Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Panic Attack


__ADS_3

Aku masuk ke unit apartemenku yang sudah sepi, dan langsung menuju ke kamarku. Kutatap Ben, putraku, sedang meringkuk di baby crib-nya yang mulai terlihat mengecil karena tubuhnya yang semakin besar, anak itu benar-benar tumbuh dengan baik. Wajah damainya yang tertidur mampu menghilangkan lelah yang kurasakan sejak tadi. Sungguh ajaib!


Aku melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebentar, lalu duduk di meja riasku untuk memoles krim malam produk skincare hasil perawatan di klinik kecantikan yang baru ku dapatkan beberapa hari lalu. Penampilan sekarang menjadi lebih penting bagiku, karena itu salah satu modalku untuk menarik pelanggan agar mempercayakan penampilan mereka pada butikku.


Aku berjalan menuju ranjang queen size yang menemaniku selama setahun belakangan, tidak perlu ranjang yang besar karena aku hanya sendiri, berbeda jika aku menikah dan bersuami, sudah pasti aku memerlukan ranjang yang lebih besar untuk ber-smackdown ria. Smackdown? Astaga!


Aku menyalakan lilin aromaterapi rekomendasi Mia yang katanya bisa membantu membantu menghilangkan stres dan membuat tidur lebih nyenyak, aku tidak terlalu merasakannya, tapi tetap ku gunakan karena aku menyukai aromanya.


"Oh, sangat menenangkan!"


Aku berbaring telentang, ingatanku kembali pada dua pengacau tadi. Ah, mereka selalu berhasil membuat hariku memburuk dengan cepat. Tak pernah seharipun aku lewati tanpa kehadiran mereka berdua, salah satu atau bahkan keduanya selalu saja datang tanpa ku minta.


Nino, jika saja dia bukan Daddy untuk putraku, pasti aku sudah melemparnya ke lautan dan membiarkannya tenggelam dari dulu, dia selamat karena ada Ben diantara kami. Aku benar-benar tidak nyaman dengan kehadirannya yang terus mengusikku dengan rengekan unfaedah yang keluar dari mulutnya.


Sementara Sean, entahlah. Sekeras apapun aku mengusirnya, dia tidak pernah sakit hati dan balik kanan meninggalkanku, justru semakin menempel erat seperti perangko pada amplop surat, mengisahkan betapa setianya dia menungguku selama bertahun-tahun. Who cares? I mean, aku tidak pernah memintanya menungguku. Kenapa aku harus repot-repot membalas perasaannya sekarang?


Aku tidak tahu berapa lama pikiranku mengembara pada dua trouble maker itu sampai akhirnya tertidur. Aku terbangun saat mendengar suara tangisan Ben yang melengking, dengan malas aku bangkit dan turun dari ranjang.


"I'm coming, Ben!" kataku sambil menguap, mataku bahkan belum terbuka sempurna. Kuraih Ben dan membawanya kedalam gendonganku, kami berdua turun untuk membuat susu didapur.


"Mommy!" suara Ben yang menggemaskan membuatku tersenyum, kucium pipi chubby-nya sambil berjalan kebawah.


"Ya, you'll get your milk soon! You excited?" tanyaku, ku sentuh hidungnya dengan telunjukku. Anak itu tertawa, dia langsung melupakan tangisannya tadi setelah mendengar kata milk.

__ADS_1


Aku membawa Ben kembali ke kamar dan membaringkannya diranjang, lalu ku berikan botol susu padanya dan langsung ditangkapnya dengan cepat. Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 3.25 pagi, ku putuskan untuk tidak menaruhnya kembali ke baby crib, aku ingin tidur dengan memeluknya, kami berdua tertidur setelah aku mengganti popoknya yang mulai penuh.


Pukulan kecil diwajahku membuatku terbangun, aku menggeliat, membuka sedikit mataku, kulihat tangan kecil Ben sedang mengacak-acak wajahku, dia sengaja melakukannya untuk membuatku membuka mata.


"I need more sleep, Ben." aku memohon pengertian padanya. Bukannya mengerti dan mengijinkanku melanjutkan tidur, dia justru duduk diwajahku sekarang. Ah, anak ini!


"Mommy!" katanya sambil menghempaskan bokong berlapis popoknya ke wajahku. Mau tidak mau aku membuka mata dan menariknya ke dalam pelukan.


"Mommy masih mengantuk, Ben. Bisakah Mommy tidur sebentar lagi? Please..." aku memohon lagi, menunjukkan wajah memelas yang sengaja kubuat sesedih mungkin.


Berhasil.


Dia menyentuh kedua mataku, memberi kode agar aku tidur kembali. Tingkahnya bukan membuatku tertidur, aku justru menghujani pipinya dengan ciuman dan kami tertawa bersama. Ya, Tuhan! Betapa bahagianya aku memiliki putra seperti Ben! Aku tidak bisa membayangkan akan sehebat apa dia saat dewasa nanti jika masih bayi saja sudah pengertian begini.


Aku baru akan melangkahkan kaki saat merasakan ada sesuatu yang salah pada tubuhku.


"Oh, ****! It's coming!" Aku duduk kembali di ranjang, rasa sesak mulai menyerang dadaku.


"Miaaaa!" Aku berteriak sekeras yang bisa ku lakukan, otakku sungguh tidak bisa berpikir dengan baik. Satu-satunya yang ku khawatirkan adalah Ben, harus ada yang menjaganya sekarang sebelum dia terjatuh dari ranjang.


Mia tidak datang, ini terlalu lama! Keringat mulai keluar di sekujur tubuhku, rasa pusing dan sesah semakin menyiksa. Oh, aku sungguh tidak tahan. Ini lebih parah dari sebelumnya, lebih menyakitkan dan menyiksa. Dengan susah payah aku mengatur napas, namun sulit sekali, tenggorokanku seakan tersumpal sesuatu. Aku benar-benar yakin aku akan mati sekarang.


"Miaaa..." Aku mencoba berteriak lagi, tanganku kini mati rasa, aku benar-benar tidak bisa merasakan apapun sekarang. Tolong, siapa saja, tolong datang! Aku tidak sanggup lagi! Seluruh otot-otot di tubuhku sangat sakit, aku merasa ada yang menghantam perutku berkali-kali, tanpa kusadari aku merosot dan jatuh dari ranjang.

__ADS_1


Aku bersyukur saat Mia membuka pintu dan masuk ke kamar, setidaknya Ben selamat, pikirku. Ku lihat Mia yang shock melihat keadaanku, entah seperti apa aku sekarang, yang jelas sangat tidak baik.


"Panda, breath... breath... keep breathing...!" kata Mia mengarahkan. Aku mengikutinya, namun sulit, sangat sulit.


"I can't breath... Mia, I can't breath!" kataku terputus-putus. Aku mulai ketakutan, otakku tidak sanggup lagi mencerna apapun, apakah aku akan mati? Aku tidak ingin mati sekarang!


"Mia, aku takut... Aku tidak bisa bernapas..."


"Just breath, ayo lakukan lagi, atur napasmu, Panda. It's okay, you can do it! Nobody's here about us two... " Aku jelas mendengar Mia mengatakannya, namun lagi-lagi aku kesulitan melakukannya.


Seluruh tubuhku terus gemetar dengan keringat yang semakin membanjiri. Sekuat tenaga aku menahan rasa sesak, pusing, mual, dan leherku yang tercekik, hingga perlahan aku bisa merasakan napasku kembali. Aku tidak tahu berapa lama aku mengalaminya, tapi hari ini adalah yang terparah dalam sejarah panic attack-ku.


"Keep breathing, tidak ada siapapun disini. Hanya aku dan kau.... Atur napasmu, aku disini bersamamu..." Aku merasakan Mia mengusap dadaku berulangkali.


Jangan bertanya kenapa Mia tidak memanggil Ibu, karena aku yang memintanya. Aku tidak ingin Ibu melihatku saat aku seperti orang yang sekarat. Aku dan Mia sebisa mungkin menutupi ini dari Ibu jika aku mengalaminya dirumah. Pernah beberapa kali Ibu melihatku, namun tidak separah hari ini, dan aku bisa melewatinya dengan baik.


Panic attack-ku tidak selalu menyakitkan begini, terkadang aku hanya pusing dan gemetar, pernah juga sekedar gelisah, atau menggigil, sungguh tidak ada yang mengenakkan satupun, tapi aku lebih memilih yang sebelumnya dibanding hari ini. Aku cukup beruntung tidak mengalaminya saat aku menyetir, entah apa yang akan terjadi.


"Are you ok now?" suara Mia menyadarkanku, aku masih terduduk di lantai, bersandar pada ranjang.


Aku menatapnya dan Ben yang berada di gendongannya, aku tidak tahu kapan dia menggendong Ben. "Much better!" jawabku lemas, jantungku masih berdebar kencang dan tubuhku juga masih gemetar, meskipun tidak sehebat tadi.


Dengan perlahan Mia membantuku naik ke ranjang, dan menutup tubuhku dengan selimut.

__ADS_1


"Aku akan membawa Ben ke bawah."


__ADS_2