
Aku benar-benar kesal karena Sean menjanjikan sesuatu yang panas sampai aku membayangkan bagaimana dia akan meniduriku di tengah hutan, tapi dia malah membawaku ke tempat lain tanpa mengatakan apa-apa padaku. Aku tidak menyangka pria seperti dia bisa berjanji untuk menggodaku dan dia menghempaskanku begitu saja.
Sial! Aku sudah merencanakan akan memakai apa malam ini, bahkan sudah memikirkan harus melakukan apa untuk menyenangkannya. Dan sekarang, aku harus menyingkirkan semua bayangan itu dari kepalaku.
Aku menutup pintu kamar dengan keras, melirik dan menoleh pada Sean yang sudah lebih dulu masuk ke kamar. Entah apa tujuannya berjanji sepanas itu padaku. Sean menyadari kehadiranku, dia segera bangkit dari tepi ranjang dan berbalik menghadapku dengan penuh senyuman. Senyuman memabukkan. Senyuman gila. Senyuman sensual. Senyuman undangan panas. Senyuman yang menyiratkan bahwa saat ini dia tidak melakukan kesalahan apapun.
Aku terkejut dengan gelagatnya dan berharap akan ada penjelasan yang lebih masuk akal darinya yang akan membuatku menerjangnya dan menarik celana jins-nya ke lantai sehingga aku bisa mendapat akses penuh atas dirinya yang mengesankan disana. Ya ampun, Sean, aku tahu saat ini aku benar-benar kesal, tapi aku juga ingin ditenangkan oleh dirimu.
"Franda," gumamnya lembut dan serak. "Aku ingin sekali membawamu kembali ke rumah hutan malam ini. Tapi kita tidak mungkin meninggalkan mereka disini." Dia bergerak maju dengan ekspresi geli dan nakal. Kilat di matanya menyatakan bahwa dia ingin segera mendekapku.
Tetapi aku mundur selangkah... dan bersuara penuh getaran. "Ya, selamat, kau berhasil membuatku terlena dengan janji panasmu. Kau bahkan tidak tahu bahwa aku sudah memikirkan bagaimana aku harus menghiburmu, Sialan!"
Ucapan yang kulontarkan dengan lugas dan frustasi barusan seketika membuatnya terdiam. Matanya yang tadi berkilat panas kini berubah muram. Aku benci harus bertengkar dengannya dan menyakitinya, tetapi terkadang hal seperti inilah yang harus kami hadapi.
"Seharusnya aku tak perlu tergoda dengan janji yang kau utarakan. Kau membuatku melayang dalam beberapa saat dengan pikiran liar yang menghuni kepalaku, tapi yang kau sodorkan malah sesuatu yang lain. Terima kasih, Warner..." Suaraku terputus karena terisak dan air mataku mengalir begitu saja. "Sekarang, jangan coba-coba mendekat padaku dan merayuku." hardikku seraya mengusap pipi dengan ibu jari.
Aku berjalan ke arah lemari dengan menghentakkan kakiku keras-keras di lantai, sampai bunyinya menggema di sudut kamar. Aku masih tak habis pikir dia bisa berbohong dengan hal sekecil itu. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan bahwa kami akan bermalam di resort selama keluargaku berada disini dan tak perlu menjanjikan sesuatu padaku.
Tapi kemudian aku tersentak saat kehangatan yang menjalari tubuhku membuatku terpesona. Pelukan Sean menunjukkan bahwa dia benar-benar merasa bersalah karena berbohong padaku. Dia membalikkan tubuhku dan memelukku lagi. Demi Tuhan... aku ingin balas memeluknya tetapi aku masih kesal padanya.
Sean mendekapku semakin erat, membelai rambutku dengan penuh perasaan. Sikapnya yang tulus dan mengesankan semakin membuatku kesal karena aku sadar aku tidak akan sanggup marah padanya lebih lama. Sean akan tetap berhasil meluluhkanku.
"Maafkan aku, Franda. Aku benar-benar lupa kalau kita akan menginap disini karena kau terlalu menggoda."
__ADS_1
Aku menangis lagi, lebih keras untuk meluapkan kekesalanku sampai kaus yang dikenakan Sean basah karena menerima semua luapan perasaanku. Aku ingin melawan Sean, ingin menjauh darinya, tapi seperti yang kukatakan, aku tidak sanggup. Aku terlalu mencintainya dan menginginkannya.
Entah berapa lama aku menangis, mataku semakin perih. Dan sekarang aku berusaha menenangkan diri dalam pelukannya. Aku mundur sedikit, namun tangan Sean tetap merengkuh tubuhku. Dia juga menyapu sejumput rambutku yang basah dari pipi. Kemudian mendongakkan wajahku, ingin menunjukkan padaku matanya yang sama kalutnya seperti diriku. Sangat jelas bahwa dia merasa bersalah karean telah membohongiku.
"Sudah lebih baik?" gumamnya, mengusap air mata di pipiku dengan sangat lembut. Kemudian dia mengumpat lirih dan gemetar. "Astaga, aku tidak pernah merasa dicintai seperti ini sampai ada wanita yang membayangkan malam panas bersamaku."
"Franda, kau membuatku merasa sangat berarti dan aku memang bodoh karena menipumu."
Tangannya menangkup wajahku dengan sentuhan yang membuat bahuku gemetar. "Demi Tuhan, Franda... aku tidak menyangka kau kau semarah ini padaku. Aku minta maaf karena mengecewakanmu, tapi aku berjanji akan membayarnya begitu kita kembali ke hutan."
"Tidak," desahku. "Jangan pernah menjanjikan apapun lagi kepadaku. Aku tidak mau terlena dengan ucapanmu dan membuatku menantikan janji panasmu itu selama berhari-hari."
"Franda..." Sean memiringkan wajahnya dan menatapku lebih intim. "Maafkan aku, oke? Sungguh, aku tidak bermaksud begitu. Aku benar-benar lupa jika aku sudah menyiapkan tempat ini untuk mereka."
Sean tertawa halus, lalu menggodaku dengan senyumnya yang nakal. "Bagaimana mungkin aku bisa menjaga jarak darimu sementara kau berkeliaran di dekatku dengan tubuhmu yang seksi ini?" Dia mundur selangkah, mengamati tubuhku sambil berdecak dan menggelengkan kepala beberapa kali. "Kau terlalu indah untuk dibiarkan, Franda."
Tenggorokanku tercekat, menahan sesuatu dalam diriku yang mulai terbujuk dengan rayuannya. "Tetap saja, kau harus menahannya. Aku tidak mau berdekatan denganmu sampai aku merasa tenang."
Sean tiba-tiba mengangkat wajahku... detik berikutnya aku merasakan kalau bibirku disapu oleh bibirnya yang hangat. Belaian mulutnya membuatku sesak karena aku bisa mati jika tidak mencicipi desakan mulut senikmat ini. Sean benar-benar brengsek karena memiliki pesona yang begitu kuat memikatku.
Begitu ciuman kami terlepas, aku kembali gemetar dan kesal. Tapi tatapan Sean saat ini padaku menyatakan bahwa akan ada seribu ciuman lagi untukku. "Franda, kau tidak akan bisa menolakku. Gairah yang kau miliki hanya untukku dan kau takkan sanggup melawannya." dengkurnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sean dengan cepat merubah suasana menjadi panas dan mendebarkan. Bibirnya melengkung nakal seperti sebelum-sebelumnya. Aku berhasil ditenangkan seiring bibirku yang terus saja menciumi bibirnya. Aku memeluknya, dan terhuyung saat dia mengangkatku seperti bayi koala ke arah ranjang.
__ADS_1
Saat dia sudah berhenti di tepi ranjang, aku melepas ciuman kami, menatap matanya yang sebiru samudra. "Kau memang bajingan ulung dengan pesonamu yang brengsek, Warner."
Sean tertawa kencang sampai dadanya naik turun, sampai aku berguncang ditubuhnya. Namun dia tetap terlihat seksi. Aku kembali menyapu bibirnya dengan bibirku. Ciuman balasannya liar dan serakah. "Franda," erangnya di bibirku. "Tolong jangan terlalu cepat merajuk, aku kesulitan setiap kali harus membujukmu." Aku tersenyum, lalu mengangguk... dengan cara yang teramat mesra padanya.
"Ah..." pekikku, ketika Sean tiba-tiba menjatuhkanku di ranjang, lalu aku terperanjat ketika dia buru-buru menarikku lagi ke tepi ranjang kemudian duduk berlutut di hadapanku.
Tanpa peringatan apapun, Sean mengangkat rok gaunku dan melepaskan pakaian dalam yang membungkus kewanitaanku. Aku terkesiap dengan gerakannya yang mendadak menempatkan tumitku di tepi ranjang kemudian membuka lebar-lebar pahaku. Matanya melirikku sekilas sambil menyeringai kemudian kembali turun ke bawah ke bagian tubuhku yang berdenyut-denyut.
"Sean..." aku mendesah gemetar, menyaksikan betapa dia akan melahapku beberapa detik lagi. Dia menggeram. Wajah dan telinganya merah padam. Rahangnya mengertak. Matanya penuh hasrat menatap bagian di antara kedua pahaku.
Seketika aku mendongak saat mulutnya menyapa kewanitaanku. Mulut dan lidahnya liar membelaiku, menjilat-jilat layaknya seekor anjing yang kelaparan selama berhari-hari. Dengan segenap kelihaian yang dimilikinya pada mulutnya, dia menyiksaku dengan kenikmatan yang kejam. Aku mengumpat keras sementara kedua tanganku yang gemetar meremas sprai sambil menopang tubuhku.
"Oh, fff..." geramku.
Sean menahan pahaku kedua tangannya tanpa menggeser wajahnya dari kewanitaanku. Mulut dan lidahnya yang nakal menari-nari disana, merayu, membujuk, dan menggodaku dengan cara yang paling magis sekaligus nikmat. Aku hanya bisa pasrah menyambut serbuannya dan mengeluarkan suara-suara yang disukainya ketika kami berada dalam situasi seperti ini.
"Kau menyukainya, Franda?" katanya genit menggodaku. Area di sekitar bibirnya sudah basah dan itu membuatnya semakin terlihat seksi.
Aku belum sempat menjawab pertanyaannya dan dia sudah menyerbuku lagi. Lebih nakal dan lebih kejam. Mulutnya menghisap kuat-kuat, lalu menyapukan lidahnya dengan lembut dan lihai, membuatku semakin linglung dengan perlakuannya. Aku tidak tahan lagi untuk segera mengayunkan tanganku ke rambutnya.
Aku meremas rambutnya amat kuat seraya menjerit seperti orang sinting. "Oh, sialan..." Aku menahan napas ketika sekujur tubuhku kurasakan menegang, tak lama kemudian tubuhku bergetar hebat menyambut gelombang pertama yang baru saja mengalir deras dan lama.
Aku berbaring lemas di ranjang. Memejamkan mata sambil mengatur napasku yang tersengal-sengal. "Sean," desisku. "Sialan kau!" umpatku dengan suara penuh getaran.
__ADS_1