
Pagi hari Franda terbangun saat merasakan tangan nakal suaminya yang memainkan kedua bukit kembarnya. Franda sedikit meremang, menutup matanya kembali. Menikmati sentuhan Nino untuk sementara, Ia juga malas untuk bangun karena kantuknya belum hilang akibat mereka bermain kartu sampai jam 2 pagi.
Beberapa menit kemudian Franda bangkit dan berjalan ke kamar mandi, saat masuk Franda terkikik mengingat kejadian semalam. Suaminya kalah telak dalam permainan mereka, skor 5-2 untuk Franda.
Ia merasa sangat bahagia hari ini. Tujuh tahun pernikahan mereka sangat luar biasa, cinta keduanya tidak pernah luntur meskipun banyak masalah yang mereka hadapi. Ia bersyukur menikah dengan Nino, laki-laki pilihannya itu sangat mencintainya. Nino akan melakukan apapun untuk membahagiakannya. Rasanya Franda ingin seperti ini setiap hari.
Saat asik dengan pikirannya, tiba-tiba Ia mengingat sesuatu. Ia sangat penasaran dengan perubahan sikap suaminya sejak kemarin, belum sempat Ia bertanya tadi malam karena karena terlalu menikmati sentuhan suaminya hingga Ia lupa maksud dan tujuannya menggoda Nino. Franda masih merasakan sesuatu yang aneh, ditambah lagi kemarin Mama Rossa tiba-tiba meminta maaf dan terlihat sangat menyesal. Ia penasaran apa yang dikatakan Nino hingga merubah pandangan Mamanya. Franda tahu betul jika mertuanya itu bukan tipe orang yang akan luluh dengan mudah. Pasti ada sesuatu yang tidak diketahuinya. Tapi apa?
Franda segera menyelesaikan mandinya, dan akan bertanya pada suaminya nanti.
Franda keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit tubuh polosnya, membiarkan rambut basahnya yang masih meneteskan air. Ia melirik Nino masih terlelap di ranjang. Franda akan merapikan kamarnya terlebih dahulu sebelum Nino bangun. Ia memunguti pakaian yang berserakan dilantai lalu menumpuknya di keranjang pakaian kotor.
Saat akan berbalik, Franda melihat ada kertas yang menyembul dari saku celana kerja Nino kemarin, lalu mengambilnya. Ia berpikir mungkin itu adalah kertas yang berhubungan dengan pekerjaan suaminya. Namun Franda sedikit bingung melihat yang dipegangnya adalah amplop dengan logo rumah sakit tempat mereka melakukan tes kesuburan. Melihat tanggal yang tertera, Franda semakin penasaran. Kenapa suaminya menyimpan hasil tes yang dilakukan 4 tahun lalu? Bukankah seharusnya hanya menyimpan hasil terakhir?
Franda penasaran dan membuka amplop tersebut, meskipun Ia tahu hasilnya tapi tidak ada salahnya melihat sebentar.
__ADS_1
Franda terkejut saat membaca isi amplop tersebut, tangannya bergetar dengan airmata yang mulai menggenang mengaburkan pandangannya. Wajahnya terasa panas, kakinya tiba-tiba melemas.
Franda berjalan sambil memegang dadanya. Ia merasakan sakit yang teramat parah sekarang. Masih dengan surat ditangannya, Franda mengusap airmatanya dan berusaha tenang. Ia akan bertanya tentang ini kepada suaminya nanti, berharap suaminya akan berbicara dengannya sebelum ia bertanya. Kembali melipat surat dan memasukkannya kembali ke amplop lalu meletakkannya di meja rias.
Tidak lama setelahnya Franda yang sedang berada di ruang ganti mendengar Nino turun dari ranjang dan langsung masuk ke kamar mandi. Ia berusaha bersikap biasa saja, belum mau memaksa Nino untuk berbicara. Akan sangat sulit baginya menerima kesalahan Nino kali ini, karena itu Ia berusaha menahannya.
"Sayang, aku menemukan kertas dari saku celanamu yang kemarin. Aku menaruhnya di meja rias." Kata Franda saat melihat Nino yang keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Franda mendekat, mengambil handuk dan membantu kengeringkan rambut suaminya. Ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kertas apa, Sayang?" tanya Nino heran.
"Hasil tes kita dari rumah sakit 4 tahun lalu. Untuk apa kau menyimpannya?" Franda bertanya seolah belum melihat isinya.
"Hah? Itu... Bukan apa-apa sayang. Aku... baru menemukannya kemarin di lemari, aku akan membuangnya nanti." Kata Nino. Ia melihat ke arah Franda.
"Wajahnya biasa saja, berarti dia tidak melihatnya" batin Nino lagi.
__ADS_1
"Oh, aku pikir kenapa." Franda menjawab sesantai mungkin, padahal Ia sangat ingin marah saat ini.
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" lanjut Franda yang membuat Nino terlonjak.
"Hah? Apa? Aku tidak ingin mengatakan apapun." jawab Nino terbata-bata.
Franda melemparkan handuk ke atas ranjang setelah selesai mengeringkan rambut Nino. Lalu menatap Nino dengan lekat, seolah memaksa suaminya menceritakan sesuatu.
Ia memainkan jari telunjuknya didada bidang suaminya. Mengukir dengan asal disana.
"Kau tahu, Sayang? Aku sangat mengenalmu, bahkan melebihi diriku sendiri. Aku akan tahu saat kau menyembunyikan sesuatu dariku. Aku paling tidak suka dibohongi, aku mau kau jujur padaku." Kata Franda masih menatap dalam mata suaminya.
"Apa yang kau maksud, Sayang? Aku tidak berbohong apalagi menyembunyikan sesuatu. Tidak ada rahasia yang harus ku sembunyikan darimu." Nino menjawab dengan penuh keyakinan.
"Mau sampai kapan kau akan menyembunyikannya dariku, Nino? Apa tujuanmu sebenarnya? Kenapa kau tega membodohiku selama ini?" Franda membatin.
__ADS_1
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Tapi jangan salah aku jika aku mengetahui sesuatu lalu marah padamu." ancam Franda.
"Hahaha, Sayang! Kau bicara apa? Aku tidak menyembunyikan apapun!"