
Franda memarkirkan mobilnya sambil melempar pandangan ke sekeliling mencari mobil Mia, Ia mengeluarkan ponsel dan untuk menelepon adiknya karena tidak mendapati kendaraan adiknya terparkir disana.
Mia belum mengangkat sampai panggilan pertama berakhir, Franda menelepon lagi dan terdengar Mia menjawab diseberang telepon.
"Halo, kau sudah sampai?" tanya Mia.
"Ya, kau dimana? Aku tidak melihat mobilmu..." jawab Franda sambil terus mencari dimana mobil Mia.
"Tunggu sebentar, aku sudah dekat!" jawab Mia dan langsung mematikan telepon.
Franda memasukkan kembali ponselnya, lalu mengambil cermin dan memeriksa kembali apakah riasannya masih terlihat bagus. Saat asik bercermin Franda dikagetkan dengan ketukan dikaca mobilnya, lebih terkejut lagi saat melihat ternyata Sean yang berdiri di luar.
"Kau disini?" tanya Franda heran setelah menurunkan kaca mobil, pasalnya sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Ia mengarahkan pandangan untuk melihat apakah Sean bersama seseorang namun tak ada siapapun disana.
"Ya, aku baru saja akan masuk dan melihat mobilmu. Aku parkir dibelakang." jawab Sean, Franda menoleh kebelakakang dan benar mobil Sean terparkir disana.
"Kau sendiri?" tanya Franda lagi.
Sean mengangguk. "Aku hanya ingin mampir sebentar, kau menunggu seseorang?" ucap Sean.
"Oh, iya. Aku menunggu Mia, adikku. Katanya sudah dekat... Ahh, itu dia!" jawab Franda saat melihat mobil Mia memasuki tempat parkir.
Mia keluar dari mobil dengan penampilan casual, Ia memakai kemeja putih lengan pendek yang dimasukkan ke celana panjang hitamnya, sepasang sneakers putih dan make-up seadanya membuat penampilannya seperti remaja belia, sungguh diluar perkiraan Franda.
"Oh, God!" Franda menepuk keningnya saat melihat Mia, tadinya Ia berpikir Mia akan memakai sesuatu yang setidaknya lebih feminin, namun Ia salah. Mia pasti akan menertawakannya sekarang.
"Hey, maaf aku terlambat." ucap Mia sambil mendekat, matanya menatap Franda dan Sean bergantian, heran dengan keberadaan pria yang tidak dikenalinya itu.
"Kenalkan dia Sean, temanku. Sean, ini adikku, Mia." kata Franda setelah keluar dari mobil dengan gugup, dan Mia langsung tertawa melihat kakaknya, tepat seperti yang dipikirkan Franda. Sean juga tampak kaget melihatnya yang baru keluar dari mobil, lebih tepatnya kagum akan kecantikan Franda.
"Hahaha... Kau mau kemana berdandan seperti itu?" Mia terbahak sambil memegang perutnya, mengejek penampilan Franda yang tampak berlebihan.
"Kau yang salah kostum, aku sudah bilang akan bersenang-senang. Kenapa penampilanmu seperti akan mengikuti sidang skripsi?" kata Franda kesal, kenyataan kini jauh dari harapannya. Sean hanya tersenyum melihat wajah kesal Franda.
__ADS_1
"Hahaha, aku tidak menyangka kau akan datang dengan dandanan red carpet-mu. Lagipula kau tidak memberitahu harus memakai apa, jadi jangan menyalahkanku!" Mia masih terbahak, penampilan Franda benar-benar membuatnya terhibur.
"Sudah, ayo masuk! Sean, mau bergabung?" kata Franda mengalihkan pandangan pada Sean.
"Well, kalau kalian tidak keberatan..." jawab Sean namun matanya menatap Mia. Mia hanya mengedikkan bahu.
"Santai saja, kami justru senang kalau kau bergabung. Ayo!" seru Franda, Ia langsung menarik tangan Mia agar mengikutinya sementara Sean juga mengekor dibelakang.
Ketiganya sudah duduk di meja yang dipesan Franda sebelumnya, belum ada yang mengeluarkan suara. Franda tampak cuek dengan pengunjung lain yang menatap kagum ke arahnya, ekspresi mereka seperti baru melihat dewi kayangan yang menginjak bumi, terutama kaum adam.
Sean melambaikan tangan pada seorang pelayan yang kebetulan melihat kearah mereka.
"Mau pesan apa?" tanya Sean pada Franda dan Mia sambil melihat-lihat menu.
"Makanan ringan saja, aku tidak mau yang berat-berat." jawab Franda.
"Sama!" kata Mia menyambar, Ia mengeluarkan ponsel dan memainkannya.
"Minum?" tanya Sean lagi.
"Good choice!" ucap Mia sambil menjentikkan jarinya.
"Ok, French Fries dua, Corona tiga!" kata Sean pada pelayan wanita tadi sembari menyerahkan buku menu.
"Kau masih menjalankan usaha Conan-mu itu?" tanya Franda pada Sean setelah pelayan tersebut pergi.
"Tidak, aku mengambil pekerjaan lain. Aku tidak bisa terus menunggu kedatangan seseorang yang memiliki masalah untuk menopang hidupku, dan juga aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda." jawab Sean santai.
"Bukankah kau menghasilkan banyak uang dari situ? Bukan apa-apa, tapi aku melihat kau cukup sukses sampai bisa membeli apartemen dan mobil mewahmu. Kau tidak sayang melepasnya?" ucap Franda, Sean memang terlihat hidup dengan baik sejak Ia mengenal pria itu, tidak pernah tampak seperti hidup kekurangan.
"Well, aku butuh suasana baru. Aku tidak melakukannya lagi setelah menyelesaikan kasusmu. Sebenarnya aku sudah berhenti sebelumnya, namu Dhea terus memaksaku untuk membantumu..." jawab Sean berbohong, Ia memang bukan detektif sungguhan seperti yang diketahui Franda.
"Ah, maaf kalau aku merepotkanmu..." Franda merasa tidak enak dengan jawaban Sean.
__ADS_1
"It's ok, aku yang mau melakukannya. Jangan sungkan, kau bisa menghubungiku kapanpun kau membutuhkan bantuanku." Sean tersenyum, Ia menatap Mia yang sejak tadi tampak tidak perduli dengan mereka berdua.
"Apakah dia kesini untuk memainkan ponsel?" lanjutnya bertanya pada Franda.
"Biarkan saja, obatnya belum datang!" Franda dan Sean terkekeh, keduanya menatap Mia yang sama sekali tidak menyadari dua orang didepannya sedang membicarakan dirinya.
"Dua French Fries dan tiga Corona. Ada tambahan lagi, kak?" kata seorang pelayan laki-laki yang mengantarkan makanan mereka.
"Ini saja dulu." Sean menjawab singkat. Pelayan itupun pergi setelah menganggukkan kepala.
"Jadi kau bekerja dimana sekarang?" tanya Franda melanjutkan obrolan yang tadi sempat terputus.
"Aku membantu pamanku mengurus usahanya." jawab Sean berbohong, entah paman mana yang dimaksudnya.
"Oh, baguslah kalau begitu..." ucap Franda sembari meneguk bir miliknya.
"Hm, kenapa kau kesini? Apa sesuatu terjadi?" tanya Sean penasaran dengan alasan Franda mendatangi tempat itu, belum lagi dengan tampilan 'wow'-nya.
"Tidak ada! Ahh, kenapa semua orang berpikir aku harus memiliki masalah agar bisa masuk ke klub?" Franda mengeluh.
"Karena kau tidak akan melakukannnya jika baik-baik saja! Aku juga yakin pasti terjadi sesuatu, kan?" sahut Mia yang tiba-tiba bersuara.
"Kau benar! Terakhir kali dia memaksaku menemaninya ke klub saat ribut dengan suaminya, dia mabuk parah bahkan sampai jackpot di badanku!" Sean bercerita dengan semangat, tanpa disadarinya Mia melotot tajam kepada kakaknya. Franda hanya tersenyum kikuk.
"Kau pernah mabuk dengannya? Wah... Kenapa kau tidak menceritakannya? Kau benar-benar..." Mia menggeleng tak percaya mendengar ucapan Sean. Setahunya kakaknya itu bukan tipe perempuan yang mau minum dengan sembarang orang, apalagi sampai mabuk parah.
"Mia, aku tidak harus menceritakannya padamu!" jawab Franda, lalu menatap tajam Sean.
"Apakah kakak ipar tahu?" tanya Mia, sengaja memanggil Nino seperti itu agar Sean menjauhi Franda, Mia berpikir pria itu bisa saja menjadi ancaman dalam rumah tangga kakaknya. Sebenarnya dari tadi Ia diam-diam memperhatikan cara Sean menatap Franda, dan Mia menangkap sesuatu yang aneh, seperti tatapan mendamba. Mia tidak menyukai itu.
"Tentu saja dia tahu!" jawab Franda santai.
"Dia tidak marah?" Mia masih terus bertanya, Ia tidak bisa membayangkan reaksi kakak ipar posesifnya itu saat mengetahui istrinya mabuk bersama pria lain, pasti sangat menyeramkan.
__ADS_1
"Mia, stop!" bentak Franda sambil memberi kode pada sang adik dengan menggerakkan sudut matanya kearah Sean, mengatakan bahwa Ia tidak ingin membahas urusan pribadi didepan orang lain.
Mia terdiam. Ia mengerti maksud Franda yang tidak ingin melanjutkan obrolan tentang Nino. Mia memutuskan akan bertanya nanti saja setelah pulang. Ia menghabiskan sisa bir miliknya dan memanggil kembali pelayan untuk memesan lagi.