
"Ah, sialan!" Aku mengerang merasakan sakit yang menghantam di area sekitar perutku saat aku mencoba menggerakkan tubuhku.
Ini hari kedua sejak aku terbangun pasca operasi melahirkan anakku secara dadakan. Tanpa diduga. Aku bahkan tidak bisa merasakan momen-momen mendebarkan itu seperti ketika aku melahirkan Ben dulu. Tapi aku bersyukur setidaknya anakku baik-baik saja.
Hingga hari ini sudah dua kali aku bertemu dengannya. Dia sangat cantik dan wajahnya persis seperti suamiku. Tiap kali memandangi wajah anakku, aku semakin tidak bisa berhenti memikirkan ayahnya. Dia seakan mengatakan padaku untuk memaafkan ayahnya. Tapi aku masih terlalu marah untuk itu.
Aku merasa ditipu, dibodohi, dan dikhianati sekaligus. Bukan hanya oleh satu orang, melainkan semua orang sekaligus. Lagi dan lagi, entah untuk yang ke berapa kalinya, mereka selalu mengesampingkan perasaanku. Bertindak seolah-olah mereka yang mengendalikan hidupku. Aku seakan tidak boleh menentukan jalanku sendiri.
Apapun alasannya, aku tidak bisa membenarkan perbuatan mereka. Ini hidupku. Aku yang berhak memutuskan harus melakukan apa. Persoalan apakah aku akan mampu atau tidak seharusnya bukanlah hal yang harus dikhawatirkan. Aku pasti bisa mengatasinya. Bukankah selama ini mereka sudah melihat bagaimana perkembanganku?
Inilah yang paling kubenci dari dulu. Tidak ada yang berusaha mendukungku dengan memberiku kepercayaan. Di mata mereka, aku tetap wanita gila. Tidak peduli sekeras apa aku membuktikan bahwa aku baik-baik saja, pemikiran mereka akan tetap sama. Franda masih gila dan akan selamanya gila.
Ibuku, wanita paling lembut yang pernah kukenal, wanita yang selalu mendengarkan keluh kesahku, tempatku mengadukan segala macam permasalahan, sekarang terasa asing bagiku. Lalu kakakku, lelaki yang kupercaya sebagai pengganti ayahku, dia juga ikut meremehkanku.
Dan satu lagi, suamiku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa tentang pria ini. Waktu yang kuhabiskan bersamanya memang belum terlalu lama, tapi dalam tempo yang singkat itu kukira dia sudah bisa memahamiku. Berulang kali aku mengatakan padanya untuk tidak berbohong atau menutupi sesuatu dariku, tapi yang dia lakukan selalu kebalikannya.
Aku tidak bisa berhenti memikirkan betapa kejamnya perlakuan mereka padaku. Tapi yang paling menyakitiku dari semua itu adalah ibu kandungku sendiri. Dia memilih meninggalkanku bersama orang lain, tidak pernah berniat ingin melihatku, bahkan hingga ibuku memohon pun dia tetap gigih pada pendiriannya.
Aku menangisi kematiannya nyaris setiap hari. Aku menyalahkan diriku karena menganggap akulah yang menjadi penyebab kecelakaan itu. Tidak pernah sehari pun yang kulewati dalam hidupku, aku tidak menyebut namanya. Aku selalu berdoa agar dipertemukan kembali dengannya. Dan ya, Tuhan menjawab doaku. Tapi dengan cara yang salah. Yang kuminta dalam doaku adalah bertemu dengannya setelah aku mati, bukan saat aku hidup dan berujung dengan kenyataan sepahit ini.
Setelah memikirkan semuanya secara berulang-ulang selama dua hari ini, aku tetap sampai pada satu kesimpulan yang sama; aku tidak bisa hidup bersama orang-orang yang meragukan diriku. Dan secepatnya aku ingin memotong semua rantai yang menghubungkanku dengan mereka.
Aku mengulurkan tangan meraih ponselku yang berada di atas meja, lalu segera menghubungi salah satu teman lamaku.
"Franda?" suaranya terdengar dari ujung sambungan telepon setelah beberapa kali percobaan.
Aku tersenyum mendengarnya. "Hai, Zul! Apa aku mengganggumu?" kataku, berusaha terdengar riang.
"Sama sekali tidak, Frans." sahutnya santai. "Apa kabar? Sudah lama aku tidak mendengar tentangmu, dan baru kemarin aku berpikir ingin menelepon karena balasan komentarmu yang mendadak ramai dibicarakan orang-orang. Apa kau tahu kalau anak-anak terus bertanya tentangmu?" Pria gemulai ini tidak berubah sama sekali. Mulutnya tidak akan berhenti mengoceh, dan itulah salah satu alasanku menghubunginya. Dia semacam angin segar yang bisa mengalihkan pikiranku.
Aku terkekeh pelan. "Belum apa-apa kau sudah membuatku lupa tujuanku menghubungimu, Zul." Aku meraih sebotol air mineral dari meja, membuka penutupnya, dan meneguk sedikit isinya. "Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?"
__ADS_1
"Selalu luar biasa. Kau tahulah, selama pria-pria tampan masih berkeliaran di sekitarku, aku akan selalu hidup. Omong-omong, kapan kau akan mengenalkanku dengan Mas Tampan dan Kaya-mu itu? Ya ampun, kau sangat beruntung tahu, say. Aku saja yang sudah mati-matian setiap pagi pergi ke fitness centre tetap sulit mendapatkan jackpot sepertimu." celotehnya lagi, dan ini akan terus berlanjut jika aku tidak segera menghentikannya.
"Mungkin kau akan mendapatkannya setelah membuang pisangmu itu, Zul." Aku tertawa keras, dan seketika mengerang saat merasakan sakit di perutku.
"Hei, apa kau baik-baik saja?" Dia terdengar khawatir.
Tidak, aku nyaris mati.
Aku menarik napas dan berdeham sekali sebelum menjawabnya. "Ya, aku baik-baik saja." Aku mengangkat tubuhku lebih tinggi dan bersandar di kepala ranjang dengan posisi setengah berbaring.
"Telingaku masih normal, say. Apa kau sedang sakit?" tanyanya lagi.
"Tidak, aku baik-baik saja. Hanya sakit sehabis melahirkan." balasku.
"Ya ampun... selamat ya, say. Kenapa tidak ada konferensi pers tentang kelahiran anakmu? Biasanya hal yang menyangkut dirimu tidak akan mudah dilewatkan begitu saja oleh wartawan. Kasus adikmu saja belum hilang dari peredaran. Aku benar-benar kesal pada wartawan-wartawan laknat itu! Jari mereka sangat kejam dalam menulis sesuatu." Dia berbicara dengan suara berapi-api. Aku bisa membayangkan mulutnya yang miring kesana kemari saat ini.
Aku tertawa lagi. "Zul, hentikan," gumamku sebelum perkataannya semakin melenceng lebih jauh. "Ada sesuatu yang lebih penting yang ingin kutanyakan padamu."
"Oke, baiklah... katakan, ada apa? Tunggu, apakah ada badai yang menerjang rumahmu? Terakhir kali kau meneleponku setelah bercerai dan memintaku mencarikan apartemen. Apa kali ini tujuanmu sama?"
Aku bisa mendengar dia menarik napas kasar dari mulutnya yang sedang membuka lebar. "Ya Tuhan, jangan bilang kalau kau akan bercerai lagi. Astaga... Frans! Aku tidak..."
"Zul, aku tidak ingin membahasnya sekarang." Aku harus memotong ucapannya atau dia tidak akan berhenti sampai telingaku berdarah. "Cukup carikan aku apartemen yang agak besar. Kau tahu maksudku, bukan?"
Aku meneguk lagi air mineral sambil mendengarkan Zul berbicara. "Ya, ya. Lima kamar cukup?" Aku mengangguk.
"Frans, lima kamar cukup atau tidak?" Aku mengangguk lagi, belum menyadari maksudnya mengulangi pertanyaan. "Frans, apa kau masih disana?" Seketika aku terkesiap, tentu saja dia tidak melihatku menganggukkan kepala.
"Ya, lima kamar cukup." balasku buru-buru.
"Note. Kau ingin yang seperti apa? Maksudku, furnitur dan segala macamnya."
__ADS_1
"Tidak perlu sedetail itu, Zul... yang penting nyaman dan jangan terlalu penuh. Aku ingin anakku memiliki ruangan yang luas untuk bergerak."
"Note. Satu atau dua lantai?" Aku baru ingin menjawab, namun dia sudah berbicara lagi. "Oh, maaf, aku lupa kalau kau baru melahirkan, berarti satu lantai, benar?"
"Ya," kataku menyetujui.
"Note. Kapan kau membutuhkannya, say?"
"Hm... dua hari lagi aku akan keluar dari rumah sakit. Bisakah kau mendapatkannya saat itu?" Dia harus bisa, aku tidak mau kembali ke rumah. Setidaknya untuk sekarang. Aku perlu waktu untuk menenangkan diri dan menjauh dari orang-orang sementara waktu.
Zul terdiam selama beberapa saat, hingga suaranya terdengar kembali. "Aku tidak tahu apakah aku bisa menemukan yang cocok atau tidak, tapi akan kuusahakan." ujarnya, terdengar bersungguh-sungguh.
Aku menarik napas seraya memandangi botol air di tanganku. "Ya, aku menunggu kabar baik darimu." suaraku melemah. Aku tahu itu akan sulit, tapi aku benar-benar membutuhkannya. "Oh, satu lagi, Zul..." sambungku tiba-tiba saat sesuatu melintas di pikiranku.
"Katakan."
"Aku membutuhkan dua pengasuh, bisakah kau mencarikannya juga?"
"Hei, kau terlalu merepotkan! Aku menyesal mengangkat teleponmu." gerutunya, tapi aku tahu dia hanya bercanda.
"Ayolah, Zul... hanya kau yang bisa kuandalkan." gumamku dengan nada manja, dan dia mendengus pelan.
"Omong kosong! Kau harus membayarku dua kali lipat untuk ini." selorohnya, membuatku tertawa sembari membayangkan ekspresinya saat berbicara.
"Itu bukan masalah selama kau bisa mendapatkan semua yang kubutuhkan."
"Uuh, ya deh, orang kaya."
"Zul!" sergahku, aku tidak suka dengan gaya berguraunya yang satu ini, dan dia tertawa. "Kabari aku secepatnya, oke?"
"Oke."
__ADS_1
Aku menutup sambungan telepon setelah kami mengobrol selama beberapa menit setalah aku mengatakan tujuanku. Kemudian aku tersentak kaget ketika pintu ruanganku terbuka, tepat saat aku baru saja meletakkan ponsel kembali ke atas meja.
"Bisakah kita berbicara sebentar?"