
...Sean Danial Warner POV....
"Apa maksudmu surat peringatan?" Aku langsung menyerang Dean begitu aku berada di luar pub dengan ponsel menempel di telinga.
"Itu adalah surat berisi teguran supaya pihak kedua menjalankan kewajibannya sesuai kontrak kerja sama yang sudah disepakati, atau akan ada konsekuensi." sahut Dean, berkata datar.
Aku menyandarkan punggungku pada dinding gedung di belakangku sambil mengembuskan napas tak sabaran. "Aku tahu apa itu surat peringatan, maksudku kenapa aku mendapatkannya? Setahuku semua kontrak kerja sama sudah ditangani oleh Dave, dan dia pasti memberitahuku kalau ada masalah."
Aku mendengar Dean mendengus sebelum dia menjawab, dan juga suara kertas yang di bolak-balik. "Disini ditulis, kau belum mengerjakan satupun proyek dari The Great Holdings, padahal menurut kontrak seharusnya kau sudah mengerjakan proyek penting mereka mulai awal tahun ini, hingga lima tahun ke depan."
Perjanjian kerja sama eksklusif? Kalau ada yang seperti ini harusnya aku tahu. Kenapa aku sama sekali belum pernah mendengarnya? Lagi pula perjanjian kerja sama yang kuterima biasanya hanya selama dua tahun. Tak bisa dipercaya Dave melewatkan hal sepenting ini dariku.
Aku mengerang dalam hati sambil menyusurkan tangan melewati wajah hingga rambutku. "Aku tak ingat pernah mendengar tentang The Great Holdings Company sebelum ini, atau apapun mengenai perjanjian eksklusif dengan mereka. Pasti ada kesalahan."
Tapi kata-kata Dean selanjutnya benar-benar mengejutkanku. "... kau sendiri yang menandatanganinya."
"Itu omong kosong, aku tidak melakukannya." sahutku meninggi.
Aku mendengar Dean menghela napas panjang sebelum dia berkata kembali. "Baiklah, aku akan mempelajarinya lagi, kalau yang kau katakan itu memang benar ..."
"Itu benar!" potongku kesal.
"Maka aku yakin kita akan menemukan sesuatu yang bisa mendukung pernyataanmu itu." lanjutnya tenang.
Tiba-tiba perasaan gusar memenuhi benakku, menyadari ada satu hal yang sangat penting yang belum disebutkannya sedari tadi.
"Berapa nilai kontrak-nya, Dean?"
"Dua triliun rupiah," jawabnya masih dengan ketenangan yang sama, seolah dia baru saja membacakan ramalan cuaca dan bukannya kontrak aneh sialan yang bernilai fantastis.
Aku mengutuk pelan dibawah napasku begitu mendengar perkataannya. Bahkan aku tak pernah menerima sepeserpun dari uang itu, bagaimana mungkin mereka menuntut supaya aku mengerjakan apapun? Itu tidak akan terjadi.
"Setengah dari nilai kontrak-nya dibayarkan sebelum akhir tahun kemarin, dan sisanya pada awal tahun ini," Dean berbicara kembali. "... dan mereka meng-klaim memiliki buktinya. Kalau mereka mengatakan yang sejujurnya, maka pembatalan kontrak kerja sama akan menjadi jalan akhir menuju kehancuranmu."
Aku tidak ingin mendengar kelanjutannya, ini terlalu aneh. Dan mengerikan. Seperti sebuah mimpi buruk. Aku memiliki gambaran di dalam kepalaku tentang sebuah kemungkinan mengenai masalah ini, dan betapa aku berharap sepenuh hati kalau dugaanku itu keliru.
Aku menggerutu pelan sambil berderap masuk kembali ke dalam pub. Begitu aku sampai di lantai atas, aku heran karena tidak melihat Franda disana. Lalu langsung berbalik setelah Matt mengatakan dia sedang ke toilet.
__ADS_1
Aku berjalan membelah kerumunan, menggerutu lagi karena terbayang bagaimana Franda melewati orang-orang ini saat dia berjalan tadi. Dan aku bersyukur bisa melihatnya di depan pintu toilet tak jauh dari tempatku berdiri. Aku tersenyum padanya, namun dia menatapku aneh. Seperti... sedang marah?
Belum sempat aku meraih tangannya dia sudah menggumamkan sesuatu. "Aku ingin pulang. Sekarang." Alisku bertaut. Seingatku, aku tidak melakukan kesalahan apapun yang bisa membuatnya marah, namun segera kuketahui begitu aku melihat Ashley keluar dari dalam toilet yang sama.
"Sialan!" Aku ingin mendatangi wanita itu dan membuatnya tahu akan posisinya saat ini, tapi Franda lebih membutuhkanku. Apapun yang dikatakan Ashley padanya, pasti sesuatu yang sangat mengganggunya. Dan aku yakin ini tentang masa lalu kami.
Aku memandangi Ashley dengan tajam selama beberapa saat sebelum akhirnya aku berbalik menyusul Franda yang sudah keluar lebih dulu. Sepanjang perjalanan ke mobil, aku memikirkan apa yang sebenarnya dikatakan Ashley pada Franda, apakah itu tentang hubungan masa lalu kami yang pelik? Atau apa? Sial, sial, sial! Aku tidak menemukan jawaban apapun, sebagai gantinya aku mengirim pesan pada Taylor bahwa aku dan Franda akan pulang lebih dulu dengan alasan Franda mendadak tidak enak badan.
Sampai di area parkir, kudapati Franda sedang menyandarkan tubuhnya di mobil dengan kedua tangan terlipat di dada, wajahnya sangat murung dan dia tampak menahan tangis.
Aku meraih berusaha tangannya namun dia menepisku. "Buka pintunya, aku ingin pulang." katanya tegas. Aku menatapnya, matanya dipenuhi oleh amarah, dan oleh sesuatu yang tak dapat kuartikan.
Aku menurutinya. Membiarkan dia masuk lalu aku sendiri ikut masuk ke dalam mobil kemudian melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel tempat kami menginap. Sepanjang perjalanan Franda tidak mengucapkan apapun, hanya tarikan napas panjang yang beberapa kali terdengar dari mulutnya. Pandangannya terarah keluar melalui jendela di sisinya, tak sekalipun menolehku. Harus kuakui, saat-saat seperti ini sulit sekali berpikir atau berkata-kata untuk membujuknya. Franda bukan wanita yang mudah untuk di hadapi.
"Ada apa, Franda?" tanyaku begitu kami berada di dalam kamar hotel.
Franda tidak menjawabku. Dia melangkah mengitari ruangan sampai berdiri di samping sofa. Sebelah tangannya berpegangan pada sandaran sofa sementara sebelah tangannya yang lain melempar tasnya sembarangan lalu membuka hak tingginya dengan cara yang menunjukkan kekesalan yang amat tinggi levelnya.
"Franda?" panggilku, masih berdiri di depan pintu. Mengamati gerak-geriknya. Aku paling benci membahas sesuatu mengenai masa lalu dengannya, apalagi itu masa laluku. Aku memang belum banyak menceritakan tentangku padanya, dan sesuatu yang dikatakan Ashley pasti salah satu dari bagian itu.
"Franda, katakan padaku ada apa? Apa yang dikatakan Ashley sehingga kau marah seperti ini? Setidaknya kau perlu mengatakan sesuatu padaku supaya aku tau letak permasalahannya." Aku berkata dengan nada putus asa. Memohon dia mengatakan apapun, tidak masalah jika dia ingin mengumpatku, yang penting ada kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Inilah kenapa aku tidak membicarakan masa laluku padamu," Dia berbalik menatapku saat mendengar perkataanku. "Kau akan marah, dan akan mendiamkanku sampai aku merasa akan gila. Dan kalau saja kau tidak bersikap naif saat mendengar ceritaku, aku akan dengan senang hati membukanya padamu."
Bodoh! Kenapa aku mengatakan itu? Ya Tuhan, ini akan menjadi bumerang yang akan menghantam diriku sendiri. Sial!
Franda mendelik padaku, "Oh, jadi sekarang kau melempar kesalahan padaku?" sahutnya pedas. "Kau pikir aku menikmati momen dimana salah satu wanitamu menceritakan bagaimana indahnya masa lalu kalian? Dan bahkan kau memiliki anak darinya?" lanjutnya sinis.
"Aku tidak bisa menghapus masa laluku bersama Ashley, Franda. Aku tidak punya kekuasaan untuk itu. Bisakah kau mencoba menerimaku seperti aku menerimamu?" Balasku berapi-api, mengesampingkan situasi mentalnya yang belum sepenuhnya membaik. Aku tidak sadar bahwa yang kukatakan mungkin akan menyakitinya.
"Kau, aku tidak..." Dia kehilangan kata-katanya, wajahnya merah padam dan bibirnya tertekuk kesal. Setelah beberapa saat dia bisa menguasai diri dan kembali berbicara. "Kukira kau mungkin berbeda. Ternyata aku salah, kau memang tepat seperti yang kupikirkan."
"Apa artinya kalimat sialan itu?"
"Kalau kau bukan seorang penipu, seperti mantan suamiku dulu. Kau bertindak seakan kau adalah pahlawan yang sedang menyelamatkanku, tapi kenyataannya adalah aku hanya belum melihat wujud asli di balik topengmu."
Cukup sudah!
__ADS_1
Franda terkesiap saat aku menyambar tangannya dan menariknya ke arahku. Dia berusaha menarik tangannya, tapi aku mempererat cengkeraman tanganku lalu berbicara di dekat wajahnya, memastikan dia mendengar setiap kata yang kuucapkan. "Dengar, kalau aku tidak menikahimu, kau akan berakhir menjadi wanita gila karena meratapi nasibmu, dan kau tidak akan ada disini sekarang untuk membenciku."
Kepuasan setelah mengatakan itu semua hanya bertahan selama satu detik. Begitu melihat raut wajahnya yang terguncang setelah mendengar perkataanku, hatiku seperti terpilin. Rasa panik dengan cepat merayapiku melihat air matanya mulai merebak dan isakan kecil terdengar darinya.
Dan sebelum aku sempat mengatakan apapun, dia menyentakkan tangannya dariku lalu beranjak dan berlari pergi meninggalkanku. "Franda!" Aku berusaha memanggilnya selagi mengejarnya, tapi dia terus berlari dan membanting keras pintu kamar hotel. Dia pergi.
Aku mengutuk keras-keras dalam hati, yang kutujukan untuk diriku sendiri. Astaga, bagaimana bisa aku bertindak impulsif seperti itu? Franda tidak salah sedikitpun, dia berhak marah padaku atas apapun yang disampaikan oleh Ashley karena aku memang tidak pernah membuka diri padanya. Alih-alih meminta maaf karena kesalahanku, aku malah membuatnya semakin membenciku. Dan sekarang aku harus mencarinya untuk memperbaiki semuanya.
Aku berlari di sepanjang jalan di sekitar hotel dengan mata berkeliaran berharap melihat sosoknya di suatu tempat, namun aku belum berhasil. Ketakutan menusuk di rongga dadaku mengingat ini bukanlah negara kami, dan Franda tidak membawa apapun yang bisa membantunya jika dia tersesat. Tasnya sudah dia taruh di sofa kamar tadi. Ya Tuhan... apa yang harus kulakukan?
Aku mengeluarkan pinsel dari saku celana, dengan cepat menghubungi Taylor. Lagi-lagi aku diterjang kesialan, Taylor tidak mengangkat teleponku sampai aku menghubunginya beberapa kali. Saat ini, aku bagai berada di gulungan ombak yang berusaha menelanku. Belum lama aku mendengar masalah perusahaan, sekarang aku menambah kekacauan dengan membuat Franda menghilang. Kalau ada hari dimana aku berharap menghilang dari muka bumi, maka ini adalah saat yang sempurna.
Aku masih berada di jalan-jalan kecil di sekitar hotel, mencari-cari keberadaan Franda. Firasatku mengatakan dia tidak mungkin nekad berada jauh dari tempatku. Dan aku benar, karena aku melihat dia berada di seberang jalan tepat di depan lobby hotel.
Tatapanku terkunci pada sosok Franda yang berjalan perlahan masuk ke dalam hotel. Aku merasa lega karena dia tidak melakukan sesuatu yang bodoh, aku sendiri sebenarnya sudah yakin Franda pasti tahu harus melakukan apa. Dia hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, dan lihat saja... setelah hampir sejam membuatku cemas, dia kembali. Satu-satunya yang harus kupikirkan saat ini adalah bagaimana cara meminta maaf, dan berharap mentalnya tidak terganggu dengan masalah ini.
Aku melangkah dengan perasaan campur aduk memenuhi kepalaku sampai aku berada di depan kamar kami, dan dia berdiri menunduk sambil bersandar di dekat pintu. Menyadari itu, dengan cepat aku mengeluarkan kartu akses dan membiarkan dia masuk lebih dulu.
Franda berjalan tanpa melirik padaku sedikitpun, sebelah tangannya terangkat menyapu air mata yang mengalir di pipinya. Menyaksikan dia seperti itu, membuatku semakin di dera rasa bersalah. Aku yang mengejarnya mati-matian, aku yang memaksanya untuk menikah denganku, dan sekarang aku pula yang menyangkal semua usahaku itu dengan mengatakan seolah dialah yang mengemis cinta padaku.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu masuk ke dalam kamar. Tatapanku tertuju pada Franda selagi aku berjalan masuk. Dia terlihat begitu mungil berbaring disana, bergelung dengan selimut menutupi setengah badannya. Bahunya bergetar, dan suara isakan pelan terdengar samar dari tempatku berdiri. Jantungku mengkerut di rongga dadaku saat menyadari dia tengah menangis.
Aku hanya berdiri selama beberapa saat, menatapnya. Mencoba meresapi perasaan yang kini membanjiri benakku ketika aku melihatnya. Dan saat itulah aku menyadarinya, aku memang bajingan karena telah begitu jahat menyakiti hatinya yang lembut. Perasaan bersalah kini tidak terelakkan. Sama seperti mentari yang terbit di pagi hari.
Perasaan ini sangat menyakitkan, sekaligus membuatku gusar disaat yang bersamaan. Cinta selalu membawa bencana pada akhirnya. Aku tidak bisa membayangkan, Franda akan berakhir dengan merasakan kekecewaan akibat ulahku. Dia tidak boleh merasa seperti itu. Franda terlalu indah, murni, dan juga rapuh sehingga memikirkan aku bisa saja berbuat salah seperti ini dan merenggut semuanya darinya, atau yang lebih parah lagi membuatnya menjadi benar-benar gila. Itu membuatku takut.
"Kau akan sakit jika terus menangis seperti itu, Franda." gumamku lembut, mengakhiri keheningan yang mencekam. Aku berjalan menghampiri salah satu meja yang berada di ujung ruangan, menyeret sebuah kursi kayu berbantal yang ada disana, lalu mengitari ranjang dan menempatkan kursi itu di kaki ranjang.
"Apa pedulimu," gumamnya dengan napas tercekat, seperti mencoba yang terbaik untuk menghentikan tangisnya. "Pergilah, Sean. Kau tidak perlu bersikap seolah kau peduli, aku sedang tidak ingin menjadi proyek amal-mu sekarang." lanjutnya tajam sambil mengusap air matanya. Kata-katanya cukup berhasil menghantamku.
Aku mendesah pelan, dengan tangan terkepal menahan marah, aku memaksa mengeluarkan suara dari tenggorokanku.
"Aku dan Ashley memang pernah memiliki anak."
Keheningan menyelimuti ruangan saat tak ada satupun dari kami yang berbicara. Aku mengertakkan rahang dan meremas jemariku dengan gelisah sementara aku tidak tahu bagaimana reaksi Franda dengan ucapanku. Karena ingin segera menyelesaikan masalah, aku pun melanjutkan.
"Itu terjadi enam tahun yang lalu. Kejadian itu terjadi saat aku menghabiskan waktu bersama Ashley dan yang lainnya ketika aku baru saja kehilangan Mommy. Kau tahu, saat itu aku sedang kacau, dan Ashley ada menemaniku melewati semuanya. Sampai akhirnya kami menjadi lebih dekat satu sama lain. Semuanya mengalir begitu saja sampai Ashley hamil dan melahirkan anak kami."
__ADS_1
Aku berhenti untuk menghirup udara sebanyak mungkin ketika aku merasakan napasku habis. Rasa sesak menjalari rongga dadaku sampai rasanya aku ingin mati. Mengenang sesuatu yang menyakitkan sama saja rasanya seperti menghadapi kenyataan itu lagi, dan itu terlalu menyiksa.
"Aku berniat menikahinya, tapi saat itu aku belum mampu karena keadaanku sendiri masih payah. Aku tidak memiliki apapun yang bisa kubanggakan di hadapan keluarganya. Well, sebenarnya mereka menerimaku, tapi tetap saja... sebagai laki-laki aku merasa harus siap menjamin Ashley hidup dengan baik ketika bersamaku. Sama seperti aku tidak berani mendekatimu dulu ketika masih kuliah."