Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
At the lakehouse.


__ADS_3

...Mia Queen POV....


Aku sedang duduk berjemur bersama ibu, Ben, Edward, dan dua kakak iparku di halaman belakang. Menikmati hangatnya sapuan mentari pagi yang terasa menenangkan di kulitku sambil memanjakan paru-paru dengan udara yang bersih dan segar, dan menghibur mataku dengan pemandangan danau yang tenang.


Kemudian kami semua terkejut saat tiba-tiba kakakku muncul entah dari mana, mengenakan set bikini merah Victoria Secret. Dia terlihat seperti model pakaian dalam wanita dengan tubuh langsing dan kacamata hitamnya. Bekas luka operasi di perut dan punggungnya sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. Dan ini membuatku bangga sebagai adiknya.


Dia tidak muda lagi, umurnya sudah 34 tahun, tapi lekuk tubuhnya persis seperti remaja. Aku sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa selangsing itu padahal dia sudah dua kali melahirkan. Kalau seandainya Tuhan itu wanita, maka Panda-lah yang pantas memerankannya.


Dia menyambar ponsel dari tangan kakak iparku, lalu berlari kencang menuju danau. "Tangkap aku kalau kau bisa!" katanya selagi berlari.


Kemudian dia mulai menjerit sambil tertawa saat kakak iparku mulai mengejarnya. Rambutnya beterbangan seiring langkahnya yang semakin panjang. Aku menggeleng tak percaya dengan tingkahnya yang kekanakan.


Panda terus berlari hingga ke jembatan kayu yang mengarah ke danau sementara Sean sudah berada beberapa meter di belakangnya Oh, ini tidak bagus! Dia memekik. Kemudian tepat sebelum Sean berhasil meraih tubuhnya, dia melempar ponsel itu ke belakang lalu menceburkan diri ke danau dengan gaya perenang profesional.


"Franda!" Sean menggeram putus asa, memandangi ponselnya yang tergeletak di tanah. Tangannya bertumpu di kedua sisi pinggangnya, dan beberapa detik berikutnya dia tersenyum seraya menggelengkan kepala.


Bagi sebagian orang mungkin sikap Panda terkesan tidak sopan dan keterlaluan, tapi terkadang memang ada lelucon di antara pasangan yang tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Dan itulah yang terjadi pada mereka sekarang.


Panda tertawa saat kepalanya muncul di permukaan danau. "Kau lamban, Warner!" ucapnya meledek sembari menyapukan rambut ke belakang.


Ibu, Edward, dan Sora tertawa memandangi raut Sean yang menyerah. Percayalah, hanya Panda yang bisa membuatnya tampak bodoh seperti saat ini. Sean tidak akan berkutik jika kakakku sudah menunjukkan diri, secepat kilat dia akan berubah menjadi pria malang seperti kerbau yang dicolok hidungnya. Pasrah.


"Dia sudah sembuh." Mendadak Ibuku bersuara, matanya memandangi kakakku dengan raut senang bercampur sedih. Aku tidak suka ini, tapi kubiarkan ibuku mengungkapkan perasaannya.


"Ya, dia sudah sembuh." gumam Edward menyetujui.


Aku melirik Sora yang duduk di sebelahku, dia juga sedang memandangi ke arah Panda. Aku bisa menangkap matanya yang basah, lalu aku menegurnya. "Sora, apa kau menangis?"


Dia terkesiap menolehku, dan saat dia mengedip, air matanya menetes. "Hm?"

__ADS_1


"Ada apa?"


Dia tersenyum, kembali mengarahkan pandangan ke Panda. "Aku hanya senang melihat dia seperti itu. Kau tahu, aku sudah lama bekerja dengannya, tapi belum pernah aku menyaksikan dia sebahagia ini seolah jiwanya berganti."


Wow, mengejutkan! Aku sama sekali tidak mengira Sora akan peduli dengan Panda. "Kau memperhatikannya selama ini?"


Sora mengerutkan alis memandangiku. "Tentu saja!" balasnya sarkastis.


"Oh, okay."


Kemudian ponselku berdering di pangkuanku dan aku mendapati nama Taka di layar ponsel. Aku mengerang dalam hati, telepon dari Taka adalah hal terakhir yang kuinginkan hari ini. Tapi kemudian kupikir aku harus memastikan hubungan kami sekali lagi, jadi aku berderap menjauh dari keluargaku untuk menjawab teleponnya.


"Hei," Spontan aku terpejam mendengar suaranya yang lembut menyapaku.


"Ada apa lagi?" tanyaku ketus, susah payah mempertahankan suaraku agar tidak bergetar.


"Jay," dengkurku pelan. "Apa kau sudah mempertimbangkan permintaanku?"


"Itu tidak mungkin, Mia. Reputasiku akan hancur jika aku mengumunkan soal perceraianku."


Bajingan! Yang dia pikirkan hanya dirinya sendiri. "Lalu, bagaimana denganku? Apa kau senang orang-orang terus menyudutkanku?" semburku kasar. "Kau tahu apa yang kupikirkan sekarang? Aku menyesali setiap detik yang sudah kulewati bersama pria egois seperti dirimu."


"Mia, kumohon... jangan seperti ini. Setahun lagi. Tunggu aku setahun lagi dan aku akan memberitahu publik tentang hubungan kita,"


"Jay," Aku menarik napas gemetar, menahan semua emosi yang bergejolak di dadaku. "Kenapa kau egois sekali? Semua yang kau bicarakan selama ini hanya tentang dirimu, apa kau sadar itu? Apa gunanya kau meneleponku kalau kau hanya ingin mengatakan omong kosong soal reputasimu, Sialan! Kau memperlakukanku seperti sampah!"


"Apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaanku? Keluargaku? Orang-orang merundung kami, Jay! Bahkan kakakku yang tidak tahu apa-apa ikut menjadi sasaran ejekan orang-orang. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya padamu, tapi jika kau tidak bisa melakukan apa yang kuminta, jangan pernah menghubungiku lagi. Atau aku sendiri yang akan membongkar semuanya!" sambungku berapi-api.


Taka terdiam selama beberapa detik dan aku bisa mendengan hembusan napasnya yang kasar. Taka mencintaiku, tidak diragukan lagi. Tapi sikapnya yang pengecut membuatku muak. Bagaimana mungkin aku bisa hidup bersama orang yang tidak menghargaiku? No way!

__ADS_1


"Mia, bisakah kita bertemu untuk..."


"Tidak," sergahku cepat. "Putuskan hari ini juga. Kuberi kau waktu tiga jam untuk mempertimbangkan tawaranku. Kalau kau tidak bisa melakukannya, maka tidak ada alasan untuk kita bersama." ucapku tegas sambil menutup mataku yang mulai terasa panas.


"Mia, sudah kubilang aku tidak bisa. Ayolah, sayang..." Dia terdengar putus asa, dan aku berjuang sekuat tenaga agar tidak menangis mendengar suaranya yang memohon. "Aku mencintaimu, Mia, tapi situasi sekarang belum memungkinkan untuk membuka soal hubungan kita."


Aku tertawa sinis mendengar kata-katanya. "Gentala Jayantaka!" kataku tajam membentaknya. "Waktumu sudah habis. Selamat pagi dari Australia." Aku langsung mematikan sambungan ponsel, dan detik itu juga air mataku luruh.


Kemudian aku tersentak saat melihat kakakku berdiri memandangiku dari samping rumah. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Buru-buru aku mengusap air mataku dan berderap, dan ketika aku hendak melewatinya, dia menarikku ke dalam pelukannya.


"Ed," Aku menangis kencang di dadanya, hal yang sangat jarang terjadi di antara kami. Sejak kecil aku terbiasa menyelesaikan masalahku sendiri karena semua perhatian keluargaku hanya tertuju pada Panda. Bukan berarti aku menyalahkannya. Hanya saja, ada saat-saat dimana aku juga membutuhkan perhatian, dan itu jarang sekali kudapatkan.


Edward membiarkanku menangis selama beberapa menit sampai aku tenang dan tangisku perlahan berhenti. Kemudian tanpa mengatakan apa-apa, dia mengangkat tubuhku ke pundaknya lalu berlari membawaku menuju danau. "Ed, stop! You're not going to..." belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, tubuh kami sudah melayang dan segera menghilang di dalam air.


"Fvck you!" Aku mengumpatnya begitu berhasil mengeluarkan kepala dari dalam air. Amarahku semakin memuncak ketika melihat ponselku yang layarnya mulai kelap-kelip seperti lampu disko.


Aku ingin mengeluarkan lebih banyak sumpah serapah serta kutukan kepada Edward, tapi Panda sudah lebih dulu menopang di pundakku hingga akhirnya aku tenggelam kembali. Aku bisa mendengar suara tawa mereka yang kencang dari dalam air.


"Mia Queen! Lupakan masalahmu dan mulailah bersenang-senang!" seru Panda. Begitu aku berenang dan ingin menariknya, dia langsung menjauh sambil menantangku. "Apa segitu saja kemampuanmu?" katanya, lalu menghilang di dalam air sementara yang lainnya menertawakan ekspresiku yang kesal.


Oke. Aku menarik semua puji-pujian yang sudah kulontarkan tentang Panda. Dia tidak sebagus itu.


Belum cukup sampai disitu, kesialanku bertambah saat Ben tiba-tiba melompat ke arahku. Mau tidak mau, secepat kilat aku berenang menghindari serangannya. "Ini benar-benar hari paling buruk sepanjang sejarah!" gerutuku.


"Oh, ayolah... ini hari hari terbaik yang pernah ada, Mia." kata Sean dari atas jembatan kayu.


Pada akhirnya aku pasrah menerima apapun yang mereka lakukan padaku di danau sepanjang pagi hingga siang itu. Aku menganggap itu cara mereka menunjukkan kasih sayang, well, meskipun bukan itu yang kuharapkan sebagai ungkapan kasih sayang.


Mau bagaimana lagi, itu resiko menjadi bagian dari keluarga Atmaja. Suka atau tidak, tak ada jalan keluar. Meskipun begitu aku tetap menyayangi mereka, lho! Family is still number one!

__ADS_1


__ADS_2