Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Life's Suck


__ADS_3

Aku memutuskan untuk mengakhiri sandiwaraku selama ini dan menceritakan maksudku melakukan itu pada Sean. Aku tak tega menyaksikan dia sekalut itu karenaku, dan kupikir tidak ada alasan lagi untuk meneruskan apa yang kulakukan karena aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan.


Sean masih menatap bingung padaku, wajahnya terlihat menggemaskan dengan cara paling ajaib yang pernah kulihat. "Aku tidak pernah kehilangan ingatanku, babe." gumamku sedikit bercanda, menjawab rasa penasarannya.


Sean terlonjak mundur, melepaskan genggamannya di tanganku. Dia tentu kaget dengan apa yang baru saja kukatakan. Aku tidak hanya membohonginya, tapi juga membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Tapi aku melakukan itu karena memiliki tujuan yang jelas.


Sean melongo dan melototiku. Untuk beberapa dia hanya terdiam dan memandangi wajahku dengan raut bingung sekaligus marah.


"Apakah kau menipuku, Franda?" tanyanya sinis.


Aku tersenyum sekilas, tak mau membuatnya lebih marah lagi, aku pun menjawab. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu, Sean. Ada sesuatu yang perlu kubereskan dan ide itu terlintas begitu saja di pikiranku." Aku meraih tangannya dan mengusapnya pelan dengan ibu jari. Dia masih bingung dan tidak mengerti maksudku.


"Apa yang ingin kau ketahui, Sean?"


Sean membulatkan mata tak percaya dengan kalimat yang kukeluarkan. "Tentu saja semuanya, Franda! Kau membuatku gila dengan tingkahmu, aku mencemaskanmu setiap hari sementara kau... kau pasti tertawa melihatku seperti itu." ujarnya berapi-api diikuti gelengan frustasi.


Dia menghempaskan tanganku, lalu berdiri membelakangiku. "Apa kau tahu bagaimana takutnya aku selama ini? Aku nyaris kehilangan akal memikirkanmu, Franda. Setiap hari sejak pertama kali kau terbangun aku ketakutan setengah mati, pikiranku penuh dengan segala kekhawatiran. Demi Tuhan..." Suaranya terdengar bergetar, dan ketika dia berbalik arah, aku bisa melihat air mata yang baru saja lolos di wajahnya.


Saat ini aku ingin sekali memeluknya, mengatakan kalau aku tidak bermaksud membuatnya merasa seperti itu. Tapi aku memilih membiarkan Sean melampiaskan semua kekesalannya lebih dulu, sampai dia merasa puas, barulah aku akan berbicara.


"Aku bertanya pada hampir semua dokter tentang kondisimu, berlarian kesana-kemari mencari tahu apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk mengembalikan ingatanmu. Bahkan Ben... Astaga, Franda. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi sekarang. Kau benar-benar membuatku kecewa."

__ADS_1


Aku gemetar menelan ludah. Sean tampak sangat marah kali ini, dan caranya menatapku membuatku di liputi rasa bersalah yang kian membesar. Sorot matanya penuh kekecewaan, dan dia menangis karena diriku. Air matanya pelan-pelan berubah menjadi lebih deras. Semakin deras seiring dia melanjutkan bicaranya.


"Aku khawatir padamu, Franda. Bagaimana mungkin kau bermain-main dengan hal ini? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu, walau apapun tujuanmu melakukannya, aku tetap tidak bisa menerimanya. Ya ampun... aku bahkan berniat menemui mantan suamimu, aku ingin memintanya datang kesini dan berbicara denganmu. Kupikir, mungkin dia bisa membantu mengembalikan ingatanmu karena kalian pernah bersama untuk waktu yang lama. Bisakah kau membayangkan bagaimana akhirnya jika aku benar-benar melakukan itu? Segila itu pikiranku untuk menyelamatkanmu, Franda."


"Aku menyingkirkan egoku dan berharap kau akan terbantu dengan apa yang kulakukan. Tapi kau justru... ah!"


"Aku melakukannya karena aku tidak mau kalian merasa terbebani denganku, Sean." balasku cepat. Aku tak tahan lagi dengan dia yang seakan-akan tersiksa sendiri, karena aku sendiri juga merasa tertekan dengan semua ini.


"Aku sudah menjadi beban bagi semua orang selama ini. Bahkan adikku sendiri mengharapkan kematianku. Kau pikir apa yang kurasakan ketika Mia mengatakan sesuatu sejujur itu? Apakah kau mengira aku bersenang-senang dengan sandiwaraku?"


"Ya. Kau bersenang-senang, Franda."


Aku menggeleng lemah. Ini diluar dari dugaanku. Sedikitpun tidak terpikir di kepalaku bahwa situasi akan memburuk seperti ini. Niatku hanya ingin membuat mereka tenang dan berhenti menkhawatirkanku. Aku muak hidup di kasihani setiap hari, aku benci ketika mereka memperlakukanku secara berlebihan, aku jenuh dengan sikap mereka yang tidak percaya padaku, menganggapku seperti anak kecil yang membutuhkan pengawasan setiap saat.


"Kenapa kau berubah picik, Franda?" Aku menelan ludah pahit. Kalimatnya amat keras menghantamku, sampai aku rasanya ingin mati lagi.


Aku berbalik, menatap punggungnya yang sangat ingin sekali kupeluk. "Karena aku memang begitu." gumamku membenarkan ucapannya, tapi aku sadar ada nada sindiran sekaligus putus asa disana. "Bukankah kalian yang membuatku seperti itu? Kau dan semua orang... kalian yang merubahku. Aku tahu apa yang salah denganku, aku jelas paham apa yang terjadi pada diriku, dan aku tahu bagaimana harus mengatasinya. Tapi tanpa kalian sadari, kalian menahanku."


Aku menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Seperti yang kau dan Ed bicarakan malam itu, aku memang kesulitan mengatasi," Aku tertahan dan mendadak merasa lebih sakit dengan tuduhan yang keluar dari mulutnya.


"Apa kau juga berpura-pura bunuh diri?"

__ADS_1


Aku memejamkan mata sambil mengatur napasku yang kini terasa terputus-putus. Kedua tanganku mengepal erat menahan semua emosi sekaligus rasa sakit yang menyesakkan di dadaku. "Kuharap begitu, tapi sayangnya kau salah. Dan sebenarnya aku berharap kau tidak datang hari itu. Aku akan bahagia sekarang jika kau tidak menyelamatkanku, aku akan tertawa bahagia sekalipun aku di lemparkan ke dalam neraka." Aku tersenyum getir, membayangkan kembali hari itu, hari dimana aku berharap bisa bertemu orangtuaku.


Sambil membuang pandangan ke arah luar, aku menelan ludah lalu melanjutkan berbicara. "Malam itu, aku terbangun dan mendengar percakapanmu dan Ed. Aku mendengar kalian membahas tentang psikiater untuk membantuku, tapi seperti yang di katakan Ed, aku tidak akan mau membuat pertemuan dengan mereka, tidak selama aku masih mengingat diriku sendiri."


"Saat itu aku ketakutan, Sean. Aku takut kau akan memaksaku bertemu psikiater,"


"Franda, kau tahu aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kau sukai." ujarnya memotong ucapanku.


Aku berpaling menatapnya. "Ya, tapi kau juga tahu kalau aku kacau, Sean... aku bermasalah." Aku tersenyum getir lagi. "Aku tidak percaya akan mengatakan ini pada akhirnya, aku memiliki masalah dengan mentalku, Sean. Semua orang tahu kondisiku, tapi kalian tidak akan benar-benar paham perasaanku sampai kalian sendiri yang mengalaminya."


"Inilah salah satu alasanku menolakmu dulu. Aku takut suatu saat kau akan bosan denganku, keadaan tidak pernah berpihak baik padaku, Sean. Tidak peduli dimana aku berdiri, tetap ada saja tali yang menjeratku. Berkali-kali aku ingin mati, tapi aku selalu berhasil menahannya sampai terakhir kali aku menerima pesan itu dari Mia. Akhirnya aku melakukannya, lalu kau datang menyelamatkanku, dan sekarang kau membuatku menderita lagi. Percayalah, bagiku mati lebih baik dari pada hidup seperti ini."


Sean tersentak kaget, dia mengerjap dan berusaha meraihku, tapi aku menahannya dengan gelengan. Aku harus memberitahunya semua perasaanku.


"Aku tidak seperti kalian yang memandang sesuatu dengan cara normal. Aku tidak bisa berpikiran sejernih kalian, mungkin bisa... tapi tidak dalam semua kesempatan. Ada saat-saat aku merasa kosong dan di tinggalkan, bahkan ketika aku berada di tengah keramaian sekalipun, seringkali aku merasa tersesat dan sendirian."


"Franda," panggilnya lirih.


"Aku belum selesai." sahutku cepat. Sean terdiam sementara aku melanjutkan. "Aku tidak di ciptakan untuk hidup seperti kalian. Kalau boleh memilih, tentu aku ingin hidup seperti kalian. Normal dan lurus. Namun aku di takdirkan untuk hidup sendiri, Sean. Di mulai dari ketika kedua orangtuaku pergi meninggalkanku, disitu aku sudah merasa sendiri. Tidak pernah mampu menerima kehadiran siapapun di sampingku. Semuanya berawal dari kesalahanku, aku yang menyebabkan kematian mereka."


"Aku mengutuk diriku sendiri sejak saat itu,"

__ADS_1


Mendadak aku merasakan sakit yang teramat sangat menghantam kepalaku. Dadaku ikut sesak setelahnya, lalu pandanganku memburam sampai aku merasakan seluruh ruangan berputar-putar, kemudian semuanya berubah menjadi gelap.


Semoga aku bisa bertemu kedua orangtuaku kali ini. Tolong, jangan ada yang menarikku lagi.


__ADS_2