
Ketika kami sudah duduk di bistro dan pelayan datang, aku membiarkan Sean memilihkan makanan untukku. Sambil menatap Ben, aku tersenyum senang begitu mendengar dia memesan Quinoa Granola dan segelas cokelat panas impor dari prancis untukku sementara memilih ginger beef with soy sauce and honey untuk dirinya sendiri. Aku mendekatkan wajahku ke telinganya. "Kuharap rasanya benar-benar enak, karena kalau tidak, sia-sia saja kau keluar dengan dahi seperti itu." bisikku saat pelayan pergi.
Sean mengerdipkan mata genit. "Guaranteed." balasnya.
Aku kembali menghadap Ben dan memperhatikan wajahnya yang serius menatap layar tablet. Terbersit perasaan bersalah dalam hatiku ketika mengingat betapa banyak waktu yang telah kusia-siakan bersamanya. Aku sibuk dengan kegilaanku sementara dia butuh ditemani. Apa pun yang terjadi padaku, tidak seharusnya Ben menanggung sesuatu yang berat akibat semua kekacauan yang kulakukan.
Perceraianku saja sudah cukup menjadi beban untuknya, ditambah lagi aku sibuk mengurus diriku sendiri setelah itu, dan bahkan sampai sekarang saja aku masih belum bisa menjadi ibu yang baik baginya. Entah bagaimana aku harus menjawab semua pertanyaan yang akan dilontarkannya ketika dia dewasa nanti dan teringat masa kecilnya, yang jelas aku berharap dia akan mengerti saat itu.
"Mommy, look!" Aku terkesiap, membuyarkan lamunanku, menatap Ben lagi dan tersenyum padanya.
"What is it?" tanyaku dengan wajah pura-pura penasaran.
Ben menyodorkan layar tablet ke hadapanku, menunjukkan apa yang dilihatnya dan aku pun terkejut. "Wow!" seruku. "It's crashed." Lalu wajahku berubah ngeri dan dia tertawa.
"Ben, can you change it to another video? You scared me." gumamku lagi setelah beberapa saat melihat tontonannya. Dia sedang menonton video tiga dimensi sebuah mobil bertabrakan dengan kereta api yang membuatku sedikit takut.
Ben tertawa lagi. "Why? That's cool, Mom."
"No, baby. I don't like it." Aku melayangkan tatapan agak tajam padanya, menyatakan aku serius dengan ucapanku. Dia sempat mengerucutkan bibir, namun tetap mengganti tontonan itu pada akhirnya. "Good boy." sambungku, lalu mencium keningnya dan mengusap-usap lembut kepalanya.
Ketika pelayan muncul kembali, aku menyesap cokelat panas milikku. "Rasanya fantastis," gumamku pada Sean, memberi penilaian jujur. "Lidahmu memang luar biasa ahli."
"Oh, tentu saja." sahut Sean sambil menusuk daging dengan garpu lalu memasukkan ke mulutnya.
Aku menyantap makanan sejenis serealia di mangkukku, lalu menyeruput cokelat panasku lagi sampai pipiku terasa hangat. Kalau Quinoa Granola itu tidak terlalu membuatku terkejut dengan rasanya, tapi tidak dengan cokelat panas yang dipilihkan Sean untukku. Rasanya memang kuat dan tajam, sampai rasanya aku tidak ingin berhenti meminumnya. Selagi aku menyuapkan sesendok sereal ke mulutku, ponsel Sean berdering di saku celana jins nya.
Dia menunduk dan menariknya keluar dari saku, terlihat agak sedikit gugup namun langsung tenang saat panggilan telepon berhenti. Beberapa detik kemudian berbunyi lagi dan dia sontak menolak panggilan. Ketika dia menatapku, aku mengernyit. Bertanya dengan mataku sementara mulutku mengunyah makanan.
"Bukan siapa-siapa." katanya, tersenyum padaku.
Namun beberapa detik selanjutnya, kami semua menoleh ke samping saat dua orang wanita menyapa dan keduanya tidak kukenal sama sekali, tapi Sean tampak seperti mengenali mereka. Dengan senyum lebar, salah seorang wanita berambut pirang dan panjang itu berseru padanya. "Bunny?"
"Ternyata benar-benar kau. Kenapa tidak mengangkat teleponku? Aku hanya memastikan kalau itu benar-benar dirimu." sambungnya dengan semangat berlebih yang membuatku semakin curiga.
__ADS_1
Aku mengalihkan pandangan pada Ed, dan beruntung dia paham maksud tatapanku. Ed langsung berdiri mengajak Ibu dan Ben untuk melihat-lihat area sekitar restoran sementara Mia masih duduk di tempatnya. Ketika mereka benar-benar menjauh dari meja, aku beralih lagi pada dua wanita itu dan tersenyum meskipun aku tidak nyaman dengan kehadiran mereka. Entah kenapa aku mencium ada sesuatu yang tidak beres dari cara wanita itu menyapa Sean. Bunny? Bukankah itu semacam panggilan sayang?
Sean terdiam untuk beberapa saat, tidak mau membalas sapaan wanita itu. Ketika dia menolehku, aku mengusap punggungnya pelan, menyatakan kalau aku tidak keberatan. Kemudian dia bersuara. "Ash," Wanita itu tersenyum sambil menepuk lengan Sean dengan genit.
Aku merasa cemburu dan ingin sekali menggigit sesuatu. Aku meraih mangkuk Quinoa Granola-ku dan sayang sekali sarapan lezatku sudah habis. Aku menarik napas perlahan, dan sebagai gantinya menyesap sisa minumanku yang senikmat kejantanan Sean kuat-kuat.
Wanita yang bernama Ash itu tersenyum padaku. Aku berbohong kalau tidak mengatakan dia wanita yang luar biasa menarik. Rambut pirangnya yang alami sangat indah. Matanya yang abu-abu dan lembut sangat menggoda. "Aku Ashley, teman dekat Sean." gumamnya dengan aksen australia yang kental sambil mengulurkan tangan.
Aku tersenyum menyambut uluran tangannya, "Franda," kataku, berusaha santai. Kemudian tangannya berpindah pada Mia.
Dia kembali menatap Sean. "Omong-omong, bagaimana kabarmu, bunny?" Ashley membuka mulut dengan genit dan penuh semangat. Aku tidak tahu apa motivasinya memilin bibir dengan cara yang menggoda, namun aku yakin Sean adalah alasan terbesarnya. "Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi seperti ini. Aku merindukanmu." lanjutnya, menempelkan tangan di pundak Sean.
"Aku baik." sahut Sean singkat, menyunggingkan senyum tipis.
Kalau ada pelayan yang melintas di sampingku, aku tidak akan sungkan memesan satu gelas kristal berisi es batu lalu mengunyah batu dingin itu di dalam mulutku.
"Syukurlah. Kupikir kau sudah melupakan tempat ini." Ashley menelengkan wajah ke arahku. "Ini restoran favoritnya sejak dulu." dengkurnya lembut, dengan senyum yang tak hilang sedikitpun dari wajah cantiknya.
"Whoa," seruku, tercengang. Aku melirik sosok pria yang dia panggil bunny, dan pria itu sama sekali tak berkutik. Kalaupun dia menarikku ke dalam kamar saat ini dan melebarkan kedua kakiku, aku sudah terlanjur marah sekarang. "Benarkah?" Aku tersenyum pahit. "Kelihatannya kau tahu banyak tentang suamiku."
Aku mengernyit, sementara Ashley mengerang senang. "Ah, ya, dia Franda."
Aku masih kebingungan sementara teman Ashley itu mengulurkan tangan padaku. "Hai, Franda. Aku Celine."
"Hai," Aku menjabat uluran tangannya. "Senang bertemu denganmu, Celine." Lalu dia lanjut berkenalan dengan Mia.
Celine wanita manis dengan rambut cokelat sebahu. Aku bisa menebak kalau dia sahabat karib Ashley, dan tampaknya mereka sudah bersiap ingin menyerangku. "Kau istri mantan sahabatku, kan?"
Aku tersenyum, walaupun aku tidak mengerti mengapa Celine membawa-bawa masalah sahabatnya ke dalam percakapan kami. Tapi kemudian aku menemukan jawabannya. Celine berpaling dariku dan memandang Sean. "Whoa, Sean, kau tampaknya sudah bisa membuka hati, ya. Kupikir kau masih seperti katamu dulu kalau kau tidak akan bisa mencintai gadis lain selain Ashley,"
Aku terkejut, seakan baru saja mendengar sambaran petir. Aku meremas serbet di pahaku sebagai pertahanan, namun berikutnya harus mendengar pengumuman lain yang lebih menyakitkan sampai rasanya dadaku terasa ditusuk.
"Dan bukankah kalian masih berhubungan sampai sekarang?"
__ADS_1
Demi Tuhan, kalau kedua wanita ini terus berbicara, mereka akan menyaksikan air mataku mengalir di hadapan mereka sekarang. Akan tetapi Ashley nampaknya sudah cukup puas dengan pukulannya yang jahat itu. Apa pun ambisinya, matanya terlihat senang. "Celine, hentikan itu." cetusnya mengibaskan tangan. "Hubungan kami tidak seperti dulu lagi. Bukan begitu, bunny?"
"Sebaiknya kalian berdua memesan makanan, menu sarapan akan berganti menjadi makan siang sebentar lagi." gumam Sean dengan tenang walaupun suaranya bernada ketus. Aku tidak yakin dia memang setenang itu, tapi aku bersyukur karena dia telah mengusir kedua wanita itu dari hadapan kami.
"Ya, sampai jumpa lagi." balasku, saat Ashley berpamitan. Ya, kalau memang itu di perlukan, aku akan menemuinya di lain waktu dan menegaskan kalau dia tidak akan pernah mendapatkan Sean lagi.
Aku menunduk sepanjang waktu menunggu Ed, Ibu, dan Ben kembali. Berusaha menghindari untuk menatap Sean karena aku tahu dia sangat seksi dengan kaus berkerah dan tak dikancing itu. Wajahnya keras, nadi di lehernya keras, dan itu yang membuat jemari Ashley tersiksa ingin sekali menyentuh wajah dan tengkuk suamiku namun dengan menyedihkan harus ditahannya karena ada aku disini.
"Kau tidak perlu memikirkannya, Franda. Kau bisa melihat siapa yang duduk disampingku saat ini, dan nama siapa yang mereka lihat tadi di jidatku." gumam Sean, dengan suara rendah, dan bernada geli, dan perhatian yang selalu ditujukannya padaku untuk menggoda.
Sean terlalu nikmat... terlalu intim... terlalu pribadi... sampai aku benci sekali padanya saat ini karena kesempurnaannya yang sangat seksi dan jantan itu. Aku sakit hati tiap kali memikirkan wanita lain yang pernah bermalam dengannya, bercinta dengan panas.
Aku menyentak menyambarnya, membuat Mia juga ikut terhenyak dengan suaraku. "Persetan dengan namaku di jidatmu. Kau pasti pernah menuliskan namanya di kejantananmu yang besar sampai dia masih terbayang-bayang padamu, bunny." Aku sengaja menekan nada pada kata terakhir untuk menyindirnya.
"Franda," bentaknya, dengan suara tajam namun dikecilkan. "Kau sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau katakan."
"Katakan padaku, Sean." Aku mengangkat dagu, air mataku kurasakan jatuh di pipi. "Apakah semua itu benar? Apakah kau pernah mengatakan kalau kau tidak akan pernah mencintai wanita lain selain dia dan kau masih berhubungan dengannya?"
"Aku tidak mencintainya lagi, Franda. Dan dia hanya masa lalu."
Aku menelan ludah, napasku tercekat, semakin terbayang wajah Ashley saat dia menggoda Sean tadi. "Lalu, bukankah kau masih berhubungan dengannya? Aku menyaksikan betapa kau gugup saat melihatnya tadi, sialan! Apakah kau merindukannya? Kau menginginkan dia berada dibawahmu lagi? Kau ingin dia menghiburmu dengan tubuhnya yang membuatmu tergila-gila itu?" ujarku dengan api yang memenuhi mataku dan suaraku, aku tak peduli lagi pada Mia yang menegur dari kursi di seberangku dan pada orang-orang yang menatap ke arah kami.
"Franda," selanya, mengertakkan gigi. Embusan napasnya terasa panas walau masih ada jarak di antara kami. Dia marah, dia memang pantas marah karena aku sudah keterlaluan menuduhnya di depan umum, tapi, aku bersumpah kalau dadaku terasa pedih sekali karena aku sangat mencintainya dan rela melakukan apa pun untuk menjaganya tetap denganku. Aku mencintainya, aku sangat mencintainya sampai rasanya sakit begini.
"Ya, aku memang masih berhubungan dengannya." sambungnya. "Aku masih berhubungan karena aku tidak merasa perlu bermusuhan dengannya. Aku bukan remaja yang ketika putus dengan kekasih lantas memusuhinya. Sialan." Dia menyumpah gusar. "Lagi pula, bukankah selama ini aku selalu bersamamu? Berhubungan dengannya bukan berarti aku ingin melakukan seperti apa yang kau tuduhkan."
Sean meremas rambutnya dengan dua tangan. "Astaga, aku tidak menyangka kau akan mengatakan itu, Franda. Kau sama sekali tidak tahu apa yang terjadi antara aku dan Ashley di masa lalu. Kau tidak tahu bagaimana dia mencampakkanku lalu menjalin hubungan dengan temanku sendiri. Kau hanya berpikir kalau aku merindukannya tanpa tahu bagaimana aku merasa sakit saat melihatnya, aku sakit hati ketika melihatnya, Franda."
"Kau puas? Kau ingin mendengar banyak, kan?" Sean mendorong kursi ke belakang dengan keras. Dia memanggil pelayan dan membayar makanan. Dia melirikku sedetik dengan raut muram, lalu melengos pergi meninggalkanku dan Mia.
"Ya Tuhan, Sean," Air mataku mengalir deras.
Mia mendekatiku dan menempelkan kedua tangannya di bahuku. "Hei, tenanglah." katanya sambil meremas pelan bahuku.
__ADS_1
Aku mengusap air mata, lalu mengangkat wajah dan langsung berdiri ketika Ed, Ibu, dan Ben mendekat.