
Orang akan mengira Sean merupakan keuntungan terbesar bagiku. Aku janda dengan kehidupan yang membosankan, sementara Sean pria yang mengagumkan. Wanita manapun akan tergila-gila padanya, terlebih ketampanannya disokong oleh kesuksesannya yang fantastis. Kuyakin tak seorangpun wanita yang pernah bertemu dengannya mampu menolak pesonanya yang begitu mendebarkan. Aku bersyukur Sean memilih mengabaikan mereka dan menungguku menghambur untuk menyerahkan diri padanya.
Sean menautkan jarinya padaku dan menggandengku dengan posesif saat kami turun dari mobil, aku tidak bisa menahan rasa penasaranku begitu mataku menatap sekeliling tempat kami berdiri, "Kita mau kemana?"
Sean tersenyum, senyumnya lagi-lagi menghipnotisku. "Aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia didunia," rahangnya mengeras, aku tahu Sean sedang menahan hasratnya untuk menciumku. Aku tak tega melihatnya begitu, kuraih tengkuknya untuk memberikan apa yang diinginkannya. Aku menciumnya dalam dan panas, kutahan tengkuknya untuk memperdalam ciuman kami.
"Kau sangat tahu yang kuinginkan, Sayang." Sean menempelkan wajahnya padaku sembari mengatur kembali napasnya yang tersengal. Aku tersenyum, kulabuhkan lagi beberapa ciuman cepat dibibirnya, seolah tak puas dengan yang baru saja kudapatkan.
Sean kembali menarikku berjalan mengikutinya, wajahku bersemu saat menyadari tatapan beberapa pasang mata pengawalnya yang melihat kami. Ya ampun, mereka pasti berpikir aku wanita liar dan agresif tadi. Oh, astaga! Aku menunduk malu, nyaliku menciut. "Angkat kepalamu, Sayang... Kau tidak pantas malu pada mereka." suara Sean menyentakku. Aku menurut, yang dikatakannya benar. Dia suamiku, untuk apa aku malu menciumnya.
"Ini milikmu?" tanyaku ketika melihat sebuah jet pribadi dihadapan kami, aku terperangah, aku tidak mengira Sean akan membawaku masuk kedalam sana. Jawabannya membuatku merasa lebih bahagia lagi,
"Milik kita." Sean mengangkatku kedalam gendongannya, aku memekik karena gerakan dadakannya, lalu tertawa pelan. Mataku mengamati wajahnya yang tampan, sebelah tanganku menangkup rahangnya sementara yang lain membelit lehernya. Aku terpesona dan berdebar, sampai Sean menjatuhkanku disalah satu seat. "Kita akan berbulan madu."
__ADS_1
Sialan! Kenapa pria ini lancang sekali mengejutkanku? Apa yang harus kulakukan untuk membalasnya? Aku menolaknya berkali-kali, memakinya tanpa ampun, tak jarang aku mengumpat agar dia menjauh dan menghilang dari kehidupanku. Tapi dia tidak menyerah, dan sekarang dengan sikap sombongnya yang kurang ajar, dia memikatku. Demi Tuhan, aku ingin meledak sekarang.
Aku belum mampu mengatakan apapun, sampai saat ini pesawat sudah jauh meninggalkan daratan, mataku terlalu sibuk menatapnya, membuatku lupa bahwa aku juga memiliki mulut untuk berbicara. Aku bangkit dari seat-ku, memilih mendaratkan bokongku, duduk menyamping dipangkuannya. Tanganku yang gemetar naik meraih wajahnya, pandanganku kabur akibat air mata yang mulai menggenang. "Apa yang kau inginkan sebagai balasan, Suamiku?" lirihku, aku berusaha terlihat genit dan nakal, namun airmata haru sialan itu tidak mendukung. Sean menahan tawa, wajahku pasti terlihat menggelikan sekarang.
"Sean, jangan menertawaiku. Apa yang kau inginkan sebagai bayaran?" aku mencoba serius dengan menatap matanya, meski aku sendiri setengah mati menahan gejolak yang timbul, beradu pandang dengan matanya yang biru bukan perkara gampang. Belum lagi aroma citrus yang menyeruak darinya, dua perpaduan yang sungguh menyiksa kewanitaanku.
Sean mengeratkan pelukannya dipinggangku, menenggelamkan wajahnya dileherku, lalu naik ke wajahku, menyapukan hidungnya dipipiku, "Kau tahu harus melakukan apa, Sayang." aku gemetar, nada sensualnya sukses membuatku meremang.
Aku tersenyum menantang, tidak mau kalah dengan godaannya. Kusisir rambutnya dengan lembut sembari meremas pelan, sengaja kugigit bibirku untuk memaksimalkan usahaku, "Sean..." aku mempelkan bibirku pada bibirnya, "Kau akan tenggelam, sebaiknya kau berhati-hati." aku mundur dengan cepat sebelum dia berhasil menciumku. Tawaku yang kencang tak bisa kutahan saat melihat raut wajahnya yang kecewa. "Bersabarlah, Hulk!" aku mengerdipkan sebelah mata, membuatnya semakin frustasi, lalu memasang seat belt. Ya, Tuhan! Menyenangkan sekali menggodanya.
Sean menggenggam tanganku, matanya memandangku lekat, seperti ingin mengatakan sesuatu, "Sayang..." Sean menarik napas dalam, mungkin berusaha menyusun kata-katanya, "Apa yang membuatmu menerimaku?" Aku tersenyum, memilin bibir sebentar sebelum menjawabnya.
"Aku tidak tahu jawaban yang pasti, sebagai gantinya coba dengarkan ucapanku, kau bisa menyimpulkan sendiri nanti." aku mengalihkan pandangan keluar, memandang hamparan awan sembari menyusun kata-kata untuk menjawabnya. Sial, kenapa sulit begini!
__ADS_1
"Aku pernah menghirup aroma hutan dipagi hari, aroma basah dan sejuk yang menenangkan, berpadu dengan suara alam. Aku juga pernah mencium aroma tanah saat hujan pertama turun setelah kemarau panjang, menyapu kekeringan dengan irama rintiknya. Keduanya menenangkan dan melegakan. Sungguh, aku berpikir tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu. Lalu, kau datang padaku dengan aroma woody-mu yang memuakkan. Ya, Tuhan! Aku benar-benar ingin membunuhmu saat itu," aku menatapnya, lalu menggeleng dan tertawa.
"Aku sudah menggantinya, Panda!"
"Ya, karena aku menyuruhmu, Sialan!" aku tertawa lagi. "Lupakan parfum, yang lebih memuakkan dari itu adalah senyum brengsekmu... Astaga, hilangkan seringaimu, Sean! Jangan membuatku menyesal dengan ucapanku." pria ini benar-benar!
Kulirik Sean memainkan jariku, darahku mendidih seketika. Sentuhan Sean sangat berbahaya, aku harus merasakan lagi denyutan yang menyiksa dipangkal pahaku. Kurapatkan kaki untuk menahan diri agar tidak basah. "Jadi, kenapa sebenarnya kau menerimaku?" Sean meletakkan tangannya diatas pahaku, sengaja mengelusku pelan. Sial, dia benar-benar mengerjaiku.
Aku menggeram pelan, "Aku tidak tahu!" cetusku, aku tersentak dengan nadaku yang ketus, buru-buru kulanjutkan ucapanku, "Aku menyukai permainanmu, Sayang..." ucapku genit. Oh, Tuhan! Wajahku pasti sudah semerah kepiting rebus sekarang.
Sean tertawa, dia tahu aku tergoda usapannya, "Kenapa kau menggemaskan begini, Franda... Harus ku apakan kau nanti, hah?" Sean mencubit kecil pucuk hidungku, cubitannya berhasil membuatku ikut tertawa.
"Entahlah, aku berharap kau berhasil menghancurkanku nanti malam, karena kalau tidak, aku yang akan menghabisimu!"
__ADS_1
***
Komen woyy!ðŸ˜