Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Suamiku!


__ADS_3

Aku terbangun untuk kedua kalinya siang ini. Tanganku meraba ranjang disisiku, mencari keberadaan Sean. Kosong. Kudengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, ah, suamiku sedang mandi. Aku membayangkan betapa beruntungnya air yang mendapat kesempatan membelai tubuh kekarnya, bayangan itu mampu membuatku merasakan kembali gejolak kenikmatan yang belum sepenuhnya hilang dari sela-sela pahaku.


Ah, Sean... aku tidak tahu kata apa yang pantas untuk menggambarkannya, kehangatan yang diberikannya sungguh membuatku linglung dalam sekejap. Aku berdesir kala mendengar bunyi pintu kamar mandi dibuka, tenggorokanku tercekat melihat pemandangan terseksi sepanjang hidup. Aku sering melihat ini sebelumnya, namun entah kenapa kali ini terasa berbeda, terasa begitu... mendamba.


Suamiku berjalan dengan anggun, menyelipkan senyum dari bibir manisnya, dada berototnya yang masih basah terlihat menggiurkan, rasanya aku masih ingin mengulangi kegiatan kami yang memabukkan itu. Mengulangi saat-saat aku merintih dan mengerang dibawah kendalinya yang maskulin.


"Apa kau mulai terpana padaku sekarang?" Sean menggoda dengan kerdipan matanya. Tangannya dengan lincah mengeringkan rambut hitam dan halusnya. Sean mendekat, melabuhkan ciuman hangat dikeningku. Aku refleks menutup mata, menerima kehangatan dari bibirnya.


Aku bergerak, bertumpu pada kedua lututku diranjang, kubiarkan selimut yang turun dan menunjukkan tubuh polosku. Kutangkup kedua lengan kekarnya, aku mengamati tubuhnya yang terpahat sempurna. Begitu keras dan panas, "Aku merasa rugi karena telah menyia-nyiakan kesempatan untuk menerima kenikmatan yang kau berikan. Sungguh bodoh aku menolak pesonamu yang mendebarkan, Sean..." tanganku naik ke pundaknya, menumpang disana selagi mataku mengamati wajah tampannya, "Kau benar-benar menggoyahkanku, Sean..."


Sean, suamiku yang perkasa itu menangkup wajahku yang terasa kecil ditangan besarnya, menatapku dalam dengan matanya yang sebiru lautan, dalam dan hangat, "Bisakah kau mengulangi ucapanmu tadi? Aku tidak mendengarnya dengan baik karena tubuhmu begitu nikmat, mengalihkanku dari apapun..." Aku bersemu, malu, mengulanginya lagi disaat sadar bukan hal mudah. Tapi aku harus menyenangkannya, membalas setimpal untuk setiap sentuhannya yang melambungkanku.


Aku menarik napas, mencari dukungan untuk mengatakannya, "Sean, terimakasih karena mencintaiku, kau menjadikanku wanita paling beruntung dimuka bumi, tidak ada balasan yang pantas untukmu selain memberimu hal yang sama. Aku mencintaimu, Sean. Aku mencintaimu, suamiku. Aku mencintai pria tampan nan rupawan yang berdiri dihadapanku sekarang. Dengan segenap hati, sungguh, aku mencintaimu." aku jujur mengungkapkan perasaanku. Aku menyadari kenyataan yang jelas didepan mata, bahwa pria yang menjadi suamiku itu sudah mendapatkanku.


Sean dengan segala daya tariknya yang mendominasi, membuatku kalang kabut, gagap dengan pendirianku sendiri yang menolak kehadiran seorang pria. Ketulusan dan kehangatan yang ditunjukannya berhasil memikatku, terlebih senyum dari bibirnya yang selalu terasa manis. "Aku lebih beruntung mendapatkanmu, Franda. Dari dulu aku percaya tidak ada yang sia-sia selama aku berjuang dengan sungguh-sungguh, aku bekerja keras memantaskan diri agar kau menerimaku. Sosokmu yang luar biasa menyihirku sejak 16 tahun lalu. Aku tidak bisa melupakan senyummu dihari aku melihatmu pertama kali, kau membakar semangatku yang pernah hilang..."


Sean merapikan anak rambut yang menempel diwajahku kebelakang telinga, jempolnya yang besar mengusap pipiku dengan lembut, aku bahkan terpejam dan menggigit bibirku untuk menikmati usapannya yang bertambah nikmat saat berpadu dengan deru napasnya yang menyapu kulit wajahku, "Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk membuatmu bahagia." Aku terkurung dalam dekapan tubuhnya yang hangat. Gila! Aku sungguh tergila-gila padanya.

__ADS_1


Taman bunga dihatiku mekar kembali, ladang yang dulu gersang karena kemarau panjang kini menghijau kembali, menampilkan rumput yang menari mengikuti arah angin. Aku seperti oase ditengah hamparan padang pasir yang gersang. Hidup dan tumbuh sendiri. Asing namun bahagia, acuh pada kegersangan yang mengelilingi. Sebahagia itu hatiku, sebesar itu kepuasan yang kudapatkan. Aku bersiap menyambut hari yang lebih menjanjikan, menerjangku dengan segala keindahan didalamnya.


Bibirku terus mengembang, suasana hatiku yang bahagia tak bisa kusembunyikan, aku terus bergelora, membawa kebahagiaanku kemanapun kakiku melangkah. Sean masuk kekamar dengan nampan penuh makanan tepat saat aku keluar dari kamar mandi. Kupandangi lagi suamiku yang rupawan, Ya Tuhan, suamiku! "Cepat kenakan pakaianmu, Sayang..." aku gemetar mendengar panggilannya, oh, astaga...


Aku mengambur kepelukannya, menghujani bibirnya dengan ciuman bertubi-tubi, tak peduli pada nampan yang hampir jatuh, "Panggil aku seperti itu lagi..." aku meminta, memohon dia memanggilku semanis itu.


"Sayang?" aku tertawa melihat wajahnya yang bingung, lalu dengan cepat mengangguk.


"Ya, seperti itu. Lagi!"


Sean merapikan mangkok sup yang sudah kosong dan menaruhnya kembali ke nampan, tangannya yang besar dan kuat terlihat aneh saat bersentuhan dengan benda-benda itu. Mataku tak henti menatap takjub padanya, setiap gerakannya mengundang hasrat yang menggebu. Aku menyesal tidak pernah menatapnya seintim ini, kebodohanku dalam mengatasi perasaanku sendiri berakhir dengan penyesalan betapa banyak waktu yang kulewatkan untuk menerima cintanya.


"Ayo, bersiaplah... Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu," Sean mengulurkan tangannya, keningku berkerut memikirkan maksud ucapannya. "Tidak perlu menebak, kau akan segera melihatnya. Ayo!" aku tersenyum geli, Sean benar-benar bisa membaca pikiranku.


"Apa kau paranormal?" aku terkekeh, sungguh pertanyaan sia-sia dan bodoh.


"Ya, aku pintar membaca isi pikiranmu." lirih Sean genit, senyumnya yang menawan nyaris membuatku mati kehabisan napas.

__ADS_1


Aku sangat tergila-gila padanya, otakku bahkan tidak bisa memikirkan alasan kenapa aku luluh padanya hanya dalam semalam, perasaanku berubah seluruhnya. Sean menggemparkan seisi hatiku, meluluhlantakkan ketakutan dan kekhawatiran yang selama ini menyelubungiku. Perlakuannya yang penuh kasih sayang dalam memujaku berhasil mengalahkanku, aku jatuh tersungkur padanya. Bahkan, aku rela kalau harus berlutut memohon agar suamiku ini memberiku sentuhannya yang mematikan.


Sean adalah wujud asli dari kepuasan, setiap sisi tubuhnya memiliki daya tarik sensual, gerak-geriknya mengundang hasrat, membuat wanita mana saja rela menghambur dan mengemis belas kasihnya atas pelayanan ranjang yang panas. Aku tidak pernah segila ini, tidak pernah selapar dan sehaus ini. Menginginkan sesuatu lagi dan lagi, seakan takut aku tidak bisa menikmatinya dilain hari.


Aku pernah mencintai seseorang secara dalam dan sungguh-sungguh, namun tidak pernah merasakan sensasi asing sehebat saat aku bersama Sean sepanjang malam kemarin hingga siang ini. Tidak pernah merasa begitu dipuja dan dihormati. Sekarang aku sadar percintaan yang kulakukan sebelumnya bukan karena perasaan yang sungguh mendalam, melainkan kebutuhan yang mendesak. Hasrat yang menuntutku bukan karena cinta, namun *****.


Sean menunjukkanku sisi lain dari keintiman, membawaku menikmati kehangatan dengan cara yang tepat, menunjukkan rasa cinta melalui sentuhan. Pernikahanku dengannya sungguh menantang, malam pertama yang terlambat kami habiskan dengan saling membelai, memanjakan, dan meluapkan segala perasaan.


"Kau sudah siap?"


***


Komen, komen, komen!


Like, like, like!


Kasih semangat dikit aja.

__ADS_1


__ADS_2