
Aku menggeliat saat merasakan sebuah tangan mengusap kulit perutku dengan lembut, lalu aku membuka mata dan mendapati sebuah pemandangan indah yang disuguhkan oleh alam melalui sepasang bola mata biru milik suamiku. Dia tersenyum manis, sangat manis... memaksaku menutup mata sejenak untuk memastikan apakah aku sedang bermimpi atau tidak.
Tapi suaranya yang serak terdengar nyaman di telingaku, membuktikan bahwa dia memang berada di dekatku saat ini. "Hei, malaikatku." sapanya.
Aku membuka mata, mengangkat tangan, lalu menangkup pipinya sambil mengamati wajahnya lekat-lekat. Seperti biasa, suamiku selalu terlihat tampan, dan mempesona, dan mendebarkan. Sosoknya yang luar biasa itu seakan menyatakan bahwa dia ikut berperan dalam pemanasan global, khususnya untuk para wanita.
Dia, suamiku yang tampan, akan membuat wanita mana saja merasa terbakar jika berada dekat dengannya.
"Apa aku mengganggu tidurmu?" dia bertanya sambil mengusap-usap perutku, tatapannya tidak berpindah dari mataku.
Aku tersenyum padanya, menyempatkan memandangi wajahnya sekali lagi sebelum aku menjawabnya. "Ya, kau mengacaukan mimpiku." balasku bercanda. "Tapi aku senang kau menggantikannya dengan kenyataan yang lebih indah." kataku menambahkan.
Dia terkekeh pelan lalu memajukan kepalanya untuk menciumku. "Memangnya apa kenyataan yang indah itu, malaikatku?" gumamnya genit di depan mulutku, lalu dia menggigit daguku.
Aku tertawa, menahan geli saat giginya menggelitik dagu dan bergerak turun ke sekitar leherku. "Sebentar lagi akan terlihat." balasku.
"Franda,"
"Ya,"
"Kau sangat cantik, apa kau tahu itu?" bisiknya di telingaku.
Aku tersenyum, sambil menyisir rambutnya dengan jemariku, aku pun berbicara. "Kau mengatakannya setiap hari, Sean." Aku bisa merasakan bibirnya tersenyum di kulit leherku.
"Benarkah?" Aku mengangguk. "Lalu, kenapa aku terus mengatakannya?" katanya sambil terus menciumi leherku.
"Ah, Sean," Aku mendesah saat sebelah tangannya nakal menyusuri bagian di antara kedua pahaku. "Watch your hand, sir!" Aku tahu apa yang akan terjadi lanjutnya jika dia tidak menghentikan gerakan tangannya.
Sean tertawa. "Kau dan perut besarmu mengacaukan pikiranku, Franda. Aku baru tahu bahwa wanita hamil bisa terlihat begitu seksi." Dia mengusapkan jemarinya lagi, dengan liar menggoda kewanitaanku, sementara sebelah tangannya menahan kedua tanganku di atas kepala.
"Sean, apa kau..." ucapanku terpotong saat dia tiba-tiba menutup mulutku dengan mulutnya. Mataku terpejam, sekujur tubuhku merasa nikmat, dan tanpa sadar aku mendesah di mulutnya.
__ADS_1
"Dad! What are you doing? Are you going to kill her?"
Tunggu, apa pendengaranku tidak salah? Ya, tidak salah lagi. Itu suara Ben!
Aku membuka mata, lalu menoleh ke arah pintu dan mendapati Ben sedang berdiri dengan raut bingung, memperhatikan Sean dan aku secara bergantian. Kuturunkan pandanganku ke bawah dan dalam hati aku bersyukur bahwa kaus yang kukenakan belum terlepas, hanya saja aku memang tidak mengenakan celana.
Sean menghembuskan napas berat, melepaskan genggamannya di kedua tanganku, kemudian menarik selimut untuk menutupi pahaku yang terbuka. Terlihat enggan tapi dia tidak punya pilihan lain, untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang anak kecil mengganggu kesenangannya. Welcome to the journey, Warner!
"Mom, did he hurt you?" Aku beralih menatap Ben kembali, dia bertanya sambil melangkah mendekati kami, kekhawatiran jelas terlihat di wajahnya.
Aku menahan tawa lalu menggelengkan kepala. "No, not at all." Ben tiba di tepi ranjang, alisnya bertaut, matanya tertuju pada Sean dengan sorot tajam, seketika tawaku meledak saat Sean mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.
"We're just playing, son." jawabnya dengan wajah frustasi.
Ben masih menatapnya tajam. "I saw what you've did, Dad. I'm a big guy, don't lie to me." gumamnya tegas, mengintimidasi Sean lebih keras, namun suaranya yang mungil membuat tawaku semakin menggema di udara.
Sean memundurkan kepalanya seraya membulatkan mata, kemudian dia menggeleng dan senyum tak percaya tampak di sudut bibirnya. "Okay, BIG GUY!" katanya, menyerah.
Aku mengangkat tubuhku dan menyandarkan punggungku pada headbed, lalu mengusap air mata yang mungkin muncul di sudut mataku ketika aku tertawa tadi, kemudian meraih Ben. "Tidak terjadi apa-apa, Ben. Daddy hanya bercanda." ucapku menjelaskan, well, Sean tidak benar-benar bercanda. Tapi tidak mungkin mengatakan padanya apa yang kami lakukan, bukan?
Tanganku terulur dan mendorong wajah Ben agar menatapku. "Hei, we're just playing. Nobody hurt anybody." Aku menjelaskan lagi.
Ben terlihat belum percaya. "Well, itu akan terdengar masuk akal jika kalian tertawa." sahutnya sambil mengedikkan bahu.
Bibirku melengkung tinggi, merasa tersentuh dengan sikap melindungi yang ditunjukkan oleh anakku, dan dia terlihat begitu khawatir. "Ada beberapa permainan yang tidak membutuhkan tawa, just... I don't know, but we're playing."
Ben melirik Sean yang saat ini menggelengkan kepala. "Son," ucapnya lembut. "Kenapa kita tidak melupakan ini dan turun mencari es krim? Sepertinya lolipop sudah tidak menarik lagi bagimu." Sean berusaha mengalihkan pembicaraan sambil memainkan kedua alisnya.
Aku tertawa lagi, menyadari kalimatnya yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Ben sudah bertambah besar dan berubah menjadi lebih kritis.
Sekali lagi, Welcome to the journey, Warner!
__ADS_1
Alih-alih menjawab, Ben malah menantangnya. "Es krim juga tidak terlalu menarik, Dad. A girl much more better." katanya santai.
Aku dan Sean saling menatap dengan mata dan mulut terbuka lebar. Untuk beberapa detik kami terdiam mencerna kata-katanya, lalu dengan serentak bersuara. "Ben!" Suara kami terdengar terlalu kencang, membuat Ben terkejut.
"What?" tanyanya heran.
Aku melirik Sean. Jika sebelumnya dia tampak terkejut, sekarang dia tersenyum geli memandangi Ben. "Pilihan yang bagus, son." katanya, lalu mengusap kepala Ben.
"Who told you about girl?" Aku bertanya pada anakku.
Kedua alisnya terangkat naik. "Aku melihatnya di supermarket saat menemani granny belanja bersama Ms. Darla dan granny setuju saat aku mengatakan anak itu cantik, mom."
"Jadi, apa kau sempat berkenalan dengannya?" tanya Sean sebelum aku sempat berbicara.
Ben menggeleng. "Dia pergi sebelum aku sempat menyapanya." katanya sambil menundukkan kepala, dan aku tidak percaya anakku terlihat seperti sedang patah hati sekarang.
"It's okay," ujar Sean. "Kau pasti akan bertemu dengannya lagi, yang perlu kau lakukan adalah mempersiapkan diri dan menunggu saat yang tepat untuk menemui gadismu."
Apa-apaan ini? Kenapa dia terdengar seorang seperti penasihat hubungan sepasang kekasih? Apa dia sadar lawan bicaranya adalah balita? Ben bahkan belum genap tiga tahun.
Ya Tuhan! Sepertinya kata-kataku tadi baru saja berbalik menyerangku kali ini.
Welcome to the journey, Franda!
"Apakah itu mungkin, Dad? Apa aku bisa bertemu dengannya lagi?" Ben bertanya dengan antusias, matanya berkilat-kilat senang menatap Sean.
"Tentu saja, son." balas Sean dengan cepat, terdengar sangat bersemangat. "Tidak ada yang tidak mungkin selama kau berusaha, kau bisa mendapatkan gadis manapun selama..."
"Enough!" kataku memotong ucapannya, pembahasan ini akan lari kemana-mana.
Sean sedang berusaha mengisahkan kerja kerasnya sebelum menikah denganku. Itu bagus, tapi bukan kisah yang tepat untuk diceritakan kepada balita, aku takut Ben salah menangkap maksudnya.
__ADS_1
Mereka melihatku dengan tatapan seakan aku adalah seseorang yang sedang mengganggu kesenangan mereka. "Ben, can you help me? Mommy haus."
Ben mengangguk lemah, tampak berat untuk beranjak dari sisiku, tapi dia tetap melangkah. Aku memandanginya sampai menghilang di balik pintu kamar sebelum menoleh Sean dan berbicara padanya.