
No comment, no update!
So, kalau penasaran silahkan komen😜
Saya akan update setelah komen masuk😘
***
Aku dan Sean baru saja turun dari mobil dan kami sudah berada di depan gedung Warner Enterprise. Sean turun pertama, aku mengikutinya setelah Ameer, supir yang mengantar kami, membuka pintu di sisiku, "Mrs. Warner." katanya, dengan senyum, mempersilahkanku turun. Aku mengangguk dan membalas tersenyum sebagai ucapan terimakasihku.
Aku sedikit lelah karena penerbangan berjam-jam kami juga diisi dengan satu sesi percintaan panjang di dalam kabin yang di rancang khusus sebagai kamar pribadi. Diriku tak kuasa menahan godaan untuk tidak bercinta dengannya sementara tatapan mata dan gerak-geriknya terus mengundangku. Aku langsung menyerangnya dengan ganas dan tak tahu malu. Franda, kau benar-benar sudah seperti ja-lang!
Aku tidak peduli apakah Sean pernah membawa seorang wanita kesana, yang terpenting mulai sekarang akulah yang akan berada disana setiap saat Sean bepergian menggunakan jet super ekslusif itu. Jeritanku yang akan memenuhi ruangan kecil itu kala Sean menghujamku tanpa ampun dengan bagian tubuhnya yang besar dan nikmat.
Sean menautkan jemarinya padaku dengan posesif, mengumumkan pada semua orang bahwa aku miliknya. Tentu saja aku bahagia diperlakukan seperti ratu begitu, belum lagi tatapan orang-orang yang menunduk saat melihat kami. Membuatku lebih merasa dihormati. Bukan bermaksud sombong atau gila hormat, aku hanya bangga dengan suamiku yang menunjukkan betapa besar pengaruhnya pada mereka. Aku ingat dengan jelas tatapan mereka yang menelanjangiku saat pertama kali Sean menggandengku kesini, seolah-olah aku adalah wanita yang mengincar harta kekayaan bos mereka.
__ADS_1
Langkah kaki Sean berderap kecil mengimbangi langkahku yang berada disampingnya merupakan salah satu perhatian yang ditunjukannya padaku. Entah kenapa aku menyukai hal itu, suamiku seakan mengerti apa yang kuinginkan tanpa perlu aku mengatakannya. "Carla sudah datang?" aku tersentak mendengar pertanyaannya pada Selena, sekretarisnya, ketika langkah kami terhenti tepat di depan meja wanita anggun yang bertubuh bak model itu.
Selena mengangguk halus, anggukan kecilnya membuat rambut hitamnya yang tergerai lurus menimbulkan goyangan yang membuatnya lebih menarik lagi. Aku belum terlalu mengenal Selena, karena pertemuan kami yang selalu singkat hanya terjadi beberapa kali sejak aku pertama menginjakkan kaki ketempat ini bersama Dhea dulu. "Yes, Sir. Mrs. Darmawan sudah menunggu di dalam." jawabnya dengan suara yang serak-serak basah, semakin menambah keseksian yang melekat padanya.
Selena mengalihkan tatapannya padaku dan tersenyum, "Mrs. Warner, senang bertemu Anda kembali." tangannya terulur untuk menyalamiku. Jemarinya yang lentik dan halus begitu menggoda. Aku yakin tak seorang pun pria yang mampu menolak pesonanya, kecuali suamiku tentunya. Kepercayaan diriku semakin meningkat saat melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.
Aku menyambut uluran tangannya, kepalaku mengangguk dan bibirku terangkat, "Terimakasih, Selena. Senang bertemu denganmu juga." balasku dengan tulus. Aku berharap bisa mengenalnya lebih jauh dan berteman dengannya. Selena sepertinya sosok yang cukup baik dan menyenangkan untuk dijadikan teman. Dan mungkin, aku bisa meminta bantuannya untuk menyingkirkan sekumpulan personil ulat nangka yang mencoba mengganggu suamiku yang tampan. Terutama wanita yang berada di ruangannya sekarang. Carla.
Sean menarikku masuk ke dalam ruangannya. Mataku langsung menangkap punggung seorang wanita yang duduk membelakangi kami dikursi yang berhadapan dengan kursi kebesaran suamiku. Dia pasti menyadari kedatangan kami dan saat Carla berbalik, jelas terlihat dia terkejut dengan kehadiranku yang sudah tentu tak diharapkannya. Ekspresinya semakin membuatku semakin yakin dia adalah salah satu personil ulat nangka yang sedang beraksi. Tunggu saja, Carla!
Aku berjalan dengan anggun mengikuti Sean, dan berdiri memegang pundaknya saat dia mendaratkan bokongnya dikursi kebesarannya. Tatapan mata Carla begitu tajam padaku, namun berubah dengan cepat saat dia beradu pandang dengan suamiku, "Maaf menggangu acara kalian, tapi ini benar-benar darurat." dengkurnya. Tapi nada bicaranya tidak seperti merasa bersalah sama sekali, justru terdengar senang karena berhasil mengganggu bulan madu kami yang baru berjalan beberapa jam kemarin. Beruntung kami sempat bercinta dengan panas dan gila-gilaan.
"Ada apa sebenarnya?" aku berpaling pada suamiku sembari tanganku meletakkan shopper bag Dior-ku diatas meja. Sean menangkupkan tangan kirinya diatas tanganku yang memegang pundaknya, mengelusku dengan lembut. Kemudian aku memindahkan tangan kananku ke bahunya yang lain, berupaya menunjukkan posisiku dihadapan Carla, si ulat pinang itu. Sean mendongak, mengedipkan matanya sombong. Aku tahu dia paham dengan sikapku yang sedang mengklaim dirinya dihadapan Carla.
Carla melirikku sebentar, lalu jemarinya memutar sebuah map yang berada dimeja dan menyodorkannya pada Sean dengan cara yang dibuat seanggun mungkin. "Penggelapan dana oleh manajer Exposure Building. Jumlahnya fantastis, aku minta maaf karena melewatkannya." kali ini Carla terdengar lebih tulus. Aku berusaha menyimak meskipun ekor mataku tetap awas pada Carla. Aku bisa merasakan dia menatapku tajam, seakan ingin mengoyak tubuhku dengan tatapannya.
__ADS_1
Sean membuka map yang diberikan Carla dan membaca isinya. Tak satupun isi dari map itu yang bisa kupahami, kecuali angka-angka yang menunjukkan nilai uang. Kudengar Sean berdecak sambil membuka lembaran-lembaran map ditangannya. "Berapa total kerugiannya?" tanya Sean tanpa mengalihkan pandangan. Suamiku terlihat berusaha tenang.
Aku berpaling pada Carla. Dia mendesah, kepalanya menunduk dengan tangan yang saling bertaut dipangkuannya. Dia melirikku sekali lagi sebelum menjawab Sean, "18M, belum termasuk beberapa pembayaran sewa kontrak perkantoran. Kalau ditotal, seluruhnya bisa mencapai 30M lebih." mata dan mulutku membulat serentak, beruntung aku langsung tersadar saat Sean melempar kasar map ditangannya ke meja. Kalau tidak, aku yakin liurku akan segera menetes.
Sean terlihat benar-benar marah, ekspresi tenang yang dipertahankannya beberapa saat lalu lenyap. Sean mengumpat keras, selanjutnya dia menekan tombol pada telepon untuk menghubungi sekretarisnya. "Katakan pada Dave untuk menemuiku di ruang meeting." katanya dengan suara gemetar. Aku tahu suamiku sedang berusaha menahan amarahnya didepanku. Saat Sean berdiri, aku langsung memeluknya. Dia balas memelukku, bahkan pelukannya lebih kencang dan erat, nyaris membuatku takut. Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun yang pasti, orang yang membangkitkan kemarahannya tidak akan selamat begitu saja.
"Kau ingin naik atau menunggu disini? Aku bisa meminta Selena mengantarmu kalau kau ingin istirahat." katanya setelah pelukan kami terlepas. Sean bertanya alih-alih memberi perintah, membuatku merasa lebih dihargai sebagai istrinya.
Aku menatap Sean, matanya yang selalu teduh dan menghanyutkan kini berubah gelap. Kemarahannya tidak tertutupi dengan baik sekalipun dia berbicara dengan lembut, aku bisa melihat ledakan yang sebentar lagi akan terjadi pada salah satu ruangan digedung ini. Aku tersenyum, kutangkup wajahnya dengan kedua tangan, "Aku akan menunggumu disini, kita naik bersama nanti." ucapku pelan. Aku tidak akan meninggalkannya sendirian dalam keadaan seperti ini, suamiku pasti membutuhkan keberadaanku disampingnya untuk menghiburnya. Aku ingin dia percaya padaku bahwa aku akan selalu bersamanya.
Sean memelukku sekali lagi, helaan napas kasar terdengar dari mulutnya. "Baiklah, aku akan menyelesaikannya dengan cepat."
Sebelum suamiku benar-benar pergi, kulihat Carla berdiri, "Sean..." lirihnya, lalu tersenyum indah, lagi-lagi dia menggoda suamiku, bahkan disaat yang tidak pantas. "Semuanya akan baik-baik saja." Sean mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya dariku.
***
__ADS_1
Komen, komen, komen!
Gak ada komen, gak update😜