
...Sean Danial Warner POV....
Aku berjalan memutari ruangan lalu menjatuhkan diri ke salah satu sofa besar setelah meninggalkan Franda bersama Selena. Memandangi Erick Sinambela dan semua rekan-rekannya yang duduk berpencar di sekeliling ruangan. Mereka saling beradu pandang satu sama lain sebelum beralih kembali padaku. Aku bisa melihat wajah mereka diliputi oleh keraguan. Dan aku tak suka memikirkan penyebabnya, maksudku, ini harus berhasil.
Terutama karena mereka telah berjanji bahwa ini akan menjadi kontribusi terakhirku dalam operasi mereka. Selebihnya akan diambil alih oleh interpol, lalu program perlindungan saksi yang mereka tawarkan akan segera dijalankan. Karena aku perlu memastikan mereka akan menjaga keluargaku tetap aman, dan terutama, Franda.
"Kami memasang geotrack yang memungkinkan untuk memindai transmitter dari sinyal ponsel setiap tamu yang datang malam ini, jadi dalam dua puluh empat jam ke depan, siapa saja yang membuat kontak dengan para bandar atau orang-orang yang diduga adalah bagian dari kelompok mereka di kota ini, kami akan mengetahuinya."
"Itu bagus." sahutku.
"Hanya ada satu masalah," Erick melirik Rudi sejenak sebelum melanjutkan. "Syaiful Eddie tidak muncul di pesta. Menurut Rudi, hanya ada sepasang pria dan wanita yang mengaku sebagai asisten pribadinya, datang mewakili dia untuk mengucapkan selamat."
Aku mengerutkan kening menatapnya. "Syaiful Eddie membatalkan kedatangannya? Pamanku tidak mengatakan apapun soal ini."
"Kami mendapat informasi bahwa kementrian Malaysia telah mengirimkan pemberitahuan pada pihak maskapai penerbangan yang ditumpangi oleh Syaiful ditunda jadwal kedatangannya hingga minggu depan. Bertepatan dengan lelang amal yang diadakan oleh kementrian pajak dan bea cukai. Sekarang, bahkan jika Syaiful adalah orangnya, kita tidak akan pernah tahu."
"Jadi, maksudmu semua yang kita lakukan malam ini sia-sia?" sergahku.
"Bukan begitu," Rudi menyela. Aku bisa melihat rasa segan berkelebat di matanya. "Setidaknya kita bisa membuktikan jika memang semua yang hadir malam ini bukanlah tersangka yang kita cari. Dan bila memang itu terjadi, maka Syaiful patut dicurigai, meski kami tidak bisa memastikan bahwa ketidakhadirannya malam ini ada hubungannya dengan rencana kita."
Aku mengangkat sebelah alis mendengarnya. "Karena itu berarti seseorang telah membocorkan rencana kalian?"
"Atau dia memang sudah tahu kalau kami sedang mengawasinya." tukas Erick. "Karena jika polisi lokal terlibat, dia mungkin saja sudah memberinya informasi sebelumnya."
__ADS_1
"Jadi apa rencana kalian? Perusahaanku jelas tak akan mengadakan pesta seperti ini lagi, mungkin sampai Malam Tahun Baru nanti."
"Well, sebenarnya aku sudah mencari tahu tentang Syaiful, dan menemukan bahwa dia memiliki seorang putri, Paula Eddie. Dia sempat tinggal di Jakarta beberapa tahun lalu. Dan di artikel lama yang memuat tentang dia, disitu dikatakan bahwa Paula dulunya pernah berkencan denganmu."
Aku menyipitkan mata memandangnya, lalu mendengus pelan. "Kemana sebenarnya arah pembicaraanmu ini?"
Sekarang, keengganan yang tadi kulihat di mata Rudi, kian memenuhi raut wajahnya. "Aku hanya berpikir kalau mungkin, mungkin saja, kita bisa mengetahui sesuatu tentang ayahnya dari dia. Mengenai jadwal kesehariannya, tempat yang sering didatangi, atau siapa saja yang akhir-akhir ini sering ditemuinya. Hal semacam itu."
"Tak bisa dipercaya." Aku menggelengkan kepalaku. "Dan kukira kalian bilang malam ini adalah 'tugas' terakhirku dalam operasi kalian?" ujarku sarkastis.
"Tapi sayang sekali, aku kehilangan kontak dengan Paula sudah sejak bertahun-tahun yang lalu sebelum dia kembali ke Malaysia. Jadi aku tidak bisa membantumu, ini adalah jalan buntu." kataku tajam.
"Tidak juga," sahutnya cepat-cepat. Sorot matanya berkilat antusias saat menatapku. "Sebenarnya agen kami di Malaysia mengabari bahwa Syaiful berencana datang kemari bersama Paula."
Keheningan terjadi selama beberapa saat sampai akhirnya aku memutuskan mengakhiri percakapan dengan mereka dan kembali menemui Franda. Selagi berjalan, aku bergidik ngeri pada kemungkinan harus bertemu Paula lagi dan yang menjadi pemicu aku merasa seperti itu adalah, well, tentu saja istriku.
"Sean, ada apa?" Aku terkesiap saat Franda bertanya padaku sambil menggoyangkan telapak tangannya di depan wajahku.
Aku mengerjap sekali dua kali lalu melempar senyum padanya, berusaha terlihat tenang, namun masih bisa menangkap kegelisahanku karena sekarang dia menyipitkan mata. "Ada apa? Aku memanggilmu dari tadi."
Aku menggeleng lalu berpaling menghindari tatapannya. "Tidak ada apa-apa." sahutku, lalu berderap ke arah lemari. Aku bisa mendengar dia melangkah mengikuti di belakangku.
Di depan lemari, dia berdiri tepat di hadapanku. Kedua tangannya terjulur mengusap pipiku dengan lembut dan memberi efek yang sangat menenangkan untuk sesaat sebelum jemarinya bergerak menyusuri rambutku. Merasakan sentuhan tangannya yang ajaib itu, sekujur tubuhku menegang seketika dan aku terpejam.
__ADS_1
"Percayalah, tidak ada apa-apa." Aku berkata setelah membuka mata.
Dia memiringkan kepala menatapku tanpa mengatakan apapun. Pandangannya menjelajahi wajahku dengan sorot mata dipenuhi kekhawatiran. Kini tangannya berada di pipiku lagi. "Aku tahu kau berbohong dan aku tidak menyukai itu."
Aku menghela napas sambil menyandarkan sisi wajahku pada telapak tangannya. "Kau sangat keras kepala, Franda. Apa kau tahu itu?" gerutuku, mengalihkan pembicaraan. Namun dia tidak peduli.
"Jangan coba-coba mengelak. Selena bilang padaku pengadilan sudah mengirimkan jadwal persidangan yang pertama, apa kau akan baik-baik saja?"
Aku mengernyit memandangnya. "Tergantung," ujarku tenang. "Apa kau akan tetap bersamaku meski nanti aku akan kehilangan semuanya di persidangan?"
"Itu pertanyaan bodoh!" sahutnya mendelik padaku.
Menyaksikan dia segusar itu membuatku tersenyum lebar. "Kau tahu, kemungkinan terburuk aku bisa saja berakhir dengan rumah peninggalan Daddy di desa kecil di Surabaya. Mungkin aku akan berakhir menjadi petani di daerah terpencil dengan memakai pakaian lusuh sambil menggaru rumput liar dan memberi makan kambing."
Dia tertawa mendengarnya.
"Sekarang ini belum terlambat kalau kau ingin menyelamatkan dirimu, Franda." kataku menambahkan.
Dia merapatkan tubuhnya padaku, berjinjit lalu mencium bibirku sekilas. "Dan melewatkan semua itu? Kurasa tidak." bisiknya di depan bibirku.
Dia memejamkan mata lalu memberiku ciuman kedua. Lebih lama dan lebih menuntut sampai aku harus menahan punggungnya karena aku sendiri terseret ke dalam arus deras yang mengalir di sekujur tubuhku dan berakhir di bagian pangkal pinggulku yang semakin mengeras dan penuh. Kami berciuman untuk waktu yang lama. Kegiatan itu membuatku sadar bahwa sampai kapanpun aku tidak akan sanggup melepaskan wanita ini, aku tidak akan rela sekalipun dia yang menginginkan pergi dariku.
Menarik bibirku dari bibirnya, aku menyisir sejumput rambut dari wajahnya dan menyelipkannya ke belakang telinga. "Dengar, Franda... aku mungkin akan kehilangan semuanya, tapi aku tak bisa kehilanganmu juga."
__ADS_1
Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya sambil menatap mataku lekat-lekat. "Kau tidak akan pernah kehilanganku, tak peduli apapun yang terjadi."
Aku melemparkan senyum padanya. "Hanya itu yang ingin kudengar."