
Aku memandangi pohon-pohon yang menjulang tinggi di sepanjang perjalan menuju rumah danau. Ya, akhirnya hari ini kami akan kembali menjadi penduduk rimba. Melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan kota yang mulai terasa membosankan.
Memasuki tempat ini lagi membuatku merasa seakan terlahir kembali dengan jiwa yang baru, yang lebih bebas dan lepas. Tidak diragukan, alam memang selalu mempunyai cara yang indah untuk membangkitkan seseorang. Sungguh ajaib.
Aku tak henti-hentinya mengucapkan syukur dalam hati untuk segala kebaikan Tuhan dalam hidupku. Dulu mungkin aku pernah menyalahkan-Nya karena berpikir Dia telah mengambil kedua orang tuaku secara paksa, tapi dalam masa-masa sulit yang kulalui, Dia juga menyelamatkanku.
Tuhan menolongku dalam segala kesulitan.
Aku memperhatikan sekeliling saat mobil yang kami tumpangi mulai melambat. Jalan berlubangnya masih sama. Pohon-pohonnya masih sama. Suasana yang menantang pun masih terasa sama. Tapi... dimana rumahku? Aku tidak dapat melihat keberadaannya hingga ban mobil sepenuhnya berhenti berputar.
Aku masih menatap bingung pada sekitar saat kudengar suara Sean berbicara. "Kita sudah sampai, sayang." Dia turun dari mobil dan membuka pintu di sisiku.
Aku menerima uluran tangan Sean tetapi pandanganku tetap mencari-cari keberadaan istana rimba-ku yang seakan hilang di telan bumi. Kemudian aku menyipitkan mata saat Sean menuntunku lebih jauh melewati jalan setapak yang masih basah dan disanalah aku melihatnya. Dibalik gubuk kayu mesin listrik usang yang suara dentumannya tidak akan kulupakan seumur hidup.
Sebuah rumah yang penampilannya berbanding terbalik dengan rumah kayu sebelumnya. "OH. MY. GOD!" Aku tercengang dengan tangan menutup mulut. Terpana pada pemandangan indah di hadapanku.
"Welcome home, baby."
"Is this real? Apakah aku sedang bermimpi? Kalau iya, kumohon jangan bangunkan aku." cetusku, lalu berjalan terburu-buru meninggalkan Sean.
Sean terkekeh di belakang sementara aku berderap mendekati rumah itu hingga berdiri di rerumputan tepat di depan rumah. "Bagaimana? Apa kau menyukainya?" tanya Sean sambil merangkul pundakku.
Are you kidding me? I am speechless! Siapa yang tidak akan menyukai rumah seperti itu? Aku masih mengagumi pemandangan di hadapanku. Mendadak lidahku seakan beku. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan betapa bahagia hatiku saat ini. Dan sebagai gantinya, aku langsung mencium makhluk seksi dan penuh kejutan itu.
Aku menciumnya dengan segenap perasaan yang meledak-ledak, menikmati manis di mulutnya sementara jemariku naik menyusuri rambut hitam tebalnya. Aku baru berhenti setelah kami nyaris kehabisan napas. "Sean..." desahku tersengal-sengal, memandangi setiap sudut wajahnya yang selalu kukagumi, lalu aku menciumnya lagi.
__ADS_1
Tanpa sadar air mataku menetes karena perasaan bahagia yang memenuhi setiap sel-sel tubuhku. "I can't believe this." dengkurku di depan mulutnya dengan tangan menangkup rahangnya. Untuk ketiga kali, aku menciumnya lagi. Sampai Sean terkikik di sela-sela ciuman kami.
"Kutebak kau menyukainya. Apa aku benar, Franda?" gumamnya lembut sembari mengusap pipiki yang basah.
Aku menggelengkan kepala cepat. "Tidak. Menyukai bukan kata yang tepat. Aku menggilainya seperti aku menggilaimu." Aku menelengkan wajah melihat rumah itu lagi. Air mataku semakin deras mengalir sementara bibirku tersenyum lebar. Amat sangat lebar, sampai kurasa mulutku mungkin sudah terkoyak.
Belum sempat aku mengatakan sesuatu untuk mengungkapkan rasa terima kasihku dengan baik, suara Ibuku terdengar di belakang kami. Dia histeris, persis dengan reaksiku tadi. Aku sudah lupa kapan terakhir kali ibuku berteriak sekencang itu. Dia bahkan mengumpat.
"Jesus fvcking christ!"
"Mom, ada anak kecil disini." sergah Mia seraya menutup telinga Ben.
Ibuku terkesiap, mengerjap dan menggelengkan kepala menyesali ucapannya. "I'm sorry, Ben." katanya lemah, membuat kami tertawa menyaksikan wajah keriputnya yang lucu. Kemudian dia mendekatiku dan menarikku ke dalam dekapannya. "Oh, sweetie. I'm so happy for you." Dia mengusap punggungku dan mencium kepalaku.
Aku mengangguk di bahunya, masih berusaha menenangkan jantungku yang seolah ingin melompat keluar dari sarangnya. "Thank's, mom." balasku sembari mengeratkan pelukan.
Aku memandangi dua orang yang kuhormati itu dengan perasaan haru dan bahagia sekaligus. Yang satu ibu yang membesarkan dan merawatku, yang satu lagi suami yang akan menemaniku selamanya.
"Dia istriku, mom. Aku hanya memberikan apa yang pantas di dapatkannya. Ini bukan apa-apa dibanding semua yang dilakukannya untukku." kata Sean lembut.
Setelah momen mengharukan itu berlalu, kami langsung masuk ke dalam rumah. Jika tadi aku sudah terkejut dengan pemandangan di luar, sekarang bagian dalamnya lebih mencengangkan lagi. Sebelumnya aku mengira rumah itu tidak terlalu besar, tapi ternyata ada surga tersembunyi yang baru kuketahui.
Ada satu pintu yang mengarah ke belakang dan disana terdapat enam kamar yang ditambah satu ruangan pendingin khusus yang menyimpan wine. Botol-botol wine itu berjejer di atas rak yang terbuat dari kayu. Ini benar-benar surga.
"Demi Tuhan, aku tidak akan keberatan tinggal disini selamanya." Aku tersentak kaget mendengar suara Mia yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku.
Aku mendengus memandanginya selagi dia berjalan menghampiri salah satu rak, kemudian meraih sebotol wine dari sana. "Penfolds Grange Hermitage 1951. Hanya tersisa 20 botol di dunia, dan salah satunya disini. Kakak iparku memang gila!" Mia menggoyangkan kepala tak percaya. Matanya berkilat-kilat sementara dia menelan ludah. "Boleh aku mencobanya?"
__ADS_1
Aku baru akan menjawab 'Tidak!' tapi suara Sean lebih dulu terdengar dari ambang pintu. "Go ahead. Itu ada untuk diminum." balasnya cuek.
Mia langsung mengepalkan sebelah tangannya ke udara, lalu buru-buru berlari keluar. Aku mengutuk dalam hati karena kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan barang itu.
Sean melangkah dengan cara yang sangat anggun, menggodaku dengan seringai dan kedipan matanya yang genit. Aku memperhatikan gerak-geriknya sambil tersenyum geli. Dia berdiri di satu rak kayu paling kanan, sebelah tangannya meraba bagian samping rak itu. Kemudian aku terlonjak, nyaris melompat saat kurasakan lantai kayu di bawahku bergetar.
Oke. Baiklah. Kurasa aku harus memeriksakan jantungku setelah ini. Entah apa yang sudah direncanakan makhluk seksi ini padaku, kenapa dia harus membuatku melongo berkali-kali?
Keterkejutan soal rumah dan gudang wine saja masih belum selesai, sekarang dia menarikku turun melewati tangga yang baru terlihat dari sisi sudut yang membuka lebar setelah Sean menekan tombol tadi. Satu ruang rahasia lagi. Jantungku berdebar lebih kencang ketika dia menuntunku melewati ruangan yang tampak seperti terowongan bawah tanah. Oh, ini memang terowongan, Franda!
Udara di dalamnya sangat lembab, dindingnya terbuat dari batu bata yang di poles dengan cat hitam, lampu-lampu bohlam kecil tampak berjejer di dinding, sinarnya menyinari sepanjang terowongan yang belum terlihat ujungnya.
Sean terus menuntunku tanpa mengatakan apapun, aku sendiri tidak mau repot-repot bertanya. Derap langkah kami yang menggema terasa menyeramkan, membuatku bergidik ngeri. Ini persis seperti perjalanan menuju ke ruang penyiksaan yang sering muncul di film psikopat. Wait, apakah dia psikopat? Kalau iya, habislah aku hari ini.
Kurasakan rambut-rambut halus dikulitku berdiri dan aku mulai takut. Aku terus menatap was-was padanya sembari melangkah gemetar hingga kami berhenti di ujung terowongan. Sean menekan tombol lain di dinding di sebelahnya, dan seketika ketakutanku menguap saat cahaya terang menerobos dari atas, disertai sebuah tangga besi yang perlahan bergerak turun. Aku menghembuskan napas lega.
"Come on," kata Sean sembari mengulurkan tangan. Aku menerima uluran tanyannya dan mulai menapaki anak tangga.
Aku masih berdiri di tangga dan berhenti saat mataku memandang sebuah... aku tidak tahu namanya, tapi itu pemandangan paling indah yang kusaksikan hari ini. Dan aku amat sangat mengerti tujuan Sean membuat tempat itu.
"Warner," gumamku takjub. "Kau benar-benar sudah menyiapkannya. Aku tidak percaya kau merencanakan sejauh ini." Aku mencium bibirnya dengan rakus, melilitkan lidahku ke lidahnya seraya meremas rambutnya.
Kemudian secepat kilat aku berlari melewatinya dan langsung menuju ke kabin yang akan menyiksaku dengan kenikmatan.
Sean tertawa di belakangku, lalu ikut berlari kencang dan melayangkan tubuhku ke pudaknya. "Aku akan menghukummu karena berani meninggalkanku, gadis nakal!" katanya sambil menepuk bokongku.
__ADS_1
Aku terkikik di balik punggungnya. Perasaan bahagia tak mampu lagi kuungkapkan dengan kata-kata. Sean memberiku kehidupan yang luar biasa indah, dan aku sudah siap menyambut keindahan lain yang akan menghiasi perjalanan kami.