Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Before Queensland


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku bergegas melangkah meninggalkan ruanganku dan langsung menuju ke atas untuk menemui Franda yang mungkin sudah bangun saat ini mengingat waktu yang kuhabiskan di kantor cukup lama. Aku harus memastikan semuanya beres terlebih dahulu sebelum aku dan Franda berangkat malam ini.


Aku tidak perlu khawatir tentang perusahaan karena Dave sangat bisa di andalkan. Dia akan bekerja dengan baik sementara aku fokus pada rencanaku membantu Franda menghilangkan traumanya. Franda sangat membutuhkanku saat ini dan aku menaruh harapan besar pada rencanaku. Semoga Franda bisa sedikit lebih tenang setelah kami berada di Australia selama beberapa waktu, dan kemudian kembali kesini dengan keadaan yang lebih baik.


Tiba di rumah, aku langsung naik menuju kamar dan terkejut dengan pintu yang terkunci. Aku mengetuk beberapa kali sampai pintu terbuka dan mendapati Franda berdiri menyambutku dengan melengkungkan mulutnya. Jubah mandi yang saat ini membungkus tubuhnya seketika membuat tubuhku panas dan tanpa sadar aku menggeram tertahan.


Percayalah bahwa sebenarnya aku tak pernah sanggup berlama-lama jika berhadapan dengan Franda. Tubuhnya yang lembut dan halus itu selalu membuatku ingin menerjangnya detik itu juga, menghempaskannya di ranjang sampai dia menjerit dan menangis karena merasa nikmat. Franda sendiri memiliki kecantikan yang levelnya berada di atas rata-rata wanita kebanyakan, semua yang melekat padanya seakan mengundang pria manapun agar segera menidurinya, bahkan dalam keadaan kacau pun dia tidak kehilangan auranya dan itu benar-benar membuatku gila.


Aku masih ingin mengagumi wajah Franda lebih lama namun segera tersadar saat mataku menangkap Mia mendekat dari dalam kamar. Keadaannya yang sedikit kacau membuatku bertanya-tanya, apa yang baru saja terjadi di dalam kamar.


"Aku akan ke kamar." Mia berkata pada Franda lalu tersenyum tipis padaku saat dia melangkah melewatiku.


Aku kembali memutar kepala menatap Franda dan langsung melayangkan pikiranku jauh pada masa-masa indah yang pernah kami lewati beberapa bulan yang lalu, masa ketika kami menjelma menjadi pasangan paling liar yang pernah ada. Bercinta gila-gilaan nyaris setiap malam sampai pagi menjelang tanpa kenal lelah atau bosan. Saling dan membujuk sampai tubuh kami banjir oleh keringat sementara kami terus bergerak seperti orang sinting.


"Kau dari mana?" Suara Franda melayang-layang di kepalaku.


Aku tidak menyadari dia sedang menegurku hingga dia menggoyangkan telapak tangannya di depan wajahku.


"Sean?"

__ADS_1


Aku mengerjapkan mata sekali dua kali lalu menatap kedua mata cokelat-nya. "Kau mengenaliku?" tanyaku bercanda, mengabaikan pertanyaannya. Menyaksikan suasana hatinya yang sedang baik membuatku ingin menggodanya.


Dia tertawa kecil lalu berjalan ke dekat ranjang. "Aku berharap tidak, tapi kau selalu mengacaukan otakku." Dia tersenyum lagi. Aku merasakan perutku mengepal.


Franda duduk di tepi ranjang dan aku mengikutinya. Kemudian dia menghela napas panjang lalu menghempaskan punggungnya di atas kasur. Dan aku baru saja menyadari bahwa Franda terlihat seperti habis menangis.


"Apakah Mia mengatakan sesuatu yang membuatmu menangis?"


Dia memutar kepalanya dan memandangiku dengan bingung pada awalnya, tapi kemudian tatapannya nampak tersinggung. "Kami cuma bercerita tentang beberapa hal, dan dia tidak membuatku menangis." ujarnya kesal lalu mengalihkan pandangan pada langit-langit kamar.


"Jangan tersinggung, aku hanya ingin memastikan Mia tidak menyakitimu dengan perkataannya." Franda tampak tertegun mendengar ucapanku.


"Hm. Tidak ada yang tersinggung." gumamnya, tapi suaranya masih terdengar kesal.


"Baiklah." Aku menyudahi niat menggodanya. "Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Aku melirik sekilas padanya, dia tampak menungguku dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kita akan ke rumah danaumu malam ini."


Alis Franda bertaut. "Kenapa tiba-tiba?" tanyanya.


Aku tersenyum padanya lalu menggodanya dengan mataku. "Aku ingin kita berbulan madu." ujarku seraya menaikkan kedua alisku beberapa kali.


Franda terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu dan aku tahu dia sedang curiga dengan niatku. Tapi Franda tidak boleh menolak, apapun alasannya dia harus setuju. Aku tak bisa menjelaskan rencanaku membawanya kesana karena dia akan menolak jika mengetahui itu.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanyaku, tapi aku berharap dia menangkap maksud dari pertanyaanku yang menyiratkan dia tidak boleh menolak niatku.


Franda menggigit bibir bawahnya sambil terlihat masih berpikir, dia menatapku ragu-ragu sebelum berbicara. "Berapa lama?"


Aku tersenyum padanya. "Selama yang kau inginkan." jawabku tegas.


Franda tersenyum simpul. "Baiklah, tapi aku tidak mau ada sesuatu yang mengganggu selama kita berada disana. Jadi, pastikan siapapun tidak mengusik kesenanganku."


Aku tertawa pelan merespon kalimatnya yang penuh dengan ancaman. Tadinya aku mengira akan sulit membujuknya mengingat dia masih sedikit kacau, tapi ternyata tidak sesulit yang kubayangkan.


"Deal. Tidak ada gangguan, Ma'am." balasku kemudian. Mendadak raut wajahnya sumringah, terlihat seperti Ben yang kegirangan ketika mendapatkan lolipop. "Kau tidak perlu mengemas pakaian karena Miss Diana sudah menyiapkan semuanya, siapkan barang lain yang mungkin kau butuhkan selama kita disana." sambungku sambil melangkah menuju kamar mandi. Aku masih sempat mendengar dia berseru 'Bagus.' saat aku hendak menutup pintu.


Aku mandi dengan perasaan yang lebih tenang setelah memastikan Franda baik-baik saja, setidaknya untuk sekarang. Seberkas keyakinan muncul di benakku bahwa rencanaku membawanya ke rumah danau akan berhasil membantunya menghilangkan traumanya, dan dia akan menjalani hidup dengan tenang seperti orang kebanyakan setelah itu.


Aku sudah mengabari beberapa teman masa kecilku dulu jika aku akan datang ke Queensland besok dan meminta mereka mengunjungi kami. Aku juga mengatakan bahwa aku membutuhkan bantuan mereka untuk menyembuhkan Franda.


Taylor, salah satu temanku, memiliki istri yang bekerja sebagai terapis di klinik psikolog dan dia bersedia membantu Franda. Tapi tentu saja aku tidak mengatakan hal ini pada Franda, karena dia akan menolaknya mentah-mentah. Semua usahaku harus berhasil, tidak peduli bagaimana caranya. Franda pantas merasakan kehidupan yang menyenangkan tanpa dihantui oleh masa lalu.


Aku merasa ngeri membayangkan bagaimana hidup yang dijalaninya selama ini. Aku saja yang baru beberapa bulan tinggal bersamanya sudah merasa putus asa, apa lagi dia yang mengalaminya, bahkan nyaris setiap saat ada masalah yang menerjangnya, Franda akan berubah kalut dan semakin parah seiring masalah itu masih berlanjut.


Aku mengumpat keras-keras dalam hati, mengutuk orang-orang yang pernah menyakitinya, termasuk mantan suaminya yang bodoh dan tak tahu diri itu. Maksudku, aku tak habis pikir dia bisa mengkhiati wanita serapuh Franda berkali-kali. Melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang tanpa memikirkan akibat dari tingkahnya yang memuakkan. Dan perbuatannya itu adalah salah satu penyebab Franda semakin frustasi sekarang.

__ADS_1


Namun, ada sesuatu yang patut kusyukuri dari ulahnya. Karena tanpa disadarinya dia sudah memberikan jalan bagiku untuk hidup bersama Franda. Aku tak mengapa jika harus menyembuhkannya lebih dulu, sebab aku percaya hidup kami akan bahagia setelahnya. Aku dan Franda memang di takdirkan untuk hidup berdampingan, saling mencintai dan saling mendukung dalam semua keadaan.


__ADS_2