghubungiku lalu mengatakan 'Bu, aku sedang bersenang-senang bersama suamimu sekarang'. Hahaha, rasanya lucu sekali kalau itu terjadi.". Franda kini memainkan ujung telunjukknya di lengan kiri Jenny, menyisirnya dari bahu sampai ke jari nya. Berusaha menekan mental Jenny dengan perlakuannya. Ia sangat senang melihat Jenny ketakutan.
"Maafkan saya, Bu." Jenny meminta maaf dengan suara bergetar. Air matanya sudah menggenang, satu kedipan akan menjatuhkannya. Tangannya kini memegang erat gaun yang dipakainya.
"Kau tahu, Jen... Aku paling tidak suka ketika seseorang mengganggu milikku. Aku selalu menjaga milikku dengan baik, dan aku akan menghancurkan siapapun yang mengganggu kesenanganku." Franda kini mendekati suaminya lalu memegang bahu Nino dengan tangan kanan. Tangan kirinya ia gunakan untuk membuka kancing kemeja Nino.
Nino yang tahu maksud istrinya langsung menaham tangan Franda. Ia berpikir Franda akan menerkamnya saat ini, lalu terdiam dengan kata-kata Franda berikutnya.
__ADS_1
"Tenang, Sayang! Aku hanya ingin melihat langsung kegiatan apa yang kau lalukan bersama perempuan yang menggunakan pakaian seperti itu. Tidak mungkin kalian hanya mengobrol, kan? Ayo tunjukkan padaku. Biarkan aku melihat sehebat apa dia.". Franda menepis tangan Nino dan melanjutkan membuka kemeja suaminya satu persatu sambil memandang Jenny yang masih tertunduk sambil menangis tanpa suara.
"Sayang, jangan seperti ini. Ayo pulang, kita bicarakan ini dirumah." Akhirnya Nino memberanikan diri berbicara.
"Sudah ku katakan jangan berbicara sebelum aku memintamu" Kata Franda menatap Nino datar, lalu beralih mendekati Jenny.
"Jen, ayo tunjukkan padaku bagaimana caranya kau menggoda suamiku yang tampan ini. Aku akan memberikannya padamu jika aku melihat kau memuaskannya dengan baik karena aku sangat mengetahui apa yang diinginkan suamiku diranjang." Franda menurunkan tali gaun Jenny sebelah, yang langsung dinaikkan kembali oleh Jenny.
"Saya minta maaf, Bu. Saya mohon... Maafkan saya, Bu." kata Jenny sambil menangis dengan suara pelan. Ia sungguh tidak menyangka Franda akan mengatakan itu, rasanya lebih baik dipukul langsung oleh istri bosnya itu.
"Kenapa? Ayolah, aku akan memberikannya secara cuma-cuma padamu, aku rasa kau lebih membutuhkannya dariku. Lagi pula aku bosan dengannya. Aku ingin mencari sesuatu yang lebih menantang, hahaha." Franda tertawa setelah mengatakannya.
Nino merasa sakit mendengar istrinya berkata seperti itu, Ia kini meraih tangan Franda dan akan membawanya keluar, tapi Franda menolak dan langsung melayangkan tamparan keras pada Nino.
Plakk!!
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" Franda menatap Nino dengan tajam.
"Ayo selesaikan ini dirumah, jangan membuat keributan disini, Sayang. Jenny tidak salah, aku yang mendekatinya." Kata Nino mencoba mengajak Franda keluar.
"Aku belum selesai disini! Kau tidak berpikir aku akan memaafkanmu dengan mudah setelah ini bukan? Kau tidak mengenalku dengan baik, Nino! Kau tidak akan mampu membayangkan apa yang akan aku lakukan pada kalian berdua setelah ini." Franda kembali menatap Jenny.
__ADS_1
"Dan kau, *'***** sialan! Jangan bermimpi aku akan melepaskanmu setelah mengacaukan hidupku! Aku tidak akan berhenti sampai kau menjadi debu! Aku sudah memperingatkanmu sekali, dan aku tidak suka mengulangi kata-kataku." Franda lalu mengambil tasnya di sofa dan meninggalkan mereka berdua. Ia berjalan cepat, menahan air matanya agar tidak tumpah, setidaknya jangan sampai orang lain melihat air matanya.