
"Mia?"
Mia masih diam dengan raut wajah ketakutan, kulitnya pucat, bibirnya gemetar, dan dia berkali-kali menelan ludah, yang membuatku lebih penasaran lagi tentang pria yang menghamilinya. Aku tidak terlalu mengetahui bagaimana pergaulan Mia di luar atau dengan siapa dia menjalin hubungan, karena Mia sendiri tidak terbuka untuk urusan pribadi seperti itu. Dia tipikal gadis yang menjaga area privasinya, ketika dia menjalin hubungan dengan seseorang maka tidak akan ada yang mengetahui hubungan mereka sebelum dia yakin dengan orang itu.
Aku masih memandangi Mia yang berdiri di hadapanku saat ini, karena kurasa dia tidak mau orang lain mendengar ini, aku menariknya ke arah sofa dan mendudukkannya disana, lalu kakiku berderap lagi untuk mengunci pintu kamar dan mengaktifkan peredup suara.
Sebelum kembali mendekat kepada Mia, aku melangkah ke ruang ganti, mengambil jubah mandi dari salah satu lemari lalu melekatkannya di tubuhku, kemudian menggulung rambutku yang masih basah dengan handuk yang sebelumnya melilit tubuhku.
"Mia, bisakah kau percaya padaku?" tanyaku begitu aku sudah duduk di sampingnya. Mia menatap ragu-ragu padaku, tapi kemudian mengangguk pelan. Aku menggenggam tangannya erat-erat agar membuatnya lebih nyaman sekaligus menyatakan bahwa apapun yang akan di ucapkannya tidak akan membuatku membencinya.
"Kalau begitu, ceritakan padaku. Siapa pria itu, dan kenapa kau menutupinya dari kami?" gumamku lembut, penuh kasih sayang.
Mia menunduk, tak berani beradu pandang denganku. Tangannya masih gemetar. Untuk sesaat aku menunggu dia menjawab pertanyaanku, lalu tiba-tiba dia menangis lagi.
Aku membiarkan dia menangis sampai dia merasa tenang, dan setelahnya dia mulai berbicara. "Namanya Taka."
"Ya, dan siapa Taka itu?"
Mia mendesah, "Kau tahu dia siapa, dan dia datang ke pernikahanmu dan Sean." Aku mengerutkan kening, mencoba mengingat siapa Taka itu, tapi aku belum mampu mengingatnya. Kemudian mendadak tengkukku merinding kala pikiranku menebak pria yang di maksud oleh Mia.
"Mia," lirihku gemetar. Aku menelan ludah. "Jangan katakan kalau dia,"
"Ya, itu dia." potong Mia cepat. "Gentala Jayantaka."
__ADS_1
Aku melemas seakan tulang-tulangku melunak seperti spons. Ini benar-benar kejutan tergila yang pernah kudapat seumur hidupku. Mia, adik kecilku yang manis, menjalin hubungan dengan seorang pejabat nyentrik yang kutahu sudah memiliki istri dan anak. Pantas saja dia ketakutan setengah mati ketika kami menanyakan siapa Ayah dari bayinya.
Gentala Jayantaka. Salah satu walikota paling tenar abad ini, aku tidak terlalu mengikuti sepak terjangnya dalam dunia politik, tapi namanya selalu terdengar dimana-mana. Hampir semua orang memujanya karena dia memang cukup keren. Selain tampan, dia juga pejabat termuda yang pernah ada, dan dia terlihat sangat menyayangi keluarganya. Dalam beberapa kesempatan, aku pernah menonton wawancara dengan dia sebagai bintang tamu, dan juga salah satu tayangan di televisi yang mengupas kehidupan keluarganya.
"Maafkan aku, Panda." Suara Mia mengalihkan pikiranku yang kini tengah melayang entah kemana. Membayangkan bagaimana Ed dan Sean akan bereaksi jika mereka mengetahui ini. Bukan tidak mungkin dua orang itu akan membunuhnya, dan itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk di saksikan.
Aku mengusap wajahku yang mendadak kebas akibat darah yang menumpuk di kepalaku, memijat pelipisku seraya menatap Mia yang masih menunduk terisak. Sebelah tanganku maju untuk mengusap lengannya. "Apakah dia sudah mengetahui kalau kau sempat mengandung dan kini kehilangan bayi kalian?" Hanya itu yang bisa kutanyakan saat ini. Mia mengangguk.
"Lalu, bagaimana responnya?"
Mia menghela napas, dalam dan lama. "Dia sempat marah padaku, tetapi sekarang kami baik-baik saja." gumamnya pelan sambil terisak.
Aku menelan ludah pahit yang memenuhi mulutku. Saat ini ingin sekali rasanya aku memukul Mia karena dia bertingkah kurang ajar dengan merusak rumah tangga orang lain, aku ingin memakinya karena dia salah satu spesies wanita yang paling kubenci seumur hidupku. Tapi menyaksikan dia yang merasa bersalah karena sadar telah melakukan sesuatu yang buruk, membuatku sedikit melupakan kemarahanku. Sebagai gantinya, aku menariknya ke dalam pelukanku.
"Kita harus membahas masalah ini dengan Ed." ujarku pelan, membuat Mia menghembuskan napas putus asa.
"Panda," desisnya seraya menunjukkan mata anak anjing yang menggemaskan, memohon melalui matanya agar aku menutup masalah inu dari Edward.
Tapi aku tidak akan melakukannya, cepat atau lambat Edward akan mengetahui ini, dan menunda-nunda tidak akan menghasilkan apapun. "Dengarkan aku, Mia." Mataku menusuk ke dalam matanya. "Ini bukan masalah sepele. Kau sudah masuk ke suatu tempat terlarang dan kau tidak bisa keluar begitu saja meskipun kau mengatakan kalian akan berpisah setelah ini, karena aku yakin hubungan kalian tidak sesederhana itu." Aku berhenti sejenak untuk mengatur napas.
"Aku tidak tahu apa alasanmu menyerahkan hidupmu padanya, tapi yang pasti dia sudah melakukan sesuatu sehingga membuatmu menerimanya. Aku mengenalmu, Mia. Dan aku tidak akan menyalahkanmu kalau kau menyayanginya, aku hanya tak habis pikir dengan caramu menjalin hubungan dengannya."
Mia masih terdiam menunduk sementara aku terus berbicara. "Coba pikirkan bagaimana perasaan istrinya, bagaimana dengan anaknya?" Mia membuka mulut hendak membalas ucapanku, namun dengan segera aku menggeleng karena aku tahu apa yang akan di katakannya.
__ADS_1
"Jangan mencari alasan dengan mengatakan dia memiliki hubungan yang buruk dengan istrinya karena itu sama sekali bukan urusanmu. Jika dia memang pria yang bertanggungjawab, maka harusnya dia menyelesaikan masalah dengan istrinya lebih dulu, baru kemudian datang kepadamu. Kau tidak akan menang melawan istrinya, walau kau melakukan hal yang benar sekalipun, kau tetap maling yang menyusup diam-diam dan mencuri sesuatu dari rumahnya."
"Kau sendiri tahu bagaimana hancurnya aku ketika mengetahui Nino mengkhiatiku dulu. Aku sangat hancur, Mia. Dan aku yakin istrinya akan sama hancurnya denganku jika dia mengetahui hubungan kalian. Okelah kalau dia kuat dan bisa menerima semuanya, tapi bagaimana dengan anaknya? Kau mau membuat anaknya hidup seperti Ben? Terpisah dari Ayah dan Ibunya?" Aku menutup ucapanku dengan gelengan tak percaya.
Tanpa sadar mataku berair membayangkan bagaimana sulitnya kehidupanku ketika aku harus bercerai dengan Nino. Satu-satunya yang kutakutkan waktu itu adalah anakku, aku takut dia tumbuh menjadi anak yang tidak bahagia, namun aku merasa lega karena Ben tidak begitu. Dan tentu saja itu semua terjadi karena dukungan keluargaku, juga Sean. Aku sendiri takkan mungkin bisa mengurus Ben dengan keadaanku yang kacau dan menggila.
Aku terpejam merasakan kepalaku yang mendadak berdenyut. Ini sangat memusingkan. "Katakan padanya untuk menemuiku, aku akan berbicara dengannya."
"Tidak." sergah Mia, diikuti gelengan cepat. "Aku akan mengakhiri hubungan kami dan kau tidak perlu bertemu dengannya." sambungnya.
"Mia,"
"Please, Panda. Aku tahu kesalahanku dan aku sendiri yang akan menyelesaikannya. Tolong jangan katakan apapun pada Ed dan Sean, aku tidak mau sesuatu terjadi padanya. Mereka pasti akan membunuhnya, Panda. Pasti."
Mataku nyaris melompat, tak percaya dengan perkataannya. "Lalu, bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Kau pikir hidupmu akan baik-baik saja jika kau melepasnya?" gumamku berapi-api.
"Aku bisa," Mia berhenti ketika seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar. Aku langsung berdiri dan hendak melangkah, namun Mia menahan tanganku sejenak.
Aku memutar kepala menatapnya. "Please... jangan." desahnya sambil menggelengkan kepala.
Aku menelan ludah sekali, hatiku sakit melihatnya memohon seperti itu, dan akhirnya aku mengangguk pasrah, mengiyakan permohonannya. Setidaknya untuk saat ini aku akan menahan mulutku sampai aku bisa membujuk Sean dan Ed agar membicarakan masalah ini baik-baik.
Mia tersenyum lega lalu melepaskan tanganku dan buru-buru menghapus air matanya.
__ADS_1