
Aku terbangun saat matahari menjulang tinggi, aku masih bisa merasakan tubuhku berdengung panas. Aku lemas, namun merasa dibutuhkan. Suamiku menghabisiku tanpa ampun, membuatku tidak berdaya. Sean benar-benar berhasil meremukkan tulangku. Aku hanya mampu bernapas dan merasakan gelombang yang datang berulang-ulang menyerbu tubuhku.
Aku tak sanggup melawan, satu-satunya yang dapat menolongku adalah puncakku sendiri yang membuatku berteriak lirih, menyebut nama Sean berkali-kali sementara tanganku sibuk meminta bantuan pada sprei dan tepian ranjang.
Bayangan kegiatan semalam membuat jantungku berdebar, hanya dengan membayangkannya saja berhasil menggetarkan tubuhku. Aku tidak sanggup membayangkan hari-hari kami berikutnya, hari ketika dia hadir dan menyerbuku, sudah pasti aku berteriak putus asa menyambut rentetan pelepasan hebat yang mengguncang sekujur tubuhku.
Sean masih berbaring memelukku, tak membiarkanku lepas dari lengannya yang kokoh. Aku mengamati wajahnya yang tampan dan dipenuhi kasih sayang, dan kini aku senang bisa memperhatikan wajah ini dari jarak dekat. Ada kerutan disekitar kening dan matanya, garisnya tegas, dan kilat dimatanya memperingatkan kepada siapa saja bahwa dia mempunyai tekad yang kuat dan tenaga yang besar.
Aku memberanikan diri mengangkat tanganku, membelai wajahnya yang yang membuatku kagum dan gemas. Ujung jariku menari diseluruh wajahnya, kumulai dari keningnya, berlanjut ke alis mata tebalnya, lalu hidung pinokionya, kemudian bibirnya yang seksi dan selalu memuaskan, hingga berakhir dirahangnya yang tegas. Aku baru menyadari suamiku begitu tampan, penyesalan datang karena aku menyia-nyiakan kesempatan ini sejak sebulan lalu.
Bibirku terangkat naik saat kulihat dia menggeliat, tidurnya terganggu oleh telunjukku yang lancang menjelajah wajahnya, jantungku kembali berdegup kencang ketika bertatapan dengan mata biru laut itu. Ya, Tuhan! Dia sungguh mampu menenggelamkanku kedalam dirinya sekarang.
Sean menarik wajahku agar menghilang diceruk lehernya, tentu dengan senang hati kusambut dengan menghirup dalam-dalam aroma citrus yang masih tersisa bercampur keringat hasil pertempuran kami semalam. Kulabuhkan beberapa kecupan dilehernya sebagai bentuk syukur karena dia bersedia menungguku dan tetap berada disampingku selama belasan tahun lamanya meski tanpa kutahu. "Sean, terimakasih untuk cintamu yang luar biasa. Aku pasti akan membalasmu, aku ingin mencintaimu sedalam yang kau berikan padaku. Sungguh, aku ingin merasakannya, Sean..."
Kurasakan kecupan Sean dikepalaku, aku begitu berbunga-bunga, tidak pernah aku merasa dicintai sedalam ini, meski pernikahanku bertahan selama 9 tahun dulu. Sean berbeda, pria ini tangguh, aku yakin aku rela menyerahkan diriku agar dibantai olehnya lagi, aku akan menyambut keganasannya dalam mencintaiku, membalasnya dengan rintihan kenikmatan yang memabukkan.
"Aku mencintaimu, tidak peduli siapa kau kemarin. Aku hanya akan mencintaimu untuk masa depan, kau selalu duduk disinggasanamu dalam hatiku, tidak pernah beranjak sedikitpun meski ratusan wanita datang dan berusaha mengusirmu. Mereka kalah dengan pesonamu, Franda. Astaga, bagaimana caraku mengatakannya, kau sungguh menakjubkan!"
__ADS_1
Aku meleleh, seperti eskrim dibawah terik matahari, tak berdaya melawan panas yang menguap melalui ucapannya. Aku mendongak, menantang diriku untuk menatap mata birunya yang menyala, aku tidak sanggup, Tuhan... Kumajukan kepalaku untuk menggapai bibirnya yang manis, tubuhku mulai gemetar saat dia menyambutku dengan balasan yang pantas kuterima, Sean membiarkanku menjelajah mulutnya, memberiku kesempatan untuk menyesap setiap rasa manis disana. Aku kalah lagi, aku tidak kuat menahan diriku, Sean begitu lihai, "Aku ingin mengulanginya, tulangku belum hancur semua..." lirihku disela-sela ciuman kami sambil tersenyum genit, merayunya agar mengulangi perbuatannya yang menyiksaku dalam kenikmatan sepanjang tadi malam.
Sean tidak menjawab dengan ucapan, melainkan dengan perbuatannya yang memanjakan dan membuatku melayang. Aku seperti ratu yang begitu dihormati, setiap sentuhannya yang memuja, memaksaku untuk mendamba, menginginkannya berbuat lebih jauh, menerbangkanku melintasi langit ketujuh. Mengambang disana bersama kenikmatan yang menjalari sekujur tubuhku, menggelitik saraf-saraf yang membangkitkan gairah. Sean, pria ini sungguh memabukkan!
Aku kalah, tak tahan dengan godaannya. Kuhentikan gerakan tangannya yang nakal menyiksaku, kini giliranku yang akan menyiksanya. Aku menumpang diatas tubuhnya kekarnya, dingin yang dihasilkan AC ruangan tak membuatku menggigil sama sekali, aku merasa panas. Aku menyentuh Sean, benar-benar menyentuhnya, membelaikan tanganku didadanya dan bermain pada puncak dadanya, sampai dia tersenyum dan mengerdip. Senyum kekanakan karena aku menggodanya, tapi juga nakal karena dia tahu aku menginginkannya.
"Kau adalah wanita yang membuatku tetap hidup untuk merasakan panas ini, Franda..." ucapnya tiba-tiba. Aku tak tahu lagi bagaimana menenangkan dadaku yang berdebar karena terpikat padanya. Aku hanya menunduk malu sambil terus mengusap kulitnya yang kencang serta ototnya yang keras dan menggugah.
Sean sungguh-sungguh menyerah, menyerah pada sentuhanku, bibirnya yang seksi mengeluarkan erangan halus dan serak, membuatku semakin bersemangat. Ketika aku sudah merasa sangat tak tahan karena darahku sudah terbakar dan dadaku membusung penuh gelora, aku menggoda tubuhnya yang luar biasa lagi dengan bokongku.
Aku tersenyum genit melihat matanya yang sayu, "Menggoda dan merayumu. Persis seperti yang kau lakukan."
"Lalu, apa yang kau terima?" katanya lagi.
"Dirimu dan seluruh cintamu."
Jawabanku serta merta membuatnya lebih panas dan gelisah, lantas sebelah tangannya terulur mencari tubuhnya yang bergairah, sementara tangannya yang lain mencengkeram pinggulku erat saat dia bergerak mencari sudut yang tepat untuk menyenangkanku. Aku menggodanya lagi dan akhirnya dengan satu sentakan kuat keatas, dia membuatku memejamkan mata, menaikkan kepala untuk menyambut pembuktian cintanya, "Terimalah semuanya, Franda! Terima itu..."
__ADS_1
Aku kehilangan arah dengan tubuh yang berayun hebat dalam sebuah nyanyian yang penuh cinta. Nyanyian yang sangat indah dari sepasang suami-istri yang saling menghibur, dan setiap suara yang terdengar menyatakan bahwa segala yang kami rasakan begitu nikmat. Kukuku bahkan menancap didadanya, dan suamiku harus meringis tersiksa oleh remasan yang ada. Aku meremasnya dengan erat dan hangat, sementara dia menghujamku dengan keras dan nikmat.
"Rayu aku, Franda. Rayu aku selamanya seperti ini, Sayang..."
"Remukkan tulang-tulangku, Sean... Buat aku meringkuk diranjang ini seharian... Kumohon, aku ingin merasakan ini sampai mati. Ah, Sean..."
Sean sungguh menggetarkan seluruh tubuh dan perasaanku, dia tahu cara mencintai dengan benar, tahu cara mengungkapkan perasaannya yang tulus. Membuatku tak berkutik, tak bisa melawan, hanya mampu pasrah dan menyerahkan diriku padanya. Aku baru menyadari aku sudah menerimanya, aku menerima semua perlakuannya dengan cinta, dan kini aku sudah membalas perasaannya. Ya, aku sudah mencintainya. Sentuhannya yang ajaib menyadarkanku dalam semalam.
Aku merintih, mengerang, dan mendesah merasakan gelombang puncak yang deras menyerangku hingga menggetarkan pahaku, "Aku mencintaimu, Sean. Aku mencintaimu! Dengan segenap jiwa dan ragaku, aku mencintaimu!"
***
Komen, komen, komen!
Like, like, like!
Kasih semangat woy🤭
__ADS_1