
Nino memarkirkan mobilnya setelah sampai dirumah sakit yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Edward, berjalan cepat menuju ruangan UGD dan mendapati kakak iparnya sedang duduk menunggu disana.
Nino mendekat dan duduk disamping Edward yang tertunduk "Bagaimana, Ed?" tanyanya.
Edward mengangkat kepala begitu mendengar suara Nino, Ia menggeleng, " Masih didalam." jawabnya lesu.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Nino.
Edward menggeleng lagi, "Tidak ada yang melihat kejadiannya, polisi yang meneleponku dan memberitahu Ayah kecelakaan."
"Aku akan meminta orangku untuk membantu mencari tahu... Semoga Ayah baik-baik saja." ucap Nino sembari menepuk paha Edward.
Edward tidak menanggapi, pikirannya dipenuhi oleh rasa khawatir akan kondisi Ayahnya. Belum pernah dirinya berada diposisi seperti ini sebelumnya, kehidupan mereka selama ini selalu tenang. Ayah dan Ibunya juga selalu sehat, tidak memiliki penyakit apapun karena keduanya selalu menerapkan gaya hidup sehat.
Seorang dokter keluar dari ruang UGD dengan wajah yang lesu, membuat Edward dan Nino menyadari bahwa sesuatu telah terjadi.
Dokter laki-laki itu menarik napas sebelum berbicara, "Kami sudah berusaha, tapi lukanya cukup serius. Kami minta maaf tidak bisa menyelamatkannya." ucap dokter itu dengan wajah sedih, menyampaikan hal seperti ini adalah hal yang paling dibencinya sepanjang karir pekerjaannya, belum lagi harus menghadapi berbagai macam reaksi keluarga para pasien yang tidak bisa ditolongnya itu.
Edward terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Jantungnya terasa lepas seketika, Ia terduduk lemas dikursi yang tadi di dudukinya.
__ADS_1
Nino menepuk punggung Edward yang mulai menangis pelan, dirinya juga tidak tahu harus mengatakan apa. Ini bukan yang pertama kali baginya mendengar berita duka, kepergian Papanya saat Ia berumur 15 tahun meninggalkan kesedihan mendalam yang sangat sulit untuk dihadapinya hingga Ia berakhir menjadi seorang pemabuk, dan beruntung mampu dihilangkannya setelah bertemu Franda. Sekarang yang menjadi tantangan adalah bagaimana Ia harus menyampaikan berita ini pada Franda, Ibu, dan Mia. Terutama Franda, menurut cerita Edward dulu Franda juga sangat terpukul saat kehilangan kedua orangtuanya, bahkan meninggalkan trauma yang mendalam bagi istrinya.
Nino meremas kedua bahu Edward yang menangis pilu dihadapannya, "Kuatlah demi Ibu dan kedua adikmu. Aku juga pernah mengalaminya, ini tidak mudah tapi aku yakin kau bisa..." Nino menyeka setitik air matanya yang juga menetes. "Aku akan mengurus semuanya disini, kau pulanglah dan beritahu mereka." kata Nino melanjutkan.
Edward menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan beberapa kali, lalu menghapus airmatanya dan mengangguk.
"Terimakasih, aku pulang kalau begitu." ucap Edward, Ia berjalan menjauh setelah Nino mengangguk dan menepuk pundaknya lagi.
.
Franda menangis histeris didalam mobil setelah keluar dari area pemakaman, hari itu juga Ayahnya dimakamkan. Tangisnya yang sejak tadi berusaha Ia tahan didepan keluarganya kini dikeluarkan saat dirinya bersama suaminya. Nino tidak mengatakan apapun, Ia membiarkan istrinya menumpahkan segala kesedihan yang dirasakannya untuk sementara. Nino hanya memeluk erat dan menciumi kepala istrinya, Ia tahu rasa kehilangan begitu menyakitkan, sampai terkadang kita berpikir lebih baik kita yang pergi dan meninggalkan semua orang.
Franda meremas kemeja Nino dengan kuat, "Kenapa dia pergi seperti ini? Kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku?" ucap Franda pilu disela tangisnya. Ia memukul dadanya yang sesak, seperti berusaha mengusir rasa sakit yang mendalam baginya, "Aku belum menjadi anak yang baik baginya, aku belum memberikan apapun padanya..." lanjut Franda, Ia terus menangis dan berteriak didalam mobil.
Nino semakin erat memeluk istrinya, "Jangan berkata seperti itu, Sayang... Kau sudah melakukan yang terbaik sebagai anaknya, aku yakin dia bangga memiliki putri sepertimu..." ucap Nino berusaha menenangkan.
Franda justru semakin histeris dalam tangisnya saat mendengar ucapan suaminya, "Kenapa hidupku menyedihkan begini? Kenapa semua orang sangat suka meninggalkanku diam-diam? Apakah mereka tidak tahu aku membutuhkan mereka? Dulu Papa dan Mama, sekarang Ayah. Apakah nanti Ibu juga akan melakukan hal yang sama?" kata Franda, membuat Nino juga merasa sakit mendengarnya.
Nino memegang kedua pipi Franda, menatap dalam mata cokelat istrinya yang terlihat sangat menyedihkan, "Sayang, kau pernah kehilangan orang yang berharga bagimu sebelumnya, aku juga pernah mengalaminya, aku tidak akan mengatakan kau harus melupakan mereka, tentu kita harus mengingat bahwa mereka adalah hal terbaik yang pernah ada. Tapi, Sayang... Kehidupan memang begitu, manusia datang dan pergi, yang ditinggalkan harus terus melanjutkannya sampai Tuhan mengatakan 'Cukup, waktumu sudah habis' disitulah kita berhenti, dan sudah pasti akan memberikan duka bagi mereka yang mengenal kita..." Nino menghapus air mata Franda dengan lembut.
__ADS_1
"Kau harus bangkit, kau harus bisa mengatasinya. Kita pasti bisa melewati ini... Aku akan selalu disampingmu, aku pasti menemanimu, jangan merasa kecewa ataupun marah pada takdir. Segala yang terjadi dalam hidup kita sudah menjadi rencana Tuhan, jangan berpikir mereka tidak menyayangimu. Papa, Mama, dan Ayah pasti sangat bangga padamu, hanya saja Tuhan lebih sayang pada mereka dan memanggil mereka untuk kembali bersama-Nya dibanding tinggal lebih lama di dunia yang buruk ini." kata Nino melanjutkan sambil tersenyum pada istrinya.
Franda memeluk Nino, Ia merasa semua yang dikatakan suaminya adalah benar. Ia tidak mempunyai hak apapun untuk marah atau mengutuk takdir hidupnya yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Franda merasa ucapan Nino seperti menamparnya, dirinya memang merasa kehilangan namun tidak pantas baginya untuk mengeluh apalagi menyalahkan Tuhan dengan mengatakan hidupnya selalu menyedihkan, karena banyak hal baik juga yang Ia dapatkan selama ini, siapa lagi yang memberikan semua itu kalau bukan Tuhan.
Suami yang baik, keluarga yang menyayanginya, bisnisnya yang terus berkembang, perusahaan suaminya yang juga semakin besar, dan orang-orang yang selalu membantunya merupakan hal baik yang Tuhan berikan padanya. Ia tidak pantas mengeluh hanya karena kehilangan orang dicintainya padahal kehidupannya sudah sangat sempurna, mensyukuri apa yang dimilikinya saat ini lebih baik dari pada meratapi sesuatu yang tidak akan kembali.
"Bantu aku melewatinya, tetap bersamaku apapun yang terjadi." pinta Franda, tangisnya mulai mereda.
Nino tersenyum, diciumnya kening istrinya, "Jangan khawatir, aku suamimu. Tidak mungkin aku meninggalkanmu, aku akan tetap disisimu sekalipun wajahmu sudah berkerut seperti Mama." Kata Nino sambil bercanda, berusaha agar istrinya lebih tenang dan sejenak melupakan rasa sedihnya.
Franda memukul gemas dada Nino, "Kau pikir dirimu akan tetap tampan saat aku setua Mama? Huh, percaya diri sekali kau!" ucap Franda, lalu tersenyum setelah mengatakannya.
Nino balas tersenyum, "Sayang, ikhlaslah untuk Papa, Mama, dan Ayah. Sekarang fokus dengan apa yang tersisa. Masih ada aku dan banyak orang lainnya yang juga sangat menyayangimu, hmm?" ucap Nino.
Franda mengangguk mengiyakan, "Terimakasih sudah bersabar denganku. Aku minta maaf dengan yang ku katakan di balkon waktu itu, sekarang aku menyadari bahwa aku sangat membutuhkanmu, kau hal terbaik yang pernah ada di hidupku, tetaplah bersabar meskipun aku bertingkah kekanakan, Sayang." kata Franda sambil memeluk suaminya. Ia teringat akan pembahasan mereka di balkon pada malam sebelum Ayahnya meninggal, dirinya benar-benar keliru waktu itu. Yang paling dibutuhkannya sekarang hanya Nino, suaminya yang selalu tahu harus melakukan apa saat menghadapinya.
Nino melepaskan pelukan Franda, "Memangnya kau mengatakan apa di balkon?" tanyanya berpura-pura.
"Jangan menggodaku!" jawab Franda ketus sambil memukul paha suaminya, lalu keduanya tertawa bersama.
__ADS_1