Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Police Appointment


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


"Pak Kepala bilang dia akan segera menemuimu." Seorang opsir polisi muda yang baru saja masuk ke ruangan berkata padaku.


"Baiklah." Aku memberinya anggukan singkat dan dia berjalan keluar.


Ini bukan pertama kalinya aku berada di kantor polisi. Tapi suasana di tempat ini selalu menimbulkan kesuraman tertentu, seperti sebuah ritme berulang klise yang ingin secepatnya kau singkirkan dari kepalamu.


Aku ingat dulu pernah berada di tempat seperti ini, sehari setelah mayat ayahku ditemukan waktu itu. Para polisi, mereka terus bertanya padaku tentang apa yang terjadi, orang yang berbeda tapi pertanyaannya selalu sama. Seolah mereka ingin memastikan aku tidak berbohong dengan tetap menceritakan kisah yang sama. Mereka ingin tahu detailnya, untuk laporannya. Mungkin itulah yang terpenting baginya, mengesampingkan efek psikologis bagi orang-orang yang mereka sebut sebagai saksi mata. Aku tahu pikiranku saat ini terdengar pahit, tapi terus terang aku tak bisa menghilangkan perasaan skeptis itu dari benakku.


Laporan kepada polisi selalu memakan waktu berjam-jam yang melelahkan, pertanyaan demi pertanyaan serta semua pengulangan seperti yang kusebutkan tadi. Tapi aku telah memikirkannya sejak aku menerima telepon dari Dave dua hari lalu.


Dia mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Soal gangster berbahaya dari Malaysia, sebuah persekongkolan dan juga sesuatu yang menyangkut perdagangan ilegal manusia, atau kupikir itulah yang dikatakannya. Dia bahkan memohon agar aku menolongnya menemukan Frank, adiknya, yang lagi-lagi menurutnya tengah bersembunyi di Jakarta.


Dan yang terakhir, dia melarangku memberitahu polisi. Dia berjanji begitu aku menemukan Frank, dia sendiri yang akan menyerahkan diri ke polisi, karena hanya adiknya-lah alasan dia melakukan semua ini. Dia benar-benar sudah gila. Hanya itu penjelasan yang paling masuk akal. Karena tak satupun dari omongannya yang dapat diterima oleh akal sehat. Aku yakin dia mengalami efek delusional, sebuah kenyataan semu yang diyakini terus-menerus sebagai pertanda dari gangguan mental. Itu lebih cocok untuknya dibandingkan Franda.


Lagi pula, orang waras mana yang akan berani mengajukan permintaan seperti itu kepada orang yang sudah dia tipu habis-habisan? Jadi, disinilah aku. Berusaha melakukan hal yang benar, yang bakal dilakukan oleh semua orang waras lainnya. Melaporkannya ke polisi.


Ponselku berkedip, aku melihat sekilas layarnya dan mendapati nama Pras disana. Aku mengerang dalam hati.


Kemarin aku sempat memberitahunya rencanaku untuk melaporkan Dave ke polisi, dan dia menentangnya. Dengan keras. Maksudku, sangat amat keras. Ini akan segera menjadi berita, tidak diragukan lagi. Nama perusahaanku selalu menjadi prioritas utama baginya melebihi apapun, lagi pula aku sudah menduga reaksinya. Ini karena Pras adalah salah satu orangku yang paling keras bekerja membantuku dari awal aku membangun bisnisku.


Tapi masalahnya, bagian tentang kontrak palsu itu saja sudah cukup membuatnya meradang, jadi tak perlu adanya kasus hukum tambahan untuk menjadikanku seperti seekor korban sembelihan di matanya. Sedikit terlalu ekstrim tapi itulah kenyataannya.


Aku menghembuskan napas keras lalu mengangkat teleponnya. "Pras, aku baru akan meneleponmu." sapaku ringan.


"Katakan padaku, apakah kau benar-benar akan melaporkannya?" nadanya terdengar gusar.


"Ya, aku akan melaporkannya." Aku menjawab santai.


Pras mengumpat pelan dan tak jelas. "Dengar, ini tidak akan menghasilkan apapun, Sean. Kau malah membuat segala sesuatunya menjadi semakin rumit. Media akan menyoroti kasus ini lebih dalam, dan kau tahu apa akibatnya? Para klien-mu..."

__ADS_1


"Aku tahu itu," potongku cepat.


"Lalu, kenapa kau masih melakukannya?" Ada penekanan dalam suaranya.


"Aku hanya ingin masalah..." Ucapanku terputus saat dua orang pria masuk ke ruangan. Aku mengenali salah satunya, pria tua yang rambutnya nyaris dipenuhi uban, Irjen Bagoes Kurniawan. Lalu seorang pria lagi yang lebih muda, dengan wajah dan perawakan seperti orang timur, serta mata yang tajam dan penuh selidik.


"Dengar, Pras, aku harus melakukan ini. Aku akan bicara padamu lagi nanti." Aku berbisik di telepon. "Dan jangan mengajariku untuk melakukan apa." kataku nyaris murka, sebelum menutup sambungan teleponnya.


"Pak Kepala," sapaku selagi dia berjalan mendekat ke arahku.


Dia mengangguk sekilas dengan senyum ramah menghiasi wajahnya. "Kukira anak buahku membuat kesalahan saat mengatakan ada orang asing yang datang mencariku." selorohnya. "Bagaimana kabar pamanmu, Sean?"


Paman yang dia maksud adalah ayah Dean dan Dhea. Pamanku berteman dengannya sejak dulu, dan dia yang selalu membantu pamanku menangkap 'mafia' di perusahaannya. Saat ini pamanku memang sedang sakit dan menjalani pengobatan di sebuah rumah sakit di Jerman. Itulah sebabnya adik sepupuku, Dhea, menghilang selama beberapa waktu ini. Dia harus fokus menemani ayahnya sementara Dean membantuku disini.


"Semakin membaik, sir." Aku berdiri sejenak saat dia berada di hadapanku untuk berjabat tangan, lalu kami bertiga sama-sama duduk melingkari meja logam yang ada di tengah ruangan.


"Itu bagus, sudah lama aku menantikan dia datang ke klub golf setelah pertandingan terakhir kami." katanya dengan nada riang.


"Jadi," Dia memulai sambil menopangkan kedua tangannya ke atas meja. "Laporan tentang siapa tepatnya yang ingin kau bicarakan?"


Hiruk pikuk suara mesin-mesin printer, obrolan para petugas dan ketukan jari pada tuts keyboard yang berdengung memenuhi ruang kantor kepolisian perlahan menghilang ketika Irjen Bagoes mendorong pintu ganda berayun yang ada di sisi barat sehingga kami memasuki ruangan lain yang lebih besar. Hanya ada deretan kursi logam yang seluruhnya kosong serta dua orang petugas yang duduk di balik meja konter.


"Kami akan berusaha menyelidiki masalah ini, tapi aku tak bisa menjamin apapun. Lagi pula, kau harus tahu bahwa Malaysia sama sekali bukan kawasan terbuka yang bisa di akses oleh polisi asing begitu saja, mereka memiliki batasan tertentu, yurisdiksi."


Irjen Bagoes berbicara panjang lebar saat kami berjalan beriringan menuju putar kaca besar yang mengarah keluar. Kami berhenti kira-kira satu meter dari ambang pintu, kemudian dia memutar tubuhnya menghadapku.


"Tentu saja." sahutku. "Tapi kuharap kita bisa menemukan Dave sebelum The Great Holdings menuntutku karena kontrak itu. Agak berat kalau harus menjalani persidangan saat sekarang ini." gerutuku, teringat oleh isi perjanjian kontrak sialan itu.


Beberapa hari yang lalu, tim pengacara perusahaanku telah menjelaskan garis besar kasusnya. Salah satu pasal yang mengikat pada kontrak itu berbicara mengenai penalti sepuluh kali lipat dari nilai kontraknya. Mereka juga sempat menghitung semua aset yang kumiliki jika aku sampai kalah di persidangan. Pada akhirnya yang tersisa adalah sebuah rumah peninggalan mendiang ayahku yang ada di Surabaya, dimana klausulnya masih tercantum nama keluargaku, dokumen yang cukup sukar untuk di pindah tangankan. Selebihnya, segalanya, semua yang kumiliki masuk dalam daftar hitam.


Itu berarti jika aku kalah, hanya rumah di Surabaya itu yang tersisa untukku. Itu menyebalkan. Bukan pada bagian rumahnya, hanya tidak mudah membayangkan kalau ada kemungkinan bahwa aku bisa saja kehilangan semua hasil kerja kerasku selama bertahun-tahun karena masalah ini.

__ADS_1


Aku mengamati Irjen Bagoes yang tiba-tiba terdiam. Keningnya berkerut dalam lalu untuk sesaat pandangannya tampak seperti menerawang, seolah-olah pikirannya sedang berada di tempat yang jauh, sebelum dia kembali menggerakkan kepalanya ke arahku. Lalu matanya bersinar cerah lagi seakan dia baru saja melihatku untuk pertama kalinya.


"Jadi, sekarang kau bolak-balik Indonesia-Australia? Kenapa tidak pindah kesana saja?" Dia bertanya ramah. Memberi isyarat agar aku mengikutinya berjalan melewati pintu putar itu lalu melangkah keluar. Kami berdiri di bawah kanopi baja yang ada di luar gedung, dia menemaniku sembari berbincang-bincang sementara menunggu Ameer mengambil mobil dari parkiran.


"Sampaikan salamku untuk Tony." gumamnya saat aku telah duduk di jok belakang di dalam mobilku.


Aku membiarkan jendelanya setengah terbuka saat aku menjawabnya. "Tentu, sir. Dan aku menunggu kabar baim darimu soal Dave." imbuhku.


Sesuatu yang ganjil berkelebat di matanya tapi segera hilang secepat dia datang sebelum aku sempat menafsirkan apapun. Dia hanya tersenyum lalu mengangguk sekilas padaku. "Berhati-hatilah."


Matahari bersinar cerah, nyaris terik siang ini seolah mengejek suasana hatiku yabg sedang buruk. Dalam hal ini menjadi tak terelakkan mungkin selama kurun waktu yang tak bisa kuperkirakan.


Semuanya tidak cukup hanya masalah perusahaan yang kini berada di ujung tanduk, masih ada beberapa masalah yang perlu kuselesaikan dan juga membutuhkan perhatian yang banyak dariku. Terutama Franda. Untuk saat ini aku terpaksa meninggalkan dia dan Mia di Queensland, karena tidak mungkin membawa mereka kembali mengingat keluarga kami tengah menjadi sorotan publik. Mereka akan jadi santapan umum jika tetap nekad pulang. Kemarin saja, belum apa-apa Edward sudah mengeluh padaku. Katanya puluhan wartawan mengerubungi kantornya selama beberapa hari hanya untuk menayakan tanggapannya tentang kasus Mia dan Taka.


Para wartawan sialan itu tidak akan mau tahu bagaimana kondisi kami menghadapi masalah ini, yang terpenting bagi mereka adalah ada berita yang bisa mereka suguhkan kepada masyarakat. Tidak peduli itu baik atau buruk. Berbagai asumsi memang tidak akan melukaimu, tapi dalam dunia bisnis persepsi menentukan pola pikir, dan itu sangat penting. Sebelumnya hal seperti ini tak pernah menggangguku, kurasa apa yang kualami hari-hari ini telah mengubahnya.


"Kita sudah sampai, sir." suara Ameer dari kursi pengemudi menarik pikiranku kembali.


Aku memandang keluar jendela. Ternyata kami telah sampai di depan gedung kantorku. Belum-belum aku sudah merasa enggan. Pras pasti mencecarku lagi. Bukan berarti aku khawatir dia tidak mendukungku, karena ini perusahaanku, tapi ada hal lain yang mengganggu pikiranku.


"Terima kasih, Ameer." ujarku sesaat sebelum beranjak keluar dari mobil lalu membanting pintunya di belakangku.


Saat memasuki lobi utama aku melihat Dean dan beberapa orang tim-nya berderap dari arah ruang pertemuan sambil saling berbicara satu sama lain. Kukira dia tidak menyadari kedatanganku hingga kami nyaris berpapasan, lalu dia menghentikan langkah ketika tepat berada di hadapanku dan menyuruh semua orang yang mengukutinya pergi lebih dulu, sebelum perhatiannya kembali padaku.


"Kenapa baru muncul setelah keadaan semakin kacau, Kak?" Dia melipat kedua tangannya di depan dada sembari menyipitkan matanya mengamatiku. "Aku bahkan hampir bunuh diri karena kesulitan mengatur jadwal menemui para klien-mu. Mereka tidak berhenti meminta penjelasan tentang apa yang terjadi dengan Warner Enterprise."


Aku mengangkat alis melihatnya. "Kau mau aku mengucapkan terima kasih?"


Dia hanya terkekeh pelan sebagai jawaban. "Apakah kakak ipar juga ikut kesini?"


"Tidak, aku masih cukup waras untuk mengantisipasti kemungkinan yang terjadi jika aku membawanya kesini." balasku tenang. "Aku harus bertemu dengan Andy dan Pras, setelah itu aku akan menemuimu lagi. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan." sambungku seraya menepuk pelan lengannya, lalu berderap meninggalkannya.

__ADS_1


Langkahku semakin berat saat menghampiri meja Selena yang tepat berada di depan ruanganku. Semuanya berputar-putar dan campur aduk di benakku saat ini.


Ponselku bergetar, dan aku melihat sekilas ada pesan masuk dari Franda. Lagi. Aku mengerang dalam hati. Beberapa hari ini aku semacam menghindari teleponnya. Sulit sekali berpura-pura di depannya, bersikap seolah-olah masalah perusahaan ini tidak ada.


__ADS_2