
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu kamar mengganggu Franda dan Nino yang tengah berdebat tentang pekerjaan Franda. Nino berjalan, memutar kenop dan melongokkan kepalanya. Terlihat Sora yang berdiri menunduk.
"Ada apa?" tanya Nino.
"Maaf, Pak. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Bapak dan Ibu." ucap sora dengan gugup, jarinya meremas ujung t-shirt abu-abunya.
"Apakah penting? Istriku baru saja pulang dari rumah sakit," kata Nino.
Sora memberanikan diri menatap majikannya, "Iya, Pak! Ini penting. Bisakah saya meminta waktu sebentar?"
Nino mengangguk, lalu membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan Sora masuk. Sora berjalan pelan mengikuti majikannya, jantungnya serasa akan meledak didalam sana. Rasa takut begitu menguasai dirinya.
"Sora, ada apa?" tanya Franda, Ia dengan jelas melihat raut wajah ketakutan gadis 19 tahun itu.
Cukup lama Sora terdiam, tak tahu harus memulai dari mana. Ia tidak siap menghadapi kemarahan kedua majikannya saat mereka mengetahui perbuatannya. Sora duduk berlutut di tepi ranjang dengan tangan gemetar.
Franda dan Nino tentu saja kaget melihat asisten rumah tangganya yang berlutut itu, "Apa yang kau lakukan? Berdiri!" bentak Franda.
Sora menggeleng, tetap bertahan dengan posisi berlututnya.
"Berdiri!" gantian Nino yang membentak, suaranya yang keras sontak membuat Sora terlonjak.
"Maaf, Pak, Bu. Saya mau minta maaf..." ucap Sora terbata-bata.
"Kenapa minta maaf?" tanya Franda, melirik suaminya dan memberi kode agar menyuruh gadis itu berdiri, Ia sangat tidak nyaman berada di situasi seperti ini. Melihat orang berlutut padanya bukanlah hal yang menyenangkan.
"Berdirilah, duduk disini!" kata Nino seraya mendekatkan kursi dari meja rias Franda.
Sora menurut, Ia duduk dengan tangan tetap gemetar, kepalanya terus menunduk, tidak berani beradu pandang dengan kedua majikannya.
"Katakan ada apa, apa yang kau lakukan?" ucap Nino.
__ADS_1
"Saya... Ini mengenai jam tangan yang ada di meja TV, Pak." jawab Sora terbata-bata.
Alis Franda menyatu, "Jam tangan? Kenapa dengan jam itu?"
"Saya minta maaf, Bu. Jam itu... Saya yang memindahkannya..." jawab Sora dengan gugup, suaranya terdengar seperti seaeorang yang sedang menahan tangis.
Franda ingin mendekat dan menenangkan gadis itu, namun tidak bisa karena bekas luka operasinya yang masih sakit menghalanginya.
"Sora, tenanglah... Katakan ada apa? Bukankah jam itu baik-baik saja, kenapa kau ketakutan begitu? Memangnya kenapa kalau kau memindahkannya?" ucap Franda lembut, Nino yang duduk disampingnya hanya diam dan menyimak percakapan mereka.
Dengan perlahan Sora menjelaskan kejadian saat Ia mengambil jam dari kamar Franda dan berniat menjualnya, namun dihentikan oleh Miss Diana yang saat itu memergoki aksinya. Air matanya mengalir deras saat berbicara, menyesali perbuatan bodohnya.
"Saya minta maaf, Pak, Bu. Saya benar-benar menyesakinya." ucap Sora menutup penjelasannya.
Franda dan Nino menghela napas bersamaan, kemudian saling melemparkan pandangan satu sama lain.
"Kenapa kau melakukannya?" Nino akhirnya bersuara, sejak beberapa saat lalu hanya diam dan mendengarkan.
"Ibu saya sedang sakit, Pak. Kami membutuhkan biaya lebih untuk pengobatannya. Saya minta maaf, tolong maafkan saya, Pak. Saya akan berhenti bekerja disini."
Sora menggeleng lemah.
"Tetap bekerja disini, dan jangan mengulangi perbuatanmu. Aku akan mengurus biaya pengobatan Ibumu." ucap Nino tegas.
Sora mendongak seketika, tak percaya dengan ucapan majikannya. Ia menatap Franda dan Nino bergantian.
"Tapi, Pak..."
"Sudah dengar apa yang dikatakan suamiku? Sekarang kembali bekerja, jangan pikirkan masalah Ibumu, biar suamiku yang mengurusnya." kata Franda sambil tersenyum.
Sora mengangguk cepat, Ia mendengar ucapan Nino dengan jelas, namun terlalu shock untuk percaya pada apa yang didengarnya. Reaksi kedua majikannya sungguh jauh dari perkiraannya. Tidak dipecat dan usir keluar saja sudah baik, Nino dan Franda justru menambah dengan membantu biaya pengobatan Ibunya. Sungguh, terbuat dari apa hati dua manusia dihadapannya itu!
***
__ADS_1
Hari demi hari berlalu, kehidupan terus berjalan dengan baik. Tak terasa Ben, bayi yang tadinya begitu mungil saat dilahirkan, kini menjelma menjadi bayi menggemaskan dengan tubuh gempalnya. Di usianya yang memasuki 8 bulan, bayi itu sudah aktif bergerak kesana-sini, mengacaukan apapun yang ada dihadapannya.
Kehadirannya benar-benar menyempurnakan kehidupan di rumah mereka, menghilangkan mendung yang bergelayut manja selama 8 tahun pernikahan Franda dan Nino, menghapus dahaga yang tertahan selama ini. Mengeluarkan semangat yang lebih bergelora bagi sang Daddy untuk bekerja lebih keras lagi.
Franda belum kembali aktif di butiknya, hanya sesekali mengecek langsung kinerja karyawannya, kelahiran Ben benar-benar membuat wanita itu tidak memiliki ruang untuk bersantai sedikitpun. Urusan butik tetap Ia percayakan pada Dhea, asistennya yang selama ini tidak pernah mengecewakannya. Bahkan, kini bisnisnya semakin berkembang meski tanpa campur tangan langsung darinya. Dhea, wanita itu sungguh luar biasa.
Franda meraih ponselnya yang berdering disofa, nama Dhea tertera disana, "Ya, bagaimana?" tanya Franda, sebelumnya Dhea mengirim pesan padanya bahwa ada seorang pelanggan yang ingin memesan jas, namun harus Franda langsung yang melayaninya.
"Tidak bisa, dia tetap meminta kau yang mengurusnya." jawab Dhea diujung sana, tangannya sibuk mengecek beberapa gaun yang harus dikirim hari ini ke pemiliknya.
"Kenapa harus aku, sih? Ibuku sedang tidak dirumah, tidak ada yang menjaga anakku." jelas Franda. "Jam berapa dan dimana?" lanjutnya bertanya.
"Hmm, sebentar." Dhea tampak membuka email melalui laptop dihadapannya. "Jam 3 sore, di kantornya, Warner Enterprise." jawab Dhea.
"Masih ada waktu 4 jam dari sekarang, aku akan menghubungi mertuaku sebentar, ku kabari lagi nanti." Franda langsung mematikan sambungan ponselnya dengan Dhea, berganti menghubungi Mama mertuanya.
"Ya, Sayang?" jawab Mama Rossa tepat pada saat dering pertama.
"Ma, sedang sibuk?" tanya Franda.
"Tidak, kenapa?"
"Aku harus bertemu klien jam 3 sore, Ibu sedang berada dirumah lama dengan Edward, bisakah Mama menemani Ben sebentar?"
"Ya, tapi tidak ada yang mengantar Mama kesana, Papa sedang diluar." jawab Mama Rossa, wanita tua itu tengah bersantai sambil membaca buku di ruang keluarga.
"Aku akan menyuruh Dika menjemput Mama dirumah"
"Ya sudah, kalau begitu Mama bersiap sebentar."
"Terimakasih, Ma." jawab Franda.
Masalahnya selesai, Ia mengirim pesan pada Dhea bahwa dirinya akan bertemu dengan klien itu hari ini dan meminta Dhea ikut menemani, sekarang Ia harus bersiap untuk menemui kliennya.
__ADS_1
Ia bertanya-tanya siapa yang meminta pelayanan khusus seperti itu, Warner Enterprise merupakan perusahaan besar yang bergerak di bisang properti, *f*ashion, dan elektronik, namun tidak banyak masyarakat biasa yang tahu tentang pemiliknya.