Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
The Price


__ADS_3

"Bersulang!" kata Taylor mendorong kursi yang mundur lalu mengangkat gelas, membuat pengunjung lain di bistro Italia yang ada di sekitar kami merasa geli.


Setelah santap malam tadi, Sean dan aku sepakat mengajak mereka semua keluar dari rumah danau. Dia rupanya menyetujui usulanku soal bersenang-senang di hari ulang tahunnya.


"Untuk Sean Warner kita yang hebat. Semoga seluruh impiannya terwujud tahun ini dan semoga dia tidak perlu menjadi detektif lagi untuk memikat wanita lain." Taylor melanjutkan.


Seketika kami tertawa, lalu bangkit berdiri dan ikut bersulang. "Untuk Sean!"


"Pidato!" seru Matt sementara Sam bersiul.


Sean pasrah, tidak ada gunanya menolak, maka dia pun berdiri. "Terima kasih, teman-temanku yang gila. Yah, mengingat setahun kemarin adalah tahun terberat untukku, aku hanya ingin berterima kasih kepada kalian semua karena sudah menjadi teman-teman yang luar biasa selama lebih dari dua dekade hidupku. Dan aku yakin kalian tahu bahwa aku tidak pernah menerima ide merayakan ulang tahun..." Sean menatapku sambil tersenyum. "Tapi kali ini aku melakukannya untuk istriku. Hmm, itu saja, sih."


"Sebentar!" seru Taylor saat Sean kembali duduk di tengah-tengah tepuk tangan kami semua. "Selagi kau berada disini, kami membelikan hadiah khusus untukmu." sambil tersenyum dia mengeluarkan kotak kado besar dari bawah meja dan menyodorkannya kepada Sean.


Sean melemparkan lirikan curiga kepada cengiran serentak di sekeliling meja, lalu mengurai pita dan mengangkat penutup kotak. Dia tertawa ketika mengeluarkan topi pemburu rusa berukuran besar, kaca pembesar, dan teropong plastik untuk anak-anak. "Lucu sekali," kata Sean sambil memasang topi itu ke kepalanya. "Ini mengingatkanku pada masa-masa saat aku berusaha menculik istri orang." gumamnya menatapku dan mengedipkan mata.


Matthew sengaja berdeham untuk mendapatkan perhatian Sean. "Mumpung sedang membicarakan hadiah, aku membawakanmu ini." Dia memberikan kotak yang ukurannya lebih kecil dari pada yang berikan Taylor. Ketika kotak itu terbuka, Sean tampak terkejut menemukan sesuatu semacam rok yang terbuat dari kulit kayu. "Kukira itu akan berguna ketika kau mencoba bergelantungan di pohon-pohon sekitar rumah hutanmu." gumam Matthew menjelaskan.


"Dimana kau membelinya, Matt?" Sam tertawa. "Bengkel 24 jam?"


Matthew memainkan ujung serbetnya dengan ekspresi cuek. "Itu satu-satunya tempat perhentian dalam perjalanan ke sini."


Kami semua langsung terbahak, kegirangan mendapat kesempatan untuk menertawakan Matthew, namun aku mengulurkan tangan melintasi meja lalu menepuk tangannya. "Yah, menurutku itu bagus. Dan sangat berguna. Kupastikan Sean akan mengenakannya."


Sean melotot main-main padaku. "Franda,"


"Tenanglah, Warner," Aku memajukan wajah ke dekat telinganya dan berbisik sambil mengusap pahanya. "Itu akan memberikan sensasi lain saat kau mendesakku di salah satu pohon tumbang seperti yang pernah kau janjikan. Ingat?"

__ADS_1


Sean memiringkan kepala dan aku langsung mengedipkan mata, dengan genit menggigit bibir bawahku. "Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu datang." kataku pelan.


Dia terkekeh halus seraya menggelengkan kepala. "Franda, kau benar-benar nakal!" Dia mencium bibirku sekilas.


Aku mengedikkan bahu. "Kau sendiri yang menjanjikan itu." cetusku ringan seraya memajukan tangan meraih gelas berisi wine milikku.


Selagi menyesap minuman, tanpa sengaja aku memandang Jason yang duduk di seberangku, dia berada di tengah-tengah antara Taylor dan Matthew. Kemudian kuputar kepala menoleh adikku yang tenang di sampingku. Rautnya benar-benar berbanding terbalik dengan Jason.


"Kenapa dia?" Aku bertanya pada Mia, menunjuk Jason dengan dagu.


Mia melirik singkat ke arah Jason, lalu mengangkat bahu. "No comment."


Aku mengembalikan tatapanku kepada Sean. Kedua tanganku melilit pinggangnya sementara daguku menumpang di pundaknya. Aku memandanginya seakan hanya ada kami di tempat itu, tak pernah bosan menikmati lekuk wajahnya yang sempurna, yang selalu membuatku terpesona.


"Happy birthday, husband." gumamku lembut.


"Apa kau senang?"


Dia memandangi satu per satu orang di meja kami dengan raut yang tidak bisa kumengerti, mulutnya masih melengkung, tapi ada kesedihan yang kulihat di matanya. "Ya, aku senang, Franda." Dia berbohong, dan aku tahu apa yang sedang di pikirkannya.


Perlahan kugenggam tangannya, menyatakan bahwa aku paham dengan sesuatu yang mengganggunya saat ini. "You'll be fine. Dia pasti bangga melihatmu sekarang, Sean. Aku mungkin tidak mengenalnya tapi aku tahu dia pasti sangat menyayangimu." Aku berusaha menghiburnya.


Sean masih teringat tragedi kematian ayahnya yang tepat terjadi pada hari ulang tahunnya, dan itu masih menghantuinya hingga saat ini. Aku tahu, benar-benar tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua karena aku pun pernah merasakannya. Tapi yang dialami Sean tentu lebih menyakitkan. Dia menyaksikan sendiri ayahnya yang terbaring tak berdaya, dan kuyakin trauma akibat pemandangan itu tidak akan mudah dihilangkan.


Sean membuang napas berat, menempelkan wajahnya ke wajahku hingga hidung kami bertemu. Matanya terpejam dan dia menelan ludah. "Ya, Franda."


"Halo, guys!" suara Taylor membahana ketika dia kembali ke meja setelah memesan wine tambahan untuk kami. "Jadi, seperti yang kita semua sudah ketahui, Franda kita yang keren ini adalah wanita pemilik suara yang dikirim dari surga," Aku terkesiap, mengerjap beberapa kali. "Setidaknya itulah yang dikatakan suaminya yang tergila-gila padanya," Taylor melihatku dengan tatapan menggoda. "Tapi kuakui dia benar setelah aku mendengar sendiri suara dari surga itu. Dan untuk itu, aku mengusulkan kita kembali menghidupkan The Price yang sudah lama mati dengan Franda kita sebagai vokalis. Bagaimana, teman-teman?"

__ADS_1


The Price, band lama mereka yang pernah diceritakan Sean padaku suatu malam sebelum kami tidur di rumah danau yang lama, yang sekarang bangkainya tak kelihatan lagi.


Seruan "Deal" menggema di sekeliling kami, semua orang tampak antusias dengan ide Taylor, kecuali aku.


Aku terbengong selama beberapa saat, tidak mengira Sean akan memamerkan lagu yang sengaja kubuat untuknya kepada mereka. Ini benar-benar diluar dugaan. Aku tidak sanggup menyetujui ide ini. Musik sudah lama hilang dari hidupku, dunia itu sudah terkubur sejak aku menikah dengan Nino. Well, aku memang masih bernyanyi tapi hanya untuk diriku sendiri.


Aku mengangkat sebelah tangan ke udara. "Aku tidak setuju." kataku tegas, membuat mereka semua terkejut dengan nadaku yang agak kencang. "Maaf, tapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku sudah lama melupakan musik, dan yang kalian dengarkan itu bukanlah sesuatu yang ingin kubanggakan."


"Come on, girl!" cetus Sam. "Suaramu memang luar biasa, aku bahkan tidak menyangka kau memiliki suara seindah itu. Ini akan seru, aku bisa menemanimu jika kau tidak percaya diri." ucapnya berusaha meyakinkanku.


"Aku setuju. Samantha kita juga keren, lho." kata Matthew menimpali.


"Bukankah kau selalu bilang suaraku yang paling keren?" tanya Maggie.


Raut percaya diri Matthew mulai goyah. "Aku mencintaimu, darling." gumam Matthew merayu istrinya.


Ini jadi sumber kelucuan malam ini, bahwa Maggie yang tingginya tidak sampai 160 centi, berhasil menginjak-injak Matthew yang tingginya lebih dari 180 senti dan bekas anggota tim judo australia, hingga hancur dengan begitu mudah. Untung bagi Matthew, Maggie sedang tidak mencari gara-gara malam ini.


"Jadi?" taylor bertanya padaku setelah gelombang tawa kami mulai mereda.


Aku semakin gugup saat mata mereka semua menatapku seakan ingin menerkamku. Aku melirik Sean, dia hanya mengedikkan bahu. Kemudian aku pasrah dan menganggukkan kepala. Kupikir menolak pun tidak ada gunanya, orang-orang ini sangat gigih dan mereka akan terus mengusikku sampai aku setuju untuk bergabung bersama band lama mereka.


"Tapi, aku tidak ingin kita serius melakukannya. Ini hanya untuk bersenang-senang, oke?"


"Tentu saja, girl. Lagi pula, kita semua punya pekerjaan."


Sisa malam itu kami habiskan dengan merencanakan latihan band keesokan harinya.

__ADS_1


__ADS_2