
Aku berjalan masuk ke ruang kerjaku dibutik, waktu sudah menunjukkan jam 9.10 pagi saat aku tiba. Panic attack yang menyerangku kemarin ditambah mendengar mantra sakti Mia yang menyadarkanku membuatku bolos kemarin. Wait, ini butikku! Kenapa aku harus bolos, bukankah aku bebas harus datang kapan saja? I'm the boss, right?
Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak memikirkan semua ucapan Mia tentangku, Ben, Nino, dan Sean. Aku bisa mengatasi masalahku dan Ben, namun belum memastikan untuk Nino dan Sean. Aku benar-benar bingung sekarang, haruskah aku melupakan Nino dan menerima Sean? Atau mencoba kembali bersama Nino, dan hidup bahagia sebagai orangtua untuk Ben? Bahagia? Wahhh, aku sudah lupa bagaimana rasanya.
Aku menyalakan laptopku, memeriksa beberapa email yang berhubungan dengan pekerjaan, mengirim balasan pada beberapa diantaranya. Mataku terpaku pada sebuah email pribadi yang selama ini tidak pernah kubuka setelah aku tahu siapa pemilik alamat email itu. Sean!!! Aku tidak pernah mengijinkannya menghubungiku melalui ponsel, meskipun dia memiliki nomor kontak ponselku. Aku tidak ingin dia menganggu area pribadiku dengan menghubungiku terus-menerus. Jadilah dia selalu mengirimiku pesan melalui alamat email butikku.
Aku penasaran ingin membukanya, kira-kira apa yang dikirimnya padaku selama ini?
"Ah, apa aku buka saja?" kataku bermonolog. Aku ragu, telunjukku sudah siap di mouse, namun masih menimbang apakah aku harus membukanya atau tidak.
"Ah, Denise!" kujentikkan jariku kala teringat Denise. Aku berjalan ke pintu, melongok keluar untuk melihat Denise, aku beruntung dia sedang merapikan rambut di mejanya.
"Denise, keruanganku sebentar!" panggilku, aku langsung masuk dan duduk di kursi panas milikku.
Denise masuk dengan wajah cemberut, aku tahu dia masih kesal karena aku melimpahkan semua pekerjaan padanya kemarin. Gadis ini belum mau berbaikan denganku.
"Double bonus bulan ini!" ucapanku memukulnya telak, wajah kesalnya hilang begitu saja, berganti dengan gerakan isyarat 'YES' dari kedua tangannya yang mengepal di udara.
"Tidak sia-sia aku akting merajuk sejak kemarin!" katanya dengan bangga. Sial, dia mengerjaiku lagi!
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." kataku tanpa membuang waktu, lu lihat wajahnya semakin antusias, dia tahu aku akan membahas sesuatu yang penting.
"I'm listening, bos!"
Aku berpikir sejenak, haruskah aku bertanya padanya, "Apa menurutmu Sean benar-benar menyukaiku?" akhirnya, aku mengucapkannya.
Sangat jelas terlihat raut terkejut diwajah gadis yang berhadapan denganku ini, dia langsung menarik kursi dan duduk dengan cepat. Wajahnya itu, ah, menggemaskan!
__ADS_1
"Kau tertarik dengannya sekarang, bos?"
"Hm, kurasa tidak ada salahnya mencoba. You know, aku tetap membutuhkan seorang pria disampingku." jawabku jujur. Ku lihat Denise tersenyum, aku tidak bisa menebak apa yang ada dikepalanya sekarang. Senyumnya mencurigakan.
"Bos, dengarkan aku," semangat sekali gadis ini, "Aku tidak tahu apakah dia tipe pria idamanmu atau bukan, tapi aku cukup yakin dia pria yang baik. Aku bisa melihat ketulusannya padamu, bos. Dia tidak pernah menyerah meskipun kau menolaknya berkali-kali, pria itu tetap datang dan menemuimu, berusaha lagi, merayu, menggoda, bahkan kurasa dia sengaja membuatmu kesal agar kau tidak bisa melupakannya. Suatu saat kau pasti akan kehilangan jika dia berhenti, bos! Jangan sampai itu terjadi."
Aku menyimak, ucapan Denise ada benarnya. Sean tetap datang meskipun aku selalu memakinya dengan segala sumpah serapahku.
"Apakah aku harus menerimanya?" Aku belum yakin, ingin memastikan sekali lagi. Pengalaman memang membuatku harus waspada, jangan sampai terjerembab dilubang yang sama untuk kedua kalinya. Aku tidak ingin mengulanginya, percaya pada seseorang dan berakhir dengan pengkhianatan.
Denise menghela napas, kulihat dia seperti ragu untuk mengatakan sesuatu, "Well, bos! Aku tidak bisa menyarankan apapun, coba tanya dirimu sendiri. Urusan hati tidak bisa menurut orang lain, kau yang tahu dirimu sendiri, bos!"
Ya, dia benar! Aku yang seharusnya mengerti perasaanku sendiri.
"Tapi, aku tidak mencintainya." Denise tertawa, entah mengejek atau merasa lucu dengan jawabanku.
"Kau bertanya pada orang yang salah kalau begitu, bos! Aku tidak percaya cinta, hal itu hanya akan membuatku seperti orang bodoh! Aku tidak pernah mau terjebak didalamnya, memilih seseorang dengan alasan mencintai, lalu memberikan seluruh hidupku padanya, dan berakhir menuruti semua kemauannya tanpa memikirkan kemauanku sendiri."
"Aku memiliki hidupku sendiri, aku ingin menikmati kehidupanku alih-alih menjadi wanita penurut dan mengorbankan kebahagiaanku. Kuberitahu satu rahasiaku, bos, aku tidak mencintai Carlo. Aku bersamanya karena aku menyukai kehebatannya di ranjang! Pria itu sungguh luar biasa tangguh, hahaha!"
Aku mencebik, kulempar bolpenku tepat mengenai dadanya, bukannya aku tidak tahu pikiran gadis kotor dihadapanku ini. Setahun ini aku cukup mengenalnya dengan baik, otaknya tidak pernah jauh-jauh dari tongkat baseball saat menatap seorang pria.
"Kenapa kau tidak menikah saja dengannya? Bukankah kau menyukai gaya smackdown-nya?" tanyaku, aku masih penasaran dengan gadis mesum ini.
Denise menggeleng, sepertinya pertanyaanku sedikit berat, aku bisa mengerti saat melihatnya menunduk. Hey, kenapa dia tiba-tiba melankolis begini!
"Pernikahan bukan hanya urusan ranjang, bos. Aku bisa mendapatkan kesenangan itu kapanpun aku mau, menikah adalah sesuatu yang kompleks. Tidak bisa diputuskan dengan kesenangan pada satu sisi, banyak hal yang harus dipertimbangkan, aku hanya akan menikahi seseorang yang bisa mengambil tanggungjawab, bukan untukku, tapi untuk dirinya sendiri."
__ADS_1
Aku tertarik dengan ini! Ku lipat kedua tanganku dimeja, menandakan aku ingin mendengar lebih banyak lagi. Tidak kusangka gadis ini masih punya pemikiran yang cukup baik disamping kemesumannya.
"Maksudmu?"
"Aku pernah mengencani beberapa pria sebelum Carlo, tapi tidak satupun diantara mereka yang mampu bertanggungjawab dengan diri mereka sendiri. Aku paling tidak suka pada orang yang tidak bisa membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan, yang tidak tahu harus mendahulukan apa. Memutuskan sesuatu berdasarkan kebutuhan adalah bentuk tanggungjawab, banyak orang yang tidak menyadari ini, akhirnya mereka melampiaskan sesuatu pada orang lain, padahal mereka yang tidak mampu berpikir logis."
Rumit, ini terlalu berat untuk memulai hariku. Denise tertawa saat melihatku berusaha mencerna ucapannya, aku benar-benar tidak paham maksud ucapannya.
"Bisakah kau mengatakan intinya saja?" protesku, otakku tidak sanggup menerima kalimatnya yang ambigu, berputar kesana-kemari tanpa ujung yang bisa kutangkap.
"Baiklah, contoh aku menikahi seorang pria yang sudah lama kukenal, aku tahu semua hal tentangnya, apapun, lalu suatu saat kami ribut karena masalah sepele, seperti misalnya aku pulang terlambat, dia marah dan memakiku, padahal sebelumnya tidak pernah. Sikapnya pasti membuatku heran, sampai akhirnya aku mengetahui dia memiliki masalah dengan pekerjaan. Kuperjelas satu hal, jangan membawa masalah luar ke dalam rumah, karena kau akan mengacaukan semuanya. Sampai disini kau paham, bos?"
Aku mengangguk, belum mengerti intinya sama sekali.
"Bentuk tanggung jawab yang kumaksud ada disini, kau harus mampu menentukan skala prioritas. Saat kau bekerja maka pekerjaanmu yang utama, kebutuhanmu saat itu adalah bekerja, jangan mencampurinya dengan keinginanmu untuk bertemu pasanganmu sekalipun dadamu terasa akan meledak karena merindu. Begitu juga sebaliknya saat dirumah."
Menarik, benar-benar menarik! Aku paham sekarang, gadis ini memang luar biasa, dia tak kalah mengejutkan dari Mia. Aku baru sadar aku memiliki orang-orang dengan bakat terpendam seperti mereka disekitarku. Mereka sungguh tahu bagaimana caranya menempatkan diri. Aku harus belajar lebih banyak lagi dari dua gadis bodoh itu.
"Carlo mengajakku check-in, bos!" Aku terbelalak, bisa-bisanya dia sesantai itu mengatakannya.
"Bukankah kau sedang bekerja, mana tanggungjawab yang kau katakan tadi?" sindirku.
"Itu tidak berlaku untukku, hahaha!" dengan santainya dia berjalan keluar dan meninggalkanku.
"Sialan, kau menipuku lagi?"
***
__ADS_1
Komen, komen, komen!
Like, like, like!