
Aku sudah bersama Sean pada pukul sembilan malam di ruang keluarga. Kami berdua saat ini sedang duduk santai sambil menonton tayangan acara komedi di televisi setelah beberapa waktu lalu menghabiskan waktu bermain bersama anakku sampai dia tertidur. Sementara mengobrol kami menikmati cokelat hangat yang disajikan oleh Miss Diana.
Aku memegang cangkirku dan menatap Sean dengan sebuah senyuman. Yang pertama kali dapat kukenali sewaktu memandangnya adalah kenyataan indah bahwa dia suamiku. Setelahnya adalah matanya yang biru. Kemudian bibirnya yang selalu melelehkanku.
Aku menelengkan kepala dan membuang pandangan pada penampakan kota saat malam hari yang terlihat indah melalui dinding kaca. Jarang-jarang aku menikmati suasana seperti ini, duduk santai bersama suamiku ditemani cokelat hangat dan pemandangan langit malam serta warna-warni lampu yang menghiasi seluruh kota. Tidak ada suara, tidak ada gerakan menggoda seperti biasa, hanya lengan yang saling menempel.
"Apa yang kau pikirkan, sayang?" Aku tersentak mengerjap beberapa kali begitu mendengar suara Sean yang berat dan menggoda. Kuputar kepala dan menghadapnya. Tanganku terangkat untuk mengusap tulang pipinya yang ditumbuhi rambut-rambut kasar dan menggelitik telapak tanganku.
Aku tersenyum padanya. Kucium bibirnya sekali lalu menggeleng. "Aku bahagia." ucapku dengan mata berbinar. Mataku menatap birunya samudra pada matanya. Menangkap cinta dan hasrat berbahaya dari dalam sana lalu tatapanku meluncur pada bibirnya yang mendesis.
Aku sangat merasakan bagaimana Sean sedang kesusahan untuk menahan gairahnya seperti apa yang kurasakan saat ini padanya. Sean bergairah padaku dan kami sama-sama mengetahuinya. Rasa cinta kami terhadap satu sama lain. Karena menyaksikan getaran yang terjadi pada rahangnya serta nadi yang menebal satu garis pada lehernya, aku mendekatkan hidungku pada lehernya dan menghirup aroma citrus yang menenangkan disana.
Aku gemetar sekaligus senang bisa mendapatkan pria seperti dirinya yang diciptakan dari surga lalu dikirimkan langsung ke bumi untuk diriku. Aku mencintainya. Aku tersipu dan bergairah karenanya. Akhirnya kini aku mengangkat wajahku. Membiarkan tanganku meremas bagian belakang lehernya sementara bibirku mengulum bibirnya. Menjadi lebih liar sebab Sean membalasku.
Dia menunduk menguasai bibirku. Bahuku tersentak merasakan Sean menggigit tetapi aku tidak merasakan sakit. Gigitannya terlalu lembut, tekun, dan ahli. Lidahnya selalu mengusap setiap gigitan yang dibuatnya di bibirku. Aku gemetar.
Sean terlalu panas dan kasar. Dia mengerang merasa terlalu nikmat karena bibirku dan itu membuatku ikut melayang sementara tanganku menyisir rambutnya yang lembut bagai helaian sutra. Napasnya menggelitik di wajahku dan pancaran aura liarnya menyengat menyerangku. Ketika aku merasakan benar-benar panas dan mulai berpeluh, aku menarik diri dari bibirnya.
Bibirnya hendak terus menuntut tetapi aku menahan kenikmatan yang ada. Aku mengatur napas dengan desisan lalu berbicara padanya. "Aku hamil."
Sinar di matanya berubah menyilaukan karena bahagia menyelimuti hatinya. Dengan tergagap dia mengulangi kata-kataku. "Kau... hamil?"
__ADS_1
Aku mengangguk cepat. "Enam atau tujuh minggu." kataku menjelaskan.
Dan detik itu juga dia menarikku ke pelukannya, menciumi kepalaku berkali-kali seraya mengucapkan terimakasih berulang-ulang dari bibirnya. "Terimakasih, sayang. Terimakasih. Terimakasih untuk hadiah luar biasa ini. Terimakasih, Franda."
Aku mengangguk puas didadanya sementara tanganku memeluknya lebih erat. Hatiku lebih bahagia karena dia juga bahagia dengan berita kehamilanku. Tidak ada yang lebih menggembirakan selain mendapati pasanganku merasakan hal yang sama denganku.
Ketika pelukan kami terlepas, dia menatapku lagi dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Aku melihat air matanya yang mulai menggenang karena terharu. Dia mencium bibirku sekali lagi, lebih lama, lebih kuat dan lebih dalam. Sampai kami terganggu oleh suara dehaman dari belakang dan melepas ciuman kami.
Kami berdua berpaling dan mendapati Edward sedang berjalan mendekat dari arah tangga. Dia membawa secangkir kopi di sebelah tangannya sementara tangannya yang lain memegang tablet. Kulihat Sean berdiri dan merentangkan tangan untuk menyambut kakakku. "John... istriku hamil, John." serunya tak sabar. "Adikmu hamil, John. Ben akan segera memiliki adik." Bibirku terangkat dan mataku menatap kagum pada suamiku. Kata-katanya membuktikan bahwa dia sangat menyayangi anakku.
Edward terlihat kaget namun segera tersenyum, lalu meletakkan kedua benda di tangannya di meja dan menerima pelukan Sean. Mereka saling menepuk punggung sambil menggoyangkan badan satu sama lain. Saat pelukan mereka terlepas, Edward menepuk lengan Sean dan memberinya selamat. "Congrats, bro!" katanya. Lalu berjalan menghampiriku. Dia memelukku erat dan mencium pipiku. "Selamat, sissy."
Kami masih bercengkerama di ruang keluarga. Sean terlihat begitu bahagia. Senyum di bibirnya tak hilang sedikitpun sementara tangannya melilit erat pinggangku dan bibirnya berulangkali mencium keningku. Edward sampai menggeleng berkali-kali dan meledeknya. Tapi Sean tidak peduli. Dia sedang menunjukkan pada dunia betapa hatinya sangat senang sekarang.
Setelah beberapa saat Sean memanggil semua orang ke ruang keluarga. Termasuk para asisten rumah tangga, kecuali Miss Darla yang harus menemani anakku tertidur dikamar.
Saat semua orang sudah berkumpul, dia membuka suara. "Hari ini aku sedang bahagia karena istriku hamil." katanya memulai. Kalimatnya membuat Miss Diana, Emma, dan Daisy terbelalak lalu menatapku. Aku mengangguk dan tersenyum pada mereka.
Sean mendaratkan tangannya pundakku dan melanjutkan ucapannya. "Kita harus merayakannya." dengkurnya sambil menatap penuh cinta padaku. "Miss, tanyakan semua orang ingin makan apa dan pesan apapun yang mereka inginkan." sambungnya lagi. Matanya kini beralih ke Miss Diana yang mengangguk paham. Janda itu pasti sedang bersorak gembira karena suamiku berbicara padanya.
Saat ini kami sedang berbincang di ruang keluarga sambil menunggu pesanan makanan datang sementara para asisten rumah tangga berkumpul di meja makan. Aku menatap satu persatu keluargaku yang sedang bahagia.
__ADS_1
Ibu, dengan keriput di wajahnya saat ini sedang tertawa merespon lelucon ringan yang keluar dari mulut Edward. Ibu terlihat begitu menikmati jokes yang sebenarnya tidak terlalu lucu menurutku.
Mia, si gadis malas sedang bersandar setengah berbaring sambil fokus menatap layar ponsel. Sama sekali tak peduli dengan ucapan kami yang sesekali menyindirnya.
Sementara suamiku, dia terus-terusan menatapku dan tak bosan mengucapkan terimakasih. Tangannya sejak tadi mengusap kepalaku yang bersandar di lengannya.
Saat mataku menatap Mia, tiba-tiba aku teringat dengan ucapannya tadi sore. Karena saat ini kami sedang berbahagia, kurasa tidak ada salahnya aku membantunya. Aku mendekatkan bibirku ke telinga Sean dan berbisik. "Sayang, Mia membutuhkan bantuanmu. Katanya dia ingin berbisnis."
Sean menatapku sejenak lalu mengalihkan pandangan pada Mia dan berseru. "Mia, aku akan meminta Dave menemuimu. Katakan bisnis apa yang ingin kau jalankan. Dia akan membantumu." Mia sontak menegakkan tubuhnya dan menatap kami bergantian. Aku mengangkat bahu untuk meresponnya.
"Benarkah, kakak ipar?" tanyanya memastikan. Kilat matanya mendadak cerah. Dia begitu antusias mendengar ucapan Sean.
Sean mengangguk. Membuat Mia langsung beranjak dari tempatnya dan menerkamku. Dia mencium pipiku berulangkali sampai pipiku basah. Aku protes dan menjauhkan wajahnya, namun dia menarik tubuhku dari Sean dan memelukku erat sampai tubuhku berguncang-guncang. "Aku mencintaimu, Panda. Kau benar-benar kakak terbaik di muka bumi." katanya. Kemudian beralih dan menatap sinis pada Edward. "Kau lihat, Ed? Jangan mencoba merayuku lagi untuk bekerja denganmu." gerutunya.
Edward mengangkat kedua alisnya sebagai resppon. "Well, kuharap kau tidak menyia-nyiakan kesempatanmu, Mia. Lakukan dengan sungguh-sungguh kalau itu yang kau inginkan."
"Tentu saja. Memangnya kau pikir aku main-main saat mengatakan ingin memulai bisnis? Kau saja yang terlalu pelit tak mau memberiku modal."
Ed tersentak dan matanya membulat. Aku tahu dia tidak begitu, Ed hanya belum yakin Mia akan mampu untuk membuka usahanya sendiri. Sama halnya denganku, namun aku mencoba memberinya kesempatan melalui suamiku. Sean pasti bisa mengajari dan mengawasinya.
"Kau tahu aku tidak membantumu bukan karena pelit, Mia. Jangan melebih-lebihkan."
__ADS_1