Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
At some point...


__ADS_3

Kemarin adalah malam yang sangat luar biasa mendebarkan untukku. Suamiku yang jantan, seperti biasa, selalu meniduriku tanpa ampun. Memberiku malam paling nikmat sepanjang aku menikah dengannya. Well, itu bukan berarti aku tidak menikmati malam-malam kami sebelumnya, hanya saja semalam merupakan malam yang... terasa lebih spesial.


Aku memutar kepala dan mendapati makhluk seksi yang sedang terlelap disampingku. Sebelah tangannya memeluk perutku sementara kakinya melilit kakiku. Dia begitu tenang dan damai. Serentetan masalah yang terjadi belakangan membuat kami nyaris kalang kabut dan kehilangan arah. Aku tentu saja merasa kecewa saat mengetahui dia tengah menutupi sesuatu dariku, dan sejujurnya aku ingin dia lebih terbuka. Memberiku kesempatan untuk masuk lebih jauh ke dalam hidupnya. Tapi dengan segera aku menyadari, bahwa dia melakukan semua itu semata-mata dia ingin melindungiku. Rasanya tidak adil jika aku terus-menerus merengek sementara dia mati-matian menjagaku.


Terbersit rasa bersalah yang menghujam dadaku ketika menatap wajahnya yang lelap dan lelah. Dia sedang menanggung sesuatu yang berat akibat perbuatan seseorang. Dalam hati aku mengutuk perbuatan Dave yang tega meninggalkan kekacauan di perusahaan. Maksudku, aku memang tidak tahu apa motifnya melakukan semua itu, tapi apapun alasannya dia seharusnya tidak perlu berbuat sejauh itu. Terlebih Sean adalah sepupunya.


Aku melayangkan pandangan ke arah jam dinding yang menunjukkan angka delapan pagi. Teringat bahwa hari ini aku harus memastikan sesuatu di kantor untuk persiapan Paris Fashion Week, aku pun berniat segera bersiap. Pelan-pelan aku mengangkat tangannya dari perutku dan bergerak ke sisi ranjang, lalu beranjak turun.


"Hei, come back." suara serak dan berat Sean terdengar memanggilku dari ranjang.


Aku tersenyum dan melirik sekilas pria jantan yang sedang mengamatiku dengan raut malas mengenakan kemeja miliknya yang baru saja kujumput dari lantai, lalu menautkan kancingnya. "Aku harus bersiap untuk ke kantor dan akan menyiapkan sarapanmu pagi ini." Aku berbalik, membiarkan tiga kancing kemeja teratas terbuka dan berderap beberapa langkah sampai berdiri di tepi ranjang.


Aku mengamati rambutnya yang berantakan karena ulah jemariku yang menggenggamnya dengan erat semalaman, sebagian tubuhnya yang nikmat tertutup oleh selimut, dan seringai lembut yang menghiasi bibirnya tampak sangat menggairahkan. Membuatku gugup dan gemetar.


Mendadak aku ingin menghabiskan waktu seharian berada di bawah selimut dengan tangannya yang hangat memelukku. Aku tidak tahu bagaimana bisa hasratku begitu cepat terpanggil tiap kali aku berdekatan dengannya, namun kuyakin itu pasti karena cita rasa dirinya yang memang sangat nikmat. Sebanyak apapun kepuasan yang diberikannya, aku tidak pernah benar-benar merasa cukup.


"Tidak lagi. Pekerjaanku menunggu." kataku merespon seringainya yang nakal merayuku. "Aku harus memastikan semuanya sempurna sebelum Denise berangkat malam ini, dan juga aku sedikit lelah."


"Oh, ya? Kupikir kau tidak akan pernah merasa lelah untukku, Franda." Dia menyeringai lagi sambil mengamati wajahku yang mungkin memerah sekarang akibat tatapan mata samudranya. "Sekali lagi untuk menyemangatimu, Sayang?" lanjutnya.

__ADS_1


Tawaku lepas seketika seperti seorang remaja yang sedang tergila-gila, lalu aku menggeleng. Aku mengamati gerakannya yang beringsut duduk di tepi ranjang sebelum dia menjulurkan tangan untuk meraihku.


Jemarinya perlahan menyelinap dengan liar ke bagian di antara kedua pahaku sementara dia menarikku lebih dekat. Aku tersenyum, lalu menyadari aku harus menghentikan aksinya sebelum aku terpanggil lebih jauh dan menurutinya untuk berbaring di ranjang seharian.


"Kau sangat menggiurkan. Apa kau tahu itu?" gumamnya. Lalu mendongak menatap mataku sementara bibirnya mencium perutku.


Mulutku melengkung tinggi dan aku mengangguk. Jemariku terulur untuk merapikan rambutnya, mencoba membuatnya tampak lebih layak di pandang.


"Kau harus mampu menjinakkan gairahmu, Sean." ucapku genit, sembari merasakan kupu-kupu yang beterbangan di sekitar perutku. Tangannya yang nakal meremas pelan pahaku yang terjepit di antara kedua pahanya.


Bukannya mendengarkan perkataanku, dia malah menciumku lagi, dan sekarang mulutnya naik sampai nyaris mencapai dadaku. Aku tidak mampu mengalihkan pandanganku darinya sementara jemariku terus menyusuri rambutnya. Merasa takjub karena seorang pria yang cukup berkuasa sepertinya bisa berada di bawah kendaliku, atau setidaknya itulah yang bisa kutangkap dari posisi kami sekarang.


Menyadari dia tidak berniat berhenti dengan aksinya, akupun memutuskan untuk menahannya. "Kenakan pakaianmu." Aku menangkup wajahnya dan menariknya agar menatapku, lalu memberinya satu ciuman singkat. "Aku akan menyiapkan sarapan."


"Tidak ada." Aku terkikik sambil menggeleng pelan sebelum memaksa diriku untuk meninggalkannya. "Cepatlah, atau kau tidak akan mendapatkan sarapanmu." gumamku untuk terakhir kalinya, lalu berbalik dan melangkah sambil menautkan satu kancing kemeja lagi.


Aku sempat mendengar dia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas ketika aku perlahan menutup pintu kamar, tapi aku membiarkannya dan tersenyum geli sepanjang perjalanan menuju dapur.


Di dapur, aku mendapati Miss Diana dan Daisy sedang duduk di mini bar, menikmati sandwich lezat sebagai menu sarapan mereka. Ketika aku berada lebih dekat dan menyadari kehadiranku, mereka berteriak kegirangan.

__ADS_1


"Nyonya!" seru Miss Diana, lalu menghampiriku secepat kilat.


Aku terkekeh menyaksikan tingkah si janda genit yang sudah sebulan lebih tidak kulihat. Aku membuka tangan menerima pelukannya. "Apa kabarmu, janda genit?" selorohku.


Dia memberengut, namun secepatnya senyum muncul di sudut bibirnya. "Baik, seperti biasanya." gumamnya. "Aku merindukanmu, lho."


"Klasik." balasku sarkastis. Aku mengalihkan pandangan kepada Daisy yang tampak masih malu-malu. Aku memang belum terlalu dekat dengan para pekerja di rumah ini, selain Miss Diana tentunya. "Daisy, kau baik-baik saja?"


Dia tersenyum lalu mengangguk. "Ya, Nyonya. Aku baik-baik saja."


Aku menoleh Miss Diana sambil menaikkan kedua alisku, beruntung dia masih ingat aturan tak tertulis yang kutetapkan untuknya. Dia berdecak sekali, mengedarkan pandangan ke arah lantai atas dimana kamarku berada, lalu dia memajukan kepala dan berucap pelan pada Daisy.


Aku nyaris tak sanggup menahan tawa saat menyaksikan ekspresinya yang benar-benar mirip dengan ibu-ibu penggosip. "Ini rahasia," bisiknya, bersikap hati-hati dengan mata mengawasi lantai atas. "Kalau tidak ada Tuan Tampan, panggil dia Franda saja." katanya seraya mengarahkan telunjuknya padaku.


Daisy melirikku dengan senyum ragu-ragu, dan aku merespon dengan mengangkat alis dan bahu, lalu membalas senyumnya.


Selagi mereka menghabiskan sarapan, aku melangkah ke arah kabinet. Dengan kemampuan masakku yang bisa dibilang sama sekali kosong, kuputuskan mengambil dua mangkuk dari kabinet dan mengisinya dengan sereal, lalu menuang susu ke dalam mangkuk. Aku meletakkan kedua mangkuk itu di meja makan dengan posisi berseberangan, hanya untuk mengantisipasi lonjakan gairah yang akan terjadi jika aku duduk berdekatan dengan Sean.


Hari ini aku benar-benar harus ke kantor dan aku tidak mau jadwalku hari ini kacau mengingat masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Selain masalah Paris Fashion Week itu, aku juga perlu memeriksa beberapa laporan perkembangan butik selama aku berada di Queensland. Sebenarnya Denise rutin mengirimiku email berisi laporan hasil pekerjaannya, namun tetap saja melihatnya secara langsung akan lebih memuaskan.

__ADS_1


Selagi menunggu Sean turun, aku membuka ponsel dan melihat ada dua pesan masuk yang tertera di layarnya. Pesan pertama dikirim oleh Denise yang mengingatkan bahwa aku harus datang hari ini. Membaca pesan kedua, aku mengerutkan kening. Dari Nino.


..."Bisakah kita bertemu? Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan. Ini menyangkut suamimu. Tolong kabari aku jika kau ada waktu."...


__ADS_2