Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 49


__ADS_3

Matahari pagi menyembul dari balik tirai, menggangu tidur lelap seorang wanita yang tengah hamil besar. Wanita itu membuka mata perlahan, pemandangan pertama yang dilihatnta adalah wajah sang suami yang masih asik dengan mimpinya, tak terganggu oleh sinar menyilaukan dari belakangnya.


Franda mengangkat tangan kanannya dan mengelus wajah tampan suaminya, hampir tidak ada celah untuk kejelekan disana selain segaris luka masa kecil yang tercetak di pelipis kanannya, lucunya luka yang membelah alis itu justru membuatnya semakin tampan. Bagaimana bisa ketampanan seseorang bertambah dengan bekas luka? Weird.


Franda memajukan kepalanya, mengikis jarak diantara wajah mereka lalu mendaratkan ciuman hangat di bibir suaminya.


"Morning, Honey!" sapanya dengan senyum manis, senyum yang menambah kehangatan dihati lelaki di hadapannya.


Nino membalas tersenyum, "Kau mimpi apa semalam, hm?" Nino menyisir rambut Franda dengan jarinya, menarik anak rambut yang menghalangi pandangannya ke belakang telinga wanita hamil itu.


Franda menggeleng, senyumnya masih menghiasi wajahnya.


"Apa Ben menyusahkanmu semalam?" Nino mengusap perut istrinya yang menggembung di dalam selimut.


Franda menggeleng lagi, tangannya menimpa punggung tangan suaminya, mengikuti gerakan elus-mengelus disana. Matanya tetap tertuju pada suaminya, juga masih dengan senyum yang sama.


Nino membuka selimut dan menurunkan pandangannya ke perut istrinya, "Anak baik, Daddy bangga padamu, Ben! Jangan menyusahkan Mommy, ya! Kalau mau main nanti saja saat kamu sudah bosan di dalam sana, Daddy tunggu disini!" Nino mencium perut yang membuncit itu, takjub dengan keajaiban didepan matanya, tersihir dengan kehidupan yang ada dibalik lapisan kulit mulus perut Franda.


"Sayang, kau ada kegiatan hari ini?" tanya Nino sembari bergeser dan mengambil ponselnya diatas meja.


"Ya, aku akan ke mall bersama Ibu dan Mama." Franda duduk bersandar pada kepala ranjang, menarik bantal untuk menahan punggungnya, wajahnya meringis begitu merasakan tendangan dari dalam perutnya.


.


Langit jingga hampir menghitam ketika Franda, Ibu dan Mama pulang dari Mall. Ketiganya berjalan dengan bahagia diikuti Dika dan Sora yang membawa puluhan tote bag hasil buruan mereka. Ibu Marissa dan Mama Rossa hanya membeli beberapa barang dan sisanya milik Franda. Wanita hamil itu seperti baru saja menghapus dahaganya dengan menghabiskan uang suaminya, berbelanja hal-hal yang tidak penting. Ia masih saja membeli gaun hamil, padahal dalam waktu sebulan kedepan sudah melahirkan.


"Mau di taruh dimana, Bu?" tanya Dika.


"Diruang keluarga saja." Franda menunjuk ke arah ruang keluarga. "Bu, Ma... Aku langsung ke kamar ya."


Franda langsung menuju kamarnya di lantai dua setelah mendapat anggukan dari dari Ibu dan mertuanya.

__ADS_1


"Kau bersenang-senang, Sayang?" suara Nino menyambut istrinya saat wanita hamil itu masuk ke dalam kamar.


Franda tersenyum, berjalan mendekat dan langsung melabuhkan ciuman singkat di bibir suaminya, "Aku menghabiskan uangmu, hehehe!" jawab Franda sambil melempar tas di tangannya ke ranjang, lalu mendaratkan kedua tangannya di pundak Nino.


"Tugasmu memang harus menghabiskannya, aku bekerja untukmu, Sayang!"


Nino meraih pinggang Franda dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengelus perut buncit istrinya.


"Apa dia menyusahkanmu hari ini?" tanya Nino.


Franda menggeleng, lalu membalikkan badannya. Nino yang sudah paham maksud istrinya hanya tersenyum.


"Mau ku ambilkan gunting?" bisiknya tepat di telinga Franda, sontak istrinya menatap tajam begitu mendengar sindirannya.


"Hahaha, aku hanya bercanda. Kenapa serius begitu?"


"Lain kali katakan pada Erika jangan membelikanku gaun-gaun bodoh seperti ini lagi, menyusahkan sekali!" Franda mulai mengomel, entah sudah berapa kali dirinya memberitahu sekretaris suaminya itu untuk tidak membeli gaun yang memiliki resleting di belakang. Namun tetap saja Erika membelinya dengan alasan sangat bagus dan nyaman.


"Sayang, aku..." belum sempat Franda menyelesaikan ucapannya, Nino sudah menyerangnya lagi.


"Aku mau menyapa Ben." bisik Nino, tangannya mulai menjalar kedepan melalui punggung Franda, berhenti tepat di gundukan kenyal yang semakin membesar.


Franda tidak menjawab, hanya terdengar desah*n dari bibir seksinya. Perubahan hormon saat hamil membuatnya tak kuasa menolak sentuhan suaminya. Nino yang merasa mendapat lampu hijau dengan cepat melancarkan aksinya, menerbangkan pesawat yang akan mengantar mereka ke puncak tertinggi kesenangan manusia. Memuaskan dirinya dan istrinya sembari ditemani rembulan yang mulai menggantikan tugas matahari.


"Sayang, apa kau melihat tote bag kecil berwarna cokelat di meja riasku?"


Franda sedang mengacak-acak meja rias untuk mencari sebuah tote bag berisi jam tangan untuk Nino yang baru di belinya beberapa hari lalu saat menghabiskan waktu dengan Mia di sebuah Mall, sementara Nino sedang fokus dengan ponselnya, membaca email yang dikirimkan oleh Erika.


"No!" jawab Nino singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Aneh... Perasaan aku menaruhnya disini." ucap Franda pelan, namun tetap terdengar oleh Nino.

__ADS_1


Franda berjalan ke walk in closet untuk mencari disana, namun tetap tidak menemukannya. Nino meletakkan ponselnya dan melihat istrinya yang kebingungan.


"Apa isinya?" tanya Nino sembari berjalan mendekati istrinya.


"Jam tangan. Aku membelinya untukmu beberapa hari lalu, seingatku aku menaruhnya di laci meja rias." jawab Franda, terus mengacak-acak laci salah satu lemari di walk in closet.


"Sudah, nanti saja. Kalau kau yakin menaruhnya dikamar, pasti ada di sekitar sini. Ayo, kita harus makan malam." Nino langsung merangkul istrinya, melepaskan handuk yang menggulung di kepala wanita yang dicintainya itu, dan langsung membawanya turun.


Di meja makan sudah duduk semua anggota keluarga. Papa Azka, Mama Rossa, Ibu Marissa, dan Mia. Mereka sedang menyantap makan malam hasil kolaborasi Ibu dan Miss Diana. Menu makan malam kali ini cukup ramai karena ada Papa Azka dan Mama Rossa yang akan menginap.


"Miss, tolong itu belanjaan saya di masukin ke kamar baby aja ya." ucap Franda pada Miss Diana setelah menyapa anggota keluarga di meja makan.


"Yes, Mam!" sahut Miss Diana dengan gaya centilnya. "Buat saya gak ada, Bu?" tanyanya sambil memainkan kedua alisnya, meminta tanpa malu-malu. Miss Diana memang ekspresif, janda tanpa anak itu akan mengatakan apapun yang ada di kepalanya.


"Weekend. Saya kasih waktu dua jam untuk belanja, ajak Mbak Ika dan Sora juga. Dika akan mengantar kalian." kata Franda sambil tersenyum.


Wajah Miss Diana langsung cerah seketika, "Thank you, Nyonya. You're the best, I love you!" jawab Miss Diana sambil meniup ciuman dari bibirnya di telapak tangannya. Gaya bicaranya sudah mengikuti kebiasaan majikannya dirumah. Tak jarang dia bertanya arti beberapa kata dalam bahasa inggris, supaya bisa dapat suami bule katanya. Hah, bule!


"Jangan membeli lingerie untuk menggoda majikanmu, Miss! Hahahaha!" ledek Mia dengan mulut penuh makanan yang baru di suapnya.


"Tenang saja, Sist! Paling hanya Mas ganteng penghuni rumah sebelah, masih single dan juga lebih muda dari Bapak, hehehe..." Miss Diana mengucapkannya tanpa rasa sungkan sedikitpun, kalimatnya mengalir begitu saja.


"Apakah mimpi suami bule-mu sudah berganti?" tanya Nino yang baru saja di singgung. Tangannya sibuk mengisi piring untuk Franda.


Miss Diana menggeleng, "Tentu saja tidak, Pak! Hanya selingan sebelum Queen bertemu King!" jawabnya santai.


"Hah, aku mengagumi rasa percaya dirimu yang tinggi." Mama Rossa menimpali.


Janda 42 tahun itu tersenyum, "Terimakasih untuk pujiannya, Bu!" katanya dengan ceria, padahal Mama Rossa sedang menyindirnya.


Semua orang tertawa mendengar jawaban Miss Diana yang begitu santai.

__ADS_1


__ADS_2