
Aku sangat terkejut begitu Sean mengatakan akan membawaku ke rumah danau karena sikapnya sedikit mencurigakan. Sean tidak pernah meminta ijin jika ingin memberiku kejutan, tapi kemarin tiba-tiba menanyakan apakah aku mau ke tempat itu atau tidak karena biasanya dia takkan peduli pada pendapatku ketika dia ingin menyenangkanku.
"Kau menyetir sendiri?" Aku bertanya pada Sean selang beberapa menit mobil yang kami tumpangi bergerak menjauh dari area bandara Brisbane Airport, dan heran karena Sean tidak menggunakan supir seperti biasanya.
Sean menoleh padaku namun pandangannya waswas pada jalanan. "Aku terbiasa menyetir disini. Aku sudah ceritakan tentang masa kecilku padamu, bukan? Kuharap kau tidak melupakannya."
"Dan letak rumah danaumu tidak jauh dari desa tempat tinggalku saat aku kecil dulu." cetusnya lagi.
Aku memilin bibir lalu membuang pandangan keluar sembari mengingat cerita Sean tentang masa kecilnya. Hari itu kami sedang menunggu Dave di ruang kerja Sean saat aku memintanya menceritakan kehidupan masa lalunya. Sean mengatakan mereka sempat tinggal di suatu daerah di Australia, aku lupa persisnya dimana. Yang pasti mereka tinggal disana selama beberapa tahun hingga akhirnya harus pindah ke Indonesia karena Ayahnya di pindahkan kesana oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Aku mengira-ngira bahwa perjalanan kami menuju tempat yang kami tempuh mungkin sekitar dua atau tiga jam. Mataku mengamati pemandangan di sekelilingku dengan perasaan murung walaupun aku tahu bahwa yang kami lintasi adalah pohon-pohon hijau yang rindang dan segar, namun semangatku masih belum tergoda untuk menikmati segalanya.
Sampai Sean mengetuk pintu mobil karena aku melamun sepanjang jalan. "Franda, kita sudah sampai. Bagaimana menurutmu? Tempat ini sangat indah, bukan? Kita akan tinggal disini." katanya, menyambut tanganku saat aku hendak melompat dari mobil.
Aku menopangkan tanganku di bahu Sean sampai aku benar-benar bisa berdiri. "Ya Tuhan, Sean, apakah kau benar-benar membawaku ke hutan?" sambarku saat mengedarkan pandangan. Kupikir tadi aku sempat melihat samar-samar deretan bangunan rumah sederhana dan pagar kayu, tetapi sekarang aku benar-benar memandangi pohon-pohon besar dan tinggi itu? "Kau bilang kita akan berada di desa!" seruku lagi.
Sean menyengir. "Ya, tempat ini masih di wilayah desa Winton. Dan rumah di depan itu... adalah rumah yang kau minta."
Aku terperangah menatap rumah kayu. Benar-benar terbuat dari kayu yang polos tanpa sentuhan cat. Rumah itu berada tepat di ujung jalan setapak. Kiri-kanan jalan tak beraspal itu diapit pohon yang menjulang tinggi. Tak ada rumah lain, rumah itu adalah ujung dan satu-satunya rumah di hutan ini.
Sean menutup pintu mobil lalu menuntunku menuju rumah itu. Aku berjalan tersendat-sendat karena menggunakan hak tinggi. Ketika kami sudah naik undakan rumah yang juga terbuat dari kayu, tibalah kami di depan pintu.
Sementara Sean membuka pintu, aku berbalik menatap barisan pohon yang di bentangkan di hadapanku. Seekor burung berkicau tetapi aku tidak dapat menemukan keberadaannya. Lalu pintu di belakangku pun berderik, tanda Sean sudah berhasil membukanya.
__ADS_1
Ketika kami masuk, aku bergeming beberapa saat memandangi bagian dalam rumah yang nyaris seluruhnya terbuat dari kayu yang di tempa seadanya. Tidak ada satupun perabotan yang tampak seperti milik kami di rumah, dan ini benar membuatku kaget bukan main. Sean Danial Warner, suamiku yang kaya itu mendadak berubah pelit. Kurasa dia ingin menawarkan kehidupan primitif padaku.
Jadi, saat kami berkeliling dan berada di belakang rumah yang menghadap sebuah halaman yang rumputnya di pangkas dan juga di pagar kayu, aku langsung menyampaikan keluhanku pada Sean dengan alasan yang cukup masuk akal. Tentu saja aku tidak mungkin berkata kalau dia sedang berhemat sekarang. "Sean, apakah kau yakin kita akan tinggal disini? Kupikir wilayah ini cukup liar, binatang buas pasti ada dimana-mana."
Sean mengulas senyum. Tidak ada keraguan di wajahnya. "Aku bersamamu, Franda. Tidak ada yang perlu kau takutkan." Aku tidak percaya senyum Sean tiba-tiba berubah menggodaku. "Atau ada hal lain yang sebenarnya lebih kau takutkan?"
Aku melotot. "Apa?" Aku gugup karena takut Sean memahami isi kepalaku. "Ya, tentu saja. Aku takut mati kebosanan karena tidak ada hiburan disini. Aku takut tubuhku tidak bisa santai karena tidak ada spa dan segala macam kebutuhan wanita lainnya."
Sean mengerling padaku. "Kita bisa pergi dari tempat ini lusa kalau kau memang benar-benar akan sekarat karena bosan. Tapi, setidaknya kita akan mencoba menginap semalam disini. Aku cukup yakin kau akan menyukainya. Tidak ada tempat yang lebih baik selain tersesat disini untuk beberapa waktu."
Aku diam. Kupikir itu cukup adil. "Baiklah, kita akan coba. Tapi omong-omong, apakah disini ada sinyal? Atau bahkan listrik?"
Sean menatap lucu padaku. Aku tidak tahu apa yang di pikirkannya tentang diriku, mungkin dia menganggapku sangat metropolis, urban dan rewel, dan aku tidak peduli karena aku memang takut berada di tempat yang antah berantah seperti ini.
Aku merasa lega mendengar perkataannya, setidaknya aku masih bisa terhubung dengan dunia luar melalui ponselku, dan masih bisa melakukan panggilan video dengan keluargaku. Ah, belum apa-apa aku sudah merindukan mereka.
"Sekarang, duduklah disini dan mulailah bersantai dengan alam yang sudah ada di hadapanmu, Franda." Aku terkesiap mendengar Sean berbicara lagi. "Aku akan menurunkan barang-barang dari mobil."
Aku duduk di teras belakang selama beberapa waktu sampai tanpa sadar bahwa hari sudah semakin sore, lalu berdiri untuk melihat-lihat area halaman belakang. Kemudian aku mendengar suara daun berderik. Sean sedang melangkah turun ke halaman saat aku menoleh. Kupikir dia ingin menghampiriku, tetapi dia berjalan menuju sebuah gubuk kecil.
Sean membuka gubuk itu dan aku melihat mesin usang. Dia menggulung cepat lengan kemejanya hingga ke siku, lalu memutar mesin hingga lampu rumah menyala. Aku tersentak saat Sean mendadak menoleh kilat padaku. Tatapannya sedikit tajam namun ada sebaris senyum tipis yang bisa kutangkap di mulutnya, menandakan dia sedang bergurau dengan matanya. Mesin itu masih sangat berguna meski tampak kuno dan berkarat, agak berisik dan berdentam berulang.
Aku senang karena bisa mengisi ulang baterai ponselku malam ini dan bisa membaca buku melalui tabletku, karena mungkin hanya itu yang bisa kulakukan selama kami berada disini. Maksudku, memang apa lagi kegiatan yang pantas untul di lakukan selain itu di dalam hutan. Aku tidak mungkin berlarian masuk lebih dalam di hutan sementara ada binatang buas yang mungkin bersiap menerkamku.
__ADS_1
Untuk beberapa saat aku dan Sean diselimuti keheningan yang panjang. Keheningan yang aneh dan mendebarkan. Seperti sesuatu yang pernah terjadi di antara kami dalam hari-hari awal pernikahan kami, dan entah kenapa itu membuatku merindukannya. Tapi kemudian Sean berdiri dan masuk ke dalam.
Aku sedang sibuk melamunkan sesuatu yang hilang dalam diriku, semangat yang menguap, gairah yang hilang entah kemana, dan perasaan nyaman ketika bersama Sean yang tidak bisa kudapatkan belakangan ini. Aku cukup sadar bahwa kondisi mentalku yang sedang terpuruklah yang menyebabkan itu semua, membuat hubunganku dan Sean terasa asing.
Saat malam sudah tiba dan cuaca sudah dingin, Sean muncul di pintu. Mulutnya memberengut dan keningnya berkerut, namun nada bicaranya adalah hal yang paling hangat yang ada di tengah hutan saat ini. "Masuklah. Di luar sudah semakin dingin."
Aku menurut dengan cepat. Kakiku lemas saat Sean menutup pintu di samping kami. Aku seolah-olah takut karena terkurung bersamanya. "Semua barang-barang sudah kumasukkan ke kamar." gumamnya padaku.
Aku mengangguk dan mengikutinya ke ruang santai. Di ruangan tersebut terdapat dua kamar yang saling berdampingan, dan dua kamar lain terletak lebih jauh agak ke belakang, dan tangan Sean menunjuk satu kamar paling kanan di depan. Astaga... aku heran kenapa bisa segugup ini, padahal seharusnya aku merasa nyaman berada di dekatnya sekarang. Aku lantas buru-buru melangkah ke kamar dan menutup pintu.
Sial. Kenapa rasanya jadi aneh begini? Seperti... aku baru saja mengenalnya.
Baru saja aku akan melangkah mendekati ranjang, Sean sudah membuka pintu dan memanggilku dengan nada suara yang rendah dan serak, mengguncang saraf-sarafku. "Franda,"
Aku menoleh, tengkukku kaku. "Ya?"
"Percaya padaku, kita akan aman selama berada disini. Aku berjanji tidak akan terjadi bahaya apapun padamu." Matanya yang sebiru lautan itu berkilat lembut. "Jadi, kuharap kau bisa sedikit santai menikmati waktu di tempat ini."
Aku tersenyum kaku dan berkata lirih, "Aku tidak tahu bagaimana cara percaya padamu, Sean."
"Hanya satu, Franda." desah Sean. "Santailah. Kau baru akan bisa menyatu dengan segala yang ada disini kalau kau bisa sedikit santai. Alam akan menuntunmu pada apa yang benar-benar kau inginkan dalam hidupmu."
Ya Tuhan... Sean membuat dadaku berdesir. Memang secepat itu sikap dan daya tariknya mempenngaruhi hatiku.
__ADS_1