Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Mia, Kakakku!


__ADS_3

Aku berjalan turun ke bawah, lambungku mulai meronta didalam sana, protes karena belum terisi dengan baik sejak kemarin, bahkan aku tidak menghabiskan steak yang tadi malam harusnya jadi makananku satu-satunya kemarin. Mataku menangkap Ibu yang sedang bermain bersama Ben, ditemani Miss Diana yang sedang menonton drama korea. Terbalik, Ibu dan Ben yang menemaninya. Dasar, janda centil.


"Tunggu, bukankah aku juga janda?" Aku tergelak mendengar ucapanku sendiri, beruntung Ibu dan Miss Diana tidak mendengarnya, jika iya, pasti janda centil itu mengomeliku habis-habisan. Dirumah ini dia yang selalu menjadi ratu, mengomel pada siapapun yang berbuat salah atau menganggu pekerjaannya.


Aku berjalan ke meja makan kecil, mengoles beberapa lembar roti sekaligus dengan selai cokelat, dan langsung melahapnya dengan satu gigitan besar. Aku memejamkan mata menikmati kombinasi makanan yang memanjakan lidah. Setelah menghabiskan roti, aku berjalan ke kulkas, menuangkan segelas susu dan langsung meminumnya hingga tandas.


Aku ingin bergabung di ruang keluarga bersama Ibu, Ben, dan Miss Diana, namun tak jadi karena ku lihat Mia memanggilku dari atas dengan gerakan tangannya.


"Apa?" kataku tanpa suara, cuma melalui gerakan mulut. Mia tidak menjawab, hanya tangannya yang terus menyuruhku datang.


Aku bergegas naik ke atas, meninggalkan Ibu, Ben, dan Miss Diana di ruang keluarga. Penasaran dengan apa yang ingin disampaikannya.


"Kenapa?" tanya tidak sabar. Mia menarikku masuk ke kamar, dan langsung mengunci pintu kamar. Aku mengerutkan dahi melihatnya.


Mia duduk di ranjang, matanya menatapku tajam, "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya ketus.


Ah, aku paham. Mia pasti menuntut penjelasan atas panic attack-ku.


"Dua pengacau itu." jawabku jujur, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. Dia pasti tetap mengetahui semua hal tentangku meskipun aku tidak bercerita padanya.


Mia membulatkan matanya, tak percaya dengan jawaban bodoh yang terlontar dari bibirku, "Apalagi yang kau pikirkan? Bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali? Kau tidak perlu pertimbangan apapun untuk memilih salah satu dari mereka. Jawabannya sudah sangat jelas, kenapa kau harus membuang waktu untuk hal yang tidak penting dan membuatmu tertekan?"

__ADS_1


Aku berbaring, menatap langit-langit kamar, menyiapkan jawaban yang baik untuk menangkalnya, "Aku belum yakin dengannya. Aku tidak ingin mengalami hal yang sama seperti dulu, pengalaman membuatku harus lebih waspada." ucapku hati-hati. Kulirik Mia sedang menarik napas, kupikir jawabanku cukup melunakkannya.


"Kau tidak bisa terus hidup dengan mengingat masa lalumu, Panda! Apa kau belum melupakannya? Mau sampai kapan kau hidup seperti ini? Setidaknya ingat putramu, kau terlalu sibuk menghibur diri dengan bekerja seperti orang kerasukan disaat Ben membutuhkanmu, kenapa kau tidak memikirkannya? Apa kau berharap Ben akan mengerti kondisimu yang kau paksakan?" Aku salah, Mia tidak melunak sedikitpun. Aku benar-benar selesai kali ini. Mia akan menghancurkanku.


Aku menatap Mia dengan wajah memelas, "Bukan itu, aku hanya belum siap kalau harus memulai lagi..." Aku bangun, mengambil obat di laci meja riasku, dan sengaja membawanya kedepan Mia dengan sebotol air mineral.


"Kau mau meminumnya didepanku supaya aku mengasihanimu, kan? Jangan harap!"


Sial!!!


Mia melempar obatku ke kembali ke meja rias, lalu menatapku tajam, tatapannya itu, Ya, Tuhan! Aku bahkan bisa merasakan dadaku terbelah sekarang.


"Berhenti mengucapkan omong kosong! Ini bukan negeri dongeng, dan kau bukan cinderella, jangan mengharap pangeran datang dengan membawa pasangan sepatu kacamu yang fiktif! Sadarlah, Panda! Kau yang harus mencari kebahagiaanmu sendiri!"


"Jangan menunggu seseorang datang dan memberimu kebahagiaan, go get it! Never let yourself fall as low as you did all this time, you have to wake up!" Mia mulai meracau, ini akan panjang dan melelahkan. Gadis ini tidak akan berhenti sebelum berhasil membuka otakku dan menjajakan isinya satu persatu. Siapapun tidak akan sanggup melawan jika mulut pedangnya itu sudah mengoceh. Baiklah, aku hanya akan diam dan menyimak mata kuliah Kehidupan Percintaan kali ini.


"Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu! Kau pintar tapi bodoh. Kau pintar saat meminta bercerai dengan Nino dulu, tapi bodoh saat memilih ingin hidup dengan siapa kedepannya. Padahal jawabannya sudah sangat jelas. YOU DON'T DESERVE SOMEONE WHO COMES BACK, YOU DESERVE SOMEONE WHO NEVER LEAVES!"


Tuhan, tolong selamatkan aku! Bisakah aku pingsan sementara? Panic Attack! Ya, panic attack! Kau dimana? Ayo datang, aku butuh bantuanmu! Selamatkan aku dari manusia ini sebelum mulutnya semakin mencabik-cabikku.


"Jangan mengharapkan apapun dari Nino, dia bukan pasangan yang baik untukmu. Bukalah hatimu untuk orang lain, jangan memasang pagar melebihi tembok cina, kau tidak akan mampu melawan keajaiban dunia itu. Aku tidak peduli dengan siapapun kau akan berakhir, selama dia baik dan bukan Nino, aku akan senang. Jangan menyiksa dirimu terlalu lama, Ben membutuhkanmu disampingnya."

__ADS_1


Oh, Mia! Kau membuatku ingin menangis sekarang, kenapa adikku bisa berubah menjadi bijak begini? Apakah aku harus malu atau bangga? Persetan dengan malu, tentu saja aku bangga memilikinya. Aku menunggu kata-kata mutiaranya yang akan membuatku menangis, tapi belum keluar sedari tadi. Terlalu lama!


"Kau tahu, aku bukan tidak mau bekerja. Aku sangat ingin bekerja dan menikmati hidup sepertimu, tapi aku tidak sanggup saat harus melihat Ben bersama Ibu dan Miss Diana setiap hari, rasanya tidak akan sama untuk Ben meskipun aku yakin mereka bisa menjaganya dengan baik. Ben tetap membutuhkanmu dan Nino. Kalian sudah menyakitinya dengan perceraian, lalu sekarang kalian meninggalkannya dan sibuk dengan diri kalian masing masing."


Mia berhasil, aku menangis. Aku kalah dengan mulutnya. Aku tidak sanggup menahan sesak di dadaku lagi. Diingatkan tentang Ben membuat pertahananku runtuh seketika. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, rasa bersalah pada Ben menghantamku begitu keras.


"Dulu kalian sangat mengharapkannya, berusaha kemana-mana, saling mendukung dan menguatkan satu sama lain, sampai akhirnya Nino ketahuan berbohong dan selingkuh, kau memaafkannya. Lalu kedapatan lagi, kau menerimanya lagi, sampai akhirnya terakhir kali kau memutuskan untuk bercerai saat Ben sudah hadir menemani kalian."


"Aku tidak menyalahkanmu karena memaksa bercerai dengan Nino, tapi jangan egois lagi. Kau tidak bisa hanya memikirkan dirimu sendiri. Beginikah caramu memperlakukan anak yang kau inginkan dulu? Cukup menyakitinya dengan perceraian, jangan lagi menambah kesedihannya dengan menelantarkannya dengan orang lain. Keponakanku membutuhkanmu, Panda. Ben sangat membutuhkan Mommynya. Anak itu masih terlalu kecil jika harus merasakan akibat dari kesalahan kalian. Jangan menjadikan Ben sebagai pelampiasan, dia tidak bersalah."


Kata-kata Mia benar-benar menamparku. Aku baru sadar kalau aku sudah menyakiti putraku dengan begitu kejam. Keegoisanku untuk mengobati rasa sakit hatiku pada akhirnya membuatku melupakan Ben yang membutuhkan perhatian dariku. Apakah Ben masih bisa memaafkanku setelah ini? Aku semakin menjerit mengingat bagaimana tadi pagi dia menyuruhku tidur kembali, Ya, Tuhan! Ben, maafkan Mommy.


Aku menghambur ke pelukan Mia. Ku peluk erat adik perempuanku itu, aku menangis hebat. Ini pertama kalinya aku menangis seperti ini saat bersama Mia. Pikirannya jauh lebih dewasa dibandingkan diriku, dan aku selalu menganggapnya seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.


"Beginikah rasanya menjadi seorang kakak saat menenangkan adiknya menangis?" sindiran Mia sontak membuatku menarik diri dan memukul lengannya.


"YA, KAK!" jawabku ketus, Mia tersenyum, tak lama kami berdua tertawa bersama.


"Aku harus mulai dari mana?" aku meminta saran, sungguh aku tidak tahu harus melakukan apa dengan hidupku.


"Bagaimana kalau Sean?"

__ADS_1


***


__ADS_2