
Franda keluar dari kamar dengan wajah tertekuk, sudah seminggu ini dirinya terus mengabaikan suaminya yang tidak mau menuruti permintaannya. Ia juga tidak mengerti mengapa kemarahannya bisa separah itu, semenjak hamil dirinya jauh lebih sensitif apalagi berhubungan dengan Nino.
Ia menuruni tangga dengan malas, berjalan ke meja makan untuk sarapan bersama Ibu dan Franda sementara Nino ditinggalkannya dikamar. Sarapan pagi ini sedikit sepi karena Mama Rossa sudah pulang kerumah kemarin malam, wanita tua itu harus menemani suaminya yang sudah kembali dari luar negeri.
Mia yang melihat kakaknya masih dalam mood yang buruk hanya menggelengkan kepala, "Apakah drama ngidammu belum selesai?" tanya Mia sambil menggigit sandwich.
Franda menatap kesal pada adiknya yang berbicara seenaknya, "Apa maksudmu? Aku benar-benar menginginkannya, aku tidak mungkin meminta sesuatu yang tidak kusuka!" Franda menuang segelas susu dari kulkas.
"Kau berlebihan sekali, sist! Hahaha, tidak pernah meminta tapi sekalinya mau tidak tanggung-tanggung, Ckckck!" ejek Mia sambil menggelengkan kepala tak percaya, kakaknya itu masih saja marah bahkan sudah seminggu berlalu sejak meminta mobil pada Nino.
"Dimana suamimu?" tanya Ibu yang baru saja bergabung dimeja makan. Wanita itu tampak langsung memberikan sandwich milik Franda yang sudah disiapkannya tadi.
Franda mengedikkan bahunya, "Masih mandi." jawabnya singkat sambil memasukkan sandwich ke mulutnya.
Ibu baru saja akan mengucapkan sesuatu namun langsung ditahannya begitu mendengar ucapan Sora. "Maaf, Bu. Ada yang mencari Ibu di depan." katanya pada Franda.
"Siapa?" tanya Franda heran, wajahnya mengernyit, dikunyahnya sandwich dimulutnya dengan cepat. Ia tidak merasa meminta seseorang menemuinya dirumah, apalagi sepagi ini.
"Tidak tahu, Bu." jawab Sora, lalu permisi dan kembali ke dapur.
Franda berdiri dan berjalan ke pintu untuk melihat siapa yang mencarinya, namun begitu Ia keluar matanya langsung membulat, Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, menyusul teriakan kencang keluar dari mulutnya.
"Aaaaaa..." Franda langsung berlari masuk kembali ke rumah tanpa sempat melihat wajah laki-laki yang ingin menemuinya, wanita itu menaiki tangga dengan cepat tanpa memikirkan kehamilannya, membuat Ibu dan Mia khawatir namun tidak sempat mengucapkan apapun.
__ADS_1
"Sayaaangg...." teriak Franda langsung menghambur ke pelukan suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi, lalu menciumi seluruh wajah Nino bertubi-tubi. "Kau membelinya? Terimakasih, aku mencintaimu!" kata Franda mata yang berbinar. Dirinya begitu senang saat melihat mobil Audi Q5 berwarna moonlight blue yang di inginkannya terparkir di depan rumah lengkap dengan pita merah seperti kado.
Nino tersenyum sumringah, "Tidak ada alasan untuk menolak permintaanmu, Nyonya!" jawab Nino.
"You're the best! Terimakasih, love you!" Franda kembali memeluk dan mencium suaminya berkali-kali, tanpa melewatkan setiap sudut wajah Nino.
Nino hanya menggeleng melihat kelakuan istrinya yang sangat bahagia, sikap kekanakan Franda akan terlihat di setiap momen seperti ini, "Kau suka? Maaf sedikit lama karena aku ingin memberikan yang sesuai dengan warna kesukaanmu." ujar Nino.
"Sangat suka! Terimakasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu... Kau yang terbaik." kata Franda dengan wajah ceria, senyumnya terus mengembang.
.
Ibu dan Mia keluar untuk mencari tahu apa yang dilihat Franda didepan rumah, keduanya terlihat sama kagetnya dengan Franda lalu tersenyum ceria mendapati mobil yang diminta Franda terparkir dengan anggun. Mia berbicara pada petugas dealer yang mengantarkan mobil itu serta menerima kunci dan surat-surat penting setelah menandatangani formulir penerimaan.
"Sayang, ingat kandunganmu!" ucap Nino yang protes dengan cara istrinya meluapkan kebahagiannya, Ia tahu istrinya sangat senang namun jangan sampai membahayakan janin yang ada di perutnya, apalagi mereka sudah menantikan itu untuk waktu yang sangat lama.
Franda langsung berhenti, "Maaf, aku terlalu senang, hehehe." ucapnya sambil meraih pinggang suaminya dan menempel dengan manja.
"Jangan mengulanginya lagi, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu dan bayi kita. Selalu ingat di kepalamu berapa lama kita harus menunggu untuk mendapatkannya, kau harus tetap menjaganya karena mungkin ini kesempatan pertama dan terakhir bagi kita." Nino mengelus perut Franda yang mulai membuncit penuh cinta.
"Mobil siapa di depan?" Suara Mama Rossa yang baru saja datang bersama suaminya membuat semua orang mengalihkan tatapan kepada mereka berdua.
"Istriku, Ma. Mengidam versi menantumu membuat tabunganku menipis dengan cepat. Anakmu ini akan bangkrut sebentar lagi." jawab Nino dengan ekspresi berpura-pura sedih.
__ADS_1
Franda tertawa mendengar jawaban suaminya, "Kau sendiri yang mengatakan aku boleh meminta apapun, Sayang! Aku harap kau tidak lupa saat-saat kau memohon agar aku menghabiskan uangmu, aku hanya ingin melakukannya dengan cepat. Terlalu lama kalau memulai dengan koin sementara dolarmu semakin menggunung, hahahaha..."
Ucapan Franda membuat semua orang tertawa mendengarnya, tak terkecuali Papa Azka yang baru pertama kali datang berkunjung ke rumah anak tirinya itu, "Lain kali hati-hati mengatakan sesuatu pada wanita, mulutmu harimaumu! Mereka bisa mengingat setiap ucapan yang keluar dari mulut pria, kata per kata, hahaha" Papa Azka mengejek Nino dengan tawa renyah diakhir kalimatnya, membuat semua orang semua orang semakin terbahak.
"Ya, sepertinya aku harus meralatnya, kalau tidak anakku tidak akan mendapat apa-apa karena mommynya sudah mengusai segalanya." Nino menjepit hidung Franda dengan dua jarinya.
"Tenang saja, aku pasti menyisakannya, lagi pula kau tidak akan langsung jatuh miskin hanya karena sebuah mobil, aku bahkan belum meminta yang lain, eh... tapi sudah membuat beberapa list-nya." Franda memainkan mata pada suaminya. Entah kenapa wanita itu seperti tidak tahu malu sekarang, bahkan Ia berani mencium Nino di depan keluarganya padahal sebelumnya tidak pernah.
"Ah, aku ingin menikah secepatnya kalau begini!" kata Mia tiba-tiba dengan wajah sedih, wanita muda itu merasa iri dengan pernikahan kakaknya yang terlihat begitu bahagia, kenangan tentang perceraian yang hampir terjadi setahun lalu perlahan menguap di ingatannya.
Nino tersenyum, "Suamimu belum tentu mau melakukannya sepertiku. Bukan begitu, Sayang?" Nino menggoda adik iparnya itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Franda.
Franda tersenyum dan mengangguk. "You're the best, all the time!" Franda mencium bibir suaminya cepat, di temani tatapan bahagia sekaligus iri semua orang yang melihat kemearaan mereka.
"Eugh, aku tarik kata-kataku tadi. Kalian menggelikan." Mia bergidik sambil memutar matanya, Ia sudah bosan melihat pemandangan seperti itu, sejak Franda hamil hampir setiap berpapasan dengan sepasang suami istri itu dirinya harus menyaksikan kemesraan yang dipamerkan mereka.
"Mama berharap semoga kalian selalu seperti ini, jaga apa yang sudah kalian miliki dengan baik. Kehamilan Franda akan membawa kalian ke level yang berbeda sekarang, kehidupan akan lebih kompleks, kedepannya bukan hanya ada kalian berdua, tapi ada anak juga yang harus kalian pikirkan setiap akan melakukan sesuatu. Terutama kamu, No. Mama pernah membuat kesalahan di masa lalu yang menyakitimu, dan Mama berharap kamu tidak mengikuti jejak Mama."
Semua diam menyimak.
"Jaga istrimu, jaga keluargamu. Beri perhatian lebih pada Franda, dia sedang membawa kehidupan baru bersamanya, hamil dan melahirkan tidak mudah, mungkin sekarang belum terasa tapi pasti semakin sulit seiring mendekati waktu melahirkan, turuti permintaan Franda selama kau masih bisa, karena bisa saja ini kesempatan satu-satunya bagi kalian untuk menikmati momen seperti ini, jadi jangan menyia-nyiakannya." mata Mama Rossa berkaca-kaca saat berbicara, Ia sangat berharap kehidupan anaknya berjalan baik ke depannya, bermula dari kehadiran calon anak yang selama ini mereka nantikan.
Franda berpindah dari pelukan suaminya dan berganti memeluk Mama Rossa, Ia sangat tidak menyangka mertuanya itu sangat tulus menyayanginya, dari ucapannya Franda tahu Mama Rossa merasa bersalah pada Nino karena memilih menikah lagi dengan Papa Azka, suaminya yang sekarang. Meskipun sebenarnya Mama Rossa tidak bersalah, Ia berhak memutuskan apapun untuk hidupnya, namun saat iti Nino yang masih belum menerima kenyataan bahwa Ia kehilangan papanya tidak bisa menerimanya begitu saja.
__ADS_1
"Terimakasih, Ma. Kami akan menjaganya dengan baik." ucap Franda tulus.