Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Kenyataan.


__ADS_3

No comment, no update!😜


Anda penasaran? Komen dulu😂


***


"Pergi dari sini sekarang juga!"


Sakit. Yang kurasakan adalah sakit. Sakit di hatiku melebihi rasa sakit pada perutku. Aku kecewa, marah, dan sedih mendengar kalimat pengusiran yang diucapkannya padaku. Baru beberapa hari aku merasa menjadi istrinya, dan dia tidak pernah berbicara kasar apalagi membentakku. Namun kini dia melakukannya, bahkan menyakiti fisikku.


Aku tidak tahu dimana kesalahanku. Bukankah aku istrinya? Bukankah seharusnya aku berhak mengetahui sesuatu tentang suamiku? Kenapa dia harus semarah itu hanya karena aku membuka ruangan lain tanpa sengaja? Apa yang disembunyikannya disana? Ada apa dengan ruangan itu?


Dengan susah payah aku memaksa tubuhku berdiri tegak. Kuhapus airmata yang mengalir turun. Aku menarik napas beberapa kali sebelum akhirnya berucap, "Ada apa, Sean?" lirihku.


Sean menutup kembali ruangan itu dengan menekan tombolnya. Sean belum membalas ucapanku, dia berdiri mematung membelakangiku dengan kedua tangan bertumpu di pinggangnya. "Tinggalkan aku sendiri." suaranya yang dingin kembali menusuk jantungku. Tapi, aku tidak ingin kalah. Aku tidak ingin menyerah dengan sikapnya.


Aku menghela napas. Aku baru berhasil maju selangkah saat Sean berbalik. Suamiku yang tampan, dia masih tampan, masih sangat tampan sampai dadaku terasa sakit. Tapi matanya merah, mulutnya memberengut, dan tak melirikku sama sekali saat dia berjalan melewatiku menuju pintu lalu membukanya dengan sebelah tangan.


"Keluarlah, Franda."


"Apa-apaan ini! Apa salahku sampai kau memperlakukanku begini?" bentakku, aku tak terima dengan sikapnya yang merendahkanku. Entah apa yang disembunyikannya didalam sana, dia tetap tak berhak mengusirku. Dengan kemarahan dan rasa sakit hati yang memuncak, aku mendekati rak buku itu dan menekan tombolnya lagi.


"Franda!" Sean berteriak dibelakangku.


"Apa?" Kataku menantang, tidak mau kalah. "Apa yang kau sembunyikan dariku, Sean?" sambungku.


Sean mendekat dan kembali menutup rak buku sebelum aku sempat masuk kedalam. "Pergilah, Franda! Tinggalkan aku!"

__ADS_1


"Tapi, kenapa?" tanyaku gemetar. Dadaku semakin sakit mendengar ucapannya.


Sean mendengus dan menatapku tajam, "Karena kau tidak perlu tahu urusanku! Sialan, seharusnya aku tidak membawamu kesini."


Sean berpaling dan membelakangiku. Lalu dengan tiba-tiba dan tanpa terduga, dia berteriak serak dan frustasi. Dia... suamiku yang tampan... yang sempurna... yang penuh cinta... melesatkan pukulan bertubi-tubi pada rak buku sampai jari-jari tangannya berlumuran darah.


"Ya Tuhan, Sean," aku berteriak histeris. Mencoba merangkulnya, tapi dia mendorongku.


Dia tidak berhenti... tidak pernah berhenti... sementara tangannya berlumuran darah dan erangannya penuh kesakitan, tapi aku tidak bisa mencegahnya. Aku hancur dan ambruk. Duduk tak berdaya menyaksikan suami yang mencintaiku terlihat begitu hancur. Aku tak bisa berbuat apa-apa... selain menangis sampai semua yang kulihat berubah gelap.


***


Aku berharap semua ini sekedar mimpi buruk yang mampu kuusir saat aku siuman. Tetapi perih di mataku, serta sakit di dadaku masih terasa amat nyata. Aku tak sanggup bicara selama beberapa saat, hanya bisa memandangi orang-orang didekatku berdiri cemas. Bahkan ada Ibu dan Mia, yang entah kapan datang kesini. Ibu memelukku dan mengelus rambutku yang berantakan, "Sweety," lirihnya.


Air mataku bergulir lagi dan aku menangis tanpa suara. Menyaksikanku yang kalut, ibu mengeratkan pelukannya dan aku terisak dibahunya sampai aku sanggup bicara, "Bagaimana keadaan Sean? Bagaimana dengan lukanya? Apakah luka ditangannya sudah diobati? Tangannya penuh darah." Aku menjerit dari sofa, "Ya Tuhan, aku harus menemuinya. Sean pasti membutuhkanku." tapi saat aku berhasil berdiri, beberapa detik kemudian jatuh lagi ke sofa karena kakiku masih gemetar dan lemas. Ibu berteriak lirih dan meraihku. Dia memintaku untuk tenang sambil mengatakan bahwa Sean baik-baik saja.


Selena bergerak menuju keluar tanpa menunggu balasan dariku. Aku kembali menangis dan menatap Ibu, "Mom, ada apa ini? Kenapa Sean semarah itu padaku? Apa salahku, Mom?" tanyaku disela-sela tangisku. Yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan lagi, aku merindukannya, aku merindukan suamiku yang lembut. Demi Tuhan, ada apa dengan ruangan sialan itu!


"Salahmu karena kau mencampuri urusan pribadinya, Mrs. Warner!"


Aku tersentak, wajah berpaling ke seorang pria yang baru saja bersuara. Aku menatapnya tajam, menunjukkan ketidaksukaanku dengan ucapannya yang kurang ajar. Aku tidak mengenalnya, berani sekali dia menghardikku dengan kata-katanya. "Kau siapa? Dan, apa maksudmu?" tanyaku ketus.


Pria itu tersenyum, terlihat tulus. Senyumnya bertolak belakang dengan kalimat tidak sopan yang tadi keluar dari mulutnya. Postur tubuhnya mirip dengan Sean, namun pria ini murni bukan orang indonesia. Warna kulit, rambut dan matanya jelas menunjukkan dia orang asing.


Menyadari aku menunggu jawabannya, dia mendekat dan duduk di salah satu sudut sofa, "Aku David Boseman, kau bisa memanggilku Dave. Aku direktur keuangan Warner Enterprise sekaligus sepupu Sean." katanya mengulurkan tangan.


Aku, tanpa membalas uluran tangannya bergumam, "Lalu, kenapa kau disini? Dimana suamiku?" kedua tanganku terulur untuk menghapus air mata.

__ADS_1


Pria yang bernama Dave itu tersenyum lagi padaku, "Kakak ipar, oh, boleh aku memanggilmu begitu?" persetan dengan panggilannya, aku tidak menjawab, aku hanya menelengkan kepalaku sedikit, memintanya menjawab pertanyaanku.


"Baiklah, aku akan menjelaskan padamu tentang ruangan itu. Tapi, bisakah kita berdua saja? Dia berpesan orang lain tidak boleh mendengar ini, hanya dirimu."


Aku menatapnya heran, rasa penasaranku semakin tinggi. Apa sebenarnya isi ruangan itu? Aku berpaling ke Ibu, tanpa kutanya, Ibu tersenyum dan mengangguk. "I'll go." ucap Ibu lirih.


Aku berjalan mengikuti langkah Ibu dan Mia ke arah pintu. Bersandar disana untuk beberapa saat, aku butuh kekuatan untuk mendengar apapun yang akan disampaikan oleh pria yang bernama Dave itu. Entah kenapa aku merasa khawatir. Aku berbalik, ketika aku kembali menatap Dave, aku menghapus air mataku yang berderai. Dia mencoba untuk menenangkan tetapi aku mengisyaratkannya untuk tetap bicara dengan tatapan mataku yang kabut dan sendu.


"Kakak ipar," katanya dengan suara pelan dan serak. Dia memiringkan kepala, menanyakan kesiapan diriku untuk mendengar segalanya, dan aku mengangguk dengan gugup dan gemetar, "Ruangan itu berisi segala hal tentang Aunt Lily, Ibu Sean. Tak seorangpun yang pernah masuk kesana selain kami berdua, Sean tidak akan mengijinkan siapapun menginjakkan kaki di ruangan itu, terutama kau, Kakak ipar. Sean sangat mencintai Aunt Lily, kematian Aunt Lily meninggalkan trauma untuknya, Sean sulit..."


"Aku istrinya... kenapa dia harus menutupi sesuatu tentang Ibunya dariku?"


"Ya, kau istrinya, tapi..."


Hening yang mencekam karena Dave mendadak ragu-ragu dan bungkam membuatku mual dan pusing. "T-tapi apa, Dave?"


Dave menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan nyalinya. Namun saat dia mulai kembali untuk berbicara, bibirnya gemetar. Seakan memberitahu apa yang akan diucapkannya adalah sesuatu yang mengerikan dan menyakitkan. "Penyebab kematian Ibunya adalah Ayahmu, Franda."


"Apa maksudmu, Dave?"


"Maafkan aku, Franda. Tapi itu yang terjadi. Aku dan Sean sudah memastikan semuanya." Dave menarik napas, "Dua belas tahun lalu, perusahaan Ayahmu melakukan pembukaan lahan besar-besaran di Kalimantan, tapi salah satu truk yang mereka gunakan untuk mengangkut pohon-pohon yang ditebang menabrak seorang penduduk yang menyebabkannya tewas ditempat."


"Ya Tuhan!" Aku menjerit dan terperanjat. Tanganku membekap mulutku sendiri sementara air mata mengalir dipipiku. "Kau tidak sungguh-sungguh. Dave... kau tidak..."


***


Komen, komen, komen!🤭

__ADS_1


Like, like, like!😘


__ADS_2