Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 64


__ADS_3

"Sepertinya istri Anda mengalami gejala panic attack, ini baru asumsi sementara, kalau saya benar, istri Anda pasti akan mengalami hal ini lagi nanti," ucap seorang dokter yang baru saja selesai memeriksa kondisi Franda.


Nino mengerutkan keningnya, "Panic attack? Penyakit apa itu, dok? Apakah berbahaya?" tanyanya, Nino belum pernah mendengar ini sebelumnya.


Dokter itu tersenyum dan menggeleng, "Ini bukan penyakit, Pak. Lebih ke gangguan yang membuat seseorang gelisah dan tidak nyaman. Gangguan ini bisa datang kapan saja dan dimana saja, tidak bisa ditebak sama sekali. Panic attack disebabkan oleh beberapa hal, namun kebanyakan pemicu utamanya adalah stres. Saya sarankan untuk lebih memperhatikan mental istri Anda, Pak." jelas sang dokter. Ucapannya menghantam Nino seketika, ternyata Franda juga tertekan akibat perceraian mereka, padahal selama ini Ia terlihat santai menghadapinya.


"Bagaimana cara mengobatinya, dok?" tanya Franda sembari turun dari brankar.


Dokter yang bernama Daniel itu menoleh Franda, "Psikoterapi dan juga obat-obatan. Saya akan meresepkan antidepresan untuk Ibu nanti." ujar sang dokter.


Nino menatap Franda yang berjalan mendekat, istrinya terlihat sudah jauh lebih baik.


"Dok, apakah saya akan selamanya mengalami ini?" Franda tampak mulai khawatir, kejadian tadi sungguh menyiksanya.


Dokter Daniel menghela napas, jarinya sibuk bermain dengan bolpen yang dipegangnya, "Hanya Ibu yang bisa mengatasinya, dalam beberapa kasus yang tidak tertangani dengan baik, panic attack bisa menyebabkan kondisi penderita semakin memburuk seperti depresi, sampai menjadi antisosial. Saya berharap Anda tidak sampai kesana." jelas dokter Daniel.


Franda melemas, Ia tidak siap menghadapi hari-hari yang akan melelahkan kedepannya saat gangguan itu datang menyerang. Nino mengerti kegelisahan istrinya, dengan cepat Ia menggenggam tangan Franda, menguatkan istrinya melalui sentuhan hangat itu.


"Dok, apakah Anda mengenal seseorang yang bisa membantu istri saya?" tanya Nino.


"Baiklah, saya akan merekomendasikan psikolog untuk istri Anda," Dokter Daniel mengalihkan pandangan pada Franda, lalu menuliskan sebuah nama dikertas lalu memberikannya pada Franda. "Anda bisa konsultasi dengannya mengenai gangguan panik yang Anda alami, dia akan membantu Anda mengatasi masalah ini." ucap dokter Daniel.


Franda dan Nino mengangguk bersamaan, lalu keduanya pamit dan berlalu dari ruang pemeriksaan.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Mia begitu Franda dan Nino masuk ke mobil, sejak tadi Ia hanya menunggu dimobil, karena Franda terlihat sudah baik-baik saja saat mereka tiba dirumah sakit.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan." Franda berbohong, Ia tidak ingin semua orang menjadi khawatir dengan kondisinya.


"Kau yakin?" tanya Mia memastikan, Ia tidak bisa percaya begitu saja, pasalnya tadi Franda terlihat sangat kesakitan saat dirumah.


Franda mengangguk sembari tersenyum. Senyum terpaksa agar Mia berhenti bertanya.


"Maafkan aku, aku tidak mengira kau akan kesulitan menghadapi masalah kita. Kenapa kau bersikap santai padahal kau tertekan?" ucap Nino saat mobil yang dikendarai Dika menjauh dari area rumah sakit.


Franda tidak menjawab, pandangannya tertuju pada jalanan yang masih padat merayap, melihat apa saja yang bisa ditangkap manik cokelatnya sembari menikmati pikiran yang mulai lari kemana-mana.


Sampai dirumah, mereka disambut oleh Ibu dan Mama yang terlihat khawatir, Franda menarik napas dalam. Lagi-lagi Ia harus menenangkan dua orang tua itu.


Franda tersenyum kecil, "No, Mom! Aku baik-baik saja, hanya kelelahan." jawabnya.


"Benarkah? Lalu kenapa Mbak Ika mengatakan kau kesakitan tadi?" Mama Rossa menyambar dengan tidak sabar, sungguh Ia takut sesuatu terjadi pada menantunya itu.


"Ya, Ma. Aku baik-baik saja." Franda mengelus lengan mertuanya dengan lembut, lalu meraih Ben dari pangkuan Ibu. "Aku akan menidurkan Ben di kamar." pamitnya sebelum meninggalkan mereka.


Nino mengikuti langkah Franda, meninggalkan Ibu dan Mama yang tampak belum puas dengan jawaban Franda, Ia tidak berselera mendengar rentetan pertanyaan dua wanita tua itu, menikmati saat-saat terakhir bersama Franda dan Ben lebih penring dari apapun.


Franda berbaring diranjang sembari menyusui Ben, sementara Nino langsung masuk ke kamar mandi, Ia belum mandi sejak pulang dari kantor tadi karena langsung bermain dengan Ben, dan harus membawa Franda ke rumah sakit.

__ADS_1


Nino berendam di air hangat selama 30 menit, mengusir kepenatan dengan bersantai sejenak. Sesekali mencari cara untuk melunakkan istrinya, Ia akan terus berusaha sampai titik dimana hakim mengetuk palu dan menyatakan mereka resmi bercerai. Tapi Nino tidak siap jika harus berpisah dengan Franda, siapapun tidak akan siap jika harus berpisah dengan orang yang dicintai.


Dengan cepat Nino menyelesaikan ritual berendamnya, membilas sisa sabun aromaterapi yang masih menempel dibawah guyuran shower, lalu keluar hanya menggunakan handuk kecil yang melilit pinggang.


Franda baru saja berdiri dan menyelimuti Ben yang tertidur pulas diranjang, Ia kaget saat tangan Nino melingkar erat diperutnya.


"Tolong maafkan aku, aku mohon batalkan perceraian kita, aku benar-benar tidak sanggup kehilanganmu, Sayang." ucap Nino lirih, dagunya bertumpu lemas pada pundak Franda.


Franda tersenyum getir, entah sudah berapa kali Nino memohon seperti ini, namun Ia tetap pada keputusannya. Franda melepas belitan tangan Nino, berbalik dan menatap dalam mata suaminya, "Kenakan pakaianmu, aku tunggu di meja makan." katanya sambil menepuk lengan Nino, lalu keluar meninggalkan Nino yang putus asa, lagi-lagi Franda tidak mau berbicara padanya.


Setelah makan malam, Nino kembali mengekor dibelakang Franda. Ia mengikuti kemanapun langkah istrinya tertuju, dari mulai memindahkan Ben ke kamarnya, sampai saat ini ke walk in closet, Nino enggan melepaskan Franda barang sedetik.


"Sayang, please... Beri aku satu kesempatan lagi, ku mohon maafkan aku..." Franda tidak peduli, Ia mengeluarkan piyama dari lemari dan mengganti bajunya disana, masa bodo dengan Nino yang berdiri dengan wajah memelas.


"Sayang, aku akan nenuruti semua kemauanmu, aku berjanji tidak akan ada Jenny lagi kedepannya, aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Jenny, Sayang..."


Jenny, nama itu berhasil menarik perhatian Franda, Ia benar-benar muak kali ini, Franda berbalik, menatap Nino dengan tatapan mematikan, "Apakah begini caramu menyelesaikan masalah? Dulu kau juga menjanjikan hal yang sama, tapi apa? Kau menjilatnya lagi, sekarang kau membuangnya kembali, berharap aku memaafkanmu dan kembali bersamamu, kau mengucapkannya seakan-akan kau sungguh menyesali perbuatanmu. Hah... Kau sungguh memuakkan!" Franda mengejek Nino dengan senyum sinisnya.


"Jangan membuatku semakin membencimu, Nino! Aku sudah cukup muak dengan kelakuanmu, kau meminta maaf dengan cara yang salah. Membuangnya tidak akan menyelesaikan apapun, karena kau bisa memungutnya kembali saat kau membutuhkannya, pada akhirnya aku yang harus merasakan sakit hati lagi. Tolong bersikap dewasa, kau harus bertanggungjawab dengan perbuatanmu. Aku tidak sanggup hidup seperti ini selamanya!" Franda menghempaskan bokongnya di sofa, memegang pipinya yang mulai terasa panas.


Franda menarik napas dalam, lalu menghembuskan dengan kasar, dadanya mulai sesak, "Aku lelah harus bertengkar terus denganmu, terimalah semuanya dengan jantan. Ini konsekuensi atas perbuatanmu, hal ini tidak akan terjadi jika kau tahu posisimu dan mengingatku sebagai istrimu, tidak peduli sekeras apapun dia merayumu, kau tidak akan datang padanya kalau kau benar-benar tahu dimana tempatmu seharusnya."


"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, aku dan Jenny benar-benar sudah berakhir sejak pertama kali kau mengetahui hubungan kami. Tolong jangan menghukumku seperti ini, aku sungguh tidak sanggup..." Nino terisak, kedua tangannya meremas rambut dengan kuat, Nino benar-benar putus asa.

__ADS_1


"Aku tidak menghukummu, sama sekali tidak! Aku hanya membebaskan diriku dari kehidupan yang menyedihkan!"


__ADS_2