
...Sean Danial Warner POV....
Aku berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Menunggu dengan perasaan di penuhi ketakutan dengan kemungkinan yang akan terjadi. "Franda, jangan tinggalkan aku." Aku berkata lirih dengan penuh penyesalan. Seandainya aku tidak ke rumah sakit tadi, kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku pasti bisa mencegahnya sebelum dia menyakiti dirinya sendiri. Ya Tuhan... tolong jangan ambil dia dariku."
Sekujur tubuhku masih gemetar ketika pintu ruang operasi terbuka dan seorang dokter baru saja keluar. "Bagaimana keadaan istriku?" tanyaku buru-buru.
Dokter itu menunduk dan menghela napas. "Dia kehilangan terlalu banyak darah dan itu menyebabkan dia mengalami syok hipovolemik..."
"Bisakah ke intinya saja? Bagaimana keadaannya sekarang?" potongku. Aku tidak ingin mendengar penjelasan yang hanya akan membuatku semakin pusing. Dokter itu menghela napas lagi.
"Dia koma."
Seketika itu napasku tercekat. Entah sudah ke berapa kalinya aku merasa jantungku berhenti berdetak dan aku membeku. Perkataan dokter itu membuatku linglung dan terjebak dalam pemikiran-pemikiran aneh yang kutakuti. Tidak pernah aku merasa sehancur ini dalam hidup, bahkan tidak separah ini ketika aku melihat ayahku mati. Ini lebih menyakitkan dari apapun, lebih menyiksa dari kenyataan terpahit sekalipun. Aku tidak siap menghadapi hari ini, dan tidak akan siap sampai kapanpun.
Untuk sejenak aku membiarkan diriku larut dalam kesedihan yang memilukan, aku menangis dan meresapi semua perasaan hancur yang menerpaku, menusuk sampai ke jantungku. Membiarkan semua hantaman itu menyerangku, lalu kemudian aku bangkit. Dengan kedua tangan mengepal kuat di kedua sisi tubuhku, aku bergegas menuju ruang perawatan Mia.
Aku membuka pintu dengan kasar sampai membuat beberapa orang di dalam tersentak dan menatap bingung ke arahku. Tapi aku mengabaikan mereka. Mataku tertuju pada Mia yang setengah berbaring di hospital bed, menatapnya tajam, penuh dengan kebencian. Tapi dia terlihat santai, terlalu santai untuk seseorang menyebabkan masalah, dan menyaksikannya seperti itu membuatku semakin ingin membunuhnya detik ini juga.
Kakiku melangkah cepat menyerbunya, namun belum sempat aku meraihnya, tubuhku di tahan oleh Edward. "Lepaskan aku, John! Aku ingin membunuh wanita sialan itu, aku akan membuatnya menyesal karena telah berani mengganggu istriku." Aku berusaha melepaskan diri dari Edward dan menjangkau Mia dengan tanganku, tetapi aku tidak berhasil karena seorang lain ikut menarik mundur tubuhku.
"Tenanglah, Sean. Kita bisa membicarakannya baik-baik."
Aku mengumpat keras lalu berpaling menatap Edward. "Kau tidak akan mengatakan itu jika kau melihat Franda sekarang. Wanita sialan ini membuat Franda melukai dirinya sendiri, John. Franda berusaha membunuh dirinya sendiri dan sekarang dia koma. Franda koma, John. Ya Tuhan..." Aku melayangkan tatapan tajam pada Mia kembali, wajahnya mendadak pucat.
__ADS_1
Bibirnya membuka lebar, melongo, dan melotot padaku. "Apa yang sudah kau katakan padanya, Mia?" Aku bertanya dengan memohon agar dia segera menjawabku.
Mia terkesiap. "Aaa-aku..."
"Kau apa? Apa masalahmu sebenarnya? Cepat katakan padaku, apa yang membuatnya melakukan itu, karena Franda sudah berbeda sejak kemarin setelah dia bertemu denganmu?" gumamku tak sabar.
Mia terdiam lalu menangis. "Maafkan aku." dengkurnya di sela-sela tangisnya. Membuatku semakin membencinya.
Aku memaksa menarik tubuhku lagi dari Edward tapi dia tetap menahanku. "Lepaskan aku, John. Aku harus memberinya pelajaran."
"Tidak." sergah Edward.
Aku mendengus, lalu menyeringai padanya. "Kenapa? Apa karena Franda bukan adik kandungmu?" kataku sinis.
"Kalau begitu, biarkan aku bertanya padanya. Aku ingin mendengar penjelasannya." Aku menoleh Mia lagi. Dia masih menangis, kedua tangannya tertangkup di wajahnya, tubuhnya gemetar, dan dia tersedu-sedu. "Bicaralah, Mia..." kataku putus asa.
Mia mengangkat kepala, dan ketika dia membalas tatapanku, dia menelan ludah. "Maafkan aku." ucapnya terdengar sungguh-sungguh. "Aku tidak tahu kalau Panda benar-benar melakukannya."
Aku mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Mia menarik napas dalam dan gemetar, lalu meraih ponselnya dari nakas dan menyerahkannya padaku. Aku bergerak maju untuk menerima ponselnya, dan mendadak aku merasakan sesak lagi. Apa yang kulihat di ponsel Mia menjawab semuanya. Franda bunuh diri karena Mia.
Aku mengumpat keras lalu membanting ponselnya sampai hancur. "Dengar, Mia. Jika Franda mati, maka kau juga akan mati di tanganku." ancamku, dan aku akan benar-benar melakukannya.
__ADS_1
Mia terhenyak, dia menunduk, tak berani menatapku. "Aku minta maaf. Kemarin aku merasa terpojok karena dia meninggalkanku." gumamnya seraya mengusap wajah dengan tangannya yang gemetar
"Franda tidak pernah bermaksud begitu, Mia. Kau tidak tahu bagaimana dia memikirkanmu setiap hari sampai-sampai dia lupa memikirkan dirinya sendiri. Kau tidak tahu bagaimana Franda mencemaskanmu, dia mati-matian berusaha membuatmu senang karena dia sadar bahwa dia sudah merebut kasih sayang orangtuamu. Franda ingin membalas semua kebaikan mereka dengan menuruti semua kemauanmu. Franda menyayangimu lebih dari siapapun." balasku berapi-api.
Semua orang terdiam.
"Apakah kau tahu apa yang dikatakannya padaku setelah kami pulang dari rumah sakit? Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjagamu, dia menyesal karena tidak memperhatikanmu. Franda menangis seperti orang kesetanan, menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkanmu minum malam itu. Dia bahkan menyesal karena mengatakan kau bukan saudaranya meskipun dia tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Franda mengutuk dirinya sendiri karena kebodohanmu, Mia."
Aku memukul dinding sekuat tenaga sampai tanganku berdarah-darah, tak peduli meskipun Edward dan Dave berusaha menghentikanku sementara Mia berteriak ketakutan. Aku memukul membabi-buta, membiarkan rasa sakit menusuk sampai ke tulang-tulangku, dan merasa frustasi pada keadaan yang harus kuhadapi.
"Sean." Aku berhenti, berbalik menatap Edward yang bersuara sambil menahan tubuhku dari belakang.
"Kenapa, John? Aku ingin menghancurkan adikmu itu, tapi kau pasti tidak mengijinkannya. Jadi, biarkan aku melampiaskannya pada yang lain." Aku memukul tembok itu lagi sampai rasanya ruas-ruas tulangku hancur dan darah terus mememenuhi dinding, terlihat kontras dengan warnanya yang putih bersih.
Aku melampiaskan kemarahanku, membuang semua perasaanku yang hancur melalui tanganku, dan berharap setelah ini aku akan merasa lebih baik meski aku sendiri tahu itu tak mungkin. Aku tida akan merasa baik sampai aku melihat Franda tersenyum padaku.
"Franda..." Aku menangis sambil memukul dinding. Membiarkan rasa sakit di tanganku, apa lagi yang harus kupedulikan, aku hanya ingin menghempaskan semua kemarahanku. Aku berteriak memanggil Franda sementara aku tahu dia tidak akan mendengarku.
Semua yang kutakutkan telah terjadi. Tidak ada pilihan setelah ini, Franda terbangun atau tidak, keduanya sama-sama menyulitkan. Jika dia sadar, tentu aku bersyukur, namun ada kemungkinan kehidupan kami akan semakin parah. Franda tidak akan sembuh dengan mudah kali ini, dan aku hanya bisa berharap dia mampu mengatasinya. Dan jika dia benar-benar meninggalkanku, Ya Tuhan... aku tidak sanggup membayangkannya.
Orang-orang tidak akan tahu betapa rapuh jiwanya, tidak akan tahu betapa Franda kesulitan, tidak akan tahu betapa dia masih terbayang-bayang dengan masa lalunya yang menyakitkan, karena hanya aku yang melihatnya menderita. Aku yang terus berada di sampingnya dan menyaksikan bagaimana dia menatap kosong padaku.
Kenapa kau harus mengujiku sekeras ini ya, Tuhan?... Kumohon, bantu aku, bangunkan dia, dan kembalikan dia padaku. Aku membutuhkannya sampai aku merasa akan gila jika dia tidak berada di dekatku. Kumohon, Tuhan. Kau bisa mengambil yang lain dariku, tapi jangan Franda. Aku benar-benar tidak sanggup kehilangannya. Jika Kau mengambilnya, bagaimana denganku? Bagaimana dengan Ben? Kami masih membutuhkannya. Tolong, kembalikan dia.
__ADS_1