Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Welcome Home.


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV...


"Aku tidak menyangka kau akan luluh pada satu ciuman. Jika aku tahu, pasti aku sudah menciummu sejak pertama kali kau menutup mulutmu yang mungil ini." godaku dengan genit sambil mengusap pipinya yang bersemu merah. Aku tahu dia sedang malu dan aku menyukai itu karena aku sadar istri yang kucintai sudah kembali padaku.


Franda menunduk dengan pipi yang panas. Tapi aku mengangkat dagunya dengan ibu jari dan menyapu sejumput rambut dari wajahnya. Aku sangat bahagia karena dia percaya padaku dan mau menerima pemujaanku lagi sampai aku ingin menerjangnya detik ini juga. Tapi itu memang benar, mengingat sekujur tubuhnya selalu menjeritkan percintaan yang keras. Sikapnya yang lembut dan begitu mendamba membuatnya semakin pantas untuk di gilai.


Desisan seksi dan halus keluar dari mulutnya saat aku memainkan ibu jariku pada telinganya. "Sean," Matanya turun melirik bibirku, lalu kembali ke sepasang mataku yang menatapnya dalam. "Aku merindukanmu." Aku tahu dia sedang menginginkanku. Dia mengusap dadaku dengan sebelah tangan dan aku menggeram ketika jemarinya menggoda puncak dadaku.


Aku merasa panas dan keras karena godaannya. Demi Tuhan, kalau tubuhnya tidak selemah itu, aku pasti akan mengurungnya di dalam kamar seharian dan membuatnya menjerit nikmat sementara aku menghentaknya kuat-kuat. "Franda," kataku setengah menggeram. "Aku sungguh ingin menyalakan api yang bisa membakarmu. Tapi sekarang, beri waktu pada tubuhmu untuk beristirahat sampai kau siap menerima seranganku."


Mataku menatap lebih dalam ke matanya. "Apakah kau bisa bersabar, Franda?"


Franda menggigit bibir dengan cara yang membuatku gila. Kepalanya terangguk. "Aku akan memulihkan diri dengan cepat agar kau bisa menikmati surgamu."


Mulutku melengkung. "Tapi untuk sebuah sambutan selamat datang, kau tak perlu tenaga yang banyak, sayang." Aku mencium bibirnya yang penuh dan manis dengan kasar.


Franda terkesiap dan mendesah. Dadanya membusung. Tangannya mencakar bahuku yang polos. Aku menguasai bibirnya sampai dia menangis, sampai dia mengambil napas dan menginginkan mulutku lagi. Aku memberikannya kepada Franda. Tak berhenti sampai akhirnya dia gemetar menyerukkan wajahnya ke wajahku. "Ah... Sean..." erangnya, menerangi malam dan ruang gelap di hatiku.

__ADS_1


Aku mengerdip dan mengusap pipinya. "Lagi, Franda?"


Franda tak tahan. Franda menginginkanku. Franda menciumku dengan liar dan rapuh.


Aku menurunkan tangan dari wajahnya untuk menyibak selimut dan menyentuh bagian di antara kedua pahanya. Franda mengerang di dalam mulutku sementara pinggulnya bergerak liar mengatakan dia menginginkan lebih.


Tanganku menyusup ke dalam pakaian dalamnya dan menyentuh dirinya yang berdenyut dan kuyakin sedang bersemu merah. Sekitika itu tangannya meremas leherku dan aku tersenyum puas di mulutnya.


Tanganku mengusapnya lembut, membangkitkan gejolak dalam dirinya yang sempat mati suri. Membuatnya mengerang dan menjerit di mulutku yang tak mau melepaskannya. Tak ada lagi yang ingin ku lakukan selain menghibur gairahnya yang dilanda kerinduan akan kepuasan. "Nikmati sambutanku, sayang. Lepaskan dahagamu." Franda terpejam dan menyerukkan wajahnya di leherku. Dia menggigitku sementara jemariku bergerak liar menyiksa tubuhnya yang basah dan berdenyut dengan kenikmatan.


Aku menggerakkan jemariku yang nakal untuk memasukinya, keluar-masuk disana sambil mataku menatapnya dan tersenyum penuh kemenangan. "Aku akan selalu menghiburmu seperti ini, sayang. Kau akan merasakan gairahku yang membakar tubuhmu sampai kau meleleh dan tak sanggup meninggalkanku. Aku akan menawanmu dengan segenap tubuhku yang selalu panas dan keras. Kau berada ditempat yang tepat, Franda... kau sedang hidup di surga."


"Welcome home, baby." kataku sambik menarik tanganku darinya lalu aku menjilat jemariku untuk menyesap rasa tubuhnya yang luar biasa. Rasa yang membuatku tak bisa berpikir waras.


Dia masih terpejam dan tersengal-sengal. Cengkeramannya di leherku perlahan mengendur seiring tubuhnya yang berhenti bergetar.


Mataku terus memandang takjub pada wanita cantik yang sudah menghipnotisku dengan senyumnya sejak bertahun-tahun lalu. Membayangkan betapa banyak waktu yang kulewati untuk mendapatkannya sangat tidak mudah. Aku harus rela berjuang mati-matian untuk membuatnya luluh dan menghambur padaku. Dan sekarang aku bangga sekaligus bersyukur dia masih berada disampingku. Berharap aku akan melihatnya sampai detik terakhir mataku menutup dan tak membuka lagi. Segala yang kuinginkan dan kubutuhkan ada dalam dirinya yang rapuh sekaligus penuh perhatian.

__ADS_1


Istri yang kukasihi membuka mata dan ketika kami beradu tatapan, wajahnya kembali bersemu merah. "Kau memang bajingan, Sean." umpatnya padaku, tapi aku tak tersinggung. Karena aku tahu dia sedang mengangumiku dengan cara yang berbeda. Ketika wanita lain berterimakasih dengan bahasa yang lembut dan merdu, Franda justru akan mengucapkan kata-kata kasar. Dia tak segan-segan mengumpatku saat aku berhasil menghibur dirinya yang rapuh dan lemah.


"Jangan berpikir aku akan meninggalkanmu lagi. Atau aku akan mematahkan kaki kananmu juga agar kau tidak bisa berjalan selamanya." ancamku. Tapi dia tidak takut. Dia tertawa dan mencium bibirku.


Setelah ciuman kami terlepas, dia membuka mulutnya dan berbicara. "Sepertinya aku tidak keberatan dengan itu. Pasti menyenangkan." katanya genit lalu tertawa lagi. Lebih lebar dan lepas.


Aku benar-benar bahagia bisa melihatnya seperti ini lagi. Kembali menjadi wanitaku yang tangguh dan kuat. Wanitaku yang selalu ceria dan menghiburku dengan godaannya yang terkadang tak cocok dengan dirinya, tapi justru terlihat lucu dan menggemaskan hingga membuatku semakin tergila-gila padanya.


Franda tak pernah menjadi orang lain. Dia selalu memukauku dengan dirinya yang kadang terlihat kuat namun tidak pernah malu untuk bersikap manja padaku. Dia bisa menjadi teman, kekasih, ibu, atau bahkan menjadi putriku ketika dia merengek padaku. Dia tidak pernah menyembunyikan gairahnya dariku, bahkan tanpa malu-malu menyerangku dengan tubuhnya yang kecil. Franda akan menjelma liar dan tak kenal puas setiap kami menyatakan cinta dengan tubuh kami yang saling mendamba. Demi Tuhan, dia adalah wanita terbaik di muka bumi.


"Ayo, aku akan membantumu mandi." Aku mengangkat tubuhnya yang terasa lebih ringan dari beberapa bulan lalu. Dia berusaha menolak karena tak ingin aku mengasihaninya, tapi aku tak peduli. Aku tetap membawanya ke dalam gendonganku dan dia hanya bisa pasrah.


Aku benar-benar memandikannya. Menggosok seluruh tubuhnya dengan lembut sambil terkadang mengusap kaki kirinya yang sudah mulai membaik. Hatiku kembali remuk membayangkan betapa menderitanya Franda selama beberapa bulan ini. Sakit di tubuhnya saja sudah menyiksanya, ditambah lagi hatinya yang hancur dengan kepergian bayi kami yang berada di kandungannya. Tak salah kalau dia lebih menderita dari pada diriku.


Aku hanya melihatnya kesakitan sementara dia merasakannya sampai hatinya yang terlalu lembut tak sanggup memaafkan dirinya sendiri. Setiap hari aku mempelajari suatu dari Franda, dan hari ini aku menyadari bahwa terkadang cinta memaksa kita untuk memilih menderita sementara menyaksikan orang yang kita cintai hidup bahagia. Walaupun sebenarnya kita layak dan pantas memperjuangkan diri untuk dicintai lebih dalam.


Aku baru saja memakaikan gaunnya dan hendak mengajaknya turun untuk sarapan, tapi dia menahan tanganku. "Aku tidak mau bertemu Ibu dan Mia." katanya sambil menatapku. Aku bisa melihat kesedihan dimatanya yang mulai berair.

__ADS_1


Dengan lembut aku menggenggam kedua tangannya dan berlutut ditepi ranjang. Aku mendongak untuk menatap matanya. "Tidak apa-apa, sayang. Mereka sangat merindukanmu. Percayalah... tidak ada yang mengasihanimu. Ibu, Mia, Edward, dan para pekerja sekalipun, mereka semua menyayangimu. Ayo... kita harus turun. Sudah waktunya kau kembali pada kehidupan."


Tanpa menunggu jawabannya, aku mengangkat tubuhnya dan membawanya turun sementara dia pasrah dan menyembunyikan wajahnya di leherku.


__ADS_2