Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Sweet Love


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Franda menjerit selama berjam-jam semalam. Bukan salahku, dia selezat vanila di musim panas. Ketika pagi hampir tiba, aku berjalan sebentar ke jendela untuk menutup tirai. Aku tahu dia pasti kelelahan, dia bahkan mencapai puncak sebanyak empat kali di mulutku, jadi aku tidak ingin dia bangun terburu-buru karena sinar matahari yang terbit.


"Apa nama permainan tadi, Sean?" tanya Franda di balik punggungku.


Aku tergelitik dan merasa tertantang kembali mengingat kegiatan yang kami lakukan tadi. Ketika tirai tertutup, aku berbalik dan langsung menerjang tubuh Franda yang dibalut gaun tipis. Aku menciumnya dan merengkuh aromanya yang mengirimkan ingatanku kembali pada masa-masa indah kami. "Jangan menanyakannya lagi, atau kau ingin berteriak lagi sampai suaramu habis. Kau sudah banyak bersuara, Franda. Tubuhmu juga bengkak. Kalau kau setuju, kita mainkan permainan mulut itu lagi saat kau sudah bangun dan sudah pulih."


Franda memelukku dengan mata terpejam. "Kau memang ahli." bisiknya.


Aku memeluknya dua kali lipat lebih erat. "Itu karena kau memang luar biasa."


Entah sudah berapa lama aku tertidur, ketika aku membuka mata, aku menemukan Franda di depan mataku sedang tersenyum lembut sambil memegang alat tulis yang diarahkannya ke keningku. Aku menangkap pergelangan tangannya, lalu berguling dan menariknya ke bawah tubuhku.


"Apa yang coba kau lakukan padaku, wanita nakal?" desakku, menindih tubuhnya.


Franda tertawa di bawah kendaliku. Aromanya yang alami dan bercampur dengan apa pun bahan yang di oleskannya ke tubuhnya, membuatku bergairah.


"Aku tidak melakukan apa-apa, Sayang." jawabnya manja.


Aku mendesakkan wajah ke lekukan lehernya. "Tidak mungkin."


Tubuh Franda menggeliat sementara aku menciuminya. Kulit lehernya di bibirku terasa halus dan hangat. Karena aku terlalu bergairah, aku membuka mulut lalu mendaratkan gigitan pelan disana. "Astaga... selain nakal, kau juga pembohong, Franda. Sangat jelas sekali kau tadi ingin menusuk otakku dengan benda tajam itu. Mungkin setelah itu kau akan menusuk jantungku juga dengan benda itu."


Aku mendengar suara Franda cekikikan. Aku selalu tersenyum setiap kali mendengar suaranya yang feminin itu tertawa. "Jangan tertawa, Franda. Tidakanmu sudah melanggar hukum."


"Aku tidak melakukannya, ya. Kau mengigau, Sayang." katanya dengan nada yang lebih ceria.


Bibirku naik dari leher ke dekat telinganya. Aku menciuminya dari pipi, kelopak mata, kening, hidung, sampai ke bibirnya yang mungil dan kemerahan. Setelah puas menandai kepemilikanku dengan ciuman basah di sekujur wajahnya yang cantik, aku meraup wajahnya dengan lembut dan tatapan kami bertemu. "Mengigau, Franda?"


Senyumku saat ini pasti seperti iblis... aku bahkan menyipitkan mataku dengan nakal. Tanganku meraih alat tulis yang terlempar ke samping tubuh Franda saat aku membalikkannya tadi, dan sekarang menunjukkannya ke depan hidungnya. "Barang bukti. Tidak bisa mengelak."


"Aw, ya ampun." Franda bersuara dramatis yang dibuat-buatnya. "Jadi sekarang aku sudah tertangkap basah?"


"Belum." Aku menahan geraman di balik dada. Aku mengangkat wajahnya lalu berbisik di pipinya yang merah merona. "tubuhmu masih kering. Mungkin saat kau mandi, aku baru bisa benar-benar menangkapmu basah."


Tawa wanita pujaanku meledak. Dia meraih pundakku, menarikku ke dalam pelukannya. Kami tertawa bersama di ranjang dan menikmati kebersamaan ini satu sama lain dengan saling mengecup dan mengusap wajah. "Ayo mandi." seru Franda padaku setelah berbisik padaku kalau dia ingin buang air kecil.


Aku mengusapkan hidungku ke hidungnya untuk sekali lagi sebelum akhirnya membopongnya menuju kamar mandi. "Ayo, kita basah-basahan, babe."

__ADS_1


Franda lari begitu saja saat aku menurunkan kakinya ke lantai pualam di kamar mandi.


"Franda," Aku memanggilnya sambil bersiul. Jiwa mudaku bangkit entah bagaimana. Aku mabuk cinta pada wanita cantik yang untungnya saat ini sudah menjadi istriku. Aku sadar kalau aku kaku dan dingin. Tapi aku selalu mencoba menyesuaikan diriku untuk mengimbangi Franda. Aku siap berkompromi dan komitmen dengan hal itu agar dia tetap nyaman denganku.


Aku ingin Franda mencintaiku apa adanya, tapi aku juga ingin dia bangga karena suaminya ini bisa keren juga. Astaga, apakah aku baru saja tersenyum dan mengerling seperti remaja?


"Ya," Franda menyusulku di depan wastafel. "Aku baru meninggalkanmu satu menit, Sean. Ada apa?"


Aku memandang Franda dari cermin wastafel. "Apa kita akan sarapan di luar bersama yang lain?"


Franda mengangguk riang. "Ya, tadi Mia mengatakan padaku untuk segera keluar. Mereka sudah menunggu."


Aku mengangguk. "Oke."


Franda memeluk lenganku, hendak menuntunku ke pancuran. Tapi kemudian dia berhenti dan mengerutkan alis memandangku dari cermin yang sama. "Sean, Ya Tuhan, apakah tulisan di dahimu tidak bisa menghilang?"


Aku terkekeh dan menggaruk kepala saja. "Aku tidak mengerti, Franda. Aku mencoba mencuci muka, tapi tulisannya sama sekali tidak menghilang."


Franda melotot, "Apakah itu permanen? Apakah alat tulis yang kupakai tadi itu permanen?" Franda menilikku sungguhan, bukan dari cermin. Dia berjinjit dan menangkup wajahku. "Gawat... seingatku aku hanya membawa spidol non-permanen dalam tas."


Aku tersenyum tulus padanya. "Tenang, Franda. Ini bukan masalah bagiku. Aku hanya takut kau yang malu karena harus menggandeng pria dengan coretan di kening. Itu sebabnya aku bertanya apakah kita akan sarapan di luar. Aku hanya tidak mau kau mendapat lirikan aneh dari orang-orang karena diriku."


"Jujur saja... kalau aku malah bangga membawa namamu di wajahku." tukasku.


Aku mengusap-usap rambutnya yang panjang, seksi, juga bergelombang. "Kau juga sempurna, Franda. Ayo kita mandi, mereka sudah menunggu, kan?"


Franda mengangguk. "Ya..." Dan beberapa detik berikutnya dia terlihat menghela napas lega.


Aku bertanya dengan alisku saat kami sampai di bilik pancuran.


"Ya ampun, Sean. Aku hampir saja menuliskan kata liar di dahimu. Untung saja kubatalkan karena aku ingin bahwa akulah yang ada di benakmu, bukan bagian tubuh dengan kata yang sedikit nakal yang merupakan bagian favoritmu itu."


Keningku bertaut. "Memangnya tadi kau ingin menuliskan apa?"


Franda menjentikkan jarinya, memintaku untuk mendekat dan menunduk. Aku bertanya sekali lagi lewat tatapan mataku dan Franda menjawabnya sambil membisikkan sebuah kata yang sebelumnya ingin ditulisnya di dahiku.


Aku sontak memukul bokong Franda sambil menggeram mendengar kata nakal itu. "Franda... kau benar-benar nakal."


Aku dan Franda belum bertindak banyak di bawah shower karena kami sedang terburu-buru. Tapi aku tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk mengecup bibir Franda yang basah. Aku meraup tubuhnya yang berair sampai menempel di dada lalu mendesakkan mulutku ke mulutnya. Franda mendesah.

__ADS_1


Aku sudah hampir kehilangan kendali, ingin menyekapnya ke dinding. Tapi aku menahan keinginan itu sampai napasku mendesis. "Kau ingin sarapan atau tetap disini bersamaku?"


"Kau tahu apa yang lebih kubutuhkan, Sean." ucapnya lirih dengan mata berkabut.


Aku mengedip. "Kita akan sarapan lalu kembali lagi kesini nanti malam."


Franda tersenyum. Aku tahu dia tidak akan pernah menolak desakan hasratku, dia sendiri selalu ada dan bergairah untukku. Tapi terlalu egois untuk membiarkan Ibu dan yang lainnya sarapan tanpa kami setelah seminggu terpisah. "Cepat keringkan tubuhmu sebelum aku berubah pikiran." cetusku, menepuk bokongnya.


Franda terperanjat dan tertawa. Dia berjalan menjauhi pancuran dan dengan sengaja berbalik lagi menghadapku sambil menggoyangkan bagian tubuhnya yang montok dan sempurna. "Jangan main-main, Franda. Kau tahu yang lain sudah menunggu. Tapi aku tidak berjanji akan diam saja kalau kau bermain-main segenit itu nanti malam."


Franda meremas dan mencium dengan lembut bagian tubuhnya yang jelita itu sampai aku harus mengertakkan gigi mengendalikan diri. "Franda." geramku memperingatkan.


Wanita bagai dewi itu kabur sebelum aku sempat bergerak dari pancuran. Kalau dia lambat sedetik, aku tidak peduli apakah Ibu akan kecewa atau tidak. Aku bersedia menerima makian darinya. "Sialan," umpatku dengan hasrat menggebu-gebu sementara mengeringkan tubuh dengan handuk. "Dia sudah kembali padaku. Kupikir dia tidak akan mungkin sembuh secepat ini."


Aku menopang kedua tanganku di tepian wastafel. Aku mendongak dari permukaan konter dan beralih menatap wajahku sendiri di depan cermin. Melihat kembali tulisan yang ada di jidatku membuatku tersenyum malu-malu. Kadang aku merasa lucu sampai bisa segila ini jatuh cinta bersama Franda, tapi kenyataannya dia wanita yang selama ini memacu semangatku. Kalau dia ingin menuliskan namanya lagi di lengan atau sekitar dadaku, aku sangat bersedia.


Tapi ketika aku masuk kembali ke dalam kamar, wanita itu sedang repot-repot mencari cairan penghapus tinta sementara dia mengeringkan rambut. Aku berkacak pinggang dan menegaskan untuk terakhir kali padanya bahwa aku tidak masalah keluar dengan tampilan muka seperti ini. Lagi pula, di otakku memang hanya ada namanya. "Persetan dengan mulut orang-orang, di otakku memang hanya ada kau, Franda."


Franda membeku sejenak menatap bola mataku. Kalau dia melihat sesuatu dalam sorot mataku, semua perasaan itu memang untuknya. Dia mematikan mesin pengering rambut, berderap mengitari ranjang, lalu memukul bokongku. "Aku tidak berjanji akan diam saja kalau kau seromantis itu nanti malam. Aku sudah pasti menarik handuk dari pinggangmu." cetusnya, bahkan sambil mengedipkan mata, mengikuti gayaku.


Aku tertawa, dan berpakaian secepat mungkin. Franda mengenakan baju yang ringan dan tipis yang sama sekali tidak menutupi lekuk tubuhnya, membuatku tergiur. "Aku harus berada di sampingmu sampai kita kembali lagi ke kamar."


Franda mendekat padaku, dan aku menautkan jari ke jarinya lalu beranjak dari kamar. Aku membiarkan Edward dan Mia tertawa sampai terpingkal-pingkal mengejekku dan aku tersenyum pada mereka, sementara Ibu hanya geleng-geleng kepala saat menatap kami.


"Ya, John, aku memang sinting karena adikmu." gumamku pada Edward, seraya mengalihkan pandangan pada Franda dan senyumku terbit.


Kami langsung melangkah bersama-sama ke arah mobil dan aku melaju dengan kecepatan sedang menuju restoran yang tak jauh dari resort. Tadinya Ibu mengatakan lebih baik sarapan di resort saja, namun aku teringat ada sebuah bistro yang menyedikan menu sarapan dengan rasa fantastis. Jadi, kuputuskan membawa mereka kesana.


Tiba di area parkis bistro, aku dan Franda sudah mendapat lirikan semenjak turun dari mobil sampai ke depan pintu masuk. Aku menurunkan dagu ke pipi Franda dan berbisik padanya di depan pintu. "Orang-orang itu tidak tahu apa yang mereka lihat di jidatku masih belum apa-apa. Kita bahkan sudah bercinta di dalam mobil di gang kecil."


Bahu Franda bergetar saat dia terkekeh. Dia bersandar di bahuku dan kami ingin lanjut masuk, menyusul yang lainnya. Aku baru akan membuka pintu saat seorang pria lokal mengernyit melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu matanya kembali lagi ke jidatku. Aku mengedikkan bahu seraya tersenyum padanya. "Ada apa, bung? Apakah kau tak pernah melihat orang sedang mabuk cinta?"


Aku mengalihkan pandangan ke sekitar kami dan baru menyadari ada lebih banyak orang yang menatap ke arah kami. Terpancing oleh tatapan mereka semua dan merasa sedikit muak, aku merengkuh Franda. Kedua tanganku mengangkat wajahnya lalu aku menunduk menciumnya di depan umum. Entah apa yang kulakukan, kalau perlu aku ingin membuat kota ini terbakar karena panasnya hubungan kami.


Awalnya aku tidak mendengar apa-apa, begitu selesai mencium Franda, terdengar riuh tepuk tangan. Seorang wanita tua bahkan mengacungkan jempol padaku. Aku mengerdipkan mata pada wanita itu sambil membuka pintu. "Ya, Franda," kataku sambil menunjuk jidat. "kau lihat? Franda, wanita di sampingku ini memang selalu ada di otakku."


Wanita tua itu menepuk pundakku saat aku melewatinya. Ketika kami sudah masuk ke dalam, Franda menyambarku. "Kau membuat semua orang heboh, Sean." Aku tahu dia bangga. Jelas saja, suaminya ini memiliki kepercayaan diri yang meningkat dan nyaris dalam level congkak akut.


"Biar saja." sahutku, dengan gaya sok asik. Menyisirkan tangan ke rambut dan merapikan kerah kaus.

__ADS_1


Franda memutar bola mata. "Dasar sok tampan!"


Aku tertawa lalu mengulurkan tangan ke bahu Franda. "Ayo kita makan. Aku sudah lapar."


__ADS_2