Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
What A Good Start


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku terbangun ketika diam-diam seberkas sinar matahari pagi menyerobot masuk ke dalam dan mendarat tepat di wajahku, membuatku menggeliat dan mengerang tak suka dengan kehadirannya yang mengganggu.


Semalam aku baru bisa tertidur saat waktu menunjukkan lewat tengah malam karena harus memastikan Franda istirahat dengan tenang lebih dulu. Aku cukup kesulitan menghiburnya tadi malam. Dia menangis sambil memelukku seperti orang sinting begitu kami berbaring di ranjang. Tapi, caranya menangis tidak sama dengan ketika dia merasa lemah, kemarin dia lebih seperti anak kecil yang sedang mengadukan salah satu temannya yang mencuri mainannya.


Aku menurunkan pandangan menatap wajahnya yang masih sembab, namun deru napasnya yang tenang adalah satu hal yang patut kusyukuri saat ini. Sejenak aku mengagumi wajahnya yang tak pernah membuatku bosan meski aku telah sering melihatnya, walau dalam keadaan hancur sekalipun, dia tetap cantik.


Aku baru menyentuh lengannya yang melilit perutku dan berniat turun dari ranjang, namun dia menahanku. Tangannya semakin erat mengunci tubuhku sementara dia menggumam. "Temani aku sebentar lagi." Matanya masih tertutup tapi wajahnya maju dan bersembunyi di leherku.


Aku bersorak kegirangan dalam hati mengingat ini adalah kali pertama dia menyapaku di pagi hari sejak dia terbangun dari koma, dan dengan senang hati aku menuruti permintaannya. Aku menarik tubuhnya agar lebih menempel padaku. "Baiklah, Sayang. Tidurlah selama yang kau butuhkan." sahutku genit lalu mencium kepalanya sekali.


Aku menggerakkan tanganku naik turun di punggungnya untuk menunjukkan perasaanku yang dalam padanya sekaligus dukungan yang besar. Tidak ada yang lebih dibutuhkan Franda saat ini selain itu, dia perlu dibuat yakin agar semangatnya berkobar lagi dan gairah hidupnya kembali berapi-api.


Aku masih percaya pada pepatah lama yang mengatakan tidak ada yang sia-sia selama kau bersungguh-sungguh berusaha. Dan aku sudah membuktikan itu berkali-kali, termasuk saat aku berusaha mengejarnya dulu. Aku tetap teguh pada pendirianku untuk mendapatkannya meski dia menolakku setiap hari, sampai akhirnya dia luluh dan menyerahkan hidupnya padaku. Aku berharap pepatah itu juga bekerja pada usahaku kali ini.


"Apa yang akan kita lakukan disini?"


Aku terkesiap mendengar suara Franda yang membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum sambil mengeratkan pelukanku, mencium pipinya dua kali. "Bersenang-senang." ucapku seraya menggodanya dengan alisku.


Mulutnya melengkung tipis lalu menarik diri dariku dan bersandar di dinding. Wajahnya terlihat lebih segar. Dia mengusap matanya sebentar, kemudian melempar pandangan ke arah luar melalui jendela kecil. "Aku menyukai suasana disini." gumamnya tanpa melirikku. Suaranya serak dan lembut.


Aku beranjak turun dari ranjang untuk membuka bingkai kaca pada jendela, membiarkan udara pagi yang segar dan sejuk masuk ke dalam kamar.


"Hm..." Aku berbalik, memandangi Franda yang sedang terpejam sambil menghirup aroma hutan yang menenangkan. Menyaksikan itu, aku merasa lega seolah satu bebanku baru saja terangkat, meski aku belum sepenuhnya yakin Franda akan bersikap santai sepanjang hari ini. Tapi, itu bukan masalah karena aku bisa mengajaknya melakukan sesuatu agar dia bisa mengalihkan pikiran dari kecemasan.


Aku maju beberapa langkah, meraih ponselku dari nakas kemudian meletakkannya kembali karena tidak ada pesan atau telepon yang masuk. Dave ternyata sangat paham dengan perkataanku hari itu, terbukti dia belum menghubungiku sampai hari ini.


Aku menelengkan kepala menoleh Franda, tersenyum padanya yang sekarang juga sedang menatapku. "Apakah kau masih ingin pulang?" selorohku.

__ADS_1


Dia menggeleng. "Disini sangat tenang. Kurasa aku menyukai tempat ini, tapi kita harus merubahnya. Membuatnya terlihat lebih hidup."


Mendadak aku merasa seperti memenangkan tender, namun perasaan ini jauh lebih membahagiakan daripada itu. Nada semangat yang kutangkap dari Franda sangat mengejutkan. Dia ingin melakukan sesuatu, dan itu artinya ada kesempatan yang lebih besar untuk memperbaiki emosinya.


Aku menggerakan kepala mengikuti Franda yang kini turun dan berjalan ke dekat jendela. Dia memandang keluar seakan mencari-cari sesuatu. "Aku belum melihat danau sejak kemarin." cetusnya.


Aku tersenyum, lalu berdiri dan langsung menariknya agar mengikutiku. Kami berjalan ke arah ruang tengah dan berhenti tepat di depan jendela yang berada di antara kamar kami dan satu kamar lainnya. Seketika matanya berkilat-kilat, mulutnya terbuka, kemudian dia tersenyum. Sangat manis. Sampai rasanya aku ingin membawanya kembali ke kamar dan menidurinya detik itu juga.


"Fantastic!" desahnya takjub. Dia berbalik cepat, menatapku beberapa saat, kemudian bertanya ragu-ragu. "Apakah kita bisa berenang disitu?"


Aku tertawa pelan, nyaris tak percaya dengan pendengaranku. Franda, istriku yang lembut itu, tak kusangka dia mau mandi di danau. Maksudku, dia adalah wanita yang lahir dan besar di kota, dan danau bukan salah satu teman penduduk kota. Tapi, kusingkirkan pikiran itu dan aku segera mengangguk. "Ya, danaunya bersih dan airnya sangat jernih. Tapi, juga sangat dingin. Apa kau tidak masalah dengan itu?"


"Tidak masalah. Bukankah ada kau yang bisa menghangatkan tubuhku kembali?"


Ya, itu dia! Itu yang kutunggu-tunggu. Sikapnya yang nakal dan liar menggodaku. Aku tidak bisa menjelaskan sebahagia apa hatiku sekarang, Franda baru saja menggodaku dengan kedipan mata. Dia bahkan mencium bibirku sekali sebelum kembali ke kamar untuk mengganti piyamanya.


Dia berlarian tanpa peduli padaku yang merasa panas karena melihat bikini yang melekat di tubuhnya. Namun dengan segera aku juga berlari menyusulnya. Dan saat aku tiba di jembatan yang mengarah lebih jauh ke tengah danau, dia sudah melompat dengan gaya anak kecil yang kegirangan.


"Hei, tunggu aku." ujarku berteriak.


Untuk beberapa saat aku hanya berdiri di ujung jembatan dengan tangan terlipat di dada sembari memandanginya berenang kesana-sini, sesekali dia menyelam di satu titik lalu muncul di titik lain.


Alam memang hebat dalam menuntun seseorang, apa yang di tawarkan oleh alam sangat cepat membuat seseorang teralihkan dari sesuatu, memaksa kita menyatu dengannya dan melupakan kesenangan selain yang ada di alam itu sendiri.


Aku membawa Franda kesini karena yakin dia akan belajar menerima masa lalunya karena aku pun melakukan hal yang sama ketika kehilangan ibuku dulu. Saat itu, untuk pertama kalinya aku kembali ke desa Winton setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Menghabiskan waktu bersama teman-temanku selama dua tahun, dan akhirnya perlahan-lahan itu membantuku menghadapi traumaku atas kepergian ibu.


Aku segera melepas celana panjangku dan langsung menceburkan diri ke dalam air. Aku tersentak saat tubuhku benar-benar berada di dalamnya. Ini dingin, bahkan sangat dingin karena pada bulan maret memang cuaca disini lebih lembab. Namun hari ini terlihat cerah meski sedikit berangin.


"Apakah kau senang, Franda?" kataku menggoda Franda yang sedang mengapung dan menatap langit. Bagian dada dan perutnya yang mengambang membuatku menggeram tertahan.

__ADS_1


Dia menoleh padaku dan tersenyum. "Ya, ini sangat menyenangkan." ujarnya seraya mengayunkan tangan, menjauh dariku lalu menghilang di dalam air.


Senyum tak henti-hentinya terkembang di bibirku menyaksikan dia sesenang itu. Ini merupakan kejadian langka dalam beberapa bulan belakangan sejak dia melakukan percobaan bunuh diri. Sejujurnya aku kecewa dengan keputusannya untuk mengakhiri hidup, kupikir seharusnya dia bisa lebih bijak dalam mengatasi masalah, namun kembali lagi bahwa dia melakukan itu memang karena ketidakberdayaannya melawan dirinya sendiri.


Aku tidak bisa menyalahkan dia begitu saja sebab aku yakin dia sendiri tidak menyadari bahwa tindakannya adalah sesuatu yang salah. Kecemasannya terlalu cepat bereaksi terhadap sesuatu, dan itu tidak menguntungkan baginya.


Kami berenang cukup lama sampai aku merasa tubuhku menggigil dan Franda juga nyaris beku. Bibirnya gemetar dan membiru. Buru-buru aku membantunya naik, kemudian mengangkat tubuhku sendiri.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Aku bertanya setelah kami duduk di atas jembatan kayu sambil menikmati sinar matahari pagi yang membuat tubuh kami kembali hangat.


Dia menatapku dengan melengkungkan mulutnya. "Lebih baik. Aku merasa cocok dengan tempat ini." Franda memutar kepala menatap sekeliling, mengamati pemandangan sejauh yang bisa di tangkap matanya, kemudian kembali menatapku. "Terima kasih, Sean." Sebelah tangannya naik menyentuh pipiku, mengusap lembut disana, kemudian dia mencium bibirku sekali.


Aku tersenyum padanya. "Aku senang melihatmu setenang ini, dan aku berharap kau bisa mempertahankan suasana hatimu yang baik, setidaknya selama kita berada disini." Aku menurunkan mata ke bibirnya, lalu kembali lagi ke matanya. "Bisakah kau menjanjikan itu?"


Franda membuang pandangan ke pepohonan di seberang danau, kedua tangannya terulur ke belakang untuk menopang tubuhnya. Dia hanya diam selama beberapa saat, kemudian kembali bersuara. "Aku tidak tahu." lirihnya. "Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu selama aku sendiri belum yakin dengan keadaanku. Aku minta maaf jika mengecewakanmu, aku hanya tidak mau kau merasa senang sekarang sementara kondisiku bisa saja tiba-tiba berubah." lanjutnya.


Aku menghela napas, mengusap punggungnya, lalu mengikuti arah pandangannya. "Aku pernah mengalami apa yang kau rasakan. Jangan tersinggung, aku tidak mengatakan kau lemah atau apa. Hanya saja, kita memiliki cara sendiri dalam menanggapi sesuatu."


"Hm. Kau benar."


"Cobalah untuk menerimanya. Aku yakin kau akan merasa lebih baik setelah berdamai dengan PTSD-mu (Post-Traumatic Stress Disorder). Biarkan mereka berada dalam dirimu namun berusahalah mengendalikannya."


Dia tertawa pelan. "Kau terdengar seperti seorang terapis."


"Aku memang terapis, dan kau adalah pasienku yang pertama." kataku balas bercanda. "Kau sedang mendapatkan pelayanan ekslusif, Franda. Ya ampun, dimana lagi kau bisa menemukan terapis setampan diriku?" sambungku.


Dia tertawa, dan tiba-tiba dia menciumku lagi. "Ya. Aku beruntung, bukan?"


"Memang. Dan kau harus membayar mahal untuk konselingmu kali ini."

__ADS_1


__ADS_2