
Ketika sedang asik dengan lamunannya tentang Franda, Sean mendengar suara seperti Franda menangis dari kamarnya. Ia langsung keluar dari ruang kerjanya dan mendatangi Franda.Sean terdiam didepan pintu ketika mendengar Franda seperti berbicara.
"Kau tahu, Ma? Aku sangat mencintainya. Aku tidak sanggup melewati ini, Ma. Aku tidak tahu akan melakukan apa sekarang. Bisakah kau memberitahuku? Aku ingin mendengar suaramu sekarang, tolong berbicara padaku, Ma! Setidaknya panggil namaku sekali saja. Kenapa kau meninggalkanku sendiri? Kau tidak sayang padaku? Aku bahkan tidak ingat pernah melihat wajahmu. Apa kau pernah memelukku? Pernahkah kau menciumku? Pernahkah kau membacakanku dongeng sebelum tidur seperti Ibu?" Franda berkata dengan panjang. Lalu melanjutkan setelah beberapa saat menghapus air matanya, membuat Sean yang akan masuk kembali terdiam diluar.
"Ma, aku sangat bersyukur mempunyai Ayah dan Ibu. Kau pasti tahu mereka menyayangiku dan juga menjagaku dengan baik, tapi aku membutuhkanmu sekarang, Ma! Aku membutuhkan kalian disini, kau dan Papa pasti sedang melihatku dari sana, bukan? Kalian pasti melihat bagaimana aku sekarang. Aku hancur, Ma! Aku hancur, Pa! Nino mengkhianatiku tepat didepan mataku sendiri. Aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang, aku tidak sanggup kalau harus kehilangannya, Ma! Aku tidak bisa! Tapi aku juga sadar tidak akan mudah melupakan kesalahannya. Ma, tolong berbicaralah! Katakan sesuatu padaku!"
Setelah itu Sean hanya mendengar suara tangis pilu Franda dari dalam kamar, Ia membiarkan Franda sendiri menikmati kesedihannya malam itu. Sean tidak akan melarangnya sekarang, Sean ingin Franda meluapkan isi hatinya meskipun Sean yakin Franda tidak sadar dengan apa yang dikatakannya, Sean yakin Franda seperti itu efek dari alkohol yang diminumnya tadi.
Sean kembali ke ruang kerjanya setelah yakin Franda tertidur, dan melanjutkan memeriksa pekerjaannya.
.
Pagi harinya Franda terbangun dengan kepala yang pusing, namun kembali memejamkan matanya. Ia kemudian teringat dengan kejadian kemarin dengan Sean di klub. Ia ingat ketika Ia mengelabui pria itu demi mendapatkan tambahan minuman, tapi Franda tidak mampu mengingat apapun lagi. Hal terakhir yang di ingatnya adalah Sean membawanya keluar dari klub lalu masuk kedalam mobil. Franda memaksa mengumpulkan ingatannya namun tidak berhasil.
Franda menyadari bahwa kamar tempatnya berada bukanlah kamarnya. Lalu kamar siapa ini? Franda turun dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah mencuci muka Ia melangkah keluar dan tidak melihat siapapun disana.
"Halo, anybody home?" Franda membuka suara sambil melihat-lihat. Tidak ada jawaban. Ia lalu berjalan menuruni tangga.
Franda menuju ke arah dapur dan melihat ada segelas jus jeruk dan juga pil penghilang pengar di meja makan. Franda mendekat dan membaca kertas didekat kedua benda tersebut.
"Minum ini. Kau membutuhkannya untuk mengembalikan otakmu yang hilang."
Franda sedikit tidak percaya membaca tulisan itu. Rumah siapa ini? Siapa yang membawaku kesini? Meskipun begitu Ia tetap meminum pil dan juga jus jeruk teesebut. Lalu Ia dikejutkan dengan kehadiran Sean dari salah ruangan dibawah tangga.
"Kau sudah bangun rupanya, Pemabuk!" sapa Sean dengan nada sarkas.
"Hey, watch your mouth!" Franda membalas tidak senang dengan kata-kata Sean.
__ADS_1
"Aku anggap itu ucapan terimakasih karena menyelamatkanmu tadi malam, your welcome!". kata sean lagi sambil mengambil minuman dari kulkas.
"Aku baik-baik saja, kenapa harus berterimakasih padamu?" Franda menatap Sean dengan tatapan tidak suka.
"Kau tidak akan tahu, karena kau meninggalkan otakmu di klub tadi malam." Sean membalas lebih tajam dengan kata-katanya.
"Apa maksudmu? Aku tidak memintamu membawaku kesini, kau yang melakukannya tapi kenapa aku yang harus berterimakasih? Aneh!"
Sean hanya menggelengkan kepala beberapa kali sambil berdecak dan melihat Franda yang berjalan kembali ke kamar.
Didalam kamar Franda langsung mengambil tas dan mencari sepatunya, tapi Ia tidak menemukan sepatunya disana. Lalu turun kembali dan bertanya pada Sean yang masih duduk dimeja makan sambil memainkan ponselnya.
"Dimana sepatuku?" tanya Franda tanpa basa-basi. Ia tidak suka dengan kata-kata kasar Sean sebelumnya.
"Dimobil." Sean menjawab singkat.
Sean mengambil kunci mobil dan mengikuti Franda. Tidak ada percakapam lagi diantara keduanya hingga Franda meninggalkan lobby apartment menggunakan taksi.
.
Franda turun dari taksi setelah membayar dan langsung berjalan masuk setelah menjawab sapaan Adi, si penjaga Rumah. Ia melangkah masuk dan melihat mobil suaminya masih terparkir di halaman yang berarti Nino masih dirumah. Franda tidak berharap bertemu Nino dengan keadaan mulut yang masih beraroma alkohol, namun Ia tidak mempunyai pilihan lain saat ini.
Sebelum masuk Ia menarik napas dan menghembuskan perlahan, bersiap menghadapi Nino yang pasti akan sangat marah jika tahu istrinya pulang pulang pagi setelah mabuk semalaman. Nino memang tidak suka hal yang berbau alkohol, pria itu tidak pernah menyentuhnya sedikitpun, berbeda dengan Franda yang dahulu sudah terbiasa dengan alkohol sejak kecil meskipun baru diijinkan minum saat lulus SMA oleh Ayahnya. Dirumah Franda, alkohol adalah barang biasa. Mereka boleh meminumnya kapan saja asal bertanggungjawab.
Franda masuk dan langsung menuju ke kamar. Ketika membuka pintu Ia tidak melihat Nino didalam, namun kemudian mendengar suara air dari dalam kamar mandi yang berarti suaminya sedang didalam.
Franda menaruh tas setelah mengambil ponselnya, Ia ingin memberitahu Dhea kalau dirinya akan terlambat ke butik hari ini dan meminta Dhea membereskan segala sesuatu seperti biasanya. Franda melihat ada 78 paggilan tak terjawab dari suaminya dan puluhan pesan namun Ia tidak berniat melihatnya sama sekali.
__ADS_1
Nino keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk dan langsung berjalan cepat ketika melihat Franda.
"Sayang, kau dari mana saja? Aku mengkhawatirkanmu semalaman. Kau tidur dimana, Sayang?" Nino bertanya dengan cepat, dan kembali bersuara saat mencium aroma alkohol.
"Kau mabuk?" tanyanya.
Franda tidak menjawab, Ia hanya menatap tajam pada suaminya lalu berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Nino yang menatapnya sedih sekaligus kecewa. Nino sangat marah mengetahui Franda mabuk semalam, namun Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia tahu bahwa dirinyalah yang menyebabkan itu.
Nino kembali mendekati istrinya saat melihat Franda keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe dan menggulung rambutnya dengan handuk. Istrinya tampak lebih segar sekarang.
"Sayang, bisakah kita bicara? Aku meminta maaf karena menyakitimu, aku tahu kesalahanku sangat besar, Sayang. Aku mohon maafkan aku." kata Nino. Kemudian melanjutkan saat istrinya tidak menjawab.
"Sayang, aku mohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukannya, itu terjadi begitu saja. Aku tidak mencintai Jenny, Sayang!" kata Nino lagi.
Franda tersenyum sinis mendengar kata-kata Nino. Ia tidak menjawab ataupun menatap suaminya. Franda terus sibuk dengan kegiatannya diruang ganti lalu berjalan ke meja rias setelah memakai bajunya, Franda menggunakan dress lengan panjang berwarna merah maroon sedikit diatas lututnya. Franda terlihat sempurna meskipun belum memoles wajahnya.
"Sayang, aku mohon katakan sesuatu. Jangan mendiamkanku seperti ini." Nino tampak mulai frustasi menghadapi kebungkaman istrinya. Namun kali ini Franda menjawab.
"Kau ingin aku mengatakan apa, hah?" Jawab Franda dengan melipat kedua tangannya, menatap tajam kearah suaminya.
"Apapun. Kau bisa memakiku, memukulku, atau melakukan apapun, tapi jangan mendiamkanku." kata Nino.
Franda menunduk memejamkan matanya, amarahnya sangat tidak tertahan saat ini. Ia ingin menghancurkan Nino detik ini juga, tapi Franda juga menyadari itu akan sia-sia.
"Tidak ada yang bisa aku katakan sekarang. Memukulmu juga percuma, itu tidak akan bisa memperbaiki keadaan. Aku tidak tahu harus melakukan apa padamu. Kau mengkhianatiku tepat didepan mataku. Apa menurutmu ada kata-kata yang pantas aku katakan padamu setelah semua ini?" kata Franda dengan berapi-api. Lalu kembali melanjutkan aktifitasnya dimeja rias.
"Sayang, aku tahu kesalahanku sangat besar..."
__ADS_1
"Bagus kalau kau tahu, sekarang tolong beritahu aku bagaimana cara memaafkanmu." Kata Franda memotong ucapan suaminya, berbicara tanpa melihat.