
Aku masih berada di dalam kamar dan duduk meringkuk di atas kasur. Aku seharusnya sudah di dera kebosanan, tidak ada hiburan sama sekali di kamar tidur kami. Hanya sebuah ranjang, nakas dan lemari pakaian. Tetapi anehnya, jantungku berdebar-debar kencang di dada seakan menunggu detik-detik roller-coaster akan meluncur.
Dan kereta sungguh-sungguh meluncur.
Bahuku tersentak saat Sean masuk ke dalam kamar, pakaiannya masih sama karena dia memang belum mandi sejak tadi, sama sepertiku. "Aku sudah menyiapkan makan malam di meja dapur." dengkurnya lembut.
Hening sejenak. Tetapi dalam waktu singkat itu aku terpana dengan sikap santai, tapi juga kuat dan tegas yang di tampilkan Sean dalam sosoknya. Ketika Sean berdeham, aku baru gelagapan menjawab tawarannya. Aku menelan ludah, membasahi tenggorokanku yang tersekat dan kering. "Mm.. ya. Aku akan menyusul sebentar lagi."
Aku beranjak turun dari ranjang sembari memandang Sean melangkah tegas ke arah dapur. Tubuhnya tinggi, besar, dan indah. Punggungnya nampak kuat. Langkahnya tak goyah bersama kakinya yang panjang. Dia berjalan tanpa alas kaki, dengan kemeja biru muda dan jins hitam panjang membungkus tubuhnya.
Dan aku terkesiap lagi saat suamiku yang kupandang mendadak memutar tubuh kembali menghadapku. Kakiku yang berdiri di dekat ranjang sontak bergeser hingga betisku menempel disana. Aku butuh bantuan untuk menopang tubuhku yang linglung akibat terjerat pesonanya yang memabukkan.
Sementara itu, Sean tetap bergeming disana. Hanya suara seraknya yang membelai indraku di tempat. "Oh, ya.. aku membawa beberapa botol anggur merah tadi, kita bisa bisa bersantai dengan itu kalau kau menginginkannya."
Aku mengulas senyum dengan susah payah, mengangguk, lalu menyaksikan Sean berjalan lagi. Ya ampun... aku sudah tahu jawabannya. Sean sedang merayuku dan dia tidak mau terang-terangan melakukannya. Aku yakin dia sedang berusaha menahan diri untuk tidak menerjangku, dan sekarang akulah yang harus mengantisipasi diri agar tidak menggodanya.
Aku menarik napas beberapa kali lalu berderap ke dapur. Aku menuang sup ke dalam mangkuk dan mengerang nikmat karena rasanya yang lezat dan membuat perutku hangat. Setelah selesai makan malam dan menyesap sedikit anggur, aku mengusap bibir dengan sapu tangan di meja. Kemudian beranjak dari dapur.
Ketika berjalan melintasi ruang tengah, aku melihat pintu belakang terbuka. Agak panik karena rumah yang kutempati berada di hutan, tapi lebih penasaran karena aku mendengar gemersik angin yang lembut dan suara serangga. Kuputuskan untuk pergi kesana.
Aku menemukan Sean berdiri disana. Kepalanya terdongak ke arah langit.
__ADS_1
Aku berdeham untuk memberitahu kedatanganku. Sean menoleh kilat. Aku mendekatinya saat dia memalingkan wajah kembali, berdiri tepat di sebelahnya. "Astaga... aku tidak pernah menyaksikan bintang bertabur sebanyak ini." desahku terpana.
Aku mencengkeram pagar pembatas dan memandang lebih jauh lagi selama beberapa saat. Aku tak sadar bahwa Sean sudah bergeser ke belakangku dan membuatku tersentak dengan tangannya yang tiba-tiba melilit perutku. "Terlalu dingin untuk tidak memelukmu, Franda."
Jujur saja aku berdebar, namun akhirnya aku berhasil menguasai pikiranku lagi. "Jadi, dari mana kau tahu tentang tempat ini, Sean?" tanyaku hati-hati.
"Taylor. Salah satu teman masa kecilku." jawab Sean.
Aku bergumam lagi. "Kau belum menceritakan tentang teman-temanmu padaku."
Aku bisa merasakan Sean sedang menatapku saat hembusan napasnya yang hangat menari di pipiku. "Aku akan mengenalkan mereka padamu nanti." Mendadak tubuhku gemetar seperti tersengat aliran listrik ketika Sean membelai leherku dengan bibir dan lidahnya yang lihai.
Tanpa kusadari mataku memejam dan aku mendesah. Aku merasakan nikmat yang luar biasa dari belaiannya, dan aku teringat bahwa hati kami sudah terlalu lama berjauhan, atau hatiku yang menjauh darinya. Entahlah, aku tidak tahu.
Untuk beberapa saat aku masih terbuai dengan sentuhan liarnya, aku ingin dia melanjutkan bujukannya dan membawaku ke dalam rumah lalu kami akan bercinta sepanjang malam. Tempat ini memang menyuguhkan aroma bercinta yang kuat dan panas, di tambah lagi aroma tubuh Sean sendiri yang begitu kejam membakarku. Namun mendadak aku membuka mata dan berbalik dengan cepat menghadapnya.
Mataku terpejam lagi sementara aku mengatur napas. Aku bisa merasakan detak jantung Sean yang berdebar keras melalui kedua telapak tanganku yang menempel di dadanya, dan sekarang aku merasa bersalah saat mendengar dia menghembuskan napas panjang. Sean kecewa dengan penolakanku yang semena-mena.
"Maafkan aku." gumamku, tanpa tahu tujuanku mengatakannya.
Cukup lama aku menunggu Sean meresponku. Namun saat dia bersuara, dia terdengar murung. "Ada apa, Franda?" Hatiku sakit menangkap nada putus asa yang sangat jelas dalam suaranya.
__ADS_1
Aku belum berani mengangkat wajah untuk menatapnya. Aku gemetar, pipiku panas, dan tanpa sadar aku meremas kemeja yang membalut tubuhnya, lalu aku menangis. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi denganku. Aku mencintainya tapi ada sesuatu dalam diriku yang berusaha menolaknya, aku merasa seakan Sean ingin menyakitiku dan aku harus melindungi diri dari itu.
"Franda," Sekarang suaranya berubah lebih lembut. Sean menangkup tanganku dan menggenggamnya. "Katakan padaku ada apa, kita akan melewatinya bersama-sama. Apa yang kau rasakan, sayang?" gumamnya seraya menyatakan permohonan dengan remasan tangannya.
Aku tak mampu mengeluarkan suara selain tangisan dari mulutku. Aku sungguh tersiksa dengan keadaan ini. Keinginanku bertabrakan dengan suatu penolakan yang aku sendiri belum tahu berasal dari sudut mana di kepalaku. Ada takut, cemas, khawatir, sekaligus bingung yang tak bisa kujelaskan. Otakku berlarian kesana-kemari, dengan segala emosi yang saling mengejar satu sama lain, seakan berlomba meracuni agar di keluarkan lebih dulu.
Aku ingin menghempaskan semua kekhawatiran itu, tapi... Ya Tuhan, bagaimana bisa aku hidup dengan keadaan ini?
Dengan masih terisak, aku memberanikan diri mengangkat wajah. Dan seketika hatiku menjadi lebih sakit. Sean, suamiku yang tampan dan selalu jenaka, kini tengah menatapku dengan raut wajah paling buruk yang pernah kusaksikan, sorot matanya yang berkabut seakan menjelaskan bahwa dia sedang frustasi menghadapi sikapku saat ini.
Aku memandangnya cukup lama dan berurai air mata, lalu dia menyentakku dengan desisan penuh tekanan. "Franda," Kedua tangannya menangkup pipiku. "Sudah berulangkali kukatakan bahwa kau tidak sendiri. Ada aku yang akan selalu menemanimu. Kumohon... berbagilah denganku. Jangan menyimpan semuanya untuk dirimu sendiri. Aku juga mau merasakan kesakitanmu."
"Aku tidak masalah kalau kau ingin menjaga semua ketakutan dalam dirimu, tapi setidaknya berdamailah dengan itu. Terima dia sebagai bagian darimu, agar kau bisa mengatur semua perasaanmu. Jangan mau kalah, Franda. Kau lebih hebat, kau lebih berhak menguasai isi kepalamu di banding semua emosi yang mengikatmu selama ini. Kau harus bisa mengontrolnya." dengkurnya panjang, menambahkan.
Aku mencerna semua perkataannya yang tidak salah sedikitpun, dan aku memang menyadari itu. Aku menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, kuulangi beberapa kali sampai aku merasa tenang dan kemudian mengangguk. "Aku membutuhkan bantuanmu."
Lengkung senyum Sean melebar dan sudut matanya ikut berkerut, seolah-olah menyatakan kelegaan tengah memenuhinya saat ini. Dengan lembut dia menarik tubuhku ke dalam dekapannya yang hangat dan menenangkan. Dan itu adalah tempat yang paling kubutuhkan saat ini. Aku membalasnya dengan tanganku yang melilit erat punggungnya, dengan usapan lembut menyatakan terima kasih yang tulus atas semua kebaikan yang di tawarkannya.
Dia mencium keningku sekali ketika kami sudah terlepas. "Ayo, kita masuk sekarang. Malam sudah bertambah dingin."
Aku menurut. Tanpa banyak kata mengikutinya melangkah meninggalkan teras. Seandainya aku mampu, aku ingin akulah yang menghiburnya. Aku ingin menenangkannya seperti dia menenangkanku. Tapi aku tahu Sean adalah sosok yang lain. Dia tangguh dan berbeda dengan sosok biasa dan aku hanyalah wanita tanpa daya jika berhadapan dengannya.
__ADS_1
Ya Tuhan, Sean...